NovelToon NovelToon
DUKA BARU LUKA LAMA

DUKA BARU LUKA LAMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Konflik etika / Tamat
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: KEONG_BALAP

mengisahkan
Arsya Wiraguna,seorang arsitek sukses dengan masa lalu kelam ,
dan Klara asmara dengan seorang desainer periang yang membawa luka masa kecil

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KEONG_BALAP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29: Ketika Asmara Bicara

Jakarta tengah dilanda panas yang menyengat. Suhu mencapai 34 derajat di siang hari, membuat siapa pun malas keluar rumah. Tapi di rumah Menteng, kipas angin dan AC bekerja ekstra keras mendinginkan ruangan. Anak-anak tetap aktif seperti biasa, tidak peduli panas di luar.

Pagi itu, Asmara—kini genap dua tahun—bangun dengan semangat luar biasa. Ia langsung berlari ke kamar orang tuanya, tapi tidak menemukan siapa pun. Raka sudah berangkat ke kafe, Kalara sedang di dapur membantu Lastri.

Asmara lalu berlari ke kamar Arsya dan Nadia. Pintu terbuka sedikit. Ia mengintip, melihat Om Arsya masih tidur, Tante Nad sedang menyusui Kiki.

"Om!" teriaknya, melompat ke tempat tidur.

Arsya kaget setengah mati. "Asmara! Jam segini udah bangun?"

"Asmara mau susu!"

Nadia tertawa. "Tante Ambilin, ya. Duduk dulu."

Asmara duduk di pangkuan Arsya, menunggu dengan sabar. Matanya masih setengah mengantuk, tapi semangatnya sudah menyala.

Nadia menyerahkan botol susu. Asmara meminumnya dengan lahap. Kiki di sampingnya ikut menyusu, menciptakan pemandangan dua bayi minum susu bersamaan.

"Lucu banget," bisik Arsya.

"Iya. Dua-duanya minum susu, beda cara."

Setelah selesai, Asmara turun dan berlari ke ruang keluarga. Ia mencari Eyang Kusuma, yang biasanya sudah duduk di kursi malas sambil minum teh.

"Eyang!" teriaknya, berlari memeluk kaki Eyang.

Eyang Kusuma tersenyum. "Asmara, cucu Eyang. Udah mandi?"

"Belum! Asmara mau main dulu!"

"Main apa?"

"Main bola!"

Eyang tertawa. "Ya sudah, main dulu. Nanti mandi."

Asmara berlari ke halaman belakang, mengambil bola plastik warna-warni. Ia menendang-nendang bola sendirian, sesekali mengejarnya dengan tertawa.

Rara dan Melati belum bangun—mereka libur sekolah, jadi boleh tidur lebih lama. Tapi Asmara tidak peduli. Ia asyik sendiri dengan bolanya.

Dua jam kemudian, semua sudah bangun dan sarapan bersama. Meja makan penuh seperti biasa. Rara dan Melati masih setengah mengantuk, Asmara sibuk dengan nasi gorengnya, Kiki di kursi bayi diberi bubur oleh Nadia.

Eyang Kusuma makan dengan lahap. "Enak banget buburnya, Lastri."

"Makasih, Tante. Resep turun-temunan."

Lastri semakin percaya diri dengan masakannya. Ia bahkan mulai membuka usaha kecil-kecilan—katering rumahan untuk acara-acara. Pesanan mulai berdatangan dari tetangga dan kenalan.

"Tante, nanti siang ada pesanan nasi kotak 50," kata Lastri. "Saya masak dari pagi."

"Wah, rame. Bantu, nggak?" tawar Kalara.

"Nanti aja, Nak. Masih bisa."

Asmara tiba-tiba angkat bicara, "Tante Lastri masak enak!"

Semua terkejut. Asmara jarang bicara panjang. Biasanya hanya satu dua kata. Tapi kali ini kalimat lengkap.

"Astaga! Asmara bicara!" seru Rara.

"Bilang apa tadi?" tanya Melati.

Asmara mengulang, "Tante Lastri masak enak."

Lastri menangis haru. "Dia... dia bilang masakanku enak."

Eyang Kusuma tertawa. "Cicit Eyang sudah bisa bicara."

Nadia memeluk Asmara. "Pintar, Nak. Pintar sekali."

Asmara tersenyum bangga. Ia tidak sadar telah membuat semua orang terharu.

Sejak hari itu, Asmara mulai banyak bicara. Setiap hari ada kata baru yang ia ucapkan. Kadang lucu, kadang menggemaskan, kadang membuat semua orang tertawa.

Suatu sore, saat Rara sedang melukis di ruang keluarga, Asmara mendekat.

"Kak, gambar apa?"

Rara menoleh, terkejut. "Asmara, kamu tanya apa?"

"Gambar apa?" ulang Asmara.

"Ini gambar pemandangan. Gunung, sawah, matahari."

Asmara menatap lukisan itu serius. Lalu ia berkata, "Bagus. Asmara mau juga."

Rara tersenyum. "Nanti kakak ajarin, ya."

"Iya, Kak."

Melati yang lewat ikut nimbrung. "Asmara, cobain boneka Melati, yuk!"

Asmara menoleh. "Boneka apa?"

"Boneka kelinci. Lucu!"

Asmara berlari mengikuti Melati. Di kamar Melati, ia diberi boneka kelinci besar. Asmara memeluknya erat.

"Kelinci... putih... lembut."

Melati berjingkrak. "Dia bisa bilang lembut!"

Malam harinya, saat makan malam, Asmara menunjukkan kemampuan barunya. Ia menunjuk setiap orang dan menyebut nama.

"Eyang... Tante Lastri... Om Arsya... Tante Nad... Mama... Ayah... Kak Rara... Kak Melati... Kiki..."

Semua bertepuk tangan. Asmara tersenyum lebar.

"Pintar, Nak," puji Raka. "Siapa yang ngajarin?"

"Asmara sendiri!"

Semua tertawa.

Agustus tiba. Asmara kini 2 tahun 2 bulan. Ia sudah bisa bicara dalam kalimat pendek. Kosa katanya bertambah setiap hari. Kadang ia mengucapkan hal-hal lucu yang membuat semua orang terpingkal-pingkal.

Suatu pagi, ia melihat Kiki merangkak di lantai. Kiki sudah 10 bulan, aktif merangkak ke mana-mana.

"Kiki, mau ke mana?" tanya Asmara.

Kiki menatapnya, lalu tersenyum. Ia merangkak mendekat.

"Kiki, ayo main bola!"

Kiki tidak mengerti, tapi ia tertawa.

Asmara mengambil bola, menggulingkannya ke arah Kiki. Kiki menangkapnya dengan tangan mungil, lalu tertawa.

"Pinter, Kiki!"

Nadia yang melihat dari dekat tersenyum. Asmara sudah mulai jadi kakak yang baik.

Suatu sore, Eyang Kusuma duduk di beranda belakang, menikmati angin sore. Asmara mendekat, duduk di sampingnya.

"Eyang, ngapain?"

"Eyang lihat matahari tenggelam."

"Matahari... tenggelam?" Asmara menatap langit yang mulai jingga. "Ke mana?"

"Ke tempat tidurnya. Besok pagi bangun lagi."

"Ooh..." Asmara mengangguk-angguk, seolah mengerti. "Matahari tidur, Eyang juga tidur?"

"Eyang nanti malam tidur."

"Eyang, jangan tidur lama-lama. Nanti Eyang ketinggalan main sama Asmara."

Eyang terharu. "Iya, Nak. Eyang nggak akan tidur lama."

Asmara memeluk Eyang. "Asmara sayang Eyang."

Eyang mencium rambutnya. "Eyang juga sayang Asmara."

September tiba. Kiki genap satu tahun. Ulang tahunnya dirayakan sederhana di rumah Menteng. Hanya keluarga, tapi tetap meriah.

Kiki sudah bisa berdiri dengan berpegangan, tapi belum bisa jalan sendiri. Ia senang berdiri di samping kursi, lalu berteriak minta perhatian.

"Asmara, lihat adik!" panggil Kalara.

Asmara mendekat. "Kiki, mau jalan?"

Kiki mengulurkan tangan. Asmara memegang kedua tangan Kiki, membantu adiknya berjalan pelan.

"Satu... dua... tiga... jalan!" hitung Asmara.

Kiki melangkah goyah, tertawa senang. Semua yang melihat terharu.

"Lihat mereka," bisik Nadia pada Arsya. "Asmara jadi kakak yang baik."

"Iya. Dia belajar dari Rara dan Melati."

Rara dan Melati ikut bangga. Mereka merasa berhasil mengajari Asmara jadi kakak yang baik.

Malam harinya, setelah tiup lilin dan potong kue, mereka berkumpul di ruang keluarga. Kiki duduk di pangkuan Nadia, Asmara di samping Eyang.

"Eyang," panggil Asmara.

"Apa, Nak?"

"Asmara boleh minta sesuatu?"

"Apa itu?"

Asmara menunjuk foto di dinding—foto keluarga besar yang difoto setahun lalu. "Asmara mau foto sama semua."

Eyang tersenyum. "Boleh. Nanti kita foto lagi."

"Sekarang?"

"Nanti pas semua lengkap. Pas Pak Willem juga datang."

Asmara mengangguk puas. "Asmara tunggu."

Semua tersenyum. Asmara mulai mengerti arti keluarga.

Oktober tiba. Pak Willem datang berkunjung, seperti janji. Kesehatannya menurun, tapi semangatnya masih tinggi. Ia membawa mainan untuk semua anak—mobil-mobilan untuk Asmara, boneka untuk Kiki, buku gambar untuk Rara, dan peralatan masak-masakan untuk Melati.

"Asmara, coba lihat!" panggil Pak Willem.

Asmara berlari, mengambil mobil-mobilan. Matanya berbinar. "Mobil! Besar!"

"Kamu suka?"

"Suka! Makasih, Pak Willem!"

Pak Willem terkejut. "Dia sudah bisa bicara banyak?"

"Iya, Pak," jawab Raka. "Dia lagi aktif-aktifnya belajar bicara."

"Luar biasa."

Kiki merangkak mendekat, ikut ingin mainan. Pak Willem menggendongnya. "Kamu juga, Nak. Ini boneka untukmu."

Kiki memeluk boneka itu erat. "Ma... ma..." ucapnya.

"Dia bilang mama?" tanya Pak Willem.

"Iya, Pak. Beberapa hari ini mulai ngomong 'mama'," jawab Nadia bangga.

Mereka menghabiskan sore bersama. Foto keluarga besar pun diambil, seperti permintaan Asmara. Semua berjejer di halaman belakang, di bawah pohon beringin. Fotografer panggilan mengatur posisi.

"Tersenyum semua! Satu, dua, tiga!"

Jepret. Kenangan baru terabadikan.

Malam harinya, setelah Pak Willem pulang, mereka berkumpul di ruang keluarga. Foto-foto dari kamera ponsel beredar. Asmara paling antusias melihat fotonya sendiri.

"Ini Asmara!" tunjuknya. "Ini Kiki! Ini Kak Rara!"

"Iya, itu kamu," sahut Rara.

Asmara menatap foto itu lama. Lalu ia berkata, "Asmara senang."

"Senang apa?" tanya Kalara.

"Senang punya keluarga. Banyak. Semua sayang Asmara."

Kalara menangis. Raka memeluknya. Eyang Kusuma mengusap air mata.

"Anak itu mengucapkan apa yang kita semua rasakan," kata Lastri.

Arsya mengangkat Asmara, mendudukkannya di pangkuan. "Asmara, Om juga senang punya kamu. Kamu anak yang hebat."

Asmara tersenyum. "Om hebat juga."

Semua tertawa.

Malam semakin larut. Anak-anak mulai tidur satu per satu. Kiki terlelap di ayunan. Asmara tidur di kamarnya setelah dibacakan cerita oleh Rara. Melati sudah mendengkur sejak jam 8. Rara tidur setelah menyelesaikan PR-nya.

Di ruang keluarga, orang dewasa berkumpul seperti biasa. Eyang di kursi malas, Lastri di sampingnya, Arsya dan Nadia di sofa, Kalara dan Raka di karpet.

"Hari ini luar biasa," kata Kalara. "Asmara bikin kita semua terharu."

"Iya," sahut Nadia. "Dia mulai mengerti arti keluarga."

Eyang Kusuma berkata, "Anak-anak itu anugerah. Mereka mengajarkan kita banyak hal. Tentang cinta, tentang kebahagiaan sederhana."

Lastri mengangguk. "Dulu, waktu saya masih di Kalimantan, saya kira kebahagiaan itu tentang uang, tentang kesuksesan. Tapi sekarang saya tahu, kebahagiaan itu tentang ini—duduk bersama keluarga, tertawa, berbagi cerita."

Arsya meraih tangan Nadia. "Kita beruntung."

"Iya. Sangat beruntung."

Malam itu, mereka duduk bersama hingga larut. Bercerita tentang masa depan, tentang mimpi-mimpi kecil. Rara ingin jadi pelukis terkenal. Melati ingin jadi penari. Asmara ingin jadi... entah apa, tapi yang penting bahagia. Kiki masih terlalu kecil untuk bermimpi, tapi ia sudah punya keluarga yang akan mendukung apa pun mimpinya nanti.

Rumah Menteng sunyi.

Tapi tidak sepi.

Karena rumah ini bernyanyi.

Bernyanyi dengan suara anak-anak yang belajar bicara.

Bernyanyi dengan suara tawa yang tak pernah pudar.

Bernyanyi dengan suara cinta yang terus tumbuh.

Selamanya.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!