NovelToon NovelToon
Sumpah! Arwah

Sumpah! Arwah

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / Horor / Kutukan
Popularitas:15.4k
Nilai: 5
Nama Author: Maple_Latte

Kematian Tragis Aning membuat desa Kalung Ganu di teror. satu persatu pemuda di temukan mati mengenaskan. ketakutan mulai menyelubungi penduduk desa..

Namun, yang menjadi anda tanya besar siapa pemerkosa dan pembunuh Aning?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kemunculan Sapri

"Ya sudah, yang penting jangan sampai kamu jalan sendiri kayak orang kesurupan saja." katanya setengah bercanda.

Daud hanya tertawa kecil.

Tak lama kemudian, mereka bertemu dengan Jaka di pos ronda.

"Sudah siap?" tanya Jaka singkat.

"Siap." Udin mengangguk mantap.

Daud hanya mengangguk pelan.

Tanpa banyak bicara, mereka bertiga mulai berjalan menyusuri jalan desa.

Langkah kaki mereka terdengar pelan di atas tanah. Senter di tangan Jaka menyapu jalan di depan mereka. Sesekali cahaya itu mengenai pagar bambu, pepohonan, atau rumah-rumah warga yang sudah tertutup rapat.

Tidak ada suara obrolan warga yang terdengar karena setelah sholat isya orang-orang sudah mengunci pintu dan mungkin memaksa mata untuk tidur.

Hanya ada suara jangkrik, dan langkah mereka sendiri.

Jaka berjalan di depan.

Matanya tajam, sesekali menoleh ke kiri dan kanan.

"Jangan sampai ada yang lengah." katanya pelan.

"Iya, Jak." Jawab Udin.

Daud tetap diam.

Dia berjalan di belakang, sesekali menoleh ke arah belakang seolah memastikan tidak ada yang mengikuti mereka.

Mereka melewati rumah Pak Sugeng. Tanpa sadar, langkah Daud melambat. Lampu redup di terasnya bergoyang tertiup angin.

Daud menelan ludah. Dalam sekejap, bayangan malam saat jenazah Seno terbujur di sana kembali muncul di kepalanya.

"Dud… ngapain berhenti?" suara Udin membuatnya tersadar.

"Eh… tidak apa-apa." Jawab Daud cepat, lalu mempercepat langkahnya menyusul.

Jaka sempat meliriknya, tapi tidak berkata apa-apa.

Malam semakin larut. Udara terasa semakin dingin ketika mereka akhirnya kembali ke pos ronda. Langkah ketiganya sedikit lebih berat setelah berkeliling cukup jauh menyusuri desa.

Jaka langsung duduk di bangku kayu panjang.

"Kita istirahat sebentar." Katanya singkat.

Udin mengangguk, lalu menjatuhkan diri di sampingnya.

"Capek juga." Gumamnya sambil meregangkan kaki.

Daud duduk di ujung bangku. Tangannya masih memegang senter, namun matanya justru menatap ke arah jalan gelap di depan pos ronda.

Hanya lampu kecil di pos ronda yang menerangi area sekitar.

"Sejauh ini aman, ya." kata Udin lalu menguap.

"Iya. Tapi tetap jangan lengah." Jaka hanya mengangguk pelan.

Daud masih diam. Pikirannya entah ke mana.

Tanpa sadar, bibirnya kembali bergerak pelan.

Mengulang sesuatu. Sangat lirih.

Udin melirik sekilas.

"Kamu hapal doa lagi?" Tanya Udin.

Daud langsung tersadar dan menghentikan.

"Eh… tidak." Katanya cepat.

Udin menghela napas, lalu bersandar.

Beberapa saat kemudian angin bertiup lebih kencang.

Lampu di pos ronda bergoyang pelan.

Krekk…

Suara kayu tua berderit.

Daud menoleh ke arah suara itu.

Jaka juga langsung siaga.

"Ada yang dengar?" tanyanya pelan.

Udin langsung duduk tegak.

"Iya… dari belakang pos."

Mereka bertiga saling berpandangan.

Tanpa banyak bicara, Jaka berdiri dan mengangkat senternya.

"Ayo, kita cek."

Daud menelan ludah.

Udin ikut berdiri Perlahan. Mereka bertiga berjalan memutar ke belakang pos ronda.

Cahaya senter menyapu tanah, semak-semak, dan bayangan pepohonan.

Saat cahaya itu bergerak lebih jauh.

Daud tiba-tiba berhenti.

"Ngg… tunggu…" bisiknya.

Jaka dan Udin menoleh.

"Apa?" tanya Jaka.

"Di situ..." Daud menunjuk pelan ke arah semak di belakang.

Cahaya senter diarahkan ke sana, daun-daun bergoyang pelan.

Baru saja, ada sesuatu yang bergerak.

Srrrkk…

Daun-daun bergesekan, membuat suasana semakin mencekam. Bulu kuduk mereka bertiga langsung berdiri.

"Siapa itu?" Tanya Jaka yang mengangkat senternya lebih tinggi. Dia teriaknya tegas ke arah kegelapan.

Tidak ada jawaban. Hanya suara angin yang terdengar.

"Jak… jangan-jangan." Udin menelan ludah. Dia susah trauma terakhir kali ronda keliling bersama pak Warsito malah menemukan mayat Herman.

"Diam." Potong Jaka pelan.

Perlahan, mereka bertiga melangkah mendekat.

Langkah demi langkah. Jarak semakin dekat.

Sosok itu masih berdiri diam. Tidak bergerak sama sekali. Tidak juga bersuara.

Jaka mengarahkan senternya tepat ke arah wajah sosok itu.

Dan.... semua membeku.

"Ya Allah…" Ucap Udin tergagap.

"S… Sapri…"

Wajah itu, mereka mengenalnya. Bahkan sangat mengenalnya.

Sapri.

Pemuda yang sudah meninggal sebulan yang lalu.

Tapi, sekarang berdiri di depan mereka.

Dengan tubuh kaku dan wajahnya pucat.

Dan yang paling mengerikan, matanya. Putih seluruhnya, tanpa pupil hitam. Menatap lurus ke arah mereka.

Daud mundur selangkah. Napasnya tercekat.

"Tidak… tidak mungkin..." Gumamnya.

Tiba-tiba... kepala Sapri sedikit miring. Gerakannya kaku.

Lalu....

bibirnya bergerak.

"Daaauuud…" Suaranya serak, seperti berasal dari tenggorokan yang kering.

Daud langsung gemetar.

"Kaauu… haaaruus… ikut…"

"Bertanggung jawab…" Suara itu seperti menghantam dada Daud.

Tanpa pikir panjang, Daud langsung berbalik.

"AAAH!" teriaknya.

Dia berlari sekencang-kencangnya. Langkahnya tak beraturan. Kakinya terasa ringan, seperti tidak benar-benar menapak tanah. Nafasnya terengah-engah, dadanya sesak, pikirannya kosong yang ada hanya satu keinginan, segera pergi sejauh mungkin dari sosok itu.

Sementara itu, Jaka dan Udin masih berdiri di tempat. Keduanya kaku tidak bergerak.

"Jak..." suara Udin gemetar.

Jaka tidak menjawab. Bibirnya mulai komat-kamit, membaca doa yang dia hafal.

Udin ikut-ikutan.

"Bismillah… Mismika allahumma ahya..." Dia melafalkan doa tidur dengan terbata-bata. karena panik, semua doa bercampur.

"Allahumma bariklana… eh… itu doa makan." Katanya sendiri, makin kacau.

Jaka melirik sekilas.

"Yang bener, Din." Bisiknya tegang.

"Aku panik, Jak…" Jawab Udin hampir menangis.

Sementara di depan mereka, sosok itu masih berdiri Diam menatap.

Udin menelan ludah.

"Daud tidak setia kawan sekali, kita malah di tinggal." Ujarnya pelan.

"Diam Din, fokus saja baca ayat." Desis Jaka.

Udin mengangguk cepat, meski suaranya masih gemetar dan hampir hilang.

Beberapa detik berlalu, namun sosok itu tidak hilang.

Udin mulai gelisah.

"Jak…" Ucapnya lagi.

"Apa lagi…" Jawab Jaka kesal.

"Aku pernah lihat di film horor." Kata Udin.

Jaka menoleh.

"Kalau kita pejam mata, nanti pas dibuka, hantunya sudah hilang."

Jaka terdiam.

Dalam keadaan seperti ini, dia benar-benar kehabisan cara.

"Yakin?" tanyanya.

"Ya… di film begitu…" jawab Udin ragu.

Jaka menghela napas.

"Ya sudah." Akhirnya mereka berdua memejamkan mata sambil terus membaca doa.

*****

Jangan lupa tinggal jejak dengan like, komen dan kasi bintang lima ya... Terima kasih.

1
Gadis misterius
Pantesan anak2nya bejat ternyata orang tuanya juga biadap ,jngn biarkan kejahatan menang kasih blasan untuk orang2 jht itu biar tdk seenaknya
Gadis misterius
Ayo jaka bntu bu darsia km hrpan satunya2 yg bisa menolong.....mlam jum'at kliwon kpn agar bu darsia membunuh mereka smua
Gadis misterius
Jaka dan udin yg pnya rasa kemanusiaan lainya pd gk pnya hati ....hati2 jngn smpai ketahuan...semoga ada keajaiban bu darsia bisa kbur dan tdk knpa2
Mega Arum
bu darsia sebaiknya cerita ke jaka dan udin, biar mereka tau tntg kematian anaknya
Mega Arum
semakin seru...
Santi
salah satu cerita horor yang menarik untuk di baca
Cut Atika
Seru wae ceritanya
Mega Arum
semakin seru juga Thor
Mega Arum
kenapa kurang nyambung ya alurnya
Gadis misterius
Ya Allah Q melu deg2n rek....perjuangan seorang ibu yg ingin bls dendam krn tdk dpt keadilan
Gadis misterius
Jahatnya mereka....ayo aning blas mreka jgn smpai ibumu jd korban kebiadapan mereka cukup km aza'yg jd korban aning
Gadis misterius
Knp harus ada marzuki hedeh bikin emosi wae
Agus Tina
Bu Darsia jangan ku habisi semua pembunuh anakmu, sisakan buat dia mengaku apa yv telah mereka perbuat pada Aning ... agar mereka malu dan menyadari bahwa apa yg kau lakukan juga akibat dari perbuatan mereka.
Gadis misterius
Siapa yg mau menolong darsia kok Q tg dega2n
Gadis misterius
Jngn smpai bu darsia ketahuan thour kasian krn para pelaku blom mati smua ....bu darsia hati2 tdk ikhlas rsanya klu smpai terjadi apa2.... marsuki dan bpknya daud cari mati kau
Gadis misterius
Balasan dr seorang ibu yg sdh begitu sabar krn miskin dia tdak mendapatkan keadilan ,sdh lelah mencari ke adilan untuk anaknya dan dngn caranya sendiri dia mencari keadilan...apa kau marsuki jngn smpai kau yg jd daud berikutnya ....jaka udin pkoknya pling kenyang melihat kejadian yg bnr2 diluar nalar dan yg paling akitifff menolong semoga kalian brdua tdk terlibat iya
Gadis misterius
Mangakulah daud akhiri smuanya kuncinya ada pdamu klu kau ingin selamat
Agus Tina
Sudah kuduga kalau ibu Aning menggunakqn kekuatan hitam utk membalaskan kematian anaknya ... tapi bagaimana dia bisa tahu para pemuda yg audah melecehkan putrinya?
Gadis misterius
Untung ada jaka dan udin walaupun penakut tp mereka berdua yg paling aktif menolong....darsia mencari keadilan dngn caranya mereka semua abai dan tdk perduli dtmbh pr pelaku tdk ada yg menyesal...bertmbh pusing tuh pk rt gra2 dukunya mati
Gadis misterius
Knp pd diem tolong tuh dukun kasian dipanggil hny biar mati dasar manusia munafik sdh dikandani jngn manggil dukun ngeyel ....duh sidukun nyebut nama lg tmbh runyam nich klu didengar orang2
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!