NovelToon NovelToon
Anak Kembar COE Terpisah

Anak Kembar COE Terpisah

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Anak Genius / Penyesalan Suami
Popularitas:9.9k
Nilai: 5
Nama Author: Rere Lumiere

Seraphina Gunawan atau yang sering di sebut Sera, menikahi CEO Ashford Sync yang dingin dan tanpa perasaan serta hanya mencintai, cinta pertamanya Celesta.

Selama tiga tahun Sera hanya menanggung rasa sakit karena hanya menjadi pengganti dalam hidup sang CEO dan melihat pria itu telah bertemu kembali dengan cinta pertamanya. Namun, ketika dia ingin meninggalkan kehidupan nya yang menyakitkan tiba-tiba dia mengandung anak CEO.

Bagaimana kelanjutan cerita nya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere Lumiere, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Terlihat Sama

Mata Leo mengelilingi ruangan itu dengan cepat, dan mata itu terhenti pada koper yang terlihat berada di pojok lemari dengan boneka rudal di atasnya, seolah wanita tadi belum sempat membereskannya.

Sedangkan pikiran Leo tertuju pada anak yang mirip dengannya. Leo mulai memikirkan kemungkinan mereka pernah terpisah.

Leo ingin sekali menemuinya untuk memastikan. Dia kemudian turun dari sofa itu dan berjalan menuju arah pintu kamar hotel untuk menemui anak yang mirip dengannya, yang dia yakini telah dibawah oleh ayahnya itu.

Di sisi lain, Louis mendap-endap menuju pintu kamar hotel itu. Louis yakin pintu itu terkunci. Namun, Louis yakin bisa membobol pintu digital itu dengan cara menghacknya.

Dengan waktu yang cukup singkat, Louis bisa keluar dari kamar, tetapi masalah lain terjadi. Kedua orang ajudan sedang berdiri di depan pintu.

Louis melebarkan bibirnya ketika dua pria kekar itu mempautkan tangannya dan fokus pada situasi.

Louis lalu memegangi jas kedua pria itu dengan sedikit menariknya. "Paman... Paman... sepertinya pintu kamarnya rusak,"

Kedua ajudan Dominic itu langsung menoleh ke arah Louis dengan wajah yang cukup pucat.

"Tuan Muda, kenapa Anda bisa keluar?" tanya salah satu di antara mereka dengan wajah panik.

Louis mengembungkan pipinya. "Kan sudah aku bilang pintunya rusak,"

Kedua ajudan itu saling melirik dengan perasaan heran sebab Tuan Muda mereka bisa berbicara dengan fasih dan lantang.

"Paman, ayo cepat, nanti kita dimarahi orang hotel," ucap Louis sambil menarik jas kedua pria di depannya.

Salah satu ajudan kemudian tersadar. "Tuan Muda benar, ada baiknya kita meminta seseorang memperbaiki pintu ini. Jika Tuan tahu Tuan Muda keluar dari kamar, kita mungkin akan mendapatkan hukuman,"

"Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu, kamu jaga Tuan Muda," ujar temannya itu, kemudian pergi meninggalkan Louis dengan salah satu ajudan lagi.

Louis menarik nafas jengah. "Kenapa tidak semuanya saja pergi, aku harus membuat alasan apa lagi ini," gumam Louis dalam hati.

Louis kembali menarik jas pria yang masih menoleh pada kepergian temannya, membuat pria itu menoleh pada Louis yang sedang memelas.

"Aku lapar, Paman. Bisakah kamu bawakan makanan kesini?" mohon Louis.

"Tapi, saya tidak diizinkan meninggalkan Anda," jawab Ajudan Dominic sambil mengerutkan keningnya.

"Bagaimana kalau Paman mengambilkan makanan di dalam? Ada roti ku di atas nakas," ucap Louis dengan senyum liciknya.

Ajudan itu tampak menghela nafas kemudian mengatakan, "Baiklah, Tuan Muda tunggu sebentar, jangan pergi kemana-mana ya,"

Ajudan itu lalu masuk ke dalam kamar hotel yang ditempati Dominic dengan rasa terpaksa karena harus meninggalkan Louis beberapa detik saja.

Louis kemudian dengan cepat menutup pintu yang telah dia buat dalam keadaan error itu, membuat Ajudan Dominic terkunci di dalam kamar.

Louis tertawa puas kemudian menepuk tangannya, setelah melihat Ajudan Dominic panik dan mencoba keluar ketika terkunci di dalam.

Louis menatap ke arah depannya, melihat Leo tengah keluar dari kamarnya dan ibunya dengan keadaan panik serta celingak-celinguk.

"Hey... Kau?!" panggil Louis dengan suara yang cukup keras hingga menarik perhatian Leo.

Leo secara refleks menoleh dan langsung tertekun melihat wajah anak yang berdiri di depannya—wajah yang sama persis dengan miliknya sendiri. Dia berdiri tak bergerak, mata membelalak tak percaya diri sendiri.

"Kau... kau mirip dengan aku?" ujar Louis perlahan menghampiri, bahkan sampai menyentuh pipi Leo dengan jempolnya, seolah ingin memastikan bahwa anak di depannya bukan khayalan.

"Ayo ikut aku," ujar Louis lagi dengan cepat, tanpa menunggu jawaban langsung menarik tangan Leo menuju kamar yang tepat berada di belakang Leo.

Leo hanya bisa mengikuti langkah cepat Louis yang terburu-buru, sambil sering kali melihat ke arah lorong khawatir ibunya atau orang lain melihat mereka berdua bersama.

Tidak berselang lama, mereka sampai di dalam kamar dan langsung dihadapkan pada sebuah cermin besar yang terpampang di dinding. Keduanya berdiri berdampingan di depan cermin, dan benar saja—wajah mereka mirip dua buah kembar yang hanya berbeda tinggi badan.

Louis bahkan mengukurnya dengan tangannya, membandingkan tinggi mereka berdua. "Wah, crazy man! Kita benar-benar sama seperti dua bagian alpukat yang terpisah. Berarti benar dong kemungkinan Pak Kumis tinggal di Garut," ujarnya penuh kegembiraan.

"Alpukat?" gumam Leo dalam hati dengan wajah bingung, bahkan sampai mengaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Hem... siapa nama kamu sih?" tanya Louis dengan antusias, menghadapkan wajahnya pada Leo.

"L—Leo," sahut Leo dengan suara yang sedikit gagap, matanya terkadang mengerjap-ngerjap seolah berusaha sangat keras untuk mengeluarkan suaranya.

"Fantastis! Louis... Leo... namanya juga hampir sama. Jangan-jangan kita memang kembar!" ujar Louis dengan penuh semangat, bahkan sampai menangkupkan kedua tangannya ke wajahnya karena terkejut.

Leo hanya bisa tersenyum manis, melihat tingkah lucu dan konyol anak yang memiliki wajah sama dengannya itu.

"Kita harus sering ngobrol," ucap Louis merogoh saku celana baggy pantsnya dan menemukan salah satu smartwatch di dalamnya.

"Untung Mama sering membelikan beberapa barang untuk dua orang," gumamnya melihat arah jam tangan pintar itu.

Louis lalu meraih tangan Leo dan memasangkan jam itu pada Leo. "Ini pakai aja. Aku sudah menyimpan nomor ku di sana, kamu bisa hubungi kapan saja," ujarnya kemudian menarik sehelai rambut milik Leo.

Membuat anak pendiam itu sedikit meringis, namun tidak begitu dia hiraukan sebab dia sangat senang mendapatkan jam tangan itu.

Setelah memberikan jam tangan dan menyimpan sehelai rambut Leo di saku bajunya, wajah Louis tiba-tiba kembali serius. Dia melirik ke arah pintu kamar yang masih terbuka lebar.

"Kita harus cepat kembali, kalau tidak pasti mereka akan heboh parah!" bisik Louis di telinga Leo.

Louis kemudian menarik tangan Leo untuk keluar dan berjalan cepat menuju kamar yang ada di depan mereka.

Hingga mereka tiba di depan kamar Leo, Louis kembali celingak-celinguk menoleh ke sana kemari, takut saja sang Ajudan telah kembali—namun ternyata tidak ada yang datang. Tentu saja itu membuat Louis lega sebelum menoleh pada Leo.

"Leo, kamu ingat ya, jangan bilang pada siapapun tentang hal ini, ya? Aku akan cari tahu kenapa kita mirip," ujar Louis menepuk bahu Leo yang hanya menatapnya dengan binar di matanya.

Louis pun kembali ke arah kamarnya dan menoleh sejenak pada Leo sebelum masuk ke dalam kamarnya. Dia kemudian mengedipkan matanya dan memberikan senyuman pada Leo.

Leo terlihat sedikit tersentuh dengan wajah polosnya. Dia terdiam di depan pintu hingga Ajudan ayahnya kembali membawa seorang teknisi yang ingin memperbaiki pintu kamar itu.

Ajudannya menjadi bingung sebab Tuan Muda yang ditinggalkan sendiri padahal tadi ada temannya yang menemani Leo.

"Tuan Muda, kenapa Anda sendiri di luar?" tanya Ajudan tampak berjongkok di hadapan Leo.

Namun, Leo hanya terdiam, tidak seperti tadi ketika Tuan Muda itu meminta dirinya mencari teknisi untuk memperbaiki pintu kamar.

Leo tak lagi menjadi anak yang cerewet, justru kembali ke keadaan awalnya yang tidak banyak berbicara—bahkan tidak berbicara sama sekali.

Ajudan itu tidak memperdulikannya; dia lebih memikirkan temannya yang lalai dalam melaksanakan tugasnya.

"Kemana dia? Baru saja ditinggalkan sebentar," gerutunya sembari mengandeng tangan Leo.

Sedangkan teknisi terlihat masih berkutat dengan pintu yang error itu, hingga beberapa saat kemudian pintu akhirnya bisa dibuka.

Teknisi itu kemudian menoleh pada sang Ajudan. "Pak ingat ya, jangan diotak-atik lagi pintunya," jawabnya dengan ketus sebab dia tahu ada yang sengaja merusak pintu itu.

Ajudan itu mengerutkan kening melihat kepergian teknisi, merasa bingung sebab mereka tak merusak apapun. Lalu temannya itu tiba-tiba keluar dari kamar hotel.

"Lah, ngapain kamu di dalam?" tanya Ajudan itu makin bingung.

1
Reni Anjarwani
lanjut thor semanggat up thor
Reni Anjarwani
lanjut thor semanggat doubel up
Reni Anjarwani
lanjut thor doubel up thor
Reni Anjarwani
lanjut thor doubel up
Kas Mi
doble up thor🤭
Rere Lumiere: Oke nanti ya 👍
total 1 replies
Reni Anjarwani
lanjut thor
Reni Anjarwani
lanjut thor semanggat doubel up
Reni Anjarwani
lanjut thor doubel up
Kas Mi
lnjut thor..tegang🤭🥰
Reni Anjarwani
lanjut thor doubel up
Reni Anjarwani
lanjut thor semanggat doubel up
Kas Mi
🙏thor msih bnyk thipo..ngetik.y jng terburu2 biar hsil.y bgus🥰
Rere Lumiere: Oke makasih
total 1 replies
Reni Anjarwani
lanjut thor semanggat doubel up
Rere Lumiere: Tunggu ya 👍
total 1 replies
Greenindya
aku kira Dominic bakalan langsung beli tuh RS pas ga dikasih info
Kas Mi
semangat berkarya
Kas Mi: masama thor
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!