NovelToon NovelToon
Jerat Nurani

Jerat Nurani

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi
Popularitas:370
Nilai: 5
Nama Author: Si tupai yang merokok

Hino dijebak obat oleh Irmi, kenyataannya Hino sudah punya istri bernama Erni. Bagaimana nasibnya, apakah cerai atau mati?.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Si tupai yang merokok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28. Jerat di Depan Pintu

Suara gesekan tas jinjing Ibu Meliska di atas lantai keramik ruang tengah membuat detak jantung Irmi berdegup dua kali lebih kencang. Di dalam kamar depan yang sempit, seikat uang tunai tebal pecahan seratus ribu sudah berpindah ke atas pangkuan Erni yang masih memegang pisau cukur plastiknya. Irmi tahu waktu berharganya sudah habis sebelum langkah kaki ayahnya, Pak Juned, mencapai ambang pintu koridor bawah.

Irmi menatap Erni dengan pandangan mata yang dipenuhi keputusasaan yang dingin. Sambil merapikan bagian dada dasternya yang sedikit longgar, ia mencondongkan tubuhnya ke telinga Erni, membisikkan sebuah kesepakatan jahanam yang membuat mata istri sah itu membelalak gila.

"Ditambah silakan ambil jatah suamimu selama tiga bulan penuh, biar kamu puas," bisik Irmi, suaranya bergetar hebat menahan rasa mual yang mendadak mengocok isi perutnya yang sedang mengandung dua setengah bulan. Tanpa menunggu balasan dari Erni, Irmi berbalik cepat, membuka selot pintu dengan gerakan senyap, lalu melesat keluar menuju ruang tengah untuk menyambut orang tuanya.

Di ruang tengah, Hino masih berdiri kaku seperti patung di depan Pak Juned yang berwajah judes. Kedatangan mertua sirinya yang mendadak ini benar-benar memotong seluruh sisa keberanian Hino. Ibu Meliska sudah duduk di sofa kayu, menatap Hino dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan pandangan meremehkan.

"Ibu... Bapak... kenapa tidak mengabari Irmi kalau mau datang pagi ini?" tanya Irmi, mencoba memaksakan sebuah senyuman manis di wajahnya yang pucat, langsung memotong tatapan selidik Pak Juned pada Hino.

Pak Juned mendengus, meletakkan tongkat jalannya di samping meja. "Bapak ada urusan dinas dua hari lagi di kota ini, Irmi. Nanggung kalau harus pulang lagi atau buang-buang uang sewa hotel mahal. Kami mau menginap di sini saja."

"Tapi, Pak... rumah kontrakan ini sedang penuh, lantai dua juga sudah ada yang sewa," jawab Irmi cepat, mencoba mencari alasan agar kedua orang tuanya tidak menginap dan mencium bau busuk kehamilannya.

"Tidak ada alasan, Irmi! Rumah ini milikmu, tanah ini juga milikmu yang dibangun dari uang santunan kematian asuransi penerbangan mendiang suamimu dulu!" potong Pak Juned dengan nada ketat, wajah judesnya semakin mengeras. "Nggak usah sok setia pada masa lalu. Suamimu itu meninggal muda karena sabotase penerbangan sialan itu. Justru karena itu Bapak ke sini, Bapak mau kau segera jual saja rumah dan kontrakan dua lantai ini. Cari pria pengganti yang mapan. Kami ini mau cucu, Irmi! Adikmu, Marni, tidak bisa diandalkan karena dia masih SMP dan belum boleh nikah!"

Mendengar kata cucu disebut, rahim Irmi seolah berdesir ngeri. Tepat saat keheningan yang menegangkan itu mengunci ruang tengah, suara langkah kaki yang anggun terdengar menuruni anak tangga lantai dua.

Linda berjalan turun dengan gaun rumahan yang rapi dan sopan. Sebagai seorang dosen sosiologi yang paham tata krama, ia langsung mencairkan atmosfer yang kaku itu dengan senyuman berkelas. Ia mengangguk hormat di hadapan Pak Juned dan Ibu Meliska.

"Selamat pagi, Bapak, Ibu... saya Linda, dosen yang menyewa kamar di lantai atas," ucap Linda dengan suara yang lembut dan penuh wibawa intelektual, memperkenalkan diri dengan sopan sebelum kembali naik ke atas untuk menyembunyikan gejala mual paginya.

Di saat yang sama, pintu kamar depan terbuka pelan. Erni keluar dengan tubuh yang segar setelah selesai mandi. Siasat barunya sudah matang; ia sengaja memeriksa dan membersihkan area intimnya di dalam kamar mandi tadi, memastikan semuanya bersih agar ia tidak malu saat besok pagi Hino mengantarnya periksa USG ke bidan kampung. Erni menatap tumpukan tas jinjing di ruang tengah, lalu melempar pandangan mata yang sarat akan ancaman pemerasan baru ke arah Irmi yang tampak ketakutan.

Hino yang merasa dunianya semakin sempit, memilih mundur perlahan menuju arah dapur luar untuk mencari udara segar. Namun, tepat saat ia berdiri di bawah bayangan dinding dapur yang sepi, ponsel di dalam saku celananya bergetar hebat. Sebuah panggilan video dari nomor Bu Hina masuk.

Hino menempelkan ponsel itu ke telinganya dengan rahang yang mengeras menahan amarah yang sudah di ambang batas. "Sial kau, Hina!! Aku bukan budak apalagi boneka ranjangmu! Di rumahku sedang ada tamu orang tua!"

Di seberang telepon, dari dalam kamar mewahnya yang sunyi karena Baskoro baru saja pergi, Hina tertawa miring, menatap layar dengan sorot mata gila penuh candu fisik dan paranoia rahim yang beracun.

"Bodo amat! Aku enggak peduli dengan tamumu, Hino!" desis Hina dengan nada suara yang sangat tajam, memotong seluruh keputusasaan pelayan toko tersebut. "Ingat, nama kita udah terpatri sama kayak gembokmu yang udah ditusuk pake kuncimu semalam! Buruan menyeberang ke rumahku sekarang, atau daster dua istri sirimu di bawah akan kupastikan basah oleh darah suamiku minggu depan! Kau berani menolakku, Hino?!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!