NovelToon NovelToon
Ibu Susu untuk Putra CEO

Ibu Susu untuk Putra CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Pengganti / Pengasuh
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: aera_yong

Di malam persalinannya, Aisha diusir oleh suami dan mertuanya yang kejam setelah bayinya dinyatakan meninggal. Luntang-lantung di tengah hujan dengan dada yang sesak karena terus memproduksi ASI, Aisha pingsan di jalanan.

Di sisi lain, Adrian—seorang CEO dingin—sedang frustrasi karena bayinya yang baru lahir kritis dan menolak semua susu formula.

Takdir mempertemukan mereka. Saat bayi Adrian didekap oleh Aisha, sang bayi langsung tenang dan mau menyusu. Adrian akhirnya mempekerjakan Aisha sebagai ibu susu rahasia lewat kontrak ketat. Namun, seiring berjalannya waktu, Aisha mulai menyadari sebuah rahasia kelam: bayi yang ia susui memiliki ikatan batin yang sangat kuat, mirip dengan darah dagingnya sendiri yang hilang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aera_yong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Eksekusi di Ruang Sidang

Hari penghakiman yang dinantikan itu akhirnya tiba. Langit di atas Pengadilan Negeri Jakarta Pusat tampak diselimuti awan mendung yang kelabu, menciptakan atmosfer yang kian menekan.

Sejak pukul delapan pagi, halaman pengadilan telah dipadati oleh puluhan jurnalis dari berbagai media massa, lengkap dengan kamera-kamera besar yang terpasang di atas tripod.

Di koridor luar ruang sidang utama, Valerie berdiri mendampingi pengacara Baskoro dengan senyuman kemenangan yang tertahan. Sesuai dengan rencana kotor yang mereka susun bersama Farida Arkan, beberapa portal media gosip dan akun influencer di bawah kendali mereka telah mulai merilis artikel provokatif satu jam lalu.

>"Skandal Terbesar Tahun Ini CEO Arkan Group Diduga Sembunyikan Wanita Simpanan dan Rekayasa Kasus Mantan Suami!"

Narasi liar itu mulai bergulir di media sosial, memicu kepanikan di kalangan publik. Valerie melirik jam tangan berliannya, tidak sabar melihat kehancuran Adrian.

Tepat pukul sembilan pagi, pintu ganda ruang sidang terbuka. Suasana riuh seketika membeku saat sepasang pengawal bertubuh kekar dari Arkan Group membuka jalan.

Adrian Arkan melangkah masuk dengan setelan jas abu-abu gelap yang dipotong sempurna. Wajahnya lurus, dingin, dan memancarkan aura dominan yang membungkam seisi ruangan.

Namun, yang membuat seluruh pasang mata dan lensa kamera terkesiap adalah sosok wanita yang berjalan di sampingnya.

Aisha melangkah dengan anggun. Ia mengenakan terusan formal berwarna pastel yang sopan namun sangat berkelas, dengan rambut yang diikat rapi. Meski jemarinya bergetar di dalam genggaman erat Adrian, dagunya terangkat tegak sebuah pembawaan baru yang ia pelajari dari pria di sampingnya.

Mereka berjalan melewati Valerie tanpa menoleh sedikit pun, langsung mengambil posisi di kursi barisan depan bagi saksi dan pihak terkait.

Tak lama kemudian, Taufik dibawa masuk oleh petugas dengan tangan diborgol. Saat matanya berbenturan dengan mata bulat Aisha yang kini menatapnya tanpa rasa takut, rahang Taufik mengeras.

Ia melemparkan senyum licik ke arah pengacaranya, memberi kode bahwa ini adalah saatnya menjatuhkan bom.

Hakim ketua mengetuk palu sebanyak tiga kali. *Tok! Tok! Tok!*

"Sidang lanjutan dengan agenda pembacaan vonis dan penyampaian bukti baru dari pihak terdakwa dinyatakan dibuka," suara hakim menggema.

Pengacara Baskoro langsung berdiri dengan penuh percaya diri. Ia membawa sebuah amplop cokelat besar dan melangkah ke tengah ruang sidang.

"Yang Mulia Hakim yang terhormat," ujar Baskoro dengan nada suara yang sengaja dikeraskan agar terdengar oleh para wartawan di barisan belakang.

"Sebelum vonis dijatuhkan, kami mengajukan keberatan mutlak atas objektivitas kasus ini. Kami memiliki bukti baru berupa foto-foto dokumentasi yang menunjukkan bahwa saksi kunci, Aisha, saat ini tinggal bersama dan memiliki hubungan khusus di bawah satu atap dengan saudara Adrian Arkan, pria yang mendanai seluruh tuntutan hukum terhadap klien saya!"

Baskoro mengeluarkan foto-foto hasil intaian malam itu foto saat Adrian mengecup kening Aisha di paviliun dan menunjukkannya ke arah majelis hakim serta barisan media.

Bisik-bisik seketika pecah. Kilatan lampu kamera berkedip bertubi-tubi ke arah Adrian dan Aisha.

"Kami menduga kuat," lanjut Baskoro dengan nada menuduh yang tajam,

"bahwa kasus perdagangan anak yang dituduhkan kepada klien saya adalah konspirasi dan rekayasa hukum yang dirancang oleh Adrian Arkan demi merebut mantan istri klien saya secara paksa!"

Taufik tersenyum puas di kursinya. Valerie di sudut ruangan hampir saja memekik senang, mengira mereka telah berhasil membalikkan keadaan.

Namun, di tengah keriuhan itu, Adrian Arkan perlahan berdiri dari kursinya. Tidak ada sedikit pun riak kepanikan di wajah tegasnya. Pria itu menatap Baskoro dan Taufik seolah mereka hanyalah badut yang sedang meronta di ujung tali gantungan.

Adrian melirik ke arah Hendra yang berdiri di dekat pintu masuk. Hendra mengangguk, lalu maju memberikan sebuah gawai tablet digital dan bundelan dokumen tebal bersampul segel resmi kepolisian kepada tim hukum Arkan Group yang dipimpin oleh pengacara senior terbaik negeri ini.

Pengacara Adrian, Nicholas, berdiri dengan senyum tipis yang dingin.

"Yang Mulia, pihak kami telah memprediksi drama murahan yang akan dimainkan oleh pihak terdakwa. Oleh karena itu, kami mengajukan bukti tandingan yang sah secara hukum interkonek digital."

Nicholas melangkah maju, menyerahkan dokumen tersebut kepada hakim, sementara layar proyektor besar di ruang sidang mendadak menyala atas izin hakim menampilkan draf pesan singkat dan rekaman suara digital.

"Pertama," suara Nicholas bergaung tenang namun mematikan.

"Foto-foto yang ditunjukkan oleh rekan Baskoro adalah hasil dari tindakan pengintaian ilegal dan percobaan pemerasan.

Kami telah menyerahkan surat perintah penangkapan dari pihak kepolisian untuk fotografer suruhan terdakwa, sipir yang menerima suap di dalam lapas, serta... Saudara Baskoro sendiri atas tindakan konspirasi pemerasan tingkat tinggi."

Wajah Baskoro seketika berubah pucat pasi. Surat-surat dokumen yang dipegangnya mendadak berhamburan ke lantai.

"Kedua," lanjut Nicholas, memutar sebuah rekaman audio di proyektor.

> "Foto sudah didapat... Aku akan membuat Adrian Arkan membayar mahal..."

Suara Taufik yang serak dan licik menggema di seluruh ruang sidang, disusul oleh tampilan manifes digital aliran dana ilegal dari sisa rekening judi Taufik untuk membayar pengintai tersebut.

Tidak berhenti sampai di situ, proyektor menampilkan video pengakuan langsung dari makelar bayi di Bogor yang telah disumpah di bawah Al-Qur'an. Di dalam video itu, sang makelar menyebutkan dengan sangat detail bagaimana Taufik secara sadar memalsukan dokumen kematian bayi Fatih dan menerima uang tunai puluhan juta rupiah demi melunasi utang judinya.

Bukti-bukti itu begitu mutlak, padat, dan tidak menyisakan satu celah pun bagi Taufik untuk membela diri. Kebohongan yang mereka susun rapi runtuh dalam sekejap di bawah cakar hukum Arkan Group.

"Bajingan! Kamu menjebak ku!" raung Taufik, mendadak histeris. Ia mencoba berdiri dan menerjang ke arah meja pengacara, namun petugas keamanan dengan sigap langsung menekan tubuhnya ke lantai dan memborgolnya lebih erat.

Di sudut ruangan, Valerie buru-buru membalikkan badannya, mencoba menyelinap keluar lewat pintu belakang sebelum namanya ikut terseret.

Namun, dua petugas kepolisian berpakaian preman telah berdiri menghadangnya di ambang pintu. "Nona Valerie, Anda diminta ikut ke markas besar untuk pemeriksaan terkait keterlibatan pendanaan konspirasi pemerasan." Valerie lemas, nyaris pingsan saat tangannya ditarik menjauh di bawah sorot kamera wartawan yang kini berbalik menyerangnya.

Hakim ketua mengetuk palu dengan keras. Tok! Tok! Tok!

"Berdasarkan bukti-bukti baru yang sah dan mutlak, pengadilan menolak seluruh nota keberatan terdakwa. Dengan ini, menjatuhkan hukuman maksimal kepada terdakwa Taufik selama delapan belas tahun penjara tanpa hak remisi, serta mencabut izin praktik hukum Saudara Baskoro atas tindakan pelanggaran kode etik berat dan kriminalitas."

*Tok!'

Sidang resmi ditutup. Panggung sandiwara yang disiapkan untuk menghancurkan Aisha kini resmi menjadi tempat eksekusi total bagi musuh-musuhnya.

Adrian berdiri, berbalik menatap Aisha yang air matanya mengalir perlahan bukan karena duka, melainkan karena rasa lega yang luar biasa. Beban masa lalu yang selama ini merantai jiwanya kini telah dihancurkan berkeping-keping oleh pria di hadapannya.

Adrian mengulurkan tangannya, menghapus air mata di pipi Aisha dengan ibu jarinya, lalu menuntun wanita itu keluar dari ruang sidang melewati kerumunan wartawan yang kini menatap mereka dengan rasa hormat yang mendalam.

Di bawah kilatan lampu yang tak lagi terasa mengancam, takdir mereka berdua telah resmi terlepas dari bayang-bayang masa lalu, siap menyongsong lembaran baru yang bersih.

---

Bersambung~

1
Sumining 123
luar BB biasa
Aera_yong
Wah gays terimakasih udah baca karya aku yang ini ya gays udah nembus 3k hehheeh😍😍🥳🥳
Sumining 123
lanjutkan cerita nya menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!