NovelToon NovelToon
Menikahi Pria Yang Mencintai Adik Tirinya

Menikahi Pria Yang Mencintai Adik Tirinya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami / Perjodohan
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Yellow Sunshine

Pada ulang tahun pernikahannya yang pertama, Hazel Frost menemukan suaminya, Mason Roux mencium wanita lain dengan kedua matanya. Dan yang lebih menghancurkan lagi, bahwa wanita itu adalah adik tiri suaminya, Jennifer.
Pernikahan yang seharusnya menjadi kebahagiaan pun perlahan berubah menjadi rahasia yang menyakitkan. Meski tahu hatinya tidak pernah benar-benar dimiliki, Hazel tetap bertahan. Ia mencoba membuat Mason melihatnya sebagai seorang istri, bukan sekadar wanita yang terpaksa harus dinikahi.
Namun semakin lama, Hazel mulai menyadari satu hal, bahwa tidak semua cinta bisa diperjuangkan sendirian. Lalu ketika ia akhirnya memilih berhenti dan pergi, Mason justru mulai menyadari perasaannya yang sebenarnya.
Tapi apakah semuanya sudah terlambat? Apakah Hazel masih bersedia kembali pada pria yang pernah menghancurkan hatinya? Atau justru Mason Roux yang akan menyesal seumur hidup karena kehilangan satu-satunya wanita yang benar-benar mencintainya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yellow Sunshine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 27

Sore itu langit Chicago tampak redup di balik jendela besar rumah. Cahaya matahari yang mulai tenggelam memantul samar di lantai marmer ruang keluarga, menciptakan bayangan panjang yang membuat rumah itu terasa semakin sunyi. Aku duduk di sofa sambil menatap layar ponsel beberapa kali, berharap ada pesan dari Mason. Namun seperti biasa, tidak ada apa-apa selain ruang chat yang kosong.

Aku menarik napas pelan lalu mematikan layar ponselku. Sejujurnya, aku sudah mulai terbiasa dengan kesibukan Mason. Beberapa minggu terakhir, aku terus mencoba mengingat perkataan Linda—bahwa aku tidak harus terus mengejar Mason sampai kehilangan diriku sendiri. Aku hanya perlu mengenalnya perlahan. Dan hari ini, aku mencoba melakukannya lagi.

Aku baru saja hendak bangkit menuju dapur ketika suara langkah kaki para pelayan terdengar dari arah depan rumah. Tidak lama kemudian, salah satu dari mereka muncul dan sedikit membungkuk hormat padaku.

“Nona Jennifer datang, Nyonya.”

Aku sedikit terkejut. “Jennifer?”

Pelayan itu mengangguk. “Beliau bilang ingin menunggu Tuan Mason pulang.”

Aku terdiam beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk kecil. “Persilakan masuk.”

Tidak lama kemudian Jennifer berjalan memasuki rumah dengan langkah santai. Ia mengenakan dress hitam pendek dengan mantel panjang berwarna krem yang membuat penampilannya tampak mahal dan elegan. Rambutnya yang panjang jatuh rapi di bahunya, sementara wajahnya terlihat begitu segar seolah hari ini sama sekali tidak melelahkan baginya.

“Hai, Hazel,” sapanya ringan.

Aku membalas senyum kecil. “Kau datang sendiri?”

Jennifer mengangguk sambil melepas mantelnya. “Aku bosan di apartemen.”

Jawabannya terdengar biasa saja. Namun entah kenapa, setiap kali bersama Jennifer, aku selalu merasa ada sesuatu yang tidak benar-benar bisa kubaca darinya. Ia tidak kasar. Tidak terang-terangan jahat. Tapi selalu ada sesuatu di balik caranya berbicara.

Aku mencoba mengabaikan perasaan itu.

“Kau mau teh?” tanyaku sopan.

“Boleh.”

Kami akhirnya duduk di ruang keluarga bersama secangkir teh hangat. Awalnya percakapan berjalan biasa. Jennifer bertanya tentang kegiatan harianku, dan aku menjawab seperlunya. Namun perlahan, arah pembicaraan mulai berubah.

“Mason masih sering pulang malam?” tanyanya sambil memainkan cangkir tehnya.

Aku mengangguk pelan. “Belakangan ini pekerjaannya memang banyak.”

Jennifer tersenyum kecil. “Dia memang seperti itu.”

Ia mengucapkannya dengan nada yang terlalu yakin. Seolah tidak ada seorang pun yang lebih mengenal Mason dibanding dirinya.

“Kadang kalau sedang sibuk begini,” lanjutnya santai, “dia bahkan bisa lupa makan.”

Aku diam mendengarkan.

“Tapi dia biasanya akan tetap datang kalau aku yang memintanya.” imbuhnya.

Kalimat itu sederhana, sangat sederhana. Namun anehnya, dadaku terasa sedikit sesak mendengarnya.

Jennifer menatapku sambil tersenyum tipis. “Kalian masih menyesuaikan diri, ya?”

Aku berusaha tersenyum balik. “Kurasa begitu.”

“Tidak mudah menikah dengan pria seperti Mason.”

Aku menunduk sebentar menatap permukaan tehku yang mulai mendingin. “Aku tahu.”

Jennifer menyandarkan tubuhnya ke sofa dengan santai. “Dia memang sulit membuka diri pada orang lain.”

Orang lain. Entah kenapa, kata itu terasa seperti garis pembatas yang sengaja ditegaskan di depanku.

Beberapa saat kemudian suara mobil terdengar dari arah luar rumah. Jennifer langsung menoleh ke arah jendela dengan ekspresi yang berubah lebih hidup. Dan entah kenapa, perubahan kecil itu langsung tertangkap jelas olehku.

“Mason pulang,” katanya pelan.

Tidak lama kemudian pintu depan terbuka. Mason masuk dengan langkah tenang sambil melepas jas kerjanya. Namun begitu melihat Jennifer, ekspresinya langsung berubah sedikit lebih lunak.

“Jennifer?” Ia terlihat heran. “Apa yang kau lakukan di sini?”

Jennifer langsung bangkit menghampirinya. “Menunggumu.”

Mason mengernyit kecil. “Ada sesuatu?”

Jennifer memandangnya beberapa detik sebelum berkata pelan, “Hari ini ulang tahunku.”

Aku melihat Mason langsung terdiam. Dan untuk pertama kalinya malam itu, ekspresi bersalah benar-benar terlihat jelas di wajahnya.

“Oh, maa. Aku lupa,” gumamnya pelan.

Jennifer tersenyum kecil, seolah ingin terlihat memaklumi. “Aku tahu kau sibuk.”

Namun justru karena nada suaranya terdengar begitu lembut, rasa bersalah di wajah Mason semakin jelas terlihat.

“Aku sungguh minta maaf,” ucap Mason sambil mengusap pelipisnya pelan. “Aku benar-benar lupa.”

Jennifer terkekeh kecil. “Karena itu aku datang sendiri ke sini.”

Mason menghela napas panjang lalu segera mengambil kunci mobilnya dari meja. “Ayo. Aku akan membelikan hadiah untukmu sekarang.”

Aku sedikit terkejut melihat reaksinya yang begitu cepat. Jennifer lalu menoleh padaku. Dan aku langsung menangkap kilatan tipis di matanya sebelum ia kembali tersenyum manis.

“Hazel ikut juga.”

Aku spontan menggeleng kecil. “Tidak perlu. Kalian saja—”

“Ayolah,” potong Jennifer ringan. “Aku ingin pendapatmu juga.”

Aku sempat ragu. Namun sebelum sempat menolak lagi, Mason sudah lebih dulu bicara.

“Ikut saja.”

Nada suaranya datar seperti biasa. Tapi tetap saja, aku tidak punya alasan untuk menolak.

Akhirnya kami pergi bertiga malam itu. Mason menyetir mobilnya sendiri. Jennifer duduk di kursi depan di sampingnya, sementara aku duduk sendiri di belakang. Dari tempatku duduk, aku bisa melihat bagaimana Jennifer berbicara dengan sangat santai pada Mason sepanjang perjalanan. Dan Mason menanggapinya dengan jauh lebih hidup dibanding biasanya saat bersamaku.

Sesekali mereka membicarakan sesuatu yang bahkan tidak kumengerti. Tentang tempat-tempat yang pernah mereka datangi. Tentang makanan tertentu. Tentang seseorang bernama Marco yang sepertinya pernah bekerja untuk keluarga mereka saat tinggal di Italia dulu.

Aku hanya diam mendengarkan. Dan anehnya, malam ini aku benar-benar merasa seperti orang luar.

Mobil berhenti di depan butik sepatu mewah di pusat kota Chicago. Jennifer langsung berjalan masuk dengan antusias, sementara Mason tetap tenang mengikuti di belakangnya. Aku berjalan beberapa langkah di belakang mereka.

“Aku ingin sepatu baru,” ujar Jennifer sambil melihat-lihat rak display.

“Pilih saja yang kau mau,” jawab Mason singkat.

Jennifer mencoba beberapa sepatu satu per satu. Ia juga beberapa kali bertanya pendapatku. Namun anehnya, setiap kali aku memberi rekomendasi, ia selalu menolaknya dengan halus.

“Yang ini bagus,” kataku sambil menunjuk heels putih elegan.

Jennifer tersenyum kecil. “Terlalu biasa.”

Aku menunjuk yang lain. “Kalau yang itu?”

Jennifer kembali menggeleng. “Aku kurang suka.”

Namun beberapa menit kemudian ia mengambil sepasang heels hitam dan langsung menoleh pada Mason. “Yang ini lebih bagus, kan?”

Mason menatap sepatu itu sebentar lalu mengangguk. “Ya.”

Jennifer langsung tersenyum puas. Sementara aku sontak terdiam. Padahal sepatu itu tidak jauh berbeda dari rekomendasiku tadi.

Di sudut lain butik, aku sempat melihat beberapa sepatu cantik yang sebenarnya sangat kusukai. Namun aku hanya melihatnya sebentar sebelum mengalihkan pandangan lagi. Aku tidak ingin terlihat kekanak-kanakan dengan ikut membeli sesuatu di tengah ulang tahun Jennifer. Dan Mason pun tidak pernah menawarkan.

Setelah selesai dari butik, Jennifer kembali mengajak kami pergi ke restoran Italia favoritnya. Tempat itu cukup ramai malam ini, dengan lampu-lampu hangat dan aroma pasta yang memenuhi ruangan.

Begitu duduk, Jennifer langsung memesan beberapa menu tanpa ragu.

“Mason suka ini,” katanya sambil menunjuk menu pasta seafood. “Dan dia juga biasanya pesan wine ini.”

Sementara aku hanya membuka buku menu perlahan lalu memesan makananku sendiri.

Sepanjang makan malam, Jennifer terus berbicara dengan Mason tentang banyak hal. Tentang kenangan masa kecil mereka. Tentang ulang tahunnya tahun lalu. Tentang bagaimana Mason dulu selalu menjadi orang pertama yang memberinya hadiah tepat saar tengah malam. Dan aku hanya duduk di sana sambil mendengarkan.

Sesekali Mason menanggapi dengan singkat. Namun aku bisa melihat jelas kalau ia nyaman bersama Jennifer. Jauh lebih nyaman dibanding saat bersamaku.

“Aku bahkan sempat berpikir kau benar-benar lupa padaku,” ujar Jennifer sambil tertawa kecil.

Mason menghela napas. “Aku bilang aku minta maaf.”

Jennifer tersenyum puas. “Karena itu kau harus menebusnya.”

Aku menunduk pelan sambil memainkan garpuku sendiri. Dadaku terasa sesak. Tapi kali ini aku mencoba mengingat perkataan Linda. Jangan terlalu cepat cemburu. Jangan terus fokus mengejar perasaannya. Kenali dia dulu.

Dan malam ini, aku memang sedang melihat sisi lain dari Mason. Sisi yang hangat. Sisi yang ternyata bisa begitu perhatian pada seseorang. Hanya saja, seseorang itu bukan aku.

Saat perjalanan pulang, suasana di mobil jauh lebih tenang. Jennifer tampak puas dengan malamnya, sementara Mason kembali diam seperti biasa. Aku duduk di belakang sambil menatap lampu-lampu kota Chicago yang bergerak samar di luar jendela.

Hingga akhirnya mobil akhirnya berhenti di depan rumah.

“Aku turun dulu,” kataku pelan.

Mason mengangguk kecil. Namun sebelum aku benar-benar menutup pintu mobil, Jennifer tersenyum padaku. “Terima kasih sudah ikut malam ini, Hazel.”

Aku membalas senyum tipis. “Selamat ulang tahun.”

Setelah itu aku turun dari mobil. Dan beberapa detik kemudian, mobil Mason kembali melaju meninggalkan rumah. Mengantar Jennifer pulang ke apartemennya.

Sementara aku berdiri sendiri di depan pintu rumah besar itu, memandangi mobil mereka yang semakin jauh sampai akhirnya menghilang dari pandangan. Entah kenapa, malam ini aku merasa semakin memahami satu hal. Bahwa di dalam hidup Mason, Jennifer selalu memiliki tempat yang bahkan tidak bisa kusentuh.

1
falea sezi
sejauh ini masih muter g sat set
falea sezi
bodoh endingnya pasti balek🤣 ketebak thor.. kenapa MC nya di buat menyee gk tegas 😒
Yellow Sunshine: susah memang ya kalau orang udah terlanjur cinta mati 🤭 udah ditolak, masih aja dikejar 🤭
total 1 replies
falea sezi
😒 kebanyakan flasback
Dew666
👑
Hatnah Batulicin
aku kalau bca novel yg menyebutkan dirinya "aku" maaf tidak lanjut lgi 🙏🙏🙏
partini
aku menebak Endingnya bersatu lagi secara tergila gila Banggt sama suaminya,,aku baru baca Ampe Ina inu suaminya sama mantannya ending bersatu lagi 🤣
Yellow Sunshine: Tebakan yang menarik. Stay tuned ya! Kita lihat, apakah kisah Mason-Hazel akan happy atau sad ending 🤗
total 1 replies
partini
Thor ini flashback ke -01 kah
Yellow Sunshine: Cerita flashback dimulai dari Chapter 3 ya 🤗
total 1 replies
partini
hemmm wanita di mana" itu cinta buta di sakiti darah" pun ga terasa masih bertahan demi cinta weleh
Yellow Sunshine: Sakit sih 💔💔💔
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!