NovelToon NovelToon
PERNIKAHAN SANDERA: MEMPELAI PENGGANTI SANG MILIARDER

PERNIKAHAN SANDERA: MEMPELAI PENGGANTI SANG MILIARDER

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Balas Dendam
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Satisuci Ituaku

Naya terpaksa menggantikan kakak tirinya yang kabur beberapa jam sebelum pernikahan dengan Adrian, seorang CEO dingin yang lumpuh akibat kecelakaan misterius.

Bagi Adrian, Naya hanyalah pengganti yang harus menanggung dosa keluarganya. Di rumah mewah yang terasa seperti penjara, Naya dipaksa menjalani kehidupan penuh penghinaan dan penderitaan.

Namun Adrian tidak mengetahui satu kebenaran besar.

Wanita yang selama ini ia benci adalah orang yang pernah mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkan dirinya dari maut tiga tahun lalu.

Saat perlahan rahasia itu mulai terungkap dan hati Adrian mulai luluh, Naya justru memilih pergi.

Kini Adrian harus menghadapi satu pertanyaan yang terus menghantuinya:

Masih adakah kesempatan untuk memperbaiki semua kesalahannya sebelum wanita yang dicintainya menghilang untuk selamanya? ❤️

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Satisuci Ituaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28: Langkah Pertama Seorang Ayah

Kabar mengenai kehamilan Naya menyebar ke seluruh kediaman keluarga Amarta hanya dalam waktu satu hari.

Rumah yang biasanya berjalan dengan ritme disiplin dan teratur kini dipenuhi suasana yang lebih hangat. Para pelayan, perawat, hingga petugas keamanan terlihat jauh lebih berhati-hati dalam menjalankan tugas mereka.

Semua orang memahami satu hal.

Naya sedang mengandung calon pewaris keluarga Amarta.

Dan tidak ada seorang pun yang berani mengabaikan instruksi dari Adrian Amarta.

Pagi itu, sinar matahari menyelinap masuk melalui celah gorden kamar utama.

Naya baru saja keluar dari kamar mandi dengan pakaian rumah berwarna biru muda. Wajahnya terlihat segar meski masih menyimpan rasa gugup yang sesekali muncul sejak mengetahui dirinya hamil.

Baru beberapa langkah berjalan, suara Adrian terdengar dari arah sofa.

"Naya."

Wanita itu menoleh.

"Iya, Mas?"

"Pelan-pelan."

Naya menahan senyum.

"Saya hanya mau mengambil sisir."

"Aku yang ambil."

Tanpa menunggu jawaban, Adrian langsung menggerakkan kursi rodanya menuju meja rias.

Beberapa saat kemudian, sisir kayu itu sudah berada di tangannya.

Naya menggeleng geli.

"Mas Adrian, saya hamil muda, bukan sedang sakit."

Adrian menatapnya serius.

"Bagiku, kamu dan bayi kita lebih penting daripada apa pun."

Kalimat itu membuat wajah Naya memanas.

Pria yang dulu dikenal dingin dan sulit ditebak kini berubah menjadi sosok yang sangat perhatian.

Dengan telaten, Adrian membantu merapikan rambut istrinya sebelum memasangkan hijab rumah yang sederhana.

"Terlalu kencang?" tanyanya.

Naya menggeleng sambil tersenyum.

"Pas."

"Kalau begitu bagus."

Mereka kemudian turun menuju ruang makan.

Namun begitu pintu lift terbuka, Naya langsung terdiam.

Karpet tebal membentang di sepanjang koridor.

Sudut meja dilapisi pelindung empuk.

Bahkan area taman yang biasa dilewatinya kini dilengkapi pegangan tambahan.

Naya menoleh perlahan.

"Mas... jangan bilang ini semua..."

"Aku yang memerintahkannya."

Jawaban Adrian begitu santai seolah hal itu sangat wajar.

Dimas yang berdiri di dekat meja makan menundukkan kepala.

"Pemasangan seluruh perlengkapan keamanan selesai sejak dini hari, Nyonya."

Naya sampai kehilangan kata-kata.

"Nanti kalau saya batuk, jangan-jangan Mas Adrian memanggil lima dokter sekaligus."

"Kalau perlu, iya."

Jawaban itu membuat beberapa pelayan menahan senyum.

Bahkan Ibu Rahayu yang duduk di ujung meja ikut terkekeh pelan.

"Naya, biarkan saja. Dulu dia menjaga perusahaan. Sekarang yang dijaga adalah kamu dan cucu Ibu."

Suasana sarapan pagi berlangsung hangat.

Adrian memastikan Naya menghabiskan sarapan, susu hangat, buah-buahan, serta vitamin yang direkomendasikan dokter.

Meski sesekali membuat Naya merasa terlalu diawasi, perhatian itu justru membuat hatinya dipenuhi rasa bahagia.

Setelah sarapan selesai, Ibu Rahayu kembali beristirahat.

Naya berjalan santai di taman belakang sambil menikmati udara pagi.

Sementara itu, Adrian menuju ruang terapi.

Hari itu merupakan sesi latihan yang cukup penting.

Dokter fisioterapi sudah menunggu.

"Kondisi saraf kaki Tuan Adrian menunjukkan perkembangan yang sangat baik."

Adrian mengangguk.

Ia menggenggam erat pegangan besi latihan.

Rasa nyeri langsung terasa saat kedua kakinya mulai menopang tubuh.

Namun kali ini, Adrian tidak membiarkan rasa sakit menghentikannya.

Dalam pikirannya hanya ada satu tujuan.

Naya.

Dan anak mereka.

Ia ingin pulih.

Ia ingin berdiri di samping keluarganya dengan kedua kakinya sendiri.

Satu langkah.

Lalu langkah berikutnya.

Keringat membasahi dahinya.

Napasnya terdengar berat.

Namun Adrian terus maju.

Dokter yang mendampinginya tersenyum bangga.

"Luar biasa, Tuan Adrian."

Untuk pertama kalinya sejak kecelakaan yang mengubah hidupnya bertahun-tahun lalu, Adrian berhasil melangkah tanpa bantuan kursi roda.

Memang hanya beberapa langkah.

Tetapi bagi Adrian, itu adalah kemenangan besar.

Saat itulah pintu ruang terapi terbuka.

Naya berdiri di sana.

Matanya langsung berkaca-kaca.

"Mas Adrian..."

Adrian menoleh.

Tatapan mereka bertemu.

Segala rasa lelah yang dirasakannya seketika terasa tidak berarti.

Karena di ujung perjuangannya selalu ada Naya yang menunggu.

Dan kini ada kehidupan kecil yang sedang tumbuh di dalam rahim wanita itu.

Perlahan Adrian tersenyum.

"Aku akan sembuh."

Naya mengangguk sambil menahan haru.

"Saya percaya."

Adrian mengulurkan tangannya.

Naya segera menghampiri dan menggenggamnya erat.

Tidak ada kata-kata yang lebih dibutuhkan saat itu.

Karena mereka sama-sama tahu bahwa masa depan sedang menunggu di depan sana.

Namun tanpa diketahui keluarga Amarta...

Di ruang kerja Dimas, sebuah amplop cokelat baru saja tiba melalui kurir anonim.

Tidak ada nama pengirim.

Tidak ada alamat.

Hanya sebuah dokumen tua yang tersimpan di dalamnya.

Ketika Dimas membuka berkas tersebut, wajahnya langsung berubah serius.

Di halaman pertama tertulis sebuah nama yang selama ini dianggap telah menghilang dari kehidupan keluarga Amarta.

Nama yang berkaitan dengan masa lalu ayah Adrian.

Dan kemunculannya berpotensi mengubah banyak hal.

Bersambung...

1
falea sezi
😒 telat lu bangke
Dinatha: saya follow ya🙏
total 4 replies
Satisuci Ituaku
mksih kk
Rani Saraswaty
knp cpt bgt tau sih??? 🤭
Satisuci Ituaku: mksih udah mampir kk
total 1 replies
Rani Saraswaty
kan kaya...mudah tuh cari yg bw lari uangnya...knp repot2...seluruh kluarga bs msk sel
Satisuci Ituaku
siap kk mksih udh mampir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!