NovelToon NovelToon
Bayang Koridor Di Utara

Bayang Koridor Di Utara

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Romantis
Popularitas:854
Nilai: 5
Nama Author: nana_2

Saat pindah ke SMA Arkana, sekolah tua yang terkenal karena rumor siswa hilang dan lorong terkutuk, seorang gadis dingin bernama Naresha justru tertarik membongkar rahasia itu. Di tengah penyelidikannya, ia terjebak hubungan rumit dengan Arven — ketua OSIS yang tenang, tampan, namun menyimpan sesuatu yang menyeramkan.

Semakin dekat mereka, semakin banyak kejadian aneh terjadi. Bisikan di kamar mandi kosong, bayangan tanpa wajah, hingga siswa yang menghilang satu per satu.

Dan ternyata… sekolah itu memang menyimpan sesuatu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nana_2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28 — Retakan di Tubuh Evelyn

“EVELYN?!”

Suara Naresha menggema panik di ruangan gelap itu.

Tubuh Evelyn perlahan retak seperti kaca yang pecah.

Garis-garis hitam menyebar dari tangannya sampai ke wajahnya.

Dan setiap retakan muncul…

Cahaya merah keluar dari dalam tubuhnya.

Evelyn terjatuh berlutut sambil menahan sakit.

Wajahnya berubah pucat.

Sangat pucat.

“Akh…”

Naresha langsung berusaha mendekat.

Namun hawa dingin yang keluar dari tubuh Penjaga membuat langkahnya berat.

Arven masih batuk keras di lantai sambil menggenggam buku hitam itu erat.

“Sha… jangan dekat…”

Namun Naresha mengabaikannya.

Ia berlutut di depan Evelyn dengan napas gemetar.

Tubuh hantu perempuan itu terus retak perlahan.

Seperti akan hancur kapan saja.

“Kenapa tubuh lo kayak gini…” bisik Naresha panik.

Evelyn tersenyum kecil.

Sedih.

“Karena aku terlalu lama terikat di sini…”

Air mata hitam jatuh di pipinya.

“Aku udah hampir habis.”

Deg.

Dada Naresha terasa makin sakit.

Penjaga mengeluarkan suara mengerikan dari tubuhnya.

“PENGIKAT MELAWAN…”

“PENGIKAT MENGKHIANATI…”

Bayangan hitam mulai bergerak liar memenuhi ruangan.

Pak Damar langsung mundur ketakutan.

“Dia marah…”

Arven perlahan bangkit sambil memegang dadanya.

Napasnya masih tidak stabil.

Namun tatapannya langsung tertuju pada Evelyn.

Cowok itu terlihat benar-benar sedih.

“Kenapa lo bantu gue…” bisiknya pelan.

Evelyn menatap Arven beberapa detik.

Lalu tersenyum kecil.

Karena senyum itu…

Ia terlihat seperti siswi biasa lagi.

Bukan hantu menyeramkan.

“Aku capek lihat orang lain mati…”

Sunyi.

Kalimat itu terasa begitu menyakitkan.

Naresha menggigit bibir bawahnya kuat-kuat agar tidak menangis lagi.

Namun air matanya tetap jatuh.

Evelyn perlahan menoleh ke arah buku hitam di tangan Arven.

“Hancurin sekarang…”

Deg.

Arven langsung menegang.

Tatapannya turun ke buku itu.

Tangannya gemetar.

“Kalau gue hancurin…”

Evelyn mengangguk pelan.

“Aku tahu.”

Sunyi.

Ruangan terasa makin dingin.

Naresha menatap Evelyn dengan napas tidak beraturan.

“Kalau buku itu hancur…” suaranya bergetar, “lo bakal hilang kan?”

Evelyn tidak langsung menjawab.

Namun senyum kecilnya sudah cukup.

Deg.

Naresha langsung menunduk.

Dadanya terasa sakit sekali.

Padahal awalnya ia takut pada Evelyn.

Menganggap perempuan itu monster.

Namun sekarang…

Ia tidak ingin Evelyn menghilang.

Penjaga tiba-tiba mengangkat kepalanya tinggi.

Suara jeritannya terdengar jelas.

AAAAAAAAAAAA—

Ruangan bergetar hebat.

Dinding mulai runtuh sedikit demi sedikit.

Plafon retak.

Debu berjatuhan di mana-mana.

Pak Damar langsung panik.

“Cepat! Kalau Penjaga lepas sepenuhnya gedung ini bakal runtuh!”

Bayangan hitam langsung bergerak menuju Arven lagi.

Cepat.

Seperti tangan-tangan panjang yang ingin menarik tubuh cowok itu.

Arven refleks mundur sambil memeluk buku hitam tersebut.

Namun bayangan itu terlalu banyak.

Salah satunya berhasil mencengkeram lengannya.

Deg.

Simbol merah di tubuh Arven langsung menyala lebih terang.

Cowok itu menahan sakit sambil menggertakkan gigi.

“ARGH—”

“VEN!”

Naresha buru-buru mencoba menarik bayangan hitam itu.

Namun tangannya justru terasa terbakar saat menyentuhnya.

“Sakit—!”

Evelyn langsung berdiri meski tubuhnya semakin retak.

Tatapannya kini serius.

“Aku tahan dia.”

“Hah?”

“Kalian hancurin bukunya.”

Deg.

Naresha langsung menggeleng cepat.

“Engga! Tubuh lo udah—”

“Aku udah mati, Naresha.”

Sunyi.

Kalimat itu membuat tenggorokan Naresha terasa tercekat.

Evelyn tersenyum kecil lagi.

Sedih.

“Tapi kalian masih hidup.”

Dan sebelum Naresha sempat membalas—

Evelyn melesat cepat menuju Penjaga.

Bayangan hitam langsung meledak memenuhi ruangan.

Brakkk!

Jeritan mengerikan menggema di seluruh lantai tiga.

Sementara Arven menatap buku hitam di tangannya dengan napas berat.

Dan perlahan…

Cowok itu mulai merobek halaman pertamanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!