NovelToon NovelToon
Tolong Sayangi Aku

Tolong Sayangi Aku

Status: tamat
Genre:Dunia Masa Depan / Balas Dendam / Ketos / Tamat
Popularitas:12k
Nilai: 5
Nama Author: canny***

"Duniaku gelap, tapi aku tidak butuh lampu. Aku hanya butuh seseorang yang tidak memalingkan wajah saat aku memanggil 'Papa'."
Di kediaman Tenggara yang megah, Aurora Alandriana adalah sebuah anomali. Di tengah kesuksesan sang Ayah dan dominasi keempat kakak laki-lakinya—Eros, Gavin, Juna, dan Arvin—Aurora hidup seperti hantu. Baginya, rumah itu bukan tempat berteduh, melainkan sebuah pengadilan yang menghukumnya atas kesalahan yang tidak pernah ia lakukan: lahir ke dunia.
Tiap sudut rumah adalah pengingat akan kebencian. Meja makan adalah tempat penghinaan, dan lorong sekolah adalah tempat ia harus berpura-pura tidak mengenal darahnya sendiri. Terutama Arvin, kakak keempatnya yang paling dekat jarak usianya, yang memilih untuk menjadi perundung paling kejam di sekolah hanya untuk membuktikan bahwa Aurora tidak punya tempat di hidupnya.
Namun, saat sebuah rahasia besar di balik kematian sang Ibu mulai terkuak, dan saat tubuh Aurora yang rapuh mulai mencapai batas kemampuannya untuk ber

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon canny***, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Luka yang Tersembunyi

Sore itu, langit Jakarta berubah warna menjadi oranye keunguan yang pekat. Aurora menyeret langkahnya keluar dari gerbang SMA Cakrawala. Tubuhnya terasa remuk. Setelah membersihkan tribun, ia harus mengikuti sisa materi MPLS dengan perut kosong karena jam istirahatnya habis untuk menjalani hukuman.

Ia berdiri di halte bus, mencoba merapikan pita rambutnya yang sudah miring. Namun, perhatiannya teralih saat sebuah motor sport hitam menderu keras di depannya. Arvin berhenti tepat di depan halte, helm full-face-nya masih terpasang, namun tatapan matanya yang tajam menembus kaca pelindung.

"Mau pulang?" suara Arvin terdengar teredam.

Aurora mengangguk ragu. "I-iya, Kak."

"Jangan harap gue bakal kasih tumpangan," ketus Arvin sambil menarik gas motornya, menciptakan kepulan asap knalpot yang membuat Aurora terbatuk. "Kalau sampai Papa tanya kenapa lo telat, jangan berani bawa-bawa nama gue. Bilang saja lo memang lamban."

Motor itu melesat pergi, meninggalkan Aurora dalam kepulan debu dan rasa sesak yang kian menghimpit.

Sesampainya di rumah, suasana sudah sangat mencekam. Mobil sedan mewah milik ayahnya sudah terparkir di garasi, menandakan sang penguasa rumah telah kembali lebih awal. Aurora masuk melalui pintu samping, mencoba mengendap-endap menuju kamarnya.

"Dari mana saja kamu?"

Suara berat Bramantyo Tenggara menghentikan langkah Aurora di dekat ruang tengah. Ayahnya sedang berdiri di sana, memegang segelas wiski, sementara Eros dan Juna duduk di sofa dengan wajah dingin.

"Tadi... ada hukuman di sekolah, Pa," jawab Aurora lirih, kepalanya tertunduk dalam.

"Hukuman?" Eros menyahut dengan nada meremehkan. "Baru hari pertama dan kamu sudah mencoreng nama keluarga di sekolah itu? Apa yang kamu lakukan? Mencuri? Atau membuat kekacauan seperti caramu merusak keluarga ini dulu?"

"Bukan, Kak... tadi makalahku kotor, jadi—"

"Cukup," potong Bramantyo. Ia meletakkan gelasnya ke meja dengan dentuman yang menggema di ruangan luas itu. "Saya tidak mau dengar alasan. Kamu memalukan. Mulai besok, poin kamu akan saya pantau melalui Arvin. Jika saya dengar kamu mendapat hukuman lagi, saya tidak akan ragu untuk memindahkan kamu ke sekolah asrama yang paling ketat."

"Tapi Pa, Aurora sudah berusaha—"

"Masuk ke kamarmu! Jangan keluar sampai besok pagi. Saya tidak mau melihat wajahmu di meja makan malam ini," perintah Bramantyo tanpa sedikit pun rasa kasihan.

Aurora berlari menuju kamarnya. Di dalam ruangan sempit itu, ia mengunci pintu dan merosot ke lantai. Air matanya pecah. Ia memeluk lututnya, mencoba meredam suara tangisnya agar tidak terdengar ke luar. Di rumah ini, bahkan menangis pun harus dilakukan dengan sembunyi-sembunyi.

Tiba-tiba, ketukan lembut terdengar di pintunya yang tersembunyi di balik lemari. Itu adalah pintu kecil yang menghubungkan kamarnya dengan area dapur, pintu yang hanya diketahui oleh Nenek Lastri.

"Ra... ini Nenek, Sayang," bisik suara itu.

Aurora segera membuka pintu. Nenek Lastri masuk dengan membawa nampan berisi nasi goreng dan segelas susu hangat. Wajah tua itu tampak sangat sedih melihat mata cucunya yang bengkak.

"Makan dulu, Cah Ayu. Nenek tahu kamu lapar," ucap Nenek sambil mengusap air mata di pipi Aurora.

"Nenek... kenapa Papa benci banget sama aku? Apa aku benar-benar sejahat itu karena lahir ke dunia?" tanya Aurora di sela isaknya.

Nenek Lastri memeluk Aurora erat.

"Bukan, Ra. Kamu itu anugerah. Papa dan kakak-kakakmu hanya... mereka hanya terlalu mencintai mamamu, dan mereka belum bisa merelakannya. Mereka menyalahkanmu karena itu hal termudah yang bisa mereka lakukan untuk menutupi rasa sakit mereka sendiri."

"Tapi ini sudah enam belas tahun, Nek. Sampai kapan aku harus jadi orang asing di rumahku sendiri?"

Nenek tidak bisa menjawab. Beliau hanya bisa memberikan pelukan hangat yang selama ini menjadi satu-satunya tempat Aurora bersandar.

Tanpa mereka sadari, di balik pintu kamar yang sedikit terbuka, Juna—kakak ketiga yang dikenal paling genius dan pendiam—berdiri di kegelapan koridor. Ia baru saja hendak mengambil buku di perpustakaan saat mendengar isakan Aurora. Juna menatap pintu itu dengan ekspresi datar, namun jemarinya yang memegang buku tampak sedikit bergetar.

Ada sesuatu dalam tangisan Aurora yang entah bagaimana menyentil sisi kecil di hatinya yang sudah lama ia kunci rapat. Namun, saat teringat wajah sang ibu di foto pemakaman, Juna kembali mengeraskan hatinya. Ia berbalik dan pergi, meninggalkan adiknya yang hancur dalam kesepian.

Malam itu, di bawah temaram lampu meja, Aurora mengambil buku catatannya. Ia menulis satu kalimat baru:

Hari ini, temannya Kak Arvin memberiku air minum. Ternyata, orang asing bisa lebih baik daripada saudara sendiri.

Ia memejamkan mata, berharap esok hari ia memiliki kekuatan lebih untuk bertahan. Karena ia tahu, hari kedua MPLS akan jauh lebih berat dengan Arvin yang terus mengawasinya seperti elang yang siap menerkam.

1
Emily
seharusnya kalian keluarga bramantyio juga sebagai tersangka terutama biang kerok si bramantyio
Emily
wah ini bpak nya bisa di kenakan pasal menelantarkan anak
Emily
bapaknya biang keroknya udah tua Bangka kelakuan macam iblis
Emily
salah lu sendiri nyet
Emily
pesong
Emily
keluarga goblok gak waras pikirannya sinting penampilan aja mentereng
Emily
wah keluarga odgj kah
Emily
apa itu keluarga psikopat dgn anak dan saudara kandung berperilaku kejam
ArchaBeryl
Terimakasih kak untuk ceritanya
Banyak pelajaran yg bisa kita ambil dari cerita kk
sungguh sangat sedih dan menguras air mata🥹🥹🥹
ArchaBeryl
😭😭😭😭😭🥹🥹🥹🥹
Neneng Lesmana
sedih
ArchaBeryl
😭😭😭😭😭😭😭
ArchaBeryl
Alur ceritanya bagus kak
tapi gak kuat bacanya
soalnya sedih banget 😭😭🥹🥹
ArchaBeryl: Pastinya kak💪💪💪
total 1 replies
ArchaBeryl
sedih pakek banget😭😭😭😭
syina chan
hi
ArchaBeryl
sedih kak🥹🥹🥹🥹🥹
ArchaBeryl
lanjut kak tetap semangat 💪💪💪
ArchaBeryl
lanjut kak penasaran
ArchaBeryl
mana lanjutnya kak
merry
hbs in hdp dgn baik Rora nikmati kekayaan kluarga mu 😄😄😄 ,,, ksh kesempatan buat abng mu Bpk mu yg bodoh Percy takhayul itu wlpun gk mudah ya 🙏🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!