*Novel dengan Alur Sat Set dan Bab Pendek.*
Junee tidak pernah menyangka akan bertemu lagi dengan Ben Pratama.
Anak culun yang dulu ia tolak di SMA, sekarang jadi CEO muda yang dingin dan sukses. Ketika panti asuhan tempat Junee mengabdi terancam digusur, satu-satunya jalan keluar adalah menerima tawaran Ben: Menjadi istri kontraknya selama satu tahun. Tidak ada cinta. Hanya kesepakatan.
Begitu pikir Junee. Tapi tinggal serumah dengan Ben ternyata tidak sesederhana itu. Setiap tatapannya penuh teka-teki. Setiap sikapnya seperti menyimpan amarah yang belum selesai.
Junee mulai bertanya: Apakah Ben benar-benar membencinya? Atau selama ini, ia salah paham tentang alasan penolakan itu? Satu tahun. Satu kontrak. Satu kesempatan untuk memperbaiki masa lalu. Pertanyaannya… apakah hati mereka masih bisa diperbaiki?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Five Vee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. Tekanan Ibu Mertua.
Karena sekarang libur panjang selama 3 hari, pak Dani meminta Ben untuk mengajak Junee datang ke kedai bakso cabang Cikarang.
Ben sebenarnya menolak. Karena tidak ingin Junee sedih setelah bertemu dengan sang ibu.
Namun, Junee bersikeras agar mereka datang. Ia merasa tidak apa - apa.
Jadilah sekarang mereka berada di kedai bakso cabang Cikarang.
“Ibu pulang jam berapa, Yah?” Tanya Junee pada pak Dani.
Bu Ratna sedang menghadiri arisan sesama para ibu pemilik kedai makanan di komplek perumahan mereka.
Dan setiap kali pulang, wanita paruh baya itu selalu membawa satu cerita baru untuk di ceritakan pada sang suami atau para karyawannya.
“Biasanya sore. Nanti kalian pulang saja sebelum ibu datang.” Ucap pak Dani.
Ia juga tidak suka mendengar sang istri terus - terusan menuntut menantu mereka.
Namun belum sempat Junee menjawab, Bu Ratna sudah kembali dari perkumpulan bersama para ibu - ibu itu.
“Tadi ibu bertemu dengan anaknya bu Santi, Yah.” Ucap Bu Ratna sembari membantu Junee menyiapkan mangkok bakso.
Suaranya santai, tapi matanya tidak pernah lepas dari Junee. “Dia baru melahirkam bulan kemarin. Lucu sekali anaknya. Gemuk, pipinya merah. Rasanya ibu ingin sekali menciumnya. Sayang bukan cucu sendiri.”
Junee menghela nafas pelan. “Syukur kalau begitu, Bu.”
“Umurnya sama seperti kamu, 28 tahun. Muda, subur. Menikah setahun langsung hamil.” Imbuh Bu Ratna.
“Tapi kamu, sudah enam bulan… belum ada tanda-tanda juga.”
Mangkok di tangan Junee berhenti di udara.
Ben, yang duduk di meja kasir, menatap ibunya dengan tajam. Tapi ia tidak berbicara.
Lebih tepatnya, belum.
“Enam bulan itu sebentar, Bu,” jawab Junee pelan. Ia berusaha menjaga suaranya tetap datar. “Dokter mengatakan normal kalau di bawah satu tahun.”
“Normal?” Bu Ratna mengulang kata itu seperti tidak percaya. “Anak orang lain satu bulan sudah positif. Kamu ini… apa kamu sudah periksa?”
Junee menelan ludah.
“Sudah, Bu. Hasilnya…”
“Cukup, Ibu.”
Suara Ben memotong. Dingin. Tidak keras, tapi cukup untuk membuat kedai bakso itu terdiam.
Bu Ratna menoleh. “Apa, Ben? Ibu hanya khawatir. Kamu butuh pewaris. Perusahaan kamu membutuhkan penerus.”
“Perusahaan ini bukan urusan Ibu,” kata Ben datar. “Dan kalau Ibu mau tau, Junee sudah cukup stres. Ibu tidak perlu menambahnya.”
Bu Ratna meletakkan mangkok dengan kasar.
“Kamu terlalu memanjakan istri kamu, Ben. Sebagai wanita, sudah seharusnya dia memberikan anak untuk kamu.”
“Bu.” Pak Dani memperingati.
Untung saja, kedai bakso itu sedang sepi. Dan pengunjung duduk di meja luar. Sehingga, perdebatan mereka tidak menganggu pelanggan.
Para karyawan memilih menjauh. Berpura - pura tidak mendengar. Karena perdebatan itu, sudah biasa terjadi.
“Aku tidak pernah minta Ibu untuk ikut campur urusan rumah tanggaku.” Jawab Ben.
Junee menunduk. Dadanya terasa sesak.
Ia tidak mau Ben bertengkar dengan ibunya karena dirinya. Tapi ia juga tidak bisa menyangkal… kata-kata Ben membuat dadanya sedikit lebih ringan.
“Kamu akan menyesal, Ben. Nanti kalau kamu sudah tua, tidak ada yang memanggilmu Papa, baru kamu mengerti.” Bu Ratna pergi meninggalkan kedai.
Mungkin ke warung sebelah untuk membeli es kelapa muda.
Hening.
Junee menatap mangkok di tangannya.
“Maaf, Ben.” Bisiknya pelan.
“Untuk apa?” Ben mendekat, meminta sang istri untuk keluar dari balik meja dapur.
“Karena Ibu marah.”
“Bukan salah kamu.” Ucap Ben pelan. “Itu salah Ibu. Dan salah aku… karena aku tidak bisa melindungimu lebih cepat.”
Junee tidak menjawab.
Ia hanya mengangguk pelan.
---
Junee berusaha untuk melupakan perdebatan keluarga mereka di kedai bakso tempo hari.
Ia pun mengalihkan pikirannya dengan kembali bekerja di kantor Ben Holding, untuk mengurus yayasan mereka. Ada hal yang lebih penting untuk di urus, daripada memikirkan ucapan ibu mertuanya.
Junee saat ini sedang menemani sang suami di ruang meeting bersama para petinggi Ben Holding.
“Pak Ben, apa anda tidak berencana mengambil cuti untuk pergi liburan bersama istri?” Tanya Pak Hadi, komisaris senior. Usianya hampir 50 tahun, suaranya berat, dan ia tidak pernah suka basa-basi.
“Memangnya kenapa, pak Hadi?” Tanya Ben dengan dahi berkerut halus.
“Bukan apa - apa, pak Ben. Hanya saja, jangan sampai karena urusan kantor, pak Ben dan istri menunda untuk memiliki anak. Bukannya pernikahan kalian sudah hampir dua tahun? Sudah seharusnya, ada tanda - tanda calon CEO baru Ben Holding ‘kan?” Ucap pak Hadi.
Ben menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Wajahnya terlihat datar.
“Kami sama sekali tidak menundanya, pak Hadi.”
“Kalau tidak menunda, kenapa bisa belum hamil? Jangan katakan kalau salah satu dari kalian ada yang bermasalah.” Ucap pak Hadi sembari menoleh ke arah Junee.
Ruangan itu seketika hening.
Junee, yang duduk di sudut ruangan sebagai kepala yayasan Ben Holding pun hanya bisa menundukkan kepalanya.
Bermasalah?
1 kata yang cukup mampu menampar wajah Junee.
Ben menatap Pak Hadi lama.
Lalu dia tersenyum. Tipis dan sangat dingin.
“Jadi kalian menuduh istriku bermasalah hanya karena dia belum hamil?”
“Saya tidak menuduh, Pak Ben,” kata Pak Hadi. “Hanya memastikan masa depan perusahaan ini.”
“Tetapi, sepertinya anda tidak sedang membicarakan bisnis.” Jawab Ben pelan. “Anda sedang membicarakan hidupku. Dan hidupku bukan milik kalian.”
Pak Hadi mengernyit.
“Jangan egois, Pak Ben. Perusahaan ini bukan milik Anda sendiri.”
Ben berdiri.
“Benar. Perusahaan ini memang tidak hanya milikku. Tetapi, kapan keputusan untuk memiliki anak dan penerus perusahaan ini, adalah milikku.”
Ben menatap ke seluruh ruangan.
“Kalau kalian tidak bisa menunggu kelainan anakku, jual saja saham kalian. Aku tidak memerlukan rekan kerja yang hanya melihatku sebagai mesin pembuat pewaris.”
Ruangan itu pecah dalam gumaman.
Beberapa Direksi saling pandang. Tidak ada yang berani menjawab.
Ben kemudian mengajak sang istri keluar dari ruang meeting.
---
Malamnya, Junee kembali tidak bisa tidur.
Ia duduk di balkon kamar utama, dengan memeluk lututnya. Angin malam Jakarta menerpa wajahnya, tetapi tidak cukup untuk mendinginkan kepalanya yang terasa sangat panas.
Ben datang membawa selimut tipis.
“Kamu kedinginan, Junee.” Katanya sembari menyelimuti bahu Junee.
Junee tidak menolak.
“Maaf ya, Ben. Karena aku, kamu bertengkar dengan Ibu, dan juga dengan Direksi.”
Ben duduk di sebelahnya.
“Aku tidak bertengkar karena kamu. Aku bertengkar karena mereka pikir mereka berhak mengatur hidupku.”
“Tapi mereka benar, Ben.” Bisik Junee. “Perusahaan ini butuh penerus. Kamu butuh seorang anak.”
Ben menoleh. Tatapannya serius.
“Dengar baik-baik, Junee. Aku tidak butuh penerus dari darahku. Aku butuh seseorang yang mau membangun masa depan bersamaku. Dan orang itu kamu.”
Junee pun ikut menatap pria itu.
“Kalau aku tidak bisa…”
“Kamu bisa.” Potong Ben. “Mungkin bukan dengan cara yang kamu pikirkan. Tapi kamu bisa. Dan kalau tidak… kita cari jalan lain. Adopsi mungkin. Bayi tabung. Apa saja. Tapi kita cari bersama.”
Junee menggigit bibirnya.
“Kenapa kamu begitu yakin sama aku, Ben?”
“Karena aku sudah melihat kamu jatuh berkali-kali.” Jawab Ben pelan. “Dan setiap kali kamu jatuh, kamu berdiri lagi. Itu yang aku butuhkan. Bukan rahim yang subur. Tapi hati yang kuat.”
Junee merasa dadanya sesak.
Tidak ada yang pernah mengatakan hal seperti itu padanya.
“Terima kasih, Ben.” Bisiknya.
“Jangan mengatakan terima kasih.” Kata Ben sambil tersenyum kecil. “Kamu pantas mendengarnya.”
Mereka pun terdiam.
Tapi kali ini, diamnya tidak sesak.
Diamnya seperti selimut hangat di tengah dinginnya tekanan dari luar.
---
---
pesan 1 kak