Raisa Maureen ditinggal mati suaminya di dalam kondisi masih prawan, lalu ia melakukan hubungan satu malam dengan kakak iparnya karena pria itu mabuk berat dan kehilangan keperawanannya. setelah menikah dengan Evan ia baru mengetahui kenapa selama ini Aditya almarhum suaminya tidak pernah menyentuhnya. Apa yang sebenarnya terjadi? ikuti kelanjutan kisah nya hanya disini!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Prettyies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cemburu
Raisa masih memeluk Evan erat, seolah takut pria itu benar-benar pergi jika ia melepaskannya.
Evan mengusap pelan rambutnya.
"Udah… jangan nangis lagi," bisiknya lembut.
Raisa menggeleng kecil.
"Aku capek, mas…" suaranya lirih. "Kenapa hidup aku begini terus…"
Evan menatap wajahnya yang basah air mata, lalu menghapusnya perlahan dengan ibu jarinya.
"Sekarang semuanya sudah selesai."
Raisa tertawa pahit.
"Nggak semudah itu selesai, mas. Aku baru tahu ternyata pernikahan aku cuma kebohongan."
Evan terdiam.
Raisa menunduk.
"Aku sampai mikir aku kurang cantik… kurang menarik… sampai suami aku nggak pernah mau nyentuh aku," ucapnya pelan. "Ternyata alasannya malah lebih sakit."
Evan langsung menarik Raisa kembali ke pelukannya.
"Jangan ngomong begitu lagi. Kamu nggak pernah kurang apa pun."
Raisa memejamkan mata sesaat, mencoba menenangkan dirinya.
"Mas…"
"Hm?"
"Aku takut nanti orang-orang tahu semuanya."
Evan mengangkat dagunya pelan.
"Kalau suatu hari itu terjadi… biar mas yang hadapi."
Raisa menatap matanya lama.
"Kamu kenapa baik banget sama aku?"
Evan tersenyum kecil.
"Karena dari dulu… mas memang sayang sama kamu."
Raisa terdiam, dadanya terasa hangat sekaligus sesak.
"Evan…" panggilnya pelan, untuk pertama kalinya tanpa embel-embel “mas”.
Evan sedikit terkejut, lalu tersenyum tipis.
"Ya?"
Raisa menunduk malu.
"Nggak apa-apa…"
Evan tertawa kecil.
"Ulang lagi."
Raisa langsung memukul pelan dadanya.
"Nggak mau."
Evan menggoda sambil mendekatkan wajahnya.
"Sekali aja…"
Raisa akhirnya menyerah, suaranya pelan sekali.
"Evan…"
Senyum Evan langsung melembut.
"Manis," gumamnya.
Raisa memalingkan wajah, pipinya memerah meski matanya masih sembab karena menangis.
"Ayo pulang…" ucapnya pelan.
Evan mengangguk.
"Iya. Habis ini kita ke rumah orang tua kamu."
Raisa langsung menoleh cepat.
"Sekarang?"
"Iya. Bukannya tadi kamu yang nyuruh mas tanggung jawab?"
Raisa langsung salah tingkah.
"Aku ngomongnya emosi tadi…"
Evan terkekeh kecil.
"Tapi mas serius."
Ia membuka pintu mobil untuk Raisa.
"Mulai hari ini… nggak ada lagi hubungan yang disembunyikan."
Raisa menatap Evan beberapa detik lalu perlahan mengangguk,mencoba percaya sekali lagi… pada seseorang.
Raisa menarik napas panjang setelah masuk ke mobil, lalu memegang perutnya pelan.
"Aku lapar, mas…"
Evan langsung menoleh sambil menyalakan mesin mobil.
"Mau makan apa?"
Raisa berpikir sebentar, lalu menjawab pelan,
"Aku pengen makan di luar…"
Evan tersenyum tipis.
"Berarti kita ke mall aja. Sekalian jalan."
Raisa meliriknya.
"Mall?"
"Iya," jawab Evan santai. "Mau sekalian belanja juga nggak?"
Raisa langsung menggeleng cepat.
"Nggak usah. Aku aja sekarang nggak punya kerjaan… bayarnya pakai apa?"
Evan tertawa kecil.
"Pakai cinta aja."
Raisa langsung memandangnya kesal.
"Apaan sih…"
Evan tersenyum jail.
"Kamu belajar cintai mas pelan-pelan, nanti semua kebutuhan kamu mas yang tanggung. Belanja, makan, apa pun."
Raisa mendengus kecil.
"Ih, aku nggak mau. Kamu kan belum jadi suami aku."
Evan mengangkat alis sambil meliriknya nakal.
"Tapi waktu mas tidur sama kamu… kamu mau, padahal mas juga belum jadi suami."
Raisa langsung tersedak ludah sendiri.
"Mas!" pipinya memerah seketika. "Jangan ngomong sembarangan!"
Evan malah tertawa puas melihat reaksinya.
"Loh, salah ya?"
Raisa memukul pelan lengannya.
"Kamu tuh ya… suka bikin malu."
Evan menangkap tangan Raisa sebentar lalu menciumnya singkat.
"Kalau sama calon istri sendiri mah nggak malu."
Raisa buru-buru menarik tangannya kembali, jantungnya berdebar tidak karuan.
"Belum calon istri resmi…" gumamnya malu.
Evan tersenyum kecil sambil menjalankan mobil.
"Sebentar lagi juga resmi."
Evan melirik Raisa sambil tersenyum tipis.
"Uang mas itu juga uang kamu nanti."
Raisa langsung menggeleng cepat.
"Jangan gitu… nanti aku keterusan."
Evan terkekeh kecil.
"Kalau buat kamu, mas ikhlas."
Raisa mendengus pelan.
"Nanti kamu bangkrut."
Evan menoleh sebentar, lalu berkata santai,
"Kamu aja sudah merampok hati mas."
Raisa langsung memalingkan wajah karena malu.
"Ihh… gombal."
Mobil akhirnya masuk ke basement mall. Setelah parkir, Evan turun lebih dulu lalu membuka pintu untuk Raisa.Mereka berjalan berdampingan sambil bergandengan tangan menuju eskalator.
Baru beberapa langkah suara seorang wanita terdengar memanggil.
"Evan?"
Evan menoleh.
Seorang wanita cantik dengan penampilan elegan menghampiri mereka sambil tersenyum.
"Apa kabar? Akhirnya ketemu lagi."
Evan membalas sopan.
"Baik, Ren."
Wanita itu lalu melirik Raisa.
"Oh ya… ini istrinya Aditya, kan?" tanyanya hati-hati. "Maaf ya, kemarin aku belum sempat melayat."
Raisa tersenyum tipis meski sedikit canggung.
"Iya… nggak apa-apa."
Raisa lalu menoleh ke Evan pelan.
"Siapa dia?"
Evan menjawab santai.
"Dia Iren. Teman mas… sekaligus teman Aditya juga."
Iren langsung tertawa kecil.
"Tenang aja, Raisa. Aku lebih dekat sama Evan kok daripada Aditya," godanya ringan. "Tapi cuma sahabat, ya. Jangan cemburu."
Raisa tersenyum tipis, tapi dalam hatinya langsung terasa mengganjal.
"Justru aku yang harus cemburu kalau dia dekat sama Mas Evan…" batinnya pelan.
Sementara Evan yang masih menggenggam tangan Raisa tampak santai.tidak sadar kalau wanita di sampingnya mulai merasakan sesuatu yang baru rasa takut kehilangan.
ulat bulu mulai berdatangan...
Raisa kamu harus kuat menghadapi para uget uget yang mengincar Evan...
semangat naik ranjang
udah tau juga belang Aditya..
udah dengerin aja,jangan jadi orang yang sok tau gimana Aditya
udah di obok obok tiap hari msak gak mau dinikahi..
ada2 aja,kemana harga diri Mu Sa
pak David tukang kibul malah dikibulin...
anak sendiri pula pelakunya 🤣🤣🤣🤣