Melina Khairunisa seorang gadis berusia 19 tahun, yang tumbuh di panti asuhan tanpa tahu siapa orangtua kandungnya. Dirinya harus dipaksa menikah dengan putranya---Ishan Ganendra atas desakan Nyonya rumah bernama Adisti Ganendra, tempatnya bekerja sebagai ART.
Ishan Ganendra sebagai Aktor terkenal berusia 30 tahun, dan sudah memiliki kekasih---Livia Kumara seorang model papan atas. Setelah menikahi Ishan----tak sekalipun Melina di perlakukan selayaknya istri, bahkan seringkali mendapatkan KDRT, sikap kasar, dan ucapan yang menyakitkan hati dari mulut Ishan.
Suatu saat Karena Konspirasi dibuat Livia, membuat Melina masuk penjara dan Ishan meragukan anak di kandungannya.
Hidup selalu adil, di saat terpuruk Melina bertemu orangtua kandungnya seorang Perwira TNI dan Dokter berpengaruh, yang memiliki pengaruh besar sehingga Melina bisa bebas dari penjara. Bagaimana reaksi Ishan setelah tahu Melina tak bersalah dan anak yang dikandung Melina adalah anaknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sabina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Malam telah tiba, di kegelapan malam di kota ini.
Setelah saling telepon di parkiran mobil depan bangunan terbengkalai, saat itu Ishan masih mesra dengan Melina.
Ishan abis menjemput Melina pulang dari kampus, dan abis menjemput istrinya Ishan langsung berangkat untuk syuting.
Karena ada salah satu acara televisi yang mengundangnya, tadi Ishan menyetujui untuk ke apartemen Livia saat selesai syuting.
Melina tahu itu, dan dirinya akan bebas dari Ishan setelah memberikannya seorang anak.
Tahu apa yang akan Melina lakukan.
Gadis ini akan mengatakan semua kepada mertuanya, jika Ishan masih menjalin hubungan dengan Livia.
Dirinya hanya ingin lepas dari Ishan setelah menikah, dan bisa dibayangkan reaksi Adisti mengetahui bagaimana putranya masih menjalin hubungan dengan Livia.
Adisti memang tak setuju hubungan Ishan dan Livia, karena sudah di pastikan Livia adalah barang bekas.
Apalagi Livia pernah terseret kasus skandal video dewasa dengan seorang pengusaha.
Ishan syuting dan di undang ke acara televisi, namun setelah selesai acara bukannya langsung pulang ke rumah.
Pulang ke rumah untuk menemui istri dan ibunya---malah ke apartemen mewah Livia yang di berikan cuma-cuma oleh seorang pengusaha.
Jujur saja, Ihsan butuh pelarian karena bimbang akan perasaannya.
Malam ini tentu Ishan tak pulang ke rumah, karena dirinya akan ke apartemen Livia seperti yang diinginkan oleh sang kekasih.
Rupanya wanita berwajah latino itu menginginkan bercinta dengan Ihsan, karena Ihsan dalam melakukan hubungan bisa di bilang brutal.
Ishan sendiri butuh kepastian, memastikan jika dirinya masih mencintai Livia---atau dirinya sudah mencintai Melina, wanita yang sekarang berstatus sebagai istrinya.
Setelah menyelesaikan syutingnya Ishan pergi ke apartemen Livia.
Pria itu baru keluar dari parkiran mobil apartemen, Ishan tampil dengan mengenakan kaos kuning cerah dengan gambar iklan vintage dan celana pendek kargo berwarna hijau sampai lutut.
Tidak ada lagi amarah dan emosi yang tertahan, sekarang hanya di gantikan rasa bimbang dalam hatinya.
"Sebenernya gua gimana sih ama si Meliana, hadehh malah kebayang mulu ama dia."
Ishan berjalan sambil bergumam di bibirnya, langkahnya menuju lift untuk ke apartemen Livia.
Langkahnya yang saat itu baru saja tiba di depan pintu apartemen Livia Kumara.
Begitu masuk pintu apartemen terbuka.
Ishan menghirup aroma parfum mahal yang amat di rindukannya, namun kali ini entah mengapa perasaannya berbeda.
Bukan lagi hawa syahwat yang membumbung, melainkan perasaan yang biasa saja.
Lalu Livia datang berdiri menyambut kekasihnya dengan mengenakan lingerie satin.
Nampak lingerie satin itu membalut tubuhnya yang sexy, lingerie berwarna hijau emerald itu terbalut sempurna di tubuhnya.
Ihsan yang biasanya di penuh syahwat, hanya bisa terdiam tanpa merasakan apapun dalam dirinya.
Malah yang terbayang tubuh Melina----gadis yang dulu dirinya pandang hina, pikirannya kali ini selalu terbayang istrinya.
"Hallo sayang, akhirnya datang juga," ucap Livia dengan suara yang terdengar lembut.
Ishan menoleh ke belakang, melihat bagaimana Livia berpenampilan menggodanya.
Di mata Ishan bukan Livia melainkan Melina---istrinya yang berjalan ke arahnya dengan balutan lingerie hijau.
Livia mendekati Ishan tanpa ragu, lalu kedua tangannya yang lentik bergelayut manja di leher Ishan.
Jemarinya yang lentik tampak memainkan tengkuk kekasihnya ini.
Aneh dan sungguh aneh, biasanya jika Livia sudah seperti ini maka juniornya Ihsan akan berdiri.
Namun, juniornya Ishan masih tertidur.
"Kamu kapan mau ceraikan tuh anak panti asuhan?" tanya Livia dengan nada manja.
Livia masih bergelayut manja di leher Ihsan, dirinya sama sekali tak tahu malu---bahwa pria di depannya ini sudah memiliki istri.
Livia mendekat tanpa ragu, menginginkan hubungan badan tanpa mau tahu konsekuensinya.
Ishan menelan salivanya saat melihat kemolekan tubuh Livia, kekasihnya.
"Sayang akan aku pastikan malam ini, kamu berteriak...," ucap Livia membelai halus dagu Ishan.
Tangannya sudah mengusap dada bidang Ishan, lalu menjalar ke bawah.
Seketika juniornya bangun, dan Ishan yang pria normal akhirnya luluh.
Senyum tipis terbit di wajahnya, tangan Livia masih melingkar di lehernya.
Sementara tangannya melingkar di pinggang Livia.
Di apartemen ini, di hadapan wanita yang sudah pernah mengisi ruang hatinya.
Ishan merasa syahwat yang bergelora, Livia menyerahkan secara sukarela meski tahu Ishan bukan suaminya.
Berbeda dengan Melina, gadis itu justru enggan di sentuh Ihsan meski tahu----Ihsan adalah suaminya.
"Kamu kelihatan lelah, sayang," bisik Livia dengan mendekatkan wajahnya ke wajah Ishan.
Seketika Livia langsung menyambar bibir Ishan, dan tangan Ishan mulai meraba nakal ke bagian belakang Livia.
Di mata Ishan entah kenapa wajah Livia berubah menjadi wajah Melina---istrinya.
Melina bagi Ishan sangat manis, seperti candu.
Keduanya melakukan itu, sampai Ishan melepas kaosnya lalu menidurkan Melina di atas ranjang.
Tangannya membuka tirai tipis yang menutupi lembah tersembunyi milik Melina.
Lalu Ishan melepaskan celananya, dan langsung mendekat ke arah Livia.
Livia terbaring pasrah, saat Ishan memainkan kuncup bunga miliknya di atas sebuah gunung.
Menghisap manis madu dari sana, lalu melakukan penyatuan di apartemen mewah milik Livia.
Di balik jendela apartemen yang menampilkan cahaya gedung-gedung dengan lampu kota, sejenak Ishan melupakan istrinya---Melina.
Ishan menancapkan patok di antara dua pilar berwarna kecoklatan itu, lalu mulai mengendarai kuda menuju lembah milik Livia.
Lembah itu luas, karena sudah sering di buat berkuda oleh orang lain selain Ihsan.
Ihsan merasa ada yang aneh saat berkuda di lembah tersembunyi milik kekasihnya, tak senyaman milik Melina.
Baginya, Livia adalah wanita yang akan memuaskannya malam ini.
Sementara Melina adalah kewajiban nafkah yang harus di genggamnya.
Ishan sadar jika kelakuannya ini tak baik, namun syahwat yang membumbung yang mengacaukan akal sehatnya.
Malam ini kedua pasangan ini melakukan zina, karena setan yang merasuki keduanya, tapi sialnya Ishan keceplosan saat mengeluarkan suara desahan.
"Arghhh...Melina...Melina," ucapnya.
Seketika Livia langsung memasang wajah tak suka, dan mendorong tubuh Ishan menjauh.
Mata Melina memancarkan amarah, tangannya meraih selimut menutupi tubuhnya.
"Kamu mengatakan apa Ishan Ganendra!" marahnya menatap Ishan.
Ishan langsung menepuk kepalanya, dirinya sama sekali tak sadar saat berhubungan tengah memikirkan istrinya.
Melina.
Rupanya gadis yang dari panti asuhan ini, sudah menguasai pikiran dan hati Ishan hanya saja Ishan tak sadar.
*