NovelToon NovelToon
Cinta Terlarang

Cinta Terlarang

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Teen / Single Mom
Popularitas:962
Nilai: 5
Nama Author: zhafira nabhan

Naura hanya seorang gadis yang jatuh cinta terlalu dalam… dan harus membayar semuanya dengan kehilangan.

Ditinggalkan oleh lelaki yang ia cintai 'tanpa pernah tahu bahwa itu semua hanyalah kebohongan kejam'. Naura memilih pergi, membawa luka dan kehidupan baru yang tumbuh dalam rahimnya sendirian.

Selama delapan belas tahun, ia bertahan di tengah kemiskinan, mengorbankan segalanya demi satu alasan: anaknya, Genesis.

Namun saat dunia Genesis hanya tersisa ibunya… takdir kembali merenggut satu-satunya alasan ia bertahan hidup.

Kini, di antara sepi, kehilangan, dan batas tipis antara kewarasan dan kegilaan…

Satu minggu kemudian, Alexa datang menyelamatkan Genesis yang sedang terpuruk setelah Naura meninggal.

Namun ternyata, Alexa adalah Naura...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhafira nabhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27

Suasana di dalam villa itu masih menyisakan ketegangan yang belum benar-benar reda. Udara terasa berat, seolah dinding-dinding besar itu menyimpan gema percakapan barusan yang terlalu tajam untuk dilupakan begitu saja.

Alexa masih berdiri di tempatnya, napasnya belum stabil, matanya sedikit sembab, sementara Genesis berdiri di depannya dengan tubuh yang tegang, rahangnya mengeras, dan tatapan yang tidak lagi sama seperti sebelumnya.

“Lex…” suara Genesis lebih pelan sekarang, tapi justru terdengar lebih dalam. Ia tidak lagi meledak, tapi tekanan dalam suaranya terasa jelas. “Lo bener-bener mau tetap di sini?”

Alexa menatapnya, matanya bergetar. Ia ingin langsung menjawab “tidak”, ingin lari dan menggenggam tangan anaknya itu tanpa ragu, tapi realitas di sekelilingnya terlalu menekan.

Ada kamera, ada penjaga, ada sistem yang jauh lebih besar dari sekadar keinginan hati.

“Aku… nggak punya pilihan, Gen,” jawabnya lirih, suaranya pecah di tengah kalimat. “Mereka nggak bakal lepasin aku gitu aja.”

Genesis menghela napas panjang, tangannya mengepal lalu mengendur lagi, seolah menahan sesuatu yang hampir meledak.

“Pilihan itu selalu ada,” balasnya pelan, menatap lurus ke mata Alexa. “Tinggal lo berani atau nggak.”

Kalimat itu menusuk. Alexa menunduk, menggigit bibirnya. Ia tahu Genesis tidak salah. Tapi keberanian yang dimaksud bukan sekadar melawan orang tua—itu berarti menghancurkan seluruh dunia yang sedang menahannya sekarang.

“Gen…” Alexa melangkah mendekat, tangannya terangkat ragu sebelum akhirnya menyentuh lengan pria itu. “Aku takut.”

Satu kata itu cukup untuk membuat pertahanan Genesis retak. Tatapannya melunak sedikit, tapi tidak sepenuhnya. Ada sesuatu yang berubah di dalam dirinya sejak pertemuan barusan dengan Genta. Sesuatu yang lebih gelap, lebih dingin.

“Apa yang lo takutin?” tanyanya, suaranya rendah.

“Semuanya,” jawab Alexa jujur, air matanya kembali jatuh tanpa bisa ditahan. “Aku takut kehilangan kamu… tapi aku juga takut kalau aku lawan mereka, semuanya bakal makin hancur. Aku nggak ngerti harus pilih yang mana…”

Genesis diam beberapa detik, menatap wajah itu lekat-lekat. Wajah yang selalu berhasil menenangkan dirinya, tapi sekarang justru terlihat rapuh.

“Lo nggak perlu milih,” katanya akhirnya, perlahan. “Gue yang bakal ambil lo keluar dari sini.”

Alexa tertegun. “Gen…”

“Gue serius,” lanjut Genesis, kini suaranya lebih tegas. “Gue nggak peduli siapa dia. Mau dia calon suami lo, pengusaha, atau siapa pun itu… gue nggak bakal mundur.”

Langkah kaki terdengar dari arah lorong. Dua petugas keamanan sudah berdiri di ambang pintu, menatap tajam ke arah pintu kamar Alexa.

“Nona, apa Anda sedang bersama seseorang?” salah satu dari mereka berkata dingin dari luar ruangan.

Alexa langsung panik. “Gen, kamu harus pergi sekarang.."

"Tunggu! Sebentar lagi—”

“Tidak bisa, Gen. Aku tidak ingin mereka menyakiti mu, cepat pergi dari sini.” potong Alexa

Genesis tidak melawan. Ia hanya menatap Alexa sekali lagi, dalam, lama, seolah mengukir wajah itu ke dalam ingatannya.

“Gue bakal balik,” katanya pelan, tapi penuh kepastian. “Dan pas gue balik nanti… gue nggak bakal pergi lagi.”

Alexa menggenggam tangan Genesis cepat, seolah waktu benar-benar habis. “Jangan nekat, Gen… aku nggak mau kamu kenapa-kenapa…”

Genesis tersenyum tipis, tapi matanya tidak tersenyum. “Udah terlambat buat itu.”

Tangannya perlahan terlepas dari genggaman Alexa saat tubuhnya ditarik menjauh oleh perasaan bersalah. Alexa berdiri terpaku, melihat punggung itu semakin menjauh, sampai akhirnya benar-benar menghilang di balik jendela besar villa.

Hening.

Alexa menutup matanya, napasnya gemetar. Dadanya terasa kosong lagi. Terlalu cepat. Selalu terlalu cepat.

.

Di luar, udara malam Puncak terasa dingin menusuk kulit. Kabut tipis turun perlahan, menyelimuti halaman luas villa itu dengan kesunyian yang aneh. Genesis berjalan keluar tanpa menoleh, langkahnya mantap, tapi pikirannya bekerja cepat.

Nama itu kembali muncul di kepalanya.

Genta.

Ia berhenti sejenak di dekat gerbang, menoleh ke arah bangunan besar di belakangnya. Lampu-lampu menyala terang, mewah, seperti dunia lain yang tidak pernah menjadi miliknya.

“Jadi lo yang mau ambil dia dari gue…” gumamnya pelan.

Tangannya masuk ke saku jaket, menggenggam dompetnya. Nafasnya diatur pelan, mencoba menenangkan sesuatu yang bergejolak di dalam dadanya. Ini bukan lagi sekadar soal perasaan. Ini sudah jadi pertarungan.

“Kalau gue cuma datang bawa emosi, gue bakal kalah,” lanjutnya dalam hati. “Dia punya kekuasaan. Punya uang. Punya orang-orang.”

Matanya menyipit sedikit.

“Berarti gue harus punya cara.”

Sebuah mobil melintas di jalan depan villa. Genesis memperhatikannya sekilas, lalu kembali berjalan menuruni jalan setapak. Kali ini langkahnya berbeda. Tidak terburu-buru. Tidak kacau.

Lebih tenang. Lebih terarah. Di kepalanya, satu hal mulai terbentuk—rencana.

.

Di dalam villa, suasana tidak kalah tegang.

Genta masih berdiri di tempatnya tadi, satu tangan masuk ke saku celana, wajahnya tenang seperti biasa, tapi sorot matanya tidak lagi datar. Ia menatap ke arah pintu yang baru saja ditutup, lalu perlahan beralih ke arah Alexa.

Gadis itu masih berdiri di sana, membelakanginya, bahunya sedikit bergetar.

“Apa dia selalu seperti itu?” tanya Genta akhirnya, suaranya tenang, tanpa emosi yang jelas.

Alexa tidak langsung menjawab. Ia menghapus air matanya cepat, mencoba mengembalikan dirinya ke posisi semula.

“Seperti apa?” balasnya, tanpa menoleh.

“Nekat. Keras kepala. Dan terlalu yakin dengan apa yang dia mau,” jawab Genta singkat.

Alexa berbalik perlahan, menatapnya dengan mata yang masih merah. “Dia cuma jujur sama perasaannya. Itu bukan hal yang buruk.”

Genta mengamati wajah itu. Lama. Terlalu lama sampai membuat Alexa sedikit tidak nyaman.

“Menarik,” gumamnya pelan.

“Apa?” Alexa mengernyit.

“Kamu berubah,” kata Genta langsung. “Sangat berbeda dari terakhir kali kita bertemu sebelum kamu… menghilang.”

Alexa menegang.

“Aku tidak ingat apa-apa tentang sebelum itu,” jawabnya hati-hati.

“Ya, aku dengar,” balas Genta ringan. Ia melangkah sedikit mendekat, tapi tidak terlalu dekat. “Tapi cara kamu bicara, cara kamu membela dia, bahkan cara kamu menatapku barusan… itu bukan Alexa yang aku kenal.”

Jantung Alexa berdegup lebih cepat. Ia menahan napas, mencoba tetap tenang.

“Orang bisa berubah,” katanya singkat.

“Tidak secepat ini,” potong Genta.

Hening sejenak. Udara di antara mereka terasa aneh—bukan tegang seperti tadi dengan Genesis, tapi lebih dalam, lebih sulit dijelaskan.

Genta menatapnya sekali lagi, lalu berkata pelan, “Kamu tahu… ada satu hal yang aneh.”

Alexa tidak menjawab, tapi matanya menunjukkan ia mendengar.

“Tadi waktu kamu marah… kamu bilang sesuatu dengan cara yang sangat familiar,” lanjut Genta. “Cara itu… mengingatkanku pada seseorang.”

Tubuh Alexa menegang tanpa sadar.

“Seseorang dari masa lalu?” tanyanya pelan.

Genta mengangguk sedikit. “Seseorang yang sudah lama hilang.”

Kalimat itu menggantung di udara. Alexa menatapnya, napasnya tertahan, dadanya terasa sesak.

Jangan… jangan bilang…

“Siapa?” bisiknya hampir tanpa suara.

Genta tidak langsung menjawab. Ia hanya tersenyum tipis, lalu menggeleng.

“Tidak penting,” katanya akhirnya. “Mungkin cuma perasaanku saja.”

Tapi cara dia menatap Alexa jelas mengatakan sebaliknya.

Ia penasaran, tapi itu baru permulaan.

.

Malam semakin larut. Tiga orang berada di tiga tempat berbeda.

Genesis berjalan di jalan gelap, dengan tekad yang mulai mengeras menjadi ambisi.

Alexa berdiri di dalam sangkar emas, hatinya terbelah antara masa lalu dan masa kini.

Dan Genta… berdiri di tengah, perlahan menyadari bahwa wanita yang akan ia nikahi bukan lagi orang yang sama.

Retakan itu sudah muncul.

Dan tanpa mereka sadari… retakan itu akan segera berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih besar.

1
Mak e Tongblung
insting gen hebat👍
Mak e Tongblung
kukira genesis itu perempuan 😄
zhafira: laki kak.. 😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!