Rania, seorang dokter spesialis bedah yang logis dan tenang, merasa hidupnya adalah definisi kebahagiaan. Suaminya, Damar, adalah kontraktor sukses yang penyayang. Namun, kesempurnaan itu runtuh saat Damar hilang tanpa jejak. Polisi menyerah, namun insting Rania sebagai istri dan dokter mengatakan ada yang tidak beres.
Penyelidikan mandiri membawanya ke sebuah ruang bawah tanah di kantor lama Damar. Di sana, ia menemukan koleksi gaun, wig, dan alat rias.
Apa yang terjadi pada Damar ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembalinya Wajah Baru
Pesawat yang membawa Mario dan Dara mendarat dengan mulus di Bandara Internasional Jenderal Ahmad Yani, Semarang. Udara panas lembap khas pesisir menyambut mereka begitu menuruni tangga pesawat pribadi yang disewa Mario. Bagi Dara, ini bukan sekadar kepulangan, melainkan sebuah debut. Ia melangkah dengan dagu terangkat, mengenakan kacamata hitam berbingkai lebar dan gaun terusan sutra yang melambai ditiup angin laut.
Tidak ada lagi sisa-sisa Damar dalam langkah itu. Operasi V-line pada rahangnya telah memberikan struktur wajah yang tirus dan feminin, hidungnya kini kecil dan mancung sempurna, serta suaranya—yang sempat ia uji saat menyapa pramugari tadi—terdengar tinggi, lembut, dan sepenuhnya merdu.
"Selamat datang kembali di rumah, Sayang," bisik Mario sambil merangkul pinggang Dara yang kini terasa lebih ramping.
Dara tersenyum, sebuah senyuman yang kini terlihat sangat manis tanpa ada lagi kesan kaku. "Terima kasih, Mario. Rasanya aneh kembali ke sini dengan perasaan yang begitu... baru."
Persinggahan Sementara di Hotel Mewah
Alih-alih langsung menuju apartemen penthouse miliknya di perbukitan, Mario justru mengarahkan sopir pribadinya menuju sebuah hotel butik paling prestisius di pusat kota.
"Kita ke hotel dulu ya? Aku sudah memesan kamar executive suite untuk dua hari ke depan," ujar Mario saat mereka duduk di kabin belakang mobil yang kedap suara.
Dara sedikit mengernyit, meski tetap terlihat cantik. "Kenapa tidak langsung ke apartemen saja? Aku sudah rindu dapurku."
Mario terkekeh, ia menggenggam tangan Dara dan mencium jemarinya yang lentur. "Apartemen kita sudah kosong selama dua bulan lebih, Sayang. Pasti debunya tebal. Aku sudah menyewa tim cleaning service profesional untuk membersihkannya secara total hari ini. Aku tidak mau kamu bersin-bersin atau kelelahan mengurus debu di hari pertama kepulangan kita. Aku ingin semuanya sempurna, harum, dan siap menyambut 'Dara yang baru'."
"Kamu selalu memikirkan hal-hal kecil ya," puji Dara sambil menyandarkan kepalanya di bahu kekar Mario. Di balik kacamata hitamnya, Dara menatap jalanan kota Semarang. Ia teringat kejadian di SPBU sebelum ia berangkat ke Thailand. Ia bertanya-tanya dalam hati, di mana Rania sekarang? Namun, pikiran itu segera ia tepis. Baginya, Semarang yang luas ini tidak akan membiarkan mereka bertemu lagi.
Makan Malam dan Janji di Balik Lilin
Malam harinya, Mario mengajak Dara makan malam di restoran hotel yang terletak di balkon terbuka, menghadap langsung ke arah kerlap-kerlip lampu kota Semarang yang membentang hingga ke pelabuhan. Suasana sangat romantis dengan iringan biola yang dimainkan secara live.
Wajah Dara di bawah cahaya lilin terlihat seperti porselen mahal. Mario hampir tidak bisa melepaskan pandangannya dari mahakarya yang ia biayai itu. Namun, di balik kemesraan itu, wajah Mario menyimpan sedikit guratan beban kerja.
"Dara, ada sesuatu yang harus aku sampaikan," ujar Mario setelah mereka menyelesaikan menu utama.
Dara meletakkan gelas kristalnya, menatap Mario dengan penuh perhatian. "Ada apa, Mario? Kamu kelihatan sedikit tegang."
Mario menghela napas panjang. "Besok, kehidupanku yang santai di Thailand harus berakhir. Aku akan sangat sibuk. Ada tumpukan laporan yang menunggu, meeting dengan klien dari Italia yang sempat tertunda, dan aku harus meninjau pabrik baru kita di Kendal yang pembangunannya hampir selesai. Belum lagi beberapa permasalahan administrasi di kantor pusat."
Dara terdiam sejenak, lalu ia meraih tangan Mario di atas meja. Ia memberikan senyum paling mendukung yang bisa ia berikan. Suaranya kini terdengar seperti musik di telinga Mario.
"Aku mengerti, Mario. Kamu adalah seorang pemimpin, dan aku tahu bebanmu besar. Jangan khawatirkan aku. Aku akan sangat mendukung semua kegiatanmu. Aku tidak akan menjadi beban yang merengek minta perhatian setiap jam," ujar Dara lembut.
Ia melanjutkan dengan nada yang lebih ceria, "Justru aku punya rencana. Setelah kita kembali ke apartemen lusa, aku akan rajin memasak. Aku sudah belajar beberapa resep baru selama kita di Thailand. Aku akan mengirimkan makan siang ke kantormu setiap hari. Aku ingin memastikan pria hebatku ini makan dengan benar di tengah kesibukannya."
Mario tampak sangat tersentuh. "Kamu serius? Kamu tidak akan bosan?"
"Tentu saja tidak. Menjadi is—maksudku, menjadi pendampingmu adalah tugas utamaku sekarang. Aku ingin menjadi tempatmu pulang dan melepaskan lelah," jawab Dara. Hampir saja ia menyebut kata "istri", namun ia segera meralatnya menjadi "pendamping".
Malam Romantis dan Penegasan Identitas
Setelah makan malam, mereka kembali ke kamar suite yang sudah ditaburi kelopak bunga mawar di atas tempat tidur. Mario membuka botol sampanye, merayakan kesuksesan transformasi Dara.
"Dara," panggil Mario pelan saat mereka berdiri di depan jendela besar yang menampilkan cakrawala malam.
"Ya?"
"Mulai hari ini, tidak ada lagi masa lalu. Kamu adalah Dara. Wanita yang akan mendampingiku meraih puncak kesuksesan. Aku tidak peduli apa kata dunia di luar sana, yang aku tahu, aku mencintaimu lebih dari apa pun," bisik Mario di telinga Dara.
"Nanti setelah keadaan nya normal aku akan menceraikan dia." janji Mario
Malam itu dilalui dengan sangat romantis. Dalam pelukan Mario, Dara merasa benar-benar telah menemukan dunianya. Ia merasa aman, dicintai, dan yang paling penting, ia merasa berkuasa atas fisiknya yang baru. Rasa sakit operasi yang ia rasakan selama di Thailand seolah sirna berganti dengan kepuasan batin yang mendalam.
Namun, saat Mario sudah terlelap, Dara sempat berdiri di balkon sendirian. Ia menatap ke arah Barat, ke arah perbukitan yang menuju ke Kendal. Ia tahu Mario sedang membangun pabrik baru di sana. Ia tidak tahu bahwa di sana, hanya berjarak beberapa puluh kilometer, Rania sedang membangun mimpinya sendiri dengan klinik kecil yang penuh berkah.
Dara menarik napas dalam, merasakan udara malam yang sedikit menusuk. Besok, hidup yang sebenarnya dimulai, batinnya. Ia merasa siap menghadapi Semarang. Ia merasa siap menghadapi klien-klien Mario dengan identitas barunya. Ia yakin, dengan permakan total pada wajah dan pita suaranya, bahkan ibunya sendiri tidak akan mengenali bahwa wanita cantik yang bergelayut di lengan Mario adalah putranya yang hilang.
Dialog di Sela Kehangatan
"Mario, apakah klien-klienmu nanti tidak akan curiga dengan kehadiranku?" tanya Dara saat mereka masih bersantai sebelum tidur.
Mario yang sedang melepas jam tangan mahalnya menoleh. "Curiga apa? Mereka hanya akan melihat seorang pengusaha sukses yang membawa wanita cantik di sampingnya. Di dunia bisnis, itu hal yang lumrah. Lagipula, siapa yang berani mempertanyakan pilihanku? Aku adalah Mario, pemilik Langkah Jaya."
Dara mengangguk, sedikit lega. "Aku hanya tidak ingin merusak reputasimu."
"Reputasiku justru akan naik karena memiliki pendamping sepertimu. Kamu pintar, kamu bisa bicara banyak bahasa, dan sekarang kamu terlihat seperti bintang film. Besok, aku akan memintamu membantu memilihkan desain sepatu terbaru untuk koleksi musim depan. Aku butuh sentuhan wanitamu," ujar Mario sambil menarik Dara ke dalam dekapannya.
Dara tertawa kecil, suara tawa yang begitu bening. "Dengan senang hati, Sayang. Apapun untukmu."
Malam itu, di dalam kamar hotel yang mewah, metamorfosis itu dirayakan dengan penuh gairah. Dara merasa telah menang atas takdir. Ia merasa telah berhasil membunuh Damar dan menguburnya dalam-dalam di dasar laut Thailand. Ia siap menjadi ratu di kerajaan bisnis Mario, tanpa menyadari bahwa pondasi yang ia bangun di atas kebohongan dan luka orang lain sedang menunggu waktu untuk diuji oleh semesta.
Sementara itu, di sebuah sudut desa Kendal, Rania sedang membereskan peralatan medisnya dengan senyum puas setelah menolong seorang anak kecil yang demam. Dua kehidupan yang dulu menyatu, kini berada di kota yang sama, di bawah langit yang sama, namun dengan orientasi hidup yang bertolak belakang. Satu mengejar kesempurnaan fisik dan kemewahan, yang satu mengejar ketenangan jiwa dan pengabdian. Pertemuan mereka hanyalah masalah waktu, dan Semarang akan segera menjadi saksi saat kebenaran akhirnya menagih janji.