Aruna anak keturunan Atmadja juga brata kini menjalani masa remaja nya dengan penuh warna. pertemuan nya dengan seorang pria dewasa mampu membuat pria itu langsung jatuh cinta pada aruna si gadis kecil dan imut
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JK의 할루 아내, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wali mereka
Keesokan harinya ethan, aruna, willy juga jovan kembali di panggil ke ruang kepala sekolah
"ada apa lagi sih kak..? Koq kaya kita punya utang aja ya di teror kaya gini..." kesal aruna padahal saat ini ada pelajaran matematika kesukaan nya
"sabar... Kita cari tau dulu aja ya" ethan mencoba menenangkan adiknya
"ethan..." panggil seseorang " kalo liat kalian juga kayanya masih soal yang kemarin ya" ujar pria itu yang ternyata adalah jovan
"iya, gw juga udah feeling sih sebenernya" ucap willy mengiyakan
"kita liat aja nanti" jawab ethan yang sebenarnya juga punya pemikiran sama seperti ke dua teman nya itu
Sesampainya di ruang kepala sekolah willy mewakili semuanya memberi salam juga mengetuk pintu ruang kepala sekolah. Setelah di persilahkan ke empat orang berprestasi itu pun masuk ke dalam. Suasana masih sama seperti kemarin dengan 2 orang siswa yang sama seperti kemarin juga namun ada 1 pria paruh baya bertubuh besar ikut duduk di sana dengan wajah angkuh nya menatap ke empat orang siswa yang baru saja masuk
Ethan, aruna, willy dan jovan memilih berdiri karena kursinya hanya tersisa 1 saja. Tanpa menunggu lama bapak kepala sekolah pun mulai bicara
"kalian berempat perkenalkan ini pak handoko wakil ketua yayasan mungkin kalian juga sudah mengenalnya, beliau ingin bicara dengan kalian langsung perihal lomba yang kemarin bapak bicarakan" ujar bapak kepala sekolah dan mempersilahkan pria bernama pak handoko bicara
"seperti yang kalian tau, sekolah meminta kalian untuk ikut lomba dan di dampingi adik kelas kalian guna mengenalkan mereka agar selanjutnya bisa mewakilkan sekolah menggantikan kalian. Apa permintaan itu cukup sulit..?" tanya nya tegas dengan nada penuh penekanan
"sebelumnya kami terutama saya pribadi minta maaf pak kalau kami menolak permintaan dari sekolah. Kami punya alasan juga untuk itu. Dan untuk mereka, mereka bisa langsung terjun langsung tanpa kami dampingi. Sama seperti kami dulu yang langsung terjun ikut lomba hanya di dampingi wali kelas kami" jawab ethan mewakili semuanya sambil menunjuk ke dua orang adik kelasnya
"apa kalian tidak mau memberi saya muka..? Saya sampai turun langsung meminta kalian untuk ikut"geram pak handoko mendengar penolakan ethan. Ia awalnya yakin kalau ia turun langsung meminta ethan dan yang lain akan sungkan dan tak berani menolak
"perlu bapak ketahui, saya sudah mengalah dengan tetap ikut turnamen basket dengan alasan sama pertandingan terakhir di SMA, padahal sudah ada himbauan untuk seluruh siswa kelas 12 di bebaskan dari segala urusan seperti perlombaan , apa masih kurang waktu belajar saya yang tersita karena turnamen itu..? Kalau alasan sekolah hanya ingin kita mendampingi adik-adik kelas kami bisa memberikan latihan soal buat mereka, bukan untuk ikut lomba mendampingi mereka"
"tapi hasilnya akan beda" pak handoko kembali menyangkal dan berusaha membujuk
"otak manusia memang berbeda pak, karena itu kalau bapak memaksakan kita apa bapak akan menjamin kita akan lulus dan dapet bea siswa untuk melanjutkan kuliah, kita akan ikut apa keinginan sekolah" jawab ethan santai, padahal dengan prestasi yang mereka dapat selama ini setidaknya bisa membantu mereka melalui jalur khusus, namun ethan kepalang tak suka dengan apa yang dilakukan para petinggi di sekolahnya juga anak wakil kepala yayasan yang memanfaatkan jabatan ayahnya demi kepentingan pribadi
"bahkan jika presiden turun tangan pun jawaban kami tetap sama pak" celetuk aruna asal membuat willy juga jovan menunduk menahan tawa
"apa kalian tidak takut saya beri hukuman" ancam nya kesal melihat penolakan dari ethan juga aruna dengan sangat tegas
"kami benar dan kami tidak takut" ucap ethan lagi, tatapannya kini jelas menunjukan permusuhan pada wakil ketua yayasan
Brak....
Pak handoko memukul meja di depan nya kesal sambil menatap ethan juga aruna dengan tatapan permusuhan
"kalian tunggu hukuman dari sekolah untuk siswa pemberontak seperti kalian" kesalnya mengancam
"kak ethan, apa salah nya sih ikut permintaan sekolah buat dampingi kita" ujar anak pak handoko dengan tatapan memelas menatap ethan " lagi pula kalau kita menang kan lumayan ada uang tambahan nya" bujuknya lagi mencoba membujuk ethan karena tak tau latar belakang ethan
"saya tidak akan membuang kesempatan masuk ke universitas terbaik hanya karena mendampingi lomba dengan uang yang tak seberapa" ketus ethan kesal
"sombong... Saya yakin saat hukuman dari sekolah kalian terima kalian akan menyesal sudah menolak permintaan saya langsung"
"Siapa yang berani memaksa mereka..?" tiba-tiba saja ada pria datang masuk ke dalam ruang kepala sekolah menggunakan seragam kebanggaan nya dan berjalan penuh wibawa
"papa rafa..." pekik aruna melihat pria itu ada di sana tanpa di undang sedang ethan hanya terdiam menatap suami dari tantenya ada di sana
"anda siapa..?" tanya kepala sekolah sedikit takut melihat kehadiran Rafael yang memakai setelan jas mahal dengan penuh kharisma
"saya wali dari Ethan juga aruna" jawab rafael santai
"heh.. Jangan sembarang kamu ikut campur urusan sekolah, bagai mana pun mereka masih murid sekolah ini" ujar pak handoko menutupi rasa takutnya
"saya juga tidak berniat menakuti anda, saya datang hanya ingin membela anak-anak saya yang kalian paksa dengan jabatan kalian" ketus rafael menatap kepala sekolah juga pak handoko
"Ethan, aruna... jujur apa kalian masih mau ikut lomba ini..?" tanya rafael menatap ethan juga aruna bergantian
"ngga pa, ethan sudah ikut lomba basket walau berat bagi waktunya, jadi untuk lomba ini ethan menolak karena ethan juga yang lain sedang fokus buat masuk universitas pilihan "
"tapi pa, pak handoko mengancam kalo kita akan dapet hukuman kalo ngga ikut lomba" adu aruna yang tau kehebatan papa nya dengan wajah memelasnya
"ow... Begitu... " sebuah seringai kecil muncul di sudut bibir rafael dan setelah itu dia mengetikkan sederet pesan dan langsung memasukkan kembali ponselnya
"mampus kalian" umpat aruna dalam hati saat melihat pesan yang di kirimkan rafael
Ethan yang melihat sikap rafael juga aruna pun hanya menggeleng pelan, tau akan ada sesuatu yang terjadi melihat sikap mereka berdua.
Kring..... Kring.....
Suara dari salah satu ponsel berbunyi mengalihkan perhatian mereka akan kerasnya suara dering itu
"halo pak wahyu" sapa pak handoko saat mengangkat panggilan yang ternyata dari ponselnya
".........."
"bukan pak ini hanya salah faham...." ujarnya sambil menyeka keringatnya yang tiba-tiba saja keluar saat mendengar sederet kata-kata dari pria di sebrang sana
"......."
"ba... Baik pak..." jawab pak handoko pasrah dan memutuskan panggilan nya
"bagaimana pak..? Apa bapak masih mau memaksa anak-anak ini..?" tanya rafael dengan senyum mengejek
"tidak... Kalian boleh kembali ke kelas kalian masing-masing" ujar pak handoko akhirnya
"apa dia yang memberitahukan pak wahyu tentang masalah ini? Apa dia kenal pak wahyu..? Seperti nya saya terlalu meremehkan nya " Batin pak handoko menatap ke 4 siswa yang keluar di ikuti oleh rafael juga
"pi... Kenapa ngga dilanjut sih..? Siska kan jadi ngga bisa deketin kak ethan" kesal siska merengek pada papinya saat semua nya sudah keluar dari ruang kepala sekolah
"diam kamu, kalau papi tetap memaksa mereka jabatan papi yabg terancam di copot sama pak wahyu" kesalnya pada anak yang selalu ingin keinginannya di penuhi
"loh koq bisa..?"
"sudah kamu kembali kekelas sana kamu juga keanu..." serunya pada anak juga keponakan nya
"pak apa bapak kenal sama pria tadi" tanya pak handoko pada kepala sekolah perihal rafael
"tidak pak, karena beliau tak pernah terlihat di sekolah" jawab pak kepala sekolah
.
"pa... Papa koq bisa ada di sekolah..? Langsung ke ruang kepala sekolah lagi..." tanya aruna penasaran
"tuh... katanya ngga sengaja denger masalah kalian kebetulan papa baru berangkat dan dekat sini jadi papa kesini setelah izin sama papi kalian" jawab rafael sambil menunjuk anaknya ghaly yang melambaikan tangannya sebelum masuk ke kelas nya
"pantesan... Berarti papi tau dong..?"
"iya, mangkanya nanti pulang kalian wajib cerita sama papi sebelum papi kalian bikin sekolah ini balik nama, apa lagi tadi ada grand pa juga .."
"wah... Kalo udah menyangkut grand pa itu emang hukum nya wajib..." ucap aruna membayangkan grandpa billy yang sangan menyayangi cucu-cucunya apalagi aruna queen satu-satunya itu
"tugas itu kakak serahin sama kamu ya..." ujar ethan terkekeh. Ia yakin kalau adiknya bisa meluluhkan hati grand pa saat sedang mendidih sekalipun
"ya udah papa pamit ya mau ke kantor, kalian hati-hati..." pamit rafael pada kedua keponakannya dan mencium kening aruna sayang
"take care pa..." jawab aruna melambaikan tangannya
"bokap loe ..?" tanya willy penasaran pada aruna
"bukan itu bokapnya ghaly... Cuma udah best friend sama gw" jawab aruna asal membuat willy dan jovan bingung