NovelToon NovelToon
Dari Hidup Santai Ke Drama Antagonis

Dari Hidup Santai Ke Drama Antagonis

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / Romansa Fantasi
Popularitas:12.6k
Nilai: 5
Nama Author: ROGUES POINEX

Claire Sophia-- seorang Nona muda yang tidak pernah memikirkan hidup. Baginya untuk apa bekerja toh dia sudah kaya sejak lahir. Namun suatu hari saat dia memberikan pelajaran bagi sang kekasih yang telah berani berselingkuh darinya.

Claire mendapatkan sebuah notifikasi..

[Notifikasi: Tekan YA untuk Masuk!]

Untuk mengubah takdir dan alur hidup nya di drama itu. Claire memutuskan untuk merelakan Suaminya untuk pemeran Protagonis.

Namun satu yang Claire tidak tau-- alur dan peran yang berubah akan mengacaukan jalan cerita--juga mengungkapkan sebuah rahasia yang tidak pernah di sangka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ROGUES POINEX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ares Dalam Bahaya

Malam itu, kesunyian di jalanan terpencil yang membelah hutan lebat terasa begitu mencekam, seolah alam sendiri sedang menahan napas sebelum badai kehancuran tiba. Di kedua sisi jalan, pepohonan raksasa berdiri kaku seperti barisan nisan di pemakaman tua, menyembunyikan kegelapan yang tak tertembus oleh cahaya bulan.

Di sinilah, di bawah bayang-bayang ranting yang saling menjalin, takdir dua kelompok besar beradu dalam sebuah pertumpahan darah yang tak terelakkan. Ares, sang penguasa absolut dunia bawah yang dingin dan tak tersentuh, berdiri di garis depan didampingi oleh Albert, tangan kanannya yang paling setia dan mematikan.

Di seberang mereka, sekelompok pria yang didorong oleh api dendam membara—sisa-sisa sindikat yang bisnis ilegalnya telah dihancurkan oleh Ares hingga ke akar-akarnya—menunggu dengan napas memburu dan jari yang siap menarik pelatuk.

Keheningan malam itu pecah berkeping-keping saat rentetan tembakan menyalak, membelah udara dingin dengan kilatan api yang menyilaukan. Pasukan Ares menyerang tanpa ampun, bergerak dengan presisi yang mengerikan di bawah komando sang raja kegelapan.

Ares sendiri merunduk di balik batang pohon besar, matanya yang tajam menembus kabut asap senjata--- setiap kali ia melepaskan tembakan, satu nyawa musuh melayang, membuktikan mengapa ia begitu ditakuti di jagat kriminal. Namun, musuh yang sudah kehilangan segalanya tak lagi takut pada kematian.

Dalam keputusasaan yang gila, mereka melancarkan serangan terakhir yang brutal--- beberapa anggota meledakkan bom bunuh diri di tengah keriuhan pertempuran. Suara ledakan yang menggelegar menciptakan simfoni kematian yang memilukan, mengoyak tanah dan tubuh manusia secara bersamaan.

Dunia seakan berguncang saat kobaran api membumbung tinggi, mengubah tempat itu menjadi kawah penuh darah dan puing-puing. Jeritan kesakitan dari pasukan Ares yang terluka parah bersahutan dengan keheningan abadi mereka yang tewas seketika akibat gelombang kejut ledakan tersebut.

Meski Ares memiliki refleks yang luar biasa untuk menghindar dari pusat ledakan, takdir berkata lain. Sebilah serpihan logam tajam dari bom itu melesat secepat kilat dan merobek perutnya. Rasa panas yang membakar menjalar seketika, disusul oleh cairan hangat yang mulai membasahi pakaian hitamnya.

Ares tersungkur, darah merah pekat menetes perlahan ke tanah yang dingin, menandai untuk pertama kalinya sang penguasa dunia bawah menunjukkan kelemahan di hadapan maut yang mengintai.

Ares menyeringai, menatap sisa pasukan musuh yang masih berdiri dengan mata kemenangan mereka, napas Ares memburu, bersahutan dengan dentuman bom yang baru saja diledakkan musuh. Darah segar menetes dari perutnya, menodai kemeja hitam yang dikenakannya. Sementara sisa pasukan Ares berusaha melindungi Tuan nya dan kembali berdiri. Suara pertarungan dan tembakan kembali memenuhi udara.

Sementara itu--- Albert membawa Ares ke belakang pohon besar untuk berlindung sesaat.

"Tuan! Darah di tubuhmu harus segera diobati, serpihan itu tertanam cukup dalam! Itu bisa sangat berakibat fatal sebelum darah itu membeku. Pergilah dari sini, bawa pasukan yang tersisa ke markas aman!" seru Albert, dengan nada mendesak, matanya menatap cemas ke arah luka di perut Ares.

Ares terkekeh sinis, mengabaikan rasa sakit yang menusuk. Ia menembak lagi. Dorr! Satu musuh tumbang. "Aku tidak akan pernah meninggalkan medan perang ini, Albert! Lihat mereka, berani-beraninya mereka datang ke wilayahku dengan bom murahan seperti itu! Aku harus memastikan tidak ada satu pun dari mereka yang pulang malam ini!"

"Tapi Tuan—"

" Cukup, Albert!" potong Ares, suaranya rendah namun bergetar oleh amarah yang tertahan. Ia menekan luka di perutnya dengan telapak tangan, merasakan cairan hangat yang terus merembes di sela jemarinya. "Lihat sekelilingmu. Mereka tidak datang untuk sekadar menang, mereka datang untuk mati. Jika aku lari sekarang, aku hanya akan di anggap sebagai pemimpin yang pengecut."

Albert menatap nanar pada pasukan mereka yang tergeletak, lalu kembali pada tuannya. "Mereka nekat karena mereka sudah kehilangan segalanya, Tuan. Bisnis mereka hancur, dan sekarang mereka menggunakan nyawa sebagai peluru terakhir. Anda adalah jantung dari organisasi ini. Jika jantungnya berhenti di jalanan gelap ini, maka semuanya tamat."

Ares menyeringai tipis, kilat api dari sisa ledakan terpantul di matanya yang dingin. "Justru karena aku jantungnya, aku harus berada di sini untuk memastikan racun ini tidak menyebar lebih jauh. Ambil senjatamu, Albert. Jangan biarkan satu pun dari mereka menarik pelatuk bom lagi. Jika malam ini aku harus mati, maka aku akan memastikan neraka sudah penuh dengan mereka sebelum aku tiba di sana."

Ia bangkit dari balik pohon, mengabaikan rasa perih yang menyengat di perutnya. "Katakan pada yang lain, tidak ada jalan mundur. Kita selesaikan ini sekarang, atau kita semua akan menjadi pupuk di bawah pepohonan ini!"

Tembakan kembali menyalak, membelah jeritan pilu yang tersisa, saat Ares melangkah maju menantang kegelapan.

"Tuan, darah itu... warnanya mulai menggelap. Anda harus pergi sekarang sebelum semuanya terlambat!" teriak Albert di sela suara desingan peluru.

Ares melirik perutnya. Cairan kental yang merembes keluar tidak lagi merah terang, melainkan mulai membiru pekat, membeku karena penyakit yang di miliki nya. Ia meringis, mencengkeram lukanya.

"Aku sudah bilang jika aku tidak akan lari, Albert! Penguasa tidak meninggalkan medan perang saat pionnya berguguran," balas Ares dengan suara serak namun penuh otoritas.

"Tapi Tuan, ini bukan sekadar luka biasa! Jika darah itu membeku sepenuhnya di pembuluh darah Anda, tidak akan ada jalan kembali!" Albert mencoba menarik lengan Ares, namun sang pemimpin menepisnya kasar.

Tiba-tiba, tawa parau bergema dari balik kabut asap ledakan. Sosok pemimpin musuh melangkah maju, membiarkan senjatanya tergantung di bahu, seolah tidak takut sedikit pun pada moncong senapan pasukan Ares yang tersisa.

"Lihat dirimu, sang 'Dewa Perang' dunia bawah," ejek pemimpin musuh itu dengan senyum lebar yang mengerikan. "Kau menghancurkan kerajaan bisnisku, mengira kau bisa menghapus kami begitu saja? Sekarang, lihatlah bagaimana aku akan membunuh mu dan menjatuhkan kejayaan mu."

Ares berdiri perlahan, meski kakinya terasa berat seolah terbuat dari timah. Wajahnya pucat pasi, namun matanya tetap tajam menusuk.

"Kau mengirim orang-orangmu untuk meledakkan diri hanya demi luka kecil ini?" Ares terkekeh pahit, meski setiap tarikan napasnya terasa seperti sayatan belati. "Bisnis ilegalmu hancur karena kau lemah. Dan malam ini, kau akan melihat bahwa meskipun darahku membeku, tanganku masih cukup hangat untuk mencabut nyawamu."

Pemimpin musuh itu merentangkan tangan, menikmati kekacauan di sekelilingnya. "Lakukanlah! Mari kita lihat siapa yang lebih dulu berhenti bernafas."

Albert berteriak memperingatkan, namun Ares sudah melesat maju, mengabaikan rasa sakit yang menjalar di seluruh sarafnya demi satu hantaman terakhir yang akan menentukan siapa penguasa sejati di malam gelap itu. Namun, rasa sakit yang semakin hebat menggerogoti daging nya--- membuat Ares tidak bisa menghindar dari serangan musuh.

DOR!

Sebuah peluru menembus tangan Ares, membuat senjatanya terlempar jauh ke semak-semak. Ares terjatuh berlutut, menahan erangan yang hampir lolos dari bibirnya yang membiru. Sementara itu, Albert sedang bertarung melawan anak buah Dorry--- musuh mereka.

Dorry masih sempat menyombongkan diri. "Tanganmu sudah hancur, perutmu robek. Darahmu membeku, Ares. Kau adalah mayat berjalan!" Dorry menarik pelatuk bagian belakang pistolnya—klik. "Ucapkan selamat tinggal pada tahtamu yang berdarah itu."

Ares memejamkan mata. Rasa sakit yang luar biasa dari luka tembak di tangannya dan perutnya yang robek seolah sirna saat jemarinya menyentuh permukaan dingin sebuah liontin di balik jasnya. Ares menggenggam nya---- liontin itu berdenyut. Sebuah kehangatan yang tidak wajar merambat dari telapak tangannya ke seluruh pembuluh darah, melawan rasa dingin dari darah birunya yang membeku. Namun-- itu hanya sesaat karena genggaman nya melemas.

Tepat saat Dorry hendak menarik pelatuk untuk menghabisi nyawa sang penguasa, sebuah suara gemuruh membelah kegelapan. Cahaya lampu yang sangat terang tiba-tiba muncul dari balik tikungan jalan, menembus kabut dan pepohonan.

Dorry menutup matanya dengan lengan kiri. "Sial! Siapa itu?! Pasukan tambahan?"

Ares membuka mata, sebuah senyum tipis yang penuh misteri muncul di sudut bibirnya. "Waktumu habis, Dorry... malam ini... kematian tidak berpihak padaku."

Deru mesin itu semakin liar, seperti raungan binatang buas yang terbuat dari baja. Ban motor itu berdecit keras di atas aspal jalanan yang sepi, melaju lurus ke arah mereka berdua tanpa niat untuk melambat.

Sebuah motor hitam melesat kencang dari kegelapan. Pemiliknya berdiri di atas jok dengan keseimbangan luar biasa, melepaskan satu tembakan presisi.

KLANG!

Pistol Dorry terlepas dari tangannya karena hantaman peluru dari sang pengendara misterius.

Dorry berteriak marah. "APA-APAAN?!"

Ares menatap sosok di atas motor dengan mata yang mulai mengabur. "Siapa lagi... yang datang malam ini? Apakah kau... datang sebagai lawan.. atau.. kawan."

BRUK!

Bersamaan dengan itu, tubuh Ares ambruk ke tanah.

BERSAMBUNG

1
Enah Siti
jdi anak kembar itu bnar anakya ares👍👍👍👍💪💪💪💪
Anne
hmmm penisirin bingitss
Anne
kulkas kalo cair emang suka gtuuu.. damage bukan kaleng kaleng🤣
Anne Soraya
lanjut
Anne
tikungan yg kaya gini yg saya sukaaa...
Sulati Cus
tikung aja🤣
Murni Dewita
tetap double up y thor
ROGUES POINEX: Sehari Dua Kali UP ☺☺☺
total 1 replies
khzaa
kaka semangatttt
khzaa
kaka semangatttt
Anne Soraya
lanjut
Murni Dewita
next
Anne Soraya
lanjut
Anne
seruuuu... ehhh abisss... rasany kaya apa tauu🤭
Sulati Cus
semakin menarik
rajin up
Sulati Cus
lah lg seru2nya mlh di potong😔
Murni Dewita
double up lah thor
Sulati Cus
knp g cb tes DNA dg si twins🤔
Murni Dewita
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Murni Dewita
👣
Siti Sa'diah
wah jangan2 clair iniii
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!