Ternyata di belahan dunia ini masih tersisa seorang pria berhati malaikat. Meski semua orang tak mempercayai itu. Sebab yang mencintaiku itu adalah seorang mafia jahat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon de banyantree, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tuan Posesif
Zayn terdiam sejenak, tatapannya melembut memperhatikan gurat kecemasan di wajah istrinya. Ia bisa merasakan tubuh Laila yang sedikit gemetar dalam rangkulannya. Tanpa kata, Zayn menarik Laila lebih dalam ke pelukannya, membiarkan kepala wanita itu bersandar di dadanya yang kokoh, persis seperti posisi favorit mereka selama tiga hari terakhir.
Tangis Laila yang sejak tadi ditahan akhirnya pecah juga. Bahunya naik turun seiring dengan isakan yang memenuhi ruang keluarga yang tadinya penuh tawa itu. Suasana seketika berubah haru.
Mommy Rosa dan Papa Frank saling pandang dengan raut wajah cemas. Sang ibu mertua langsung beranjak dari kursinya, berlutut di dekat sofa tempat Laila duduk, lalu menggenggam tangan menantunya dengan lembut.
"Laila, Sayang... ada apa? Apa Mama salah bicara? Apa hadiah rumah itu membuatmu merasa terbebani?" tanya Mommy Rosa dengan suara yang bergetar karena khawatir.
Papa Frank ikut condong ke depan, wajahnya yang biasanya tegas kini tampak sangat gelisah. "Laila, kalau kamu belum siap pindah, tidak apa-apa. Rumah itu milikmu, kapan pun kamu ingin menempatinya, itu terserah padamu. Tolong jangan menangis, Nak. Papa jadi merasa bersalah."
Laila menggeleng lemah sambil menyeka air matanya dengan punggung tangan. Ia mencoba mengatur napasnya yang tersengal. "Bukan... bukan begitu, Pa, Ma. Maafkan jika Laila egois mommy," ucapnya di sela isakan.
Ia mendongak, menatap mata Mommy Rosa yang berkaca-kaca. "Maafkan Laila, jika Laila tidak ingin tinggal jauh dari Mommy dan Papa Frank. Sejak masuk ke rumah ini, Laila merasa seperti disayangi kembali oleh Papa dan Mama Laila yang sudah berpulang. Laila... Laila hanya takut kehilangan kehangatan ini jika kami harus tinggal berdua saja di rumah baru."
Mendengar kejujuran itu, pertahanan Mommy Rosa runtuh. Ia langsung memeluk Laila dengan erat, ikut menangis haru. "Oh, Sayang... Mama kira kamu tidak suka pemberian kami. Tentu saja, Nak. Tentu saja kamu boleh tinggal di sini sesukamu. Kamu adalah kesayangan Papa dan Mommy. Rumah ini justru terasa sepi kalau kalian langsung pergi."
Papa Frank menghela napas lega yang sangat panjang, lalu tertawa kecil sambil menyeka sudut matanya. "Astaga, Laila. Kamu membuat jantung Papa hampir copot. Papa kira kamu menangis karena kunci itu terbuat dari emas palsu," candanya untuk mencairkan suasana.
Zayn terkekeh, meski matanya juga tampak sedikit memerah. Ia mencium puncak kepala Laila dengan lama. "Sudah dengar, kan? Tidak ada yang mengusirmu, Sayang. Rumah baru itu bisa kita jadikan tempat 'pelarian' saja kalau kita butuh suasana baru. Tapi rumah utama kita tetap di sini, bersama Papa dan Mama."
Setelah drama air mata mereda, Mommy Rosa segera meminta pelayan membawakan teh kamomil hangat untuk menenangkan Laila. Mereka kembali mengobrol, namun kali ini topiknya jauh lebih santai.
"Tapi Zayn," celetuk Papa Frank sambil menyesap kopinya. "Kalau kalian tinggal di sini, jangan harap bisa mengunci diri di kamar selama tiga hari lagi seperti di hotel kemarin. Papa tidak mau cucu Papa nanti lahir dalam keadaan kurang vitamin karena ibunya tidak boleh keluar kamar oleh suaminya yang posesif ini."
Zayn tertawa lepas, tangannya masih melingkar protektif di pinggang Laila. "Itu namanya dedikasi, Pa. Lagipula, Laila juga menikmatinya, kok. Benar kan, Sayang?"
Laila mencubit lengan Zayn dengan wajah yang kembali memerah sempurna. "Zayn! Hentikan! Di depan orang tuamu, jangan bicara sembarangan!"
"Lho, Mama malah senang kalau Zayn posesif begitu," sahut Mommy Rosa sambil mengedipkan mata. "Itu artinya dia sangat mencintaimu. Dulu Papa Frank juga begitu, Laila. Waktu kami baru menikah, dia bahkan tidak membolehkan Mama pergi ke arisan karena katanya dia akan rindu meski hanya ditinggal dua jam."
"Mama, jangan buka kartu lama di depan menantu," potong Papa Frank dengan wajah malu-malu kucing, membuat Laila akhirnya bisa tertawa lepas kembali.
Pembicaraan kemudian beralih ke tiket pesawat yang masih tergeletak di meja. Laila mengambil tiket itu dan memperhatikannya dengan saksama.
"Swiss... Laila belum pernah ke sana. Apakah di sana sangat dingin sekarang, Ma?" tanya Laila penuh rasa ingin tahu.
"Sangat dingin, tapi pemandangannya luar biasa indah, Laila. Mama sudah memesankan resort yang punya kolam air panas pribadi menghadap langsung ke pegunungan Alpen. Bayangkan, kalian berendam air panas sambil melihat salju turun di luar," jelas Mommy Rosa dengan semangat menggebu-gebu.
Zayn mencondongkan tubuhnya ke arah Laila. "Kedengarannya bagus untuk program sepuluh anak yang Mama minta tadi, kan?"
"Zayn Malik! Satu kali lagi kamu bahas soal itu, aku akan minta tidur di kamar tamu malam ini!" ancam Laila sambil melotot, yang tentu saja hanya dianggap angin lalu oleh Zayn.
"Jangan kamar tamu, Sayang. Di kamar Mama saja, kita threesome mengobrol semalaman," timpal Mommy Rosa yang disambut sorakan protes dari Papa Frank.
"Tidak bisa! Rosa, kamu itu istriku. Jangan menculik istri Zayn untuk tidur denganmu," protes Papa Frank yang membuat suasana semakin pecah oleh tawa.
Tak terasa waktu beranjak siang. Mereka berpindah ke ruang makan yang sudah ditata apik dengan berbagai hidangan spesial. Aroma rendang—makanan favorit Laila yang sengaja dipesankan khusus oleh Mommy Rosa—memenuhi ruangan.
"Mama tahu kamu suka masakan yang berbumbu tajam, jadi Mama minta koki menyiapkan ini," ujar Mommy Rosa sambil mengambilkan nasi untuk Laila.
"Terima kasih, Ma. Mama benar-benar memanjakan Laila," jawab Laila tulus.
Di meja makan itu, Laila memperhatikan bagaimana interaksi antara Zayn dan ayahnya. Meskipun mereka sering berdebat soal bisnis di kantor, di meja makan ini mereka hanyalah ayah dan anak yang saling melempar lelucon. Laila merasa sangat beruntung. Ia teringat masa lalunya yang kelam, di mana ia selalu merasa kesepian dan tidak dihargai. Kini, ia berada di tengah keluarga yang begitu hangat.
"Zayn," panggil Papa Frank di sela-sela makannya. "Besok lusa, sebelum kalian berangkat ke Swiss, Papa ingin kamu memeriksa laporan proyek di Surabaya sebentar saja. Hanya dua jam."
"Papa! Papa janji tidak ada urusan kantor!" protes Zayn.
"Hanya dua jam, Zayn. Setelah itu, kamu bebas membawa istrimu ke ujung dunia sekalipun," bela Papa Frank.
Laila tersenyum melihat wajah Zayn yang cemberut. Ia menyentuh tangan Zayn di bawah meja. "Tidak apa-apa, Zayn. Hanya dua jam, kan? Aku bisa menemani Mommy belanja untuk persiapan kita ke Swiss nanti."
Mendengar itu, wajah Zayn langsung cerah. "Nah, kalau istriku yang meminta, mana bisa aku menolak. Tapi ingat, Pa, hanya dua jam. Lebih dari itu, Papa harus membayar lemburku dengan membelikan Laila tas baru."
"Dasar anak perhitungan!" tawa Papa Frank.
Setelah makan siang, Zayn mengajak Laila berjalan-jalan di taman belakang mansion yang sangat luas. Matahari sore yang hangat mulai turun, menciptakan semburat warna jingga yang cantik di langit.
"Kamu benar-benar bahagia tinggal di sini?" tanya Zayn pelan sambil menggandeng tangan Laila.
Laila mengangguk mantap. "Sangat bahagia, Zayn. Aku tidak pernah membayangkan akan memiliki orang tua lagi. Mommy dan Papa sangat baik padaku."
Zayn menghentikan langkahnya dan memutar tubuh Laila agar menghadapnya. Ia merapikan beberapa helai rambut Laila yang tertiup angin. "Aku janji, Laila. Kebahagiaan ini tidak akan pernah berakhir. Aku akan menjagamu, menjaga senyummu, dan memastikan tidak ada lagi air mata kesedihan di matamu."
Laila tersenyum, lalu berjinjit untuk mengecup singkat bibir suaminya. "Terima kasih, Zayn. Untuk semuanya."
Zayn membalas kecupan itu dengan lebih dalam dan lama, seolah ingin menyalurkan seluruh cintanya melalui sentuhan itu. Di bawah langit sore kediaman keluarga Malik, Laila tahu bahwa ia telah benar-benar pulang. Bukan hanya ke sebuah rumah mewah, tapi ke dalam pelukan seorang pria yang menjadikannya pusat semesta.
"Jadi," bisik Zayn tepat di telinga Laila setelah tautan mereka terlepas. "Soal sepuluh anak tadi... kita mulai cicil malam ini atau tunggu sampai di Swiss?"
Laila tertawa renyah, kali ini tidak lagi malu. Ia berlari kecil meninggalkan Zayn menuju ke dalam rumah. "Kejar aku kalau bisa, Tuan Posesif!"
Zayn tertawa lebar dan segera mengejar belahan jiwanya itu. "Jangan lari, Sayang! Kamu tidak akan bisa sembunyi di rumah ini!"
Dari balik jendela lantai dua, Mommy Rosa dan Papa Frank memperhatikan mereka dengan senyum puas. Mereka tahu, putra mereka telah menemukan pelabuhan terakhirnya.