UPDATE SETIAP HARI JAM 12 SIANG.
Nara tidak pernah benar-benar memahami ayahnya.
Baginya, ayahnya hanyalah pria dingin yang hidup seperti bayangan di rumah yang terlalu sunyi. Tidak pernah menjelaskan apa yang terjadi pada keluarga mereka, dan tidak pernah mencoba memperbaiki hubungan yang telah retak.
Suatu malam, setelah pertengkaran lama yang akhirnya meledak, Nara menemukan sebuah jam tua misterius di gudang rumah. Ketika ia memutar jarumnya… Dunia berubah. Nara terbangun di tahun 1995, di kota yang sama namun jauh berbeda.
Di sana ia bertemu seorang pria muda yang santai, karismatik, dan penuh mimpi.
Namanya Raka.
Pria itu menolongnya, berjalan bersamanya di kota malam, dan perlahan membuat Nara merasa nyaman di dunia yang bukan miliknya. Sampai suatu hari Nara menemukan fakta dan menyadari bahwa Raka… adalah ayahnya.
Sekarang Nara harus menghadapi kenyataan yang mustahil, Ia jatuh cinta pada seseorang yang seharusnya tidak pernah ia cintai
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TOKOPAIJO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketika Waktu Mulai Berhenti
Langit Kota Bandung di pertengahan Oktober adalah pembohong yang paling ulung.
Tiga puluh menit yang lalu, matahari masih bersinar terik, membakar aspal Jalan Supratman hingga udara di atasnya tampak bergelombang. Namun sekarang, awan hitam pekat tiba-tiba menggulung dari arah utara, menelan cahaya matahari sore dalam hitungan menit. Angin bertiup kencang, membawa aroma tanah kering yang sebentar lagi akan dihantam air.
"Raka! Langitnya hitam banget! Tempat fotokopinya masih jauh?!" teriak Sinta dari jok belakang Vespa biru yang melaju membelah kemacetan, tangannya memeluk erat sebuah map plastik bening berisi proposal yang baru saja mereka selesaikan, proposal itu kini menjadi harta karun paling berharga baginya.
Raka yang berada di depan, dengan helm catoknya yang setengah miring tertiup angin, menoleh sedikit.
"Santai, Nona Kalkulator! Perempatan depan belok kiri! Berdoa aja awannya cuma mampir doang" sahut Raka santai, suaranya nyaris tenggelam oleh deru knalpot rombengnya.
Namun, doa Raka rupanya ditolak mentah-mentah oleh semesta.
Tepat saat Vespa tua itu melewati lampu merah, titik-titik air mulai berjatuhan. Dalam hitungan detik, rintik itu berubah menjadi tirai air yang sangat deras. Hujan badai turun tanpa ampun, mengubah jalanan menjadi sungai dadakan dan membuat jarak pandang memendek drastis.
"Raka! Hujan! Minggir! Proposalnya basah nanti!" Sinta menjerit panik. Ia menunduk, berusaha menyembunyikan map plastik itu di balik kemeja flanelnya.
"Pegangan, Sin! Remnya agak susah kalau basah!"
Alih-alih panik, Raka justru tertawa. Ia membelokkan Vespanya dengan tajam ke arah trotoar, mencari tempat berteduh terdekat di deretan ruko yang tutup. Mata elangnya menangkap sebuah tenda biru berbahan terpal yang terlipat setengah, sebuah warung pecel lele yang belum buka karena hari masih terlalu sore.
Raka memarkir Vespanya asal-asalan, lalu melompat turun.
"Sini, lari ke bawah terpal!" seru Raka.
Sinta berlari dengan langkah seribu, sepatunya mencipratkan genangan air, dan langsung menerobos masuk ke bawah perlindungan terpal biru tersebut. Raka menyusul di belakangnya, menunduk agar kepalanya tidak terbentur tiang bambu penyangga tenda.
Di bawah terpal berukuran dua kali tiga meter itu, suasananya remang-remang, berbau khas perpaduan antara minyak goreng sisa semalam dan tampias air hujan, udara langsung anjlok menjadi sangat dingin.
Sinta berdiri mematung.
Kemeja flanelnya basah kuyup, menempel pada tubuhnya. Rambutnya yang biasa terikat rapi kini lepek dan meneteskan air, ia menatap ke arah jalanan yang kini berubah menjadi tirai putih abu-abu.
"Sialan. Sialan. Sialan," rutuk Sinta, giginya mulai bergemeretak menahan dingin. Ia memeluk map plastik di dadanya, memeriksa dengan panik apakah ada air yang merembes masuk. "Ini semua gara-gara kamu ngajak muter-muter nyari materai yang murah! Coba kalau kita beli di koperasi kampus tadi, pasti nggak akan kejebak hujan!"
Sinta sudah bersiap melontarkan ceramah panjang lebar tentang manajemen waktu dan efisiensi rute, tetapi kata-katanya terhenti di tenggorokan saat ia menoleh.
Raka sedang mengusap wajahnya yang basah dengan tangan kosong. Kaus oblong band Nirvana-nya menempel ketat, memperlihatkan bahunya yang ternyata cukup tegap. Pemuda itu mengibaskan rambutnya yang gondrong seleher seperti anjing yang baru keluar dari sungai, lalu menatap Sinta.
Bukannya marah atau kesal karena diomeli, Raka malah tertawa renyah. Tawa yang sangat lepas, membaur dengan suara gemuruh hujan yang menghantam atap terpal.
"Hujan kok dimarahin, Sin? Dia kan cuma ngikutin gravitasi," Raka bersandar pada gerobak kayu pecel lele, menyilangkan tangan di depan dada. "Lagian, materai di koperasi kampusmu itu harganya mark-up lima ratus perak. Buat gembel sepertiku, lima ratus perak itu bisa buat beli gorengan dua biji untuk pengganjal perut."
Sinta terdiam, mulutnya yang sudah terbuka untuk membantah perlahan tertutup kembali. Logikanya yang kaku seperti ditabrak oleh realita yang sederhana namun telak. Bagi Sinta, lima ratus rupiah adalah angka desimal yang tidak signifikan di atas kertas neraca. Tapi bagi Raka, itu adalah urusan perut.
Sinta menghela napas panjang, menunduk menatap ujung sepatunya yang basah, hawa dingin mulai menusuk tulang-tulangnya. Sinta menyilangkan kedua lengannya, menggosok-gosok lengan kemejanya yang basah untuk mencari kehangatan, ia benci terlihat rapuh.
Melihat Sinta yang mulai menggigil, Raka bergerak. Tanpa banyak bicara, Raka melepas jaket denim belelnya. Jaket itu memang basah di bagian luar, tapi Raka membaliknya sehingga bagian dalamnya yang dilapisi kain katun flanel kotak-kotak yang masih lumayan kering dan hangat oleh suhu tubuhnya berada di luar.
Raka melangkah mendekat, lalu menyampirkan jaket itu ke bahu Sinta.
Sinta tersentak.
Aroma maskulin yang khas campuran antara debu jalanan, asap rokok kretek yang samar, dan wangi sabun mandi batangan murahan langsung menyeruak memenuhi indra penciumannya. Itu bukan wangi parfum mahal seperti milik Danang, tapi anehnya... Sinta merasa sangat aman.
"Pakai," kata Raka singkat.
Nadanya tidak memerintah, juga tidak menggoda. Murni sebuah kepedulian yang lugas.
"Terus kamu gimana?" Sinta mendongak, menatap Raka yang kini hanya mengenakan kaus oblong tipis di tengah udara Bandung yang menggigit. "Nanti kamu masuk angin, terus mati konyol, terus siapa yang mau mempertanggungjawabkan proposal ini?"
Sinta masih mencoba mempertahankan gengsinya, meski suaranya bergetar.
Raka hanya terkekeh pelan.
Ia mundur satu langkah, kembali bersandar di gerobak kayu. "Orang kayak aku nggak mempan masuk angin, Sin. Masuk angin itu penyakitnya orang kantoran yang terlalu lama duduk di ruangan ber-AC."
Hening sejenak.
Hanya ada suara hujan yang menderu deras bagai melodi alam yang monoton, Sinta merapatkan jaket denim Raka di bahunya.
Ini adalah kali pertama mereka terjebak berdua dalam jarak sedekat ini, dalam durasi yang cukup lama, tanpa ada urusan hitung-menghitung angka. Sinta memperhatikan Raka lekat-lekat dari samping, pemuda itu sedang menatap lurus ke arah jalanan yang kebanjiran, matanya tampak tenang, tanpa beban.
"Kenapa kamu peduli banget sama mereka?" tanya Sinta tiba-tiba. Suaranya pelan, nyaris seperti bisikan, takut merusak keheningan yang aneh di antara mereka.
Raka menoleh, alisnya terangkat sebelah. "Mereka siapa?"
"Teman-teman pengamenmu," Sinta memeluk map plastik di pangkuannya. "Kamu rela dimaki-maki satpam kelurahan, rela dengerin omelanku berjam-jam, rela hujan-hujanan nyari materai beda lima ratus perak... cuma buat daftarin mereka ke Pesta Rakyat. Kenapa? Padahal kalau kamu mau, dengan cara bicaramu yang luwes, kamu bisa cari kerjaan yang lebih layak buat dirimu sendiri. Nggak usah mikirin orang lain."
Raka terdiam cukup lama.
Ia mengalihkan pandangannya kembali ke arah hujan, helaan napasnya berembun di udara dingin.
Bagi pemuda yang biasanya selalu punya jawaban konyol untuk segala hal, kali ini Raka tampak sedang memilih kata-katanya dengan hati-hati.
"Karena di jalanan, kita nggak punya siapa-siapa selain satu sama lain, Sin," jawab Raka akhirnya. Suaranya terdengar berat, kehilangan nada humornya. "Kamu tahu bedanya hidup di jalan sama hidup di gedung kantoran?"
Sinta menggeleng pelan.
"Di dunia kantoran yang sering diagung-agungkan ayahku dan orang-orang berpendidikan kayak kamu, kalau ada satu orang yang jatuh atau bikin salah yang lain bakal sibuk nyari muka, ngetawain dari kursi empuknya atau malah nginjek kepala orang itu biar bisa naik pangkat," Raka tersenyum getir, sebuah senyum yang sangat jarang ia tunjukkan.
"Tapi di jalanan... kalau satu orang jatuh dan lututnya berdarah nyium aspal, yang lain bakal ikut ngerasain sakitnya. Ujang, anak yang tadi ku-ceritain diusir satpam, dia itu yatim piatu. Nggak bisa baca tulis, kalau aku ninggalin dia cuma buat nyari selamat sendiri di kantor pakai kemeja rapi, apa bedanya aku sama pejabat-pejabat korup yang sering kita demo?"
Raka menoleh, menatap tepat ke dalam mata Sinta. Tatapannya begitu tajam, menembus langsung ke dasar pertahanan logika Sinta.
"Kebebasan itu bukan cuma soal bisa nongkrong atau main gitar sampai pagi, Sin. Kebebasan itu soal kita punya hak buat milih siapa keluarga kita, dan mereka... adalah keluargaku. Aku harus mastiin mereka dilihat sebagai manusia, walau cuma satu hari di atas panggung itu."
Sinta terpaku.
Jantungnya berdetak satu ketukan lebih cepat.
Semua teori ekonomi, kalkulasi rasional, dan stigma kelas sosial yang selama ini menempel di otaknya hancur berkeping-keping di bawah atap terpal pecel lele yang bocor ini.
Selama ini, Sinta mengira Raka hanyalah pemuda urakan yang lari dari tanggung jawab masa depan.
Namun ia salah besar.
Raka tidak lari dari tanggung jawab, Raka memikul tanggung jawab yang jauh lebih berat dan nyata daripada sekadar mengejar nilai IPK cumlaude atau mencari posisi aman di meja direktur, Raka adalah seorang pelindung di dunianya sendiri.
Sinta menunduk, menyembunyikan wajahnya yang mendadak terasa panas meski udara sangat dingin. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya yang kaku, Sinta melihat seorang pria murni dari nilai hatinya, bukan dari seberapa tebal isi dompetnya.
Dan kenyataan itu membuat Sinta menyadari satu hal yang paling menakutkan bagi seorang yang sangat logis, ia mulai jatuh.
Jatuh pada pesona sang gembel jalanan.
Raka yang melihat Sinta terdiam menunduk, mengira perempuan itu masih kedinginan. Ia menggeser posisinya sedikit lebih dekat, berdiri di sisi Sinta yang menghadap arah angin agar tubuhnya bisa menjadi tameng dari tampias hujan.
"Udah jangan mikir terlalu berat, otakmu bisa kepanasan," goda Raka lembut, mengembalikan nada humornya. Ia menepuk pelan puncak kepala Sinta. "Bentar lagi hujannya reda kok, abis ini kita ke fotokopian, terus kita makan baso cuanki yang panas. Aku yang traktir, spesial pakai uang sisa beli materai."
Sinta tidak menepis tangan Raka dari kepalanya.
Ia hanya mengangguk pelan, sebuah senyum tipis yang tulus merekah di bibirnya.
"Awas kalau basonya nggak enak," gumam Sinta pelan.
Raka tersenyum lebar. "Mana pernah seleraku mengecewakanmu, Nona?"
Di bawah terpal biru yang bocor itu, dua dunia yang sangat bertolak belakang akhirnya menemukan titik temunya. Hujan badai di luar tidak lagi terasa mengerikan, karena mereka berteduh di tempat yang tepat.
Sementara itu, di sebuah kamar kos, realita sedang terkoyak dengan sangat brutal.
Udara di dalam kamar Sinta tidak terasa dingin karena hujan di luar, melainkan membeku oleh sesuatu yang jauh melebihi anomali cuaca. Benda-benda di atas meja belajar Sinta, kalkulator, tempat pensil, tumpukan kertas bergetar hebat seolah ada gempa lokal berskala kecil.
Nara terbaring di atas lantai, tepat di sebelah kasur.
Matanya membelalak lebar, menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong. Mulutnya terbuka, mencoba meraup oksigen yang terasa tidak bisa masuk ke paru-parunya.
Rasa sakit di kepalanya kini bukan lagi berdenyut, melainkan terasa seperti tengkoraknya sedang dibelah paksa menggunakan kapak tumpul.
BZZZT...
Tangan kanan Nara berkedip-kedip dengan sangat cepat.
Wujudnya hilang timbul, tembus pandang, seolah ada seseorang di dimensi lain yang sedang menekan tombol delete pada eksistensinya secara berulang-ulang.
Di bawah terpal pecel lele sana, mulai muncul benih cinta.
Namun bagi alam semesta, itu adalah sebuah pelanggaran hukum waktu level tertinggi. Garis sejarah masa depan sedang dihapus secara permanen, ayah yang dingin tidak akan pernah ada. Keluarga yang hancur di masa depan itu tidak akan pernah tercipta. Dan sebagai imbasnya, versi Nara yang lahir dari keluarga hancur itu yaitu Nara yang saat ini terbaring di lantai harus dihanguskan.
"A-argh..." Nara merintih tertahan.
Ia memiringkan tubuhnya, mencengkeram perutnya yang terasa seperti ditusuk ribuan jarum.
Bayangan kegelapan mulai merayap di sudut-sudut pandangannya.
Ruangan itu terasa semakin sempit.
Suara deru hujan di luar terdengar mendengung, seperti siaran radio yang rusak.
Nara memaksakan dirinya merangkak ke arah pintu, mencoba mencari udara.
Namun tubuhnya mengkhianatinya, otot-ototnya kehilangan kendali.
Saat kebahagiaan menyelimuti hati ibunya di belahan jalan lain, Nara membayar harganya dengan penderitaan fisik yang absolut.
Sebuah batuk keras merobek tenggorokan Nara.
Ia terbatuk, dan cairan merah kental menyembur dari mulutnya, menodai lantai ubin yang dingin, darah segar menggenang di bawah dagunya.
Nara memejamkan mata, membiarkan tubuhnya ambruk sepenuhnya di atas genangan darahnya sendiri. Kesadarannya ditarik paksa ke dalam lubang hitam tanpa dasar, hal terakhir yang ia dengar sebelum dunia benar-benar senyap adalah suara jarum jam saku di dalam saku jaketnya, berdetak dengan ritme yang semakin melambat... dan kemudian berhenti.