Renata seorang istria dan ibu rumah tangga, dia mengabdikan hari-harinya untuk sang suami tercintanya Raditya dan anak semata wayang mereka Rindiani.
Dulunya Renata merupakan seorang direktur diperusahaan yang saat ini dipegang oleh suaminya tapi karena dia sudah memiliki anak jadi memilih untuk menyerahkan jabatan ke Raditya suaminya dan akan mengurus anaknya saja dirumah.
Tapi sepertinya keputusan dia salah, karena sang suami ternyata berselingkuh dibelakangnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atul Maronge, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 Karma Di Mulai Di Keluarga Raditya
Ting..!!
Ponsel milik Raditya berbunyi menandakan ada pesan masuk, segera dia buka ternyata dari rekan kerjanya tadi yang menunjukkan dimana lokasi terakhir sang adik mengaktifkan nomor telponnya.
Ternyata lokasinya berada di villa yang ada dipuncak, tanpa banyak buang waktu Raditya segera melajukan mobilnya kearah puncak dimana lokasi terakhir dari Rani.
"Ngapain ini anak disana?" Gumam Raditya.
Selama kurang lebih dua jam perjalanan akhirnya Raditya sudah sampai dimana lokasi terakhir Rani berada.
Dia segera turun dari mobil dan mencoba masuk ke area villa tersebut, dia mencoba mengintip lewat jendela karena dari luar terdengar Suara-suara lenguhan yang saling bersahutan, alangkah kagetnya saat Raditya melihat seorang wanita sedang melayani tiga orang lelaki paruh bayar di ruang tamu.
"Seperti Rani wajahnya" gumam Raditya dan langsung kaget saat tahu ternyata itu benar adiknya.
Hanya saja karena mereka sedang asik sampai tidak tahu kalau ada orang lain yang sedang melihat adegan tersebut.
"Astagaa..! Benar itu Rani" Lanjut Raditya saat menajamkan penglihatannya pada sosok wanita tersebut.
Raditya yang geram melihat aksi adiknya semacam pel*cur mencoba menggedor pintu villa tersebut, hingga mengganggu para manusia yang sedang bercocok tanam tersebut.
"Brak...!!
Suara pintu terbuka dengan keras karena emosi, seorang laki-laki yang masih tel*njang bulat membuka pintu tersebut.
Tapi teman-temannya masih menikmati tubuh Rani yang ada disofa.
"Cari siapa..?!! Ganggu saja" Gerutunya melihat Raditya didepan pintu.
"Mana Rani...! Suruh dia keluar sekarang" Jawab Raditya.
"Lo kalau mau booking dia gantian...! Sekarang dia masih melayani kita-kita, dia kami booking selama dua hari, jadi besok lo baru bisa membooking dia..!" Jawabnya seketika membuat darah diubun-ubun Raditya seakan mendidih.
Bughh..!!
Raditya memukul wajah lelaki yang tak tahu malu keluar dengan keadaan tel*njang seperti itu.
"Rani...!!!" Bentak Raditya hingga yang di panggil namanya menoleh dan seketika menutupi bagian tubuhnya dengan bantal sofa yang ada disebelahnya.
Sontak saja dua lelaki yang masih menikmati tubuhnya kesal karena Rani tiba-tiba menutupi tubuhnya itu.
"M-mas Raditya kok ada disini?" Tanya Rani dengan suara tergugup.
"Kamu ngapain disini hah...!!! Kamu pamit sama ibu katanya ada tugas kampus..! Ini tugas yang kamu maksud hah..!!" Bentak Raditya.
Sebelumnya Raditya sudah merekam hal yang memalukan tersebut untuk diberitahukan kepada orangtuanya agar lebih memperhatikan lagi tingkah laku Rani.
Raditya merekam kejadian itu selama lima belas detik saja, dan tentunya sangat jelas wajah Rani yang menikmati momen itu.
"Pulang sekarang....!!!!" Bentak Raditya.
"Heh..! Jangan ngawur lo, pelac*r ini sudah kami bayar jadi harus melayani kami sampai waktu perjanjian selesai" Sahut satu lelaki yang masih berusaha membelai tubuh Rani.
"Breng*ek..! Lepasin adik gue..!" Bentak Raditya dan memukul lelaki itu.
"Cukup mas Raditya..!! Ini hidup Rani, kalau mas Raditya mau pulang silahkan pulang sendiri" Ucap Rani.
Mendengar kata-kata dari adik kandungnya seperti itu, Raditya jadi merasa gagal menjadi seorang kakak.
Adiknya sampai menjajakan diri seperti ini, apa ini karma untuknya karena sudah mengkhianati Renata dulu?
"Baiklah kalau itu mau kamu..! Silahkan urus hidup kamu sendiri jangan cari mas ataupun keluarga yang lain" Jawab Raditya dan langsung keluar dari villa tersebut.
Mendengar kata-kata dari kakaknya sejujurnya membuat Rani takut tapi apa boleh kata dia sudah terikat janji dengan pria-pria ini apalagi bayaran yang akan dia peroleh cukup banyak untuk biaya hidupnya yang tergolong mewah karena selama ini selalu di support oleh Raditya.
Rani menjajakan dirinya sudah hampir satu tahun lamanya karena dia merasa uang dari kakaknya sangat kurang jadilah dia mencari uang sendiri dengan cara menjijikan seperti ini.
Raditya segera meninggalkan villa tersebut dan melajukan mobilnya dengan kecepatan yang cukup tinggi, tujuan utamanya adalah rumah kedua orangtuanya.
Jarak yang seharusnya dia tempuh selama dua jam an kali ini hanya satu jam lebih dia sudah sampai didepan rumah orangtuanya.
"Assalamualaikum.." Ucap Raditya langsung masuk rumah dan mendudukan bokongnya disalah satu sofa diruang tamu.
"Waalaikumsalam, gimana udah ketemu adik kamu?? Kok kamu sudah pulang?" Cecar sang ibu.
"Rani gak mau pulang bu" jawab Raditya singkat.
"Gak mau pulang bagaimana? Harusnya kamu paksa dia pulang karena sudah dari kemarin dia tidak pulang" Ucap ibu.
Sebenarnya tadi Raditya berniat menyeret sang adik, tapi melihat situasi kalau adiknya sedang dalam keadaan tak pantas dilihat olehnya dia mengurungkan niatnya.
Meskipun mereka saudara kandung Raditya malu melihat tubuh sang adik.
"Dia ngotot gak mau, karena lagi bekerja" Jawab Raditya.
"Bekerja apa?" Sahut Romi yang baru saja keluar dari dapur dengan membawa kopi di tangannya, dia masih memakai baju kerja karena baru saja pulang.
"Ayah mana?" Tanya Raditya yang malah mencari ayahnya.
"Masih mandi, kenapa?" Tanya ibu.
"Nanti akan aku kasih tahu kerjaan apa yang dilakukan Rani hingga dia tak mau pulang kesini" Jawab Raditya.
"Kenapa gak sekarang saja..?? Kamu jangan membuat teka-teki kayak gini" Ucap ibunya
"Udahlah bu..! Turutin aja apa kataku. Aku capek habis cari Rani ke puncak dan langsung pulang kembali kesini" Ucap Raditya dengan nada penuh emosi, apalagi saat melihat adiknya seperti tadi dan malah memilih bersama dengan para lelaki itu daripada pulang bersamanya.
Ibu Raditya hanya mendengus saja karena tak biasanya Raditya bersikap seperti ini, bahkan sampai membentak dirinya.
Setelah menunggu cukup lama akhirnya sang ayah sudah keluar dan duduk diantara mereka.
"Kenapa Raditya? Ada kabar apa tentang adik kamu sampai kamu meminta memberitahu menunggu ngumpul dulu" Tanya sang ayah.
"Kalian lihat sendiri saja kerjaan yang dilakukan oleh Rani, sudah aku kirim di grup" Ucap Raditya dan menekan tombol kirim di aplikasi yang sedang dia buka.
Sontak mereka membuka ponsel mereka masing-masing dan melihat dengan mata kepala mereka sendiri apa yang dilakukan oleh putri bungsunya itu.
Hingga sang ibu pingsan karena tak menyangka putri yang selalu dia banggakan berbuat seperti wanita murahan seperti itu.
"Ibu..." Teriak ayah dengan menahan tangisnya, karena dia juga merasa gagal menjadi seorang ayah.
"Ayo kalian gotong ibu ke dalam kamar.." Ucap ayah.
Dengan segera Romi menggotong sang ibu yang pingsan dan merebahkannya diatas ranjang.
Dengan telaten ayah Raditya mengoleskan minyak kayu putih ditubuh sang istri, dan menciumkannya didepan lubang hidungnya.
"Dimana Rani sekarang?" Tanya Romi dengan nada dingin, karena dia sedang menahan amarah.
"Villa melati blok R92 no 65" Jawab Raditya.
"Kamu telepon dokter sekarang, aku akan menyeret Rani agar dia pulang" Ucap Romi.
"Tak usah biarkan Rani seperti itu, ayah malu punya anak seperti dia. Lagian mau dipaksa bagaimanapun Rani tidak akan mau pulang" Ucap sang ayah.
Karena dia paham bagaimana Rani, kalau sudah keinginannya akan susah untuk dibantah. Apalagi dengan terang-terangan dia mengusir Raditya seperti tadi dan malah melanjutkan aktivitasnya.
Raditya tadi sengaja merekam semua pembicaraannya saat mulai masuk kedalam villa jadi dia gak perlu menjelaskan apapun, dengan rekaman dan video itu sudah cukup memberikan penjelasan bagi keluarganya.
Kini keluarga Raditya bagaikan dilempar kotoran oleh putri yang sangat di banggakan. Bahkan ibu Raditya selalu membanggakan sang putri saat bertemu dengan teman-teman arisannya.
"Ranii..." panggil sang ibu dengan lirih.
"Ibu sudah sadar? Sudah gak usah mengingat kelakuan anak itu, sekarang ibu pikirkan kesehatan ibu saja" Ucap sang suami dan memegang tangan istrinya.
"Tapi yah, dia anak kita kenapa bisa seperti itu kelakuannya?" Ucap ibu dengan terisak-isak.
Hingga dia memegang dadanya dan kembali pingsan lagi, mereka sontak langsung membawa sang ibu kerumah sakit karena tak ingin hal buruk terjadi padanya.
Dokter yang sudah dipanggil oleh Raditya dibatalkan padahal dia sudah diperjalanan akan datang memeriksa ibunya.