“Untung bapak kamu banyak duit, mun mak, dak sudi nyak nyusui nikeu.”
Kelebihan kadar hormon proklaktin dan pertemuan tidak sengajanya dengan Rizal membawa Nadya pada pilihan nekat—menjadi ibu susu untuk Adam putra Rizal yang mengalami kelainan dan alergi susu formula.
Namun, siapa sangka kehadiran Rizal dan juga sang putra Adam justru memberi kenyamanan untuk Nadya. Meski disertai fitnah dan anggapan buruk Sartini—Ibu mertua Rizal, yang menginginkan Rizal turun ranjang dengan Dewi adek kandung Almarhum istri Rizal.
Bagaimana Nadya menjalani kehidupan barunya dan akankah dia menemukan apa yang dia cari pada diri Rizal dan Adam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Susu 28
Adzan maghrib sudah berkumandang setengah jam yang lalu, rombongan Ibu-Ibu yang menjenguk Adam membubarkan diri beberapa saat setelah mendengar kenyataan tentang siapa Nadya, Hasna juga sudah kembali ke rumahnya begitupun Bu Sar dan Dewi, mereka semua pergi dengan membawa air muka tak percaya.
“Mamah masih nggak percaya kalo Nadya itu anaknya yang punya PT. Amara, Dew. Masak iya anak orang kaya dibiarin netekin anak orang, apa jangan-jangan … dia perempuan simpanannya Bos PT. Amara, tapi ngaku-ngaku jadi anaknya?” Bu Sartini menerka-nerka sambil melajukan motor maticnya.
Dewi yang duduk di belakang, mendekatkan wajahnya ke telinga sang Mama, menjawab sedikit berteriak. “Bisa jadi sih, Mah. Besok coba aku tanya temenku yang rumahnya deket pabrik sawit PT. Amara. Kalo sampe si Nadya itu bohong, tak jambak rambutnya.”
Bu Sartini menengok ke belakang sekilas, sudut bibirnya terangkat sinis. “Cari tau sampe seakar-akarnya, kita bikin malu si Nadya itu.”
Ia kemudian bergumam pelan, dengan kepala mendongak dan mata sedikit menyipit. “Lihat aja kamu Nadya, habis kamu sama saya.”
Tanpa sadar, tangan Bu Sartini menarik gas dengan kuat, motor yang ia kendarai pun melaju lebih cepat. Kondisi jalan yang sedikit bergelombang membuat laju motor menjadi tak seimbang, di tengah kepanikan Bu Sar menarik rem mendadak, namun refleknya yang sedikit terlambat membuat mereka jatuh terjerembab di selokan dekat rumah mereka.
Brak!
“Adaaawwwwwww.” Dewi dan Bu Sartini berteriak bersamaan.
“Mamah, gimana sih nyetirnya?!” sungut Dewi sambil mengusap sikunya yang terluka.
“Kok malah nyalahin Mamah, kamu itu, tau Mamah lagi fokus nyetir malah ngomongin Nadya. Jadi ketiban apes kan kita!” balas Bu Sar.
Dewi mendengus kasar, bibirnya mengerucut. Mereka kemudian beranjak dari tanah, mendorong motor mereka dengan susah payah.
Di rumah Rizal, wangi minyak telon dan aroma lavender menyeruak dari kamar Adam dan Nadya. Celotehan kecil Adam menjadi irama merdu di sela-sela lantunan surat yasin yang sedang dibaca Rizal dan Bu Harmi.
Nadya sudah lebih dulu menyelesaikan kewajibannya, berganti mengurus Adam yang PUP saat ia sholat tadi.
“Kamu pupup di gendongan Papa, ya? Bikin Papa mu mandi lagi,” gerutu Nadya dengan raut bercanda. “Maghrib-maghrib pupup,” imbuhnya sambil menggelitik perut gembul Adam. “Tukang pupup … si Ndut pupup.”
Kekehan kecil terbit dari bibir merah muda Adam, wajah polosnya berseri, lalu kembali berceloteh.
Ta … taa … taaa …
Sesekali bibirnya terkatup rapat, suaranya tertahan berganti air liur yang muncrat hingga membasahi pipi dan leher bocah gembul itu.
ehmmm … Aaaaa … Ta taa taaaa … beeeermmmm.
(mohon bayangkan coletahan bayi, jangan anu itu … Kawai.)
Tak selang berapa lama, pintu kamar itu diketuk pelan, disusul suara Rizal yang sudah menyelesaikan mengajinya.
Tok … Tok … Tok …
“Nad, Adam lagi nenen nggak?” serunya dari baik pintu.
“Nggak, masuk aja,” sahut Nadya.
Senyum hangat terulas di wajah tampan Rizal yang masih lembab oleh air wudhu, sorot matanya penuh binar begitu melihat pemandangan di kasur. Adam yang tertawa lepas, Nadya yang penuh kasih mengajak bermain putranya, ada yang menghangat di dada duda satu anak itu.
Ia tak menyangka.
Ia pikir setelah kehilangan sang istri, hidupnya tak akan lagi ada tawa, namun pemandangan di depannya seolah memberi harapan kebahagian untuk hari mendatang. Ada rasa haru yang diam-diam pecah dalam hatinya, bukan sekedar karena tawa sang putra melainkan ketulusan Nadya yang menyentuh titik terpenting dalam dirinya, hati.
Rizal masih menatap penuh binar di tempatnya berdiri saat Nadya mengalihkan pandang ke arahnya, ia lalu buru-buru menunduk, mengusap wajah kasar—mengusir gelayar aneh yang beberapa hari terakhir sering datang tanpa undangan.
“Kenapa senyum-senyum begitu? lagi membayangkan yang aneh-aneh, ya?” tuduh Nadya dengan nada bercanda.
Rizal terkekeh pelan, lalu duduk ke sisi ranjang. Satu tangannya mencoba menggapai puncak kepala Nadya. “Suudzon aja jadi orang,” kilahnya kemudian.
Nadya mencebik kecil seraya beranjak dari kasur. “Kamu sama Papa dulu, Ndut. Nad-nad mau buang bekas pupupmu.”
Seketika, Adam memasang raut merajuk saat melihat Nadya pergi, matanya menyipit—bersiap ingin menangis. Melihat itu, Rizal buru-buru mengangkat sang putra menimangnya sembari bercelotah pelan.
“Tunggu sebentar Mami buang diapers doang, Dam nggak pergi jauh.”
Rizal lalu mengangkat Adam ke udara, tangan kokohnya mencengkram kuat, namun penuh kelembutan. Bibirnya mengerucut memainkan suara khas yang di buat lucu, hidung mancungnya diusapkan ke perut gembul sang putra.
“Baaa … anak pinternya Papa ganteng betul. Kayak siapa sihh … hemm,” Rizal kembali menciumi perut Adam. “Kayak Papa, uhmm … Adam ganteng kaya Papa?” godanya ringan.
Adam terkekeh pelan, tangan mungilnya bergerak-gerak seolah ingin wajah sang Papa, bibir mungilnya kembali berceloteh lucu.
Aaaaa … Taaaa …. bbeeee … bbeeeebbbb ….
Rizal menurunkan Adam perlahan, mendekatkan ke dadanya, sebelum kembali mengangkatnya lagi—sedikit lebih rendah, seakan memberi jeda agar Adam tidak terkejut.
Tak berapa lama, Nadya kembali ke kamar. Rizal sengaja mengarahkan pandangan Adam ke Nadya yang berjalan menuju kursi di bawah jendela, kembali menggoda bayi yang langsung merajuk—seolah ingin berpindah ke pelukan Ibunya.
“Itu Mami kamu to, iya?”
Nadya menanggapi dengan berdecak kecil, raut wajahnya berubah ceria, lalu mengusap perut Adam saat bayi gembul itu didekatkan ke sampingnya.
“Sama Papa dulu, Nad-nad mau lihat laporan Tante Rizka sebentar,” ujarnya, lebih tertuju berbicara pada Rizal.
“Ada masalah?” tanya Rizal sambil menimang Adam yang masih saja gelisah ingin ke pangkuan Nadya.
“Nggak, cuma kroscek aja, beberapa hari ini aku nggak buka laporan caffee, kemarin aku ada pesen barang soalnya,” jelas Nadya sambil menggulirkan kursor di layar laptopnya.
Sesekali ia menoleh ke arah Adam yang masih terus merajuk ingin berpindah ke pelukannya.
“Sabar dulu, Maminya kerja sebentar.” Rizal kembali mengangkat bayi gembulnya itu ke udara, menggelitik perutnya dengan hidung mancungnya sembari mengeluarkan suara khas yang dibuat lucu.
“Caaaa … anak pinter nggak boleh rewel, Maminya lagi ker … kerja, Maminya lagi ker … kerjaaaaa.”
Wajah Adam kembali ceria, air liurnya menyembur di sela-sela bibirnya yang mengerucut. Pipinya mengembung, kaki kecilnya menendang udara.
“Adam kayanya lebih suka kalo panggil kamu Mami deh, Nad, tuh liat langsung ketawa-tawa dia pas Abang bilang Maminya kerja, pas kamu bilang Nad-nad langsung ngamuk dia,” seloroh Rizal.
Nadya mencebik, ada kekehan kecil di nada bicaranya. “Modusnya Pak duda agak ngeri, ya?”
Rizal turut terkekeh pelan sambil menimang Adam. “Dibilangin kok.”
Ia menoleh sekilas ke arah Nadya, dahi laki-laki berperawakan kekar itu mengernyit saat menangkap air muka Nadya yang berubah. “Ada masalah? Kok mukamu langsung kecut begitu?” tanyanya, kemudian.
Nadya berdecak pelan seraya beranjak dari duduknya. “Itu orang tua belum nyerah juga ternyata,” gumam Nadya.
Mendengar itu, alis Rizal bertaut, matanya sendunya memicing tajam. “Maksud kamu, Pak—”
“Papi,” sergah Nadya cepat.
Rizal menghela napas pelan, ada rasa ragu dalam hatinya saat ingin bertanya lebih dalam. Ia menunduk sekilas sebelum bertanya dengan hati-hati.
“Nad,” panggilnya pelan. “Abang sudah kenal kamu lebih dari tiga bulan, apa Abang masih belum boleh tau tent—”
“Papi menghancurkan semuanya, rumah yang Mami bangun dengan cinta, dengan ketulusan, semua hancur karena keegoisan dan keserakahan. Bahkan hidup Mami, hidup saya, semua hancur tanpa sisa,” sergah Nadya, suaranya sedikit tertahan, matanya mulai berkaca-kaca.
Rizal tertunduk sejenak, ada rasa bersalah dalam hatinya. Ia lalu berujar pelan—nada bicaranya terkesan lebih berhati-hati.
“Maaf Abang kira masalahnya tidak serumit ini ngeliat gimana tadi kamu video call sama Pak Ilyas, ternyata…,” Rizal tak melanjutkan ucapannya, memilih kembali menunduk, menatap wajah sang putra yang mulai terlelap.
Nadya tersenyum masam sambil bersiap memasang kelambu di kasurnya.
“Andai bukan karena pengen bungkam mulut mertua sama adik ipar Abang, ndak sudi pula aku telepon orang itu,” sahut gadis itu, lalu mengulurkan tangan hendak mengambil Adam dari gendongan Rizal.
“Udah sini Adam biar tidur, Abang juga istirahat sana,” lanjut Nadya—berusaha kembali mencairkan suasana.
“Nadya,” suara Rizal terdengar lebih lembut. “Kalau kamu butuh rumah, Abang dan Adam siap jadi rumah kamu, Nad. Kami akan selalu ada buat kamu.”
Nadya tertawa kecil, sudut matanya melirik sedikit. “Apa ini termasuk pernyataan cinta?” godanya membuat Rizal terkekeh seketika.
“Kamu ini orang lagi serius juga,” protes Rizal.
“Lha, saya juga serius tanyanya. Anak zaman sekarang ‘kan begitu kalo menyatakan cinta, ‘aku akan jadi rumah untukmu, rumah yang bukan hanya untuk singgah, tapi menetap selamanya’ kiwww … kiwwww,” seloroh Nadya.
Keduanya pun terbahak bersama.
.
.
.
“Berhenti menyalahkan Nadya, atau kalian akan tau bagaimana marahnya saya.”
Bersambung.
Nadya, cerita doang ke bang Rizal nya 😁😁😁
lanjut lagi cerita Thor 🙏🏻🙏🏻🙏🏻