Fred Tucker, mahasiswa kedokteran diparis, penampilan biasa, agak gempal dan bukan pusat perhatian. satu kali menjadi dirinya menjadi target pembunuh bayaran. Dia harus melarikan diri tanpa tahu penyebabnya. bukan miliarder, bukan siapa-siapa, orang tua biasa saja namun menjadi target mati. hidupnya hancur, orang tua nya mati. Untuk mengetahui apa yang terjadi hidupnya maka Fred harus menjadi pembunuh bayaran. berlatih dan menjadi kuat Dia harus ke berbagai negara sebagai Assassin
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rick Tur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Brussel, Belgia
Apartemen Brussel itu… jauh lebih baik dibanding apartemen mahasiswa kedokteran yang dulu pernah Fred sebut “tempat tinggal”.
Dindingnya tidak lembap. Tangga gedungnya tidak berbau masakan tetangga yang menempel di pakaian. Jendelanya besar, menghadap jalan kota yang rapi dan dingin. Furnitur sederhana tapi kokoh. Ada pemanas yang bekerja benar. Ada dapur kecil yang bersih, seolah tempat ini dibuat untuk singgah—bukan untuk hidup lama.
Tapi justru karena itu, tempat ini terasa seperti Maëlle.
Fungsional. Tanpa ornamen. Tanpa jejak emosi.
Rick berdiri di tengah ruangan, menatap sekitar. Ini kamar Maëlle, kata Mercer. Namun kamar itu hampir tidak punya “Maëlle” selain kehampaan yang teratur.
Lemari dibuka, di dalamnya hanya ada tiga potong pakaian: dua atasan gelap, satu jaket tipis. Dan sepasang sandal. Tidak ada parfum. Tidak ada kosmetik. Tidak ada buku. Tidak ada benda pribadi.
Semuanya berdebu.
Debu yang menempel di gagang pintu, di pinggir rak, di sela jendela. Seolah kamar ini sudah lama tidak disentuh. Seolah Maëlle sudah pergi sebelum Rick muncul di hidupnya, dan tidak pernah sempat kembali.
Rick menutup lemari pelan.
Ia memandang lantai.
Karpet.
Karpet itu tidak ketekuk seperti di rumah Mercer—lebih rapi—tapi Rick sudah belajar: kalau Maëlle punya tempat singgah, selalu ada sesuatu yang disembunyikan dengan cara yang sama. Kebiasaan itu seperti tanda tangan.
Rick jongkok, meraih ujung karpet, lalu mengangkatnya.
Dan benar saja.
Ada panel kecil di lantai.
Bukan pintu ke ruang bawah tanah. Bukan ruangan luas. Hanya kompartemen kecil—cukup untuk menyimpan satu benda.
Rick membuka panel itu.
Di dalamnya ada satu tas.
Tas itu kecil, hitam, keras, dan terlihat seperti sudah diletakkan dengan niat: rapih, pas, tidak bergerak.
Rick mengangkatnya pelan, menaruh di meja, lalu membuka resleting.
Di dalamnya—bukan uang, bukan dokumen—melainkan sesuatu yang membuat napasnya tertahan:
Perlengkapan sniper.
Terbungkus rapi: komponen senapan yang bisa dirakit, scope, kain kamuflase, pelindung suara, dan beberapa aksesori kecil yang jelas bukan “mainan”. Semuanya bersih, terawat, seolah baru digunakan kemarin.
Rick menatapnya lama.
Ini cara Maëlle bekerja.
Bukan panik. Bukan improvisasi. Tapi persiapan yang diam-diam.
Rick menutup tas itu kembali dan menaruhnya di lantai dekat tempat tidur, jauh dari jendela.
Malam itu ia tidak tidur nyenyak. Bukan karena takut tempat ini diserbu, melainkan karena pikirannya berputar pada satu hal: untuk pertama kalinya sejak menjadi “Paper”, ia berada sendirian tanpa Mercer di ruangan yang bisa menyelamatkannya.
Besok, semuanya bergantung pada dirinya sendiri.
Pagi berikutnya, Rick melakukan apa yang Mercer selalu ulang:
observasi dulu.
Ia keluar apartemen dengan pakaian biasa—tidak terlalu rapi, tidak terlalu kumal—membaur di jalan kota. Ia berjalan pelan, memotong rute beberapa kali, memastikan tidak ada yang mengikuti. Baru setelah itu ia menuju lokasi yang tercantum di map.
Targetnya: Brian Olsen.
Pria tua kurus. Wajahnya seperti tali yang ditarik kencang—pipi cekung, bibir tipis, mata tajam yang tidak pernah benar-benar menatap orang sebagai manusia.
Rick melihatnya dari jauh, dari balik kaca kafe kecil di seberang jalan.
Brian Olsen datang dengan dua pengawal.
Pengawal itu tidak tampak seperti polisi. Mereka tampak seperti orang yang sudah terbiasa memindahkan kekerasan tanpa memancing berita. Rambut cepak, jaket tebal, tangan yang selalu dekat tubuh, mata yang tidak pernah berhenti memindai.
Rick mencatat semuanya tanpa mencatat di kertas: waktu, rute, kebiasaan.
Brian Olsen berjalan ke toko kecil. Bicara sebentar dengan pemilik. Pemilik toko terlihat menunduk, wajahnya tegang. Brian Olsen tersenyum tipis—senyum orang yang menikmati ketakutan.
Beberapa menit kemudian, pengawal ikut bicara. Ada gerakan tangan, ada tekanan halus. Pemilik toko mengangguk cepat, lalu membuka laci dan mengeluarkan uang.
Rentenir.
Map menyebutnya benar.
Rick mengikuti dari jarak aman selama beberapa jam, mengumpulkan potongan perilaku: Brian Olsen tidak suka keramaian. Ia memilih tempat yang bisa dikontrol. Ia selalu punya dua pengawal, dan rutenya berulang—seperti orang yang merasa dunia miliknya.
Rick juga melihat konsekuensinya.
Satu toko yang menolak, kata map. Rick melihatnya sendiri: papan kaca pecah, barang berantakan. Bukan karena kecelakaan. Karena pesan.
Rick merasakan sesuatu yang berbeda dari kasus gadis 17 tahun.
Tidak ada rasa bersalah yang menjerit.
Yang ada hanya dingin, sederhana: pria ini merusak hidup orang lain sebagai pekerjaan.
Ini pekerjaan mudah, pikir Rick. Dan kali ini, “mudah” tidak terasa seperti jebakan moral.
Malamnya, Rick kembali ke apartemen, menutup tirai, memeriksa komponen sniper, membersihkannya sebentar seperti Mercer ajarkan. Ia membongkar dan merakit kembali, memastikan tangannya tahu posisi tanpa harus berpikir.
Ia menyiapkan satu rute keluar.
Ia menyiapkan rute kedua.
Ia menyiapkan waktu.
Karena kalau ada satu pelajaran yang Mercer paksa masuk ke tulangnya: keluar lebih penting daripada masuk.
Keesokan harinya, Rick berada di atas gedung.
Angin Brussel dingin, memotong kulit. Kota di bawah tampak sibuk, tapi dari atas, semua orang terlihat seperti titik kecil yang berjalan mengikuti garis takdir mereka sendiri.
Rick berbaring di posisi yang sudah ia latih ribuan kali. Sniper milik Maëlle sudah terpasang. Scope sudah diatur. Napas Rick panjang dan stabil.
Ia menunggu.
Jam bergerak pelan. Matahari merayap sedikit.
Lalu, sesuai jadwal, Brian Olsen muncul di jalan bawah—seperti biasa—dengan dua pengawal.
Rick melihat mereka lewat scope: wajah Brian Olsen yang tajam, dua pengawal yang memindai, langkah mereka yang percaya diri.
Rick menahan napas.
Mercer selalu bilang: tembakan itu bukan soal tangan. Itu soal keputusan.
Rick menunggu momen.
Momen saat Brian Olsen berhenti sebentar untuk menyalakan rokok. Pengawal kanan menoleh ke arah jalan. Pengawal kiri melangkah setengah meter lebih maju—membuka garis.
Jeda kecil.
Itu cukup.
Rick menekan pelatuk.
Bunyi tembakan tertahan oleh peredam, hanya getaran halus di pundaknya.
Di scope, Brian Olsen tersentak—lalu jatuh.
Tidak ada drama panjang. Tidak ada kesempatan kedua. Tubuhnya ambruk seperti tali yang diputus.
Pengawal bereaksi cepat, menoleh liar, menarik sesuatu dari dalam jaket. Orang-orang di jalan menjerit, berlari.
Rick tidak menunggu.
Ia tidak melihat “hasil” lebih lama daripada perlu. Ia sudah dapat jawabannya: target jatuh, tidak bangun.
Rick membongkar senapan dengan gerakan cepat dan rapi—bukan panik. Ini bukan lari dari rasa bersalah. Ini prosedur.
Ia memasukkan komponen ke tas. Menutup. Mengunci. Menyelinap turun lewat tangga darurat. Keluar dari gedung dari pintu samping. Membaur di antara orang-orang yang belum tahu apa yang baru saja terjadi.
Dalam waktu singkat, Rick sudah kembali ke apartemen.
Ia membuka panel bawah karpet, menaruh tas sniper kembali di tempatnya, menutup panel, merapikan karpet. Tidak ada jejak.
Ia mandi cepat, mengganti pakaian, lalu berjalan keluar seperti penghuni biasa yang hendak pergi ke stasiun.
Di jalan, sirene mulai terdengar jauh.
Rick tidak menoleh.
Di stasiun, ia membeli tiket, duduk, menunggu kereta. Tangannya tidak gemetar. Napasnya stabil.
Ada sesuatu yang berubah.
Bukan karena ia menikmati pembunuhan.
Tapi karena ia menguasai perannya.
Ia menguasai cara berjalan, cara menatap, cara tidak terlihat bersalah. Ia menguasai cara menjadi “Paper” tanpa memperlihatkan “Fred”.
Ketika kereta bergerak meninggalkan Brussel, Rick menatap pantulan dirinya di jendela.
Wajahnya tenang.
Dan untuk pertama kalinya, ia mengerti mengapa Mercer begitu kejam dalam latihan.
Karena nyawa memang semurah itu… jika kamu berdiri di sisi yang salah.
Rick menutup mata sebentar, menahan satu pikiran yang muncul tanpa diminta:
Ini baru peringkat D.
Kalau peringkat D saja seperti ini… apa yang menunggu di peringkat berikutnya?