Seorang pria sukses yang meninggal karena pengkhianatan bisnis bereinkarnasi menjadi anak sulung dari keluarga miskin yang hampir bangkrut. Ia mendapatkan Sistem Warisan Kedua yang memberinya misi untuk menyelamatkan keluarganya dari kehancuran ekonomi dan ancaman mafia tanah. Dengan pengalaman hidup sebelumnya dan bantuan sistem, ia bertekad mengubah takdir keluarganya menjadi keluarga terpandang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gugatan Besar
Langkah Bima kali ini tidak lagi tersembunyi di balik isu atau tekanan administratif kecil. Ia memilih jalur yang lebih terang, lebih keras, dan jauh lebih mahal.
Surat gugatan resmi tiba pada pagi yang tenang. Amplop tebal berlogo firma hukum ternama itu diletakkan di meja kantor Arga. Kepala keuangan yang menerimanya tampak pucat ketika menyerahkan dokumen tersebut.
“Arga, ini dari pengadilan negeri,” katanya pelan.
Arga menerima amplop itu tanpa terburu-buru. Ia sudah menduga ini akan terjadi. Hanya soal waktu.
Ia membuka dan membaca satu per satu halaman gugatan. Tuduhannya tersusun rapi dan terdengar serius.
Pelanggaran standar distribusi.
Kontrak kerja tidak sah.
Dugaan monopoli pasokan lokal.
Arga menghela napas perlahan.
Ini bukan tuduhan sembarangan. Ini dirancang untuk menciptakan kesan bahwa usaha keluarga mereka bukan hanya berkembang cepat, tetapi juga melanggar aturan dan menekan pelaku usaha lain.
Tujuannya jelas.
Menguras dana hukum.
Menjatuhkan mental keluarga.
Membuat calon mitra atau investor lain berpikir dua kali.
Ia menutup berkas itu dan memanggil ayah serta ibunya ke ruang kantor.
Ayahnya membaca beberapa halaman pertama dengan kening berkerut. “Monopoli? Kita cuma beli bahan dari beberapa pemasok.”
Ibunya terlihat cemas. “Apa ini bisa membuat usaha kita ditutup?”
Arga menjawab dengan suara tenang yang sengaja ia jaga agar tidak goyah. “Mereka ingin kita lelah. Mereka ingin kita takut sebelum masuk ruang sidang.”
Ia menatap mereka satu per satu. “Kita tidak salah. Kita punya dokumen lengkap. Kita punya saksi. Kita tidak akan mundur.”
Malam itu ia menghubungi pengacara mereka. Pertemuan darurat dilakukan di kantor hukum sederhana yang dulu pernah membantu mereka dalam masalah izin.
Pengacara itu membaca gugatan dengan serius. “Mereka bermain di tiga arah sekaligus. Distribusi, tenaga kerja, dan persaingan usaha. Ini dirancang untuk memperluas ruang serangan.”
“Seberapa kuat posisi kita?” tanya Arga.
“Kalau dokumenmu rapi seperti yang kamu bilang, posisi kita tidak lemah. Tapi mereka punya sumber daya besar. Prosesnya bisa panjang.”
Arga mengangguk. “Kami siap.”
Beberapa hari sebelum sidang pertama, suasana kantor terasa berbeda. Pegawai yang biasanya bercanda di dapur menjadi lebih pendiam. Kabar tentang gugatan menyebar cepat.
Seorang karyawan mendekati Arga saat jam istirahat. “Arga, usaha ini tidak akan tutup, kan?”
Arga menatapnya dan tersenyum. “Kalau kita bekerja dengan jujur, tidak ada yang perlu ditutup.”
Kalimat itu sederhana, tetapi ia tahu semua orang sedang menunggu keyakinan darinya.
Malam sebelum sidang, Arga duduk sendirian di ruang kantor. Berkas-berkas tersusun rapi di atas meja. Dokumen legal lengkap. Bukti pembayaran pajak. Salinan kontrak kerja yang sudah diperbarui. Surat pernyataan dari pelanggan proyek dan sekolah. Bahkan beberapa pekerja siap menjadi saksi bahwa distribusi berjalan sesuai standar.
Sistem muncul pelan.
[Analisis Risiko: Seimbang]
[Keputusan ada di tangan Anda.]
Tidak ada skill tambahan.
Tidak ada buff negosiasi.
Tidak ada peringatan merah atau hijau.
Untuk pertama kalinya, sistem seperti menarik diri selangkah.
Arga menatap notifikasi itu lama. Ia tersenyum tipis.
“Jadi sekarang benar-benar aku sendiri,” gumamnya pelan.
Namun ia sadar, ia tidak benar-benar sendiri. Ia punya tim. Ia punya keluarga. Ia punya pengalaman dari dua kehidupan.
Hari sidang pertama tiba.
Gedung pengadilan negeri di kota terlihat lebih besar dari yang ia bayangkan ketika pertama kali melewati tempat itu bertahun lalu. Tangga marmernya dingin. Suasana formal dan tegang.
Arga datang dengan kemeja putih sederhana dan jas gelap. Ayahnya berjalan di sampingnya, wajahnya tegang tetapi berusaha tegar. Pengacara mereka sudah menunggu di depan ruang sidang.
Di sisi lain lorong, Bima Santosa berdiri bersama dua pengacara dari firma besar itu. Jas mereka rapi, langkah mereka percaya diri.
Bima menatap Arga dengan senyum tipis. “Masih sempat berubah pikiran,” katanya pelan ketika mereka berpapasan.
Arga membalas dengan tatapan tenang. “Kami memilih menyelesaikan ini di tempat yang benar.”
Sidang dimulai.
Hakim membuka persidangan dengan suara tegas. Pihak penggugat memaparkan tuduhan mereka dengan bahasa hukum yang terdengar berat. Mereka menyebut angka distribusi. Mereka menyebut kontrak kerja yang dianggap tidak memenuhi standar tertentu. Mereka menyebut dugaan praktik monopoli karena beberapa warung kecil beralih pemasok bahan baku ke jaringan yang dibangun Arga bersama komunitas.
Semua terdengar serius bagi orang yang tidak memahami detailnya.
Ketika giliran pihak Arga berbicara, pengacaranya berdiri dengan tenang.
“Kami akan menunjukkan bahwa seluruh tuduhan ini tidak berdasar.”
Satu per satu dokumen diajukan. Izin distribusi yang sah. Bukti bahwa standar kebersihan dipenuhi. Kontrak kerja yang sudah ditandatangani sesuai aturan dan bahkan disertai perlindungan tambahan bagi karyawan.
Salah satu saksi dari pihak Arga adalah kepala sekolah yang menggunakan jasa katering mereka.
“Kami memilih mereka karena kualitas dan harga yang sesuai. Tidak ada paksaan,” katanya di depan hakim.
Seorang pekerja proyek juga memberikan kesaksian. “Kami bebas memilih pemasok makanan. Tidak pernah ada tekanan.”
Pihak penggugat mencoba menyudutkan Arga secara pribadi.
“Apakah Anda mengakui bahwa dalam waktu singkat usaha Anda mengambil sebagian besar pasar katering proyek di wilayah ini?”
Arga menjawab dengan suara stabil. “Kami mendapatkan kontrak karena kualitas dan harga yang kompetitif. Kami tidak pernah melarang pelanggan bekerja sama dengan pihak lain.”
“Apakah Anda pernah menyarankan pemasok tertentu kepada warung kecil di sekitar?”
“Saya mengajak mereka bergabung untuk mendapatkan harga lebih baik. Itu pilihan bersama, bukan kewajiban.”
Ruangan terasa hening beberapa detik setelah jawabannya.
Di dalam dirinya, Arga merasakan detak jantung yang lebih cepat dari biasanya. Namun ia tidak membiarkan itu terlihat.
Ia sadar, ini bukan hanya soal pasal dan bukti. Ini soal persepsi hakim terhadap niat dan integritas.
Sistem tidak berbunyi lagi. Tidak ada angka yang menenangkan. Hanya pikirannya sendiri yang bekerja.
Sidang pertama ditutup tanpa putusan. Hakim menyatakan proses akan berlanjut dengan pemeriksaan tambahan.
Di luar ruang sidang, wartawan lokal yang mencium aroma konflik bisnis mulai berdatangan. Beberapa pertanyaan dilemparkan.
“Apakah benar usaha Anda terlibat monopoli?”
Arga menjawab dengan singkat. “Kami percaya proses hukum akan menunjukkan fakta sebenarnya.”
Ia tidak menyerang balik. Ia tidak menuduh. Ia tidak memancing opini.
Malam itu, setelah kembali ke kantor, suasana sunyi terasa lebih berat dari biasanya.
Ayahnya duduk di kursi dan menatap Arga lama. “Ayah bangga kamu tidak gemetar di sana.”
Arga tersenyum kecil. “Aku gemetar di dalam, Yah”
Ibunya menggenggam tangannya. “Apa pun hasilnya, kita sudah berusaha jujur.”
Kalimat itu terasa lebih kuat dari semua analisis sistem yang pernah ia terima.
Beberapa hari berikutnya, tekanan finansial mulai terasa. Biaya hukum tidak kecil. Waktu manajemen tersita untuk persiapan sidang lanjutan. Beberapa mitra bisnis menunda pembicaraan kerja sama sampai perkara ini jelas.
Namun berbeda dengan masa lalu, Arga tidak panik. Ia memanggil tim inti dan berkata, “Kita fokus pada operasional. Jangan sampai kualitas turun. Gugatan ini tidak boleh mengganggu pelayanan.”
Sistem muncul hanya sekali lagi dalam bentuk baris kecil.
[Stabilitas Mental Pengguna: Tinggi]
Arga tidak tersenyum kali ini. Ia hanya merasa tenang.
Ia tahu ini ujian terbesar bukan karena besarnya gugatan, tetapi karena untuk pertama kalinya ia benar-benar berdiri tanpa bantuan sistem.
Tidak ada skill negosiasi darurat. Tidak ada analisis psikologi lawan. Tidak ada prediksi tren. Hanya keputusan yang diambil dengan sadar.
Di dalam hati, ia berkata pelan, “Kalau aku kalah, aku akan belajar. Kalau aku menang, itu karena kerja nyata.”
Konflik ini belum selesai. Putusan belum dibacakan. Ancaman belum hilang.
Namun satu hal sudah jelas.
Arga bukan lagi anak yang bergantung pada sistem untuk melangkah.
Ia telah menjadi pemimpin yang mampu berdiri di ruang sidang, menghadapi lawan yang lebih besar, dan tetap menjaga kepala tegak.
Dan kali ini, apa pun hasilnya, ia tidak akan runtuh seperti kehidupan pertamanya.