Di balik kemewahan keluarga Mahendra, tersembunyi sebuah rahasia kelam. Bertahun-tahun lalu, Alisha Pratiwi diculik dan dipisahkan dari orang tua kandungnya, Ragendra dan Helena Mahendra. Sementara itu, kebohongan besar ditanam rapi oleh dalang licik bernama Bram Santoso.
Tanpa menyadari takdir yang terhubung, Alvaro tumbuh sebagai pewaris keluarga Mahendra, sedangkan Alisha hidup dalam kesederhanaan dengan identitas yang bukan miliknya. Ketika kebenaran perlahan terkuak, cinta, pengkhianatan, dan perebutan hak waris tak lagi bisa dihindari.
Siapakah pewaris yang sesungguhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zanita nuraini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 — Jejak
Bab 28 — Jejak
Mobil melaju cukup cepat di jalan yang mulai sepi.
Alvaro duduk di kursi depan. Tangannya menggenggam ponsel sejak tadi. Layar itu masih menampilkan pesan yang ia terima.
Alamat.
Hanya itu yang ia punya.
Di sampingnya, Damar fokus mengemudi. Matanya sesekali melirik peta di layar dashboard.
“Lokasinya di depan,” kata Damar singkat.
Alvaro tidak menjawab.
Pikirannya penuh.
Ia mencoba mengingat setiap kemungkinan. Siapa yang berani melakukan ini. Siapa yang tahu keberadaan Alisha.
Satu nama sempat terlintas di kepalanya.
Ia mengepalkan tangan.
“Tempat ini bukan area biasa,” lanjut Damar.
Alvaro akhirnya menoleh sedikit.
“Maksudmu?”
“Gudang lama. Sudah jarang dipakai. Orang luar jarang lewat sini.”
Alvaro kembali menatap ke depan.
“Tempat yang cocok untuk menyembunyikan seseorang.”
Damar mengangguk pelan.
Mobil terus melaju hingga akhirnya mulai memasuki kawasan yang lebih gelap.
Bangunan-bangunan tua mulai terlihat di kanan kiri.
Beberapa terlihat kosong. Sebagian lainnya gelap tanpa lampu.
Alvaro memperhatikan semuanya dengan tajam.
Ia tidak ingin melewatkan satu detail pun.
“Kita tidak bisa langsung masuk,” kata Damar.
Alvaro langsung menjawab.
“Aku tidak punya waktu untuk itu.”
“Kalau ini jebakan?”
Alvaro menatapnya dingin.
“Kalau ini jebakan, aku tetap masuk.”
Damar tidak membalas.
Ia sudah tahu jawaban itu sejak awal.
Mobil akhirnya melambat.
Dari kejauhan terlihat satu bangunan yang berbeda.
Lampu redup menyala dari dalam.
Alvaro langsung fokus ke arah itu.
“Berhenti di sini.”
Mobil berhenti beberapa meter dari bangunan tersebut.
Mesin dimatikan.
Suasana langsung terasa sunyi.
Alvaro membuka pintu mobil tanpa menunggu.
“Kita cek dulu,” kata Damar.
Alvaro tidak menjawab.
Ia sudah melangkah lebih dulu.
Langkahnya cepat. Matanya terus mengarah ke gudang itu.
Setiap detik terasa lama.
Di dalam gudang, Alisha Pratiwi duduk di kursi besi.
Tangannya masih terikat.
Pergelangan tangannya terasa sakit.
Kepalanya masih sedikit berat, tapi kesadarannya sudah kembali sepenuhnya.
Ia mencoba menggerakkan tangannya.
Tidak bisa.
Tali itu terlalu kuat.
Ia mengangkat kepala pelan.
Ruangan itu besar.
Lampu redup menggantung di atas.
Beberapa peti kayu tersusun di sudut ruangan.
Tidak ada jalan keluar yang terlihat jelas.
Napasnya mulai tidak teratur.
Ia berusaha tetap tenang.
Ia tidak boleh panik.
Pikirannya langsung tertuju pada satu orang.
Alvaro.
Ia tidak tahu apakah pria itu akan datang.
Ia tidak tahu apakah ia akan ditemukan.
Langkah kaki terdengar.
Alisha langsung menegang.
Suara itu semakin dekat.
Tok.
Tok.
Tok.
Seseorang muncul dari balik bayangan.
Alisha Mahendra.
Gadis itu berjalan pelan mendekat.
Wajahnya terlihat tenang.
Terlalu tenang.
Ia berhenti tepat di depan Alisha.
“Sudah sadar?”
Alisha menatapnya.
“Kenapa kamu melakukan ini?”
Alisha Mahendra tersenyum tipis.
“Kamu masih bertanya?”
Ia berjalan mengelilingi kursi.
Langkahnya pelan.
Seolah menikmati keadaan.
“Kamu tahu kenapa.”
Alisha menggeleng.
“Aku tidak mengambil apa pun darimu.”
Langkah itu berhenti.
Alisha Mahendra menatapnya tajam.
“Semua yang kamu miliki sekarang… itu milikku.”
Alisha terdiam.
Ia tidak mengerti sepenuhnya.
“Aku tidak pernah meminta semua ini,” katanya pelan.
Jawaban itu membuat wajah Alisha Mahendra berubah.
“Kamu tidak perlu meminta.”
Suaranya mulai meninggi.
“Semuanya datang begitu saja ke kamu.”
Ia mendekat.
Tatapannya tajam.
“Keluarga itu… kehidupan itu… bahkan dia.”
Alisha langsung tahu siapa yang dimaksud.
“Alvaro?”
Nama itu keluar begitu saja.
Alisha Mahendra tersenyum tipis.
“Iya.”
Ia menunduk sedikit, wajahnya mendekat.
“Dia seharusnya milikku.”
Alisha menggeleng pelan.
“Aku tidak pernah menganggapnya seperti itu.”
“Bohong.”
Suara itu dingin.
“Dia selalu memilih kamu.”
Alisha tidak tahu harus menjawab apa.
Ia tidak pernah melihat semuanya seperti itu.
Ia hanya melihat Alvaro sebagai seseorang yang selalu melindunginya.
“Itu hanya perasaanmu,” katanya pelan.
Kalimat itu membuat suasana berubah.
Wajah Alisha Mahendra menegang.
“Kamu tidak mengerti apa pun.”
Ia mundur beberapa langkah.
Napasnya tidak teratur.
“Sejak kecil aku ada di sana.”
“Semua orang melihatku sebagai bagian dari keluarga itu.”
“Semua itu milikku.”
Ia menatap Alisha lagi.
“Lalu kamu datang… dan mengambil semuanya.”
Alisha menahan napas.
“Aku tidak ingin mengambil apa pun.”
Alisha Mahendra tertawa pelan.
“Tapi kamu tetap melakukannya.”
Ia menatap ke arah lain sejenak.
Seolah menahan sesuatu.
Lalu kembali menatap Alisha.
“Aku tidak akan membiarkan itu terjadi.”
Suasana menjadi semakin tegang.
Di luar gudang, Alvaro sudah berdiri tidak jauh dari pintu.
Ia memperhatikan bangunan itu.
Lampu dari dalam terlihat jelas.
“Dia di dalam,” katanya pelan.
Damar berdiri di sampingnya.
“Kita masuk pelan.”
Alvaro menggeleng.
“Terlalu lama.”
Ia melangkah maju.
Damar langsung mengikutinya.
Mereka bergerak mendekati pintu.
Alvaro berhenti sejenak.
Ia mencoba mendengar.
Dari dalam terdengar suara samar.
Seperti seseorang berbicara.
Ia mengepalkan tangan.
Tanpa menunggu lagi, ia mendorong pintu sedikit.
Pintu itu tidak terkunci rapat.
Celah kecil terbuka.
Cahaya dari dalam keluar.
Alvaro mengintip.
Dan ia melihatnya.
Alisha.
Terikat di kursi.
Dadanya langsung terasa sesak.
Di dekatnya berdiri seseorang.
Alisha Mahendra.
Tatapan Alvaro berubah.
Dingin.
Keras.
Ia membuka pintu sedikit lebih lebar.
Di dalam, Alisha Mahendra masih berdiri di depan Alisha.
Ia tidak menyadari ada seseorang di luar.
“Aku sudah memberi kamu kesempatan,” katanya.
Alisha menatapnya.
“Kesempatan apa?”
“Untuk pergi.”
Alisha terdiam.
“Tapi kamu tetap ada di sini.”
Suara Alisha Mahendra berubah dingin.
“Jadi sekarang aku yang akan memutuskan.”
Alisha menelan ludah.
Jantungnya berdetak cepat.
Di luar, Alvaro sudah tidak bisa menahan diri.
Tangannya mendorong pintu lebih kuat.
Pintu terbuka sedikit lebih lebar.
Suara engsel terdengar pelan.
Damar langsung memberi isyarat untuk berhati-hati.
Alvaro tidak peduli.
Matanya hanya tertuju pada satu orang.
Di dalam, Alisha tiba-tiba merasa sesuatu berubah.
Ia menoleh sedikit ke arah pintu.
Ada celah kecil.
Seperti ada seseorang di luar.
Jantungnya langsung berdegup lebih cepat.
Sementara itu, Alisha Mahendra masih berbicara.
“Aku tidak akan kehilangan semuanya karena kamu.”
Ia melangkah mendekat.
Tangannya terangkat sedikit.
Seolah siap melakukan sesuatu.
Di luar, Alvaro sudah siap menerobos masuk.
Ia menarik napas.
Satu langkah lagi.
Satu detik lagi.
Semuanya bisa berubah.
Apakah ia datang tepat waktu… atau sudah terlambat?
#bersambung
Alisha tidak akan kalah terus kok… justru mulai dari bab berikutnya dia sudah mulai melawan 😉
makasih banyak masukannya, ditunggu ya kelanjutannya~