Dilarang memplagiat karya!
"Dia memilih kakakku..." --Hawa--
"Dan aku memilihmu. Bukan karena tidak ada pilihan lain, Hawa. Tapi karena memang hanya kamu yang aku mau." --Ramadan--
Hawa terpaksa menelan kenyataan pahit saat Damar--sahabat sekaligus laki-laki yang dicintainya, justru melamar Hanum--kakak kandungnya.
Di tengah luka yang menganga, hadir Ramadan sebagai penyejuk jiwa. Tak sekadar menawarkan cinta, Ramadan juga menjadi kompas yang menuntun Hawa keluar dari gelapnya kecewa menuju cahaya ketulusan yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayuwidia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 28 Foto Lama
Happy reading
Mobil Alphard putih yang dikendarai Rama berhenti tepat di depan gerbang kediaman Abimanyu.
Sunyi. Tidak ada lagi obrolan ringan yang mengalir sejak percakapan mereka di masjid tadi.
Hawa tak lagi bertanya, namun benaknya menyuarakan janji; ia akan mencari tahu sendiri siapa sejatinya sosok Rama.
"Wa, ada beban yang masih ingin kamu bagi?" Rama memecah kebisuan yang sedari tadi menaungi kabin mobil. Ia menoleh sekilas, membiarkan gadis yang dicintainya itu sejenak terdiam--menimbang dalam sisa-sisa kemelut pikirannya.
Hawa menggeleng pelan. "Nggak ada," jawabnya singkat. "Tapi, ada satu hal yang harus aku pecahkan gara-gara kamu."
Ia menoleh, menatap lekat pahatan tampan yang kini terhias lengkung senyum tipis. Jika dilihat dari samping, wajah Rama terasa begitu familier--sangat mirip dengan seseorang yang ia kenal di masa lalu. Namun, siapa? Hawa memeras memori, berusaha mencari kepingan wajah yang seolah sengaja bersembunyi di balik ingatannya.
"Jangan menatap calon suamimu terlalu lama. Takutnya, malam ini kamu nggak bisa tidur," goda Rama, melontarkan candaan yang seketika mengusik keseriusan Hawa.
Hawa mendengkus, mencebikkan bibir karena tertangkap basah oleh Rama. Ia segera mengalihkan atensi ke sembarang arah, mencoba menyembunyikan semu merah yang mulai merambat di pipinya.
"Mau turun, atau mau ikut pulang?" Lagi-lagi, Rama memecah kebisuan yang sejenak mengambil alih. Ia sengaja melontarkan gurauan itu hanya untuk melukis kembali senyum di bibir Hawa--berharap gadis yang menjadi tambatan hatinya sejenak melupakan luka dari kejadian tak mengenakkan di pesta resepsi tadi.
"Kalau ikut pulang, memangnya boleh?" timpal Hawa, mencoba mengimbangi gurauan Rama sembari mengulum senyum.
"Tentu. Kamu mau? Kalau iya, aku temui walimu malam ini juga."
"Waliku masih sibuk. Besok pagi aja," sahut Hawa asal.
"Beneran?" Rama menaikkan sebelah alisnya. Menatap Hawa lekat, namun hanya untuk sekian detik. Secepat kilat, ia memutus tautan netra yang sesaat saling mengunci. Lalu kembali melempar pandangan ke arah depan, menjaga batas yang selama ini ia junjung tinggi.
"Nggak, ah. Tunggu kamu lulus dulu, biar bisa fokus mencari nafkah untukku," seloroh Hawa.
Tawa kecil seketika lolos dari bibirnya seusai mengucap kalimat itu. Ia seolah terlupa, bahwa beberapa menit yang lalu, ada tangis yang pecah di atas sajadah. Ada tubuh yang bergetar hebat dalam pelukan sujud.
"Ram, sekali lagi terima kasih, ya," ucap Hawa tulus, sesaat setelah tawanya mereda.
Rama mengerjapkan mata, lalu mengulas senyum tipis yang khas. "Jangan sedih lagi. Ada Allah, dan ada aku yang siap berada di sisimu."
Hawa sedikit menundukkan wajah. Ia menelan ludah yang mendadak terasa pahit sebelum kembali bersuara. "Untuk berada di sisiku, ada restu yang harus kita perjuangkan, Ram."
"Aku tahu," sahut Rama tenang. "Restu bundamu, kan?"
"Iya," Hawa mengangguk samar. Wajah yang sempat cerah oleh tawa itu kini kembali menyendu, teringat tembok besar yang menghadang mereka.
"Insyaallah, restu dari bundamu nggak akan sulit untuk kita dapatkan. Yang terpenting saat ini adalah doa. Rayu Ilahi di sepertiga malammu, Hawa. Biar Dia yang melunakkan hati hamba-Nya."
Hawa kembali mengangguk, coba meresapi setiap kata yang mengalir dari bibir Rama. Kata-kata yang seolah memberinya napas baru, mengusir sesak yang semula menghimpit dada saat terngiang ucapan sang bunda tentang kasta.
"Aku turun dulu, Ram. Assalamu'alaikum," pamit Hawa sembari menatap sekilas wajah Rama, lalu membuka pintu mobil.
"Wa'alaikumsalam, Hawa. Segera tidur, jangan membebani pikiran dengan sesuatu yang unfaedah," sahut Rama lembut.
"Iya." Hawa mengejapkan mata, menarik kedua sudut bibirnya hingga membentuk seutas senyum manis. Lantas melangkah turun, berdiri sejenak di depan gerbang rumahnya yang menjulang.
Sepersekian detik ia mematung, menatap lampu belakang mobil yang perlahan menjauh dan akhirnya menghilang di tikungan jalan.
Sunyi kembali menyergap. Namun kali ini, ada setitik cahaya harapan yang ia bawa masuk ke dalam rumah.
Hawa menyentuh bahu kirinya--tempat tanda lahir yang ditasbihkan sebagai kutukan oleh para pembenci.
Untuk pertama kalinya, ia merasa tanda itu bukan lagi beban, melainkan jembatan yang kian mendekatkan dirinya dengan sosok Adam yang telah menunjukkan jalan cahaya--Rama.
.
.
Hawa meraih gagang pintu, mendorongnya perlahan, kemudian melangkah ragu ke dalam.
Rumah besar itu tampak sunyi senyap, seolah tak lagi berpenghuni. Hawa meyakini bahwa malam ini seluruh keluarganya menginap di Hotel Mahesa--lokasi resepsi tadi.
Seharusnya, ia pun turut bermalam di sana dan berbagi kamar dengan Ijah. Namun, kejadian pahit di sudut ruangan tadi telah meruntuhkan keinginannya untuk tinggal lebih lama di sana.
Hawa segera merogoh tasnya, mencari ponsel untuk menghubungi nomor Ijah. Ia perlu memberitahu wanita paruh baya itu bahwa ia sudah sampai di rumah dengan selamat, sekaligus untuk meredam rasa cemas yang mungkin kini tengah melanda pengasuhnya.
Setelah menghubungi Ijah, Hawa meletakkan ponselnya di atas nakas. Ia mengembuskan napas panjang, membawa tubuhnya yang letih duduk di tepi ranjang. Memaksa memorinya menembus lorong waktu--menuju dua belas tahun silam.
Hawa terpejam, berusaha memanggil kembali nama-nama teman masa kecilnya. Di antara mereka, ada dua bocah laki-laki yang selalu berada di barisan terdepan untuk menjaga dan melindunginya. Mereka adalah... Damar dan Dzaki.
Bayangan sosok Dzaki kecil perlahan mengkristal di benaknya. Hidung mancung, alis yang tegas, sepasang mata teduh, dan bibir yang kemerahan. Pembawaannya tenang, namun justru ketenangan itulah yang sanggup membuat bocah-bocah nakal di komplek mereka gentar setiap kali berhadapan dengannya.
"Dzaki... apa mungkin itu dia?" Hawa bermonolog, suaranya parau memecah kesunyian kamar. "Tapi, mana mungkin Dzaki bekerja paruh waktu dan hanya mengendarai Vespa tua? Orang tuanya kan bergelimang harta. Lagipula, setahuku Dzaki nggak sereligius Rama."
Rasa penasaran itu kian membuncah. Secara refleks, tangannya membuka laci nakas, mencari album foto lama yang tersimpan rapi di sana. Jemarinya gemetar saat menarik album bersampul biru muda, lalu membukanya perlahan.
Ia membalik lembar demi lembar halaman album yang mulai berdebu. Matanya menyisir setiap baris foto, hingga gerakannya terhenti pada sebuah potret usang bertepi gerigi. Di sana, tiga bocah berdiri bersisian di bawah pohon belimbing yang sedang berbuah lebat.
Damar di sisi kanan, tertawa lebar dengan gaya khasnya yang ceria. Di tengah, ada dirinya sendiri--Hawa kecil yang tampak mungil dan pemalu, pandangannya terkunci pada bocah laki-laki di sisi kirinya.
Bocah itu tidak tersenyum ke arah kamera. Ia berdiri tegak dengan tangan dimasukkan ke dalam saku celana pendeknya, menatap lurus dengan binar mata yang tajam namun menenangkan. Hidungnya yang bangir, alis tebal yang hampir bertaut saat ia mengernyit, dan bibir yang kemerahan.
Hawa mendekatkan foto itu ke bawah lampu nakas. Jantungnya berdegup kencang. Sudut matanya menangkap sesuatu yang selama ini ia abaikan; tahi lalat kecil di sudut bawah rahang bocah itu.
"Tahi lalat ini..." bisik Hawa tertahan.
Ia teringat saat Rama tertawa di dalam Alphard tadi, tahi lalat yang sama persis berada di sana. Titik hitam yang seolah menjadi segel identitas yang tak bisa dibantah.
"Jadi, Rama itu... Dzaki."
🍁🍁🍁
Bersambung
aku vote deh..