Arcelia Virellia pernah menjadi putri yang hidup dalam kemewahan. Namun ketika bisnis keluarganya berada di ambang kehancuran, ia dijadikan alat transaksi melalui pernikahan politik dengan pewaris keluarga Ravert.
Pernikahan yang seharusnya menyelamatkan segalanya justru menghancurkan hidupnya.
Dihina keluarga suami…
Diabaikan oleh pria yang menjadi suaminya sendiri…
Dan ketika kematian misterius merenggut nyawa suaminya, Arcelia dituduh sebagai pembawa sial dan diusir tanpa belas kasihan.
Semua orang mengira hidupnya telah berakhir.
Namun tiga tahun kemudian, seorang investor misterius muncul dan mulai menguasai dunia bisnis elit kota. Tidak ada yang tahu identitasnya… sampai wanita itu kembali muncul dengan nama yang membuat masa lalu mereka bergetar.
Arcelia telah kembali.
Bukan lagi sebagai putri yang patuh…
Melainkan ratu yang siap menagih semua pengkhianatan.
Karena bunga mawar mungkin terlihat indah…
Tapi mereka lupa bahwa mawar selalu memiliki duri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anaya Barnes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28
Gelap,
Bukan hanya karena lampu mati, tapi karena rasa dingin yang tiba-tiba menyusup sampai ke tulang.
Arcelia tidak berani menoleh.
Suara itu terlalu dekat.
“Arcelia…”
Napasnya tercekat. Tangannya mengepal kuat, kuku menekan telapak sendiri agar ia tetap sadar.
“Aku tahu kamu di sini,” bisiknya, berusaha terdengar tegar meski suaranya bergetar.
Tidak ada jawaban.
Hanya suara detik jam dinding yang tiba-tiba terdengar terlalu keras.
Tik.
Tok.
Tik.
Tok.
Jam tangan di dalam kotak. Ia menunduk perlahan.
Jam itu yang tadi diam, sekarang menyala. Jarumnya bergerak sendiri, meski tidak ada baterai di dalamnya. Cahaya tipis berwarna kemerahan menyinari wajahnya. Detaknya tidak normal.
Lebih cepat.
Lebih keras.
Tiba-tiba—
Lampu menyala kembali. Ruang keluarga kosong.bTidak ada siapa pun di belakangnya. Kotak itu masih di atas meja. Jam tangan itu… kini mati lagi.
Arcelia terengah. Tubuhnya lemas.
Pintu depan terbuka.
“Lia Sayang?” suara mamanya terdengar.
Arcelia hampir menangis karena lega.
Malam itu,
Suasana makan malam terasa tidak biasa. Elvarin bercerita antusias tentang latihan basket dan rencana ulang tahunnya minggu depan.
“Rasanya aku mau kecil aja, Ma. Nggak mau jadi besar rasanya hehe. Oh ya Ma, undang teman dekat doang aja ya Ma,” katanya ceria.
Arcelia memandangnya lama.
Ulang tahun.
Hitung mundur.
Ia menggenggam sendok terlalu kuat.
Papa Alveron menyadari perubahan itu. “Arcelia,” panggilnya lembut. “Kamu kenapa Kak?”
Ia terdiam beberapa detik. Lalu, untuk pertama kalinya, ia berkata jujur. “Ada orang yang kirim pesan aneh. Tentang ulang tahun Elvarin.”
Suasana langsung hening.
Bang Kaiven, yang baru pulang dari kampus dan masih mengenakan jaket almamater, menoleh cepat.
“Pesan seperti apa Dek?”
Arcelia menunjukkan ponselnya.
Papa Alveron membaca dalam diam. Raut wajahnya mengeras.
“Mulai besok,” katanya tegas, “keamanan rumah ditingkatkan. Dan kamu Dek, tidak pergi sendiri ke mana pun.”
Elvarin yang awalnya ceria kini terlihat bingung. “Ini cuma bercanda kan Pa?”
Tidak ada yang menjawab.
Di kantor pusat keesokan harinya,
Suasana jauh lebih tegang dari biasanya. Saham perusahaan turun lagi. Media bisnis mulai mempertanyakan stabilitas Virellia Group.
Bang Kaiven berdiri di samping Papanya di ruang kerja pribadi.
“Pa, kayaknya kita bocor dari dalam,” katanya pelan. “Dan orang itu tahu momen paling sensitif.”
Papa Alveron menatap layar CCTV internal yang baru saja diputar ulang.
Sosok wanita karyawan baru itu terlihat sedang berbicara dengan seseorang di parkiran bawah tanah, di luar jam kerja.
Wajah polos.
Senyum lembut.
Tapi tatapannya… tidak polos sama sekali.
“Kita pantau dia Bang,” ucap Papa Alveron singkat.
Bang Kaiven mengangguk.
Namun firasatnya, mengatakan ini bukan hanya soal bisnis. Ini terlalu personal.
Sementara itu,
Di sekolah, Arcelia berjalan bersama Kaelion di lapangan belakang yang sepi.
“Aku merasa semuanya nyambung,” katanya pelan. “Perusahaan Papa. Pesan itu. Dan… hal yang aku lihat.”
Kaelion berhenti melangkah, “Kamu mau cerita sekarang?”
Arcelia menarik napas panjang, “Aku lihat bayanganku bergerak sendiri. Aku dengar suara manggil namaku. Dan semalam… suara itu ada di belakangku.”
Kaelion tidak langsung menjawab.
Angin sore meniup rambutnya pelan.
“Keluargamu pernah cerita sesuatu tentang masa lalu?” tanyanya hati-hati.
Arcelia menggeleng, “Yang aku tahu cuma… dulu pernah ada insiden waktu aku kecil. Tapi Mama nggak pernah mau bahas.”
Kaelion terdiam.
“Kalau ini bukan cuma ancaman manusia,” katanya pelan, “kita harus cari tahu asalnya.”
Tatapan mereka bertemu.
Dan untuk pertama kalinya, Arcelia merasa, ini bukan hanya tentang rasa takut. Ini tentang sesuatu yang lama dikubur.
Malam itu,
Wanita bergaun hitam berdiri di dalam klub dengan lampu temaram. Ia tidak menari. Hanya menatap layar tablet di tangannya. Grafik saham terus menurun.
“Bagus,” gumamnya.
Seseorang mendekat dan berbisik, “Ulang tahunnya tinggal lima hari.”
Ia tersenyum tipis. “Lima hari cukup untuk membuat keluarga itu retak.”
Ia mengangkat gelasnya. “Dan kalau retakannya cukup dalam… sesuatu yang lain akan keluar.”
Di rumah,
Arcelia terbangun tengah malam. Keringat dingin membasahi pelipisnya. Ia bermimpi, tentang dirinya kecil.
Berdiri di tengah ruangan gelap. Dan seseorang membisikkan sesuatu di telinganya.
Bukan ancaman.
Bukan kemarahan.
Tapi satu kalimat yang membuatnya terbangun dengan jantung hampir pecah.
“Waktunya sudah dekat.”
Ia duduk tegak di tempat tidur. Lalu perlahan menoleh ke arah cermin. Bayangannya menatapnya.
Tidak tersenyum.
Tidak bergerak terlambat.
Tapi,,,
Di belakang bayangan itu, ada sosok lain berdiri.
Tinggi.
Gelap.
Tanpa wajah.
Arcelia menoleh cepat ke belakang.
Kosong.
Saat ia kembali menatap cermin,
Sosok itu sudah hilang.
Tapi di kaca, muncul tulisan samar seperti embun yang membentuk huruf.
5
Hitung mundur.
Dimulai.
Angka itu perlahan memudar dari permukaan cermin.
5
Arcelia tidak berkedip. Bahkan ketika huruf itu hilang sepenuhnya, ia tetap berdiri kaku di depan cermin, seolah takut jika ia bergerak, sesuatu akan ikut bergerak bersamanya.
“Ini cuma pikiranku,” bisiknya.
Namun jauh di dalam dirinya, ada bagian kecil yang tahu, ini bukan sekadar halusinasi.
Ia menyalakan lampu kamar sepenuhnya. Cahaya terang membuat ruangan terasa normal kembali. Lemari tertutup. Tirai tidak bergerak. Tidak ada sosok tinggi tanpa wajah. Tapi perasaan diawasi itu… tidak pergi.
Pagi datang dengan langit mendung.
Di meja sarapan, suasana sedikit lebih sunyi dari biasanya. Elvarin tetap ceria, tapi ia beberapa kali menatap kakaknya dengan tatapan bingung.
“Kak, kamu semalam nggak tidur ya?” tanyanya polos.
Arcelia tersenyum tipis. “Tidur kok Dek.”
Papa Alveron memperhatikan tanpa berkata apa-apa. Namun pikirannya sibuk. Ancaman yang menyentuh anaknya bukan lagi permainan bisnis.
Itu deklarasi perang.
Bang Kaiven turun dari lantai atas sambil mengecek ponselnya. Wajahnya berubah ketika membaca notifikasi.
“Pa,” katanya serius. “Ada berita baru.”
Semua menoleh.
“Investor utama kita… menarik dana.”
Mama mereka menutup mulutnya pelan.
Papa Alveron berdiri perlahan, “Tanpa pemberitahuan Bang?”
Bang Kaiven mengangguk. “Dan pengumumannya dibuat publik.”
Artinya jelas,
Seseorang ingin mempermalukan mereka.
Di kantor pusat,
Ruang rapat terasa lebih dingin dari biasanya.
Eveline di sisi Papa Alveron, yang selama ini membantu mengatur strategi, meletakkan dokumen baru di meja.
“Pak, kita kehilangan hampir dua puluh persen likuiditas dalam dua hari.”
Papa Alveron menatap angka-angka itu dengan tenang yang terlalu tenang.
“Siapa di internal yang punya akses penuh ke data investor?” tanyanya.
Beberapa nama disebut. Dan satu nama membuat ruangan terdiam.
Karyawan baru.
Wanita polos,
Yang terlalu sering berada di tempat yang tidak perlu.
“Pantau semua komunikasinya,” ujar Alveron.
Di sudut ruangan,
Bang Kaiven memperhatikan Papanya. Ia bisa melihat beban itu. Bukan hanya sebagai CEO.... Tapi sebagai seorang ayah untuk anak-anaknya.
Sore itu di sekolah,
Arcelia duduk di perpustakaan, mencoba fokus pada buku di depannya.
Kaelion duduk berhadapan dengannya. “Kamu kelihatan tegang banget,” katanya pelan.
“Ada angka di cerminku,” jawab Arcelia tanpa basa-basi.
Kaelion terdiam.
“Angka lima.”
Ia menceritakan semuanya. Mimpi. Sosok tanpa wajah. Jam tangan. Pesan.
Kaelion tidak langsung meragukannya.
Sebaliknya, ia terlihat berpikir keras.
“Lima hari ke ulang tahun Adik kamu Elvarin kan?,” gumamnya.
Arcelia mengangguk.
“Tapi ini bukan cuma ancaman manusia,” lanjut Kaelion pelan. “Ini terasa… seperti sesuatu yang menunggu momen.”
Arcelia menggigit bibirnya, “Kalau memang ada sesuatu dari masa laluku,” katanya lirih, “kenapa baru sekarang?”
Kaelion menatapnya dalam. “Mungkin karena sekarang kamu sudah cukup kuat untuk menghadapinya.”
Kalimat itu seharusnya terdengar menenangkan. Tapi justru membuat bulu kuduknya meremang.
Malam berikutnya,
Angka di cermin berubah.
4
Tidak ada suara kali ini.
Tidak ada sosok.
Hanya angka itu.
Dan di saat yang sama,
Ponsel Papa Alveron berdering. Kabar darurat dari divisi keuangan. Seseorang membocorkan dokumen internal ke media.
Skandal manipulasi laporan.
Padahal laporan itu belum final.
“Ini framing,” gumam Bang Kaiven yang ikut mendengar panggilan itu.
Papa Alveron menutup teleponnya perlahan.
Wajahnya keras.
“Mereka tidak hanya ingin menjatuhkan perusahaan,” katanya. “Mereka ingin menghancurkan reputasi.”
Di kamar masing-masing, tanpa saling tahu,
Arcelia menatap angka 4 di cermin.
Dan Papa Alveron menatap grafik yang terus turun.
Dua hitung mundur.
Berjalan bersamaan.
Di apartemen mewah dengan lampu kota sebagai latar, Wanita bergaun hitam berdiri sambil memandangi layar besar yang menampilkan berita tentang Virellia Group.
Ia tersenyum puas.
“Empat hari,” bisiknya.
Seseorang berdiri di belakangnya dalam bayangan. Kali ini bukan sekutu bisnis.
Sosok itu tinggi.
Diam.
Tidak berbicara. Wanita itu tidak menoleh. Seolah ia tahu.
“Pastikan semuanya tepat waktu,” katanya lembut.
Sosok itu tidak menjawab.
Namun udara di ruangan itu terasa turun beberapa derajat.
Di rumah,
Arcelia menutup tirai lebih rapat malam itu. Ia tidak ingin melihat cermin lagi. Namun ketika ia mematikan lampu, ia melihat pantulan samar dari layar ponselnya.
Di sana,
Di belakangnya,
Sosok itu berdiri lebih dekat dari sebelumnya. Dan sebelum ia sempat menoleh. Suara itu berbisik tepat di telinganya.
“Bersiaplah.”
makasih udah mampir🙏
jangan lupa mampir juga di novel aku judul nya"Dialah sang pewaris"di tunggu yah....