NovelToon NovelToon
NAFSU SUAMI IMPOTEN

NAFSU SUAMI IMPOTEN

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Romansa / Wanita Karir / CEO / Reinkarnasi / Balas Dendam
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ratu Darah

Michelle Valen seorang seniman muda terkenal yang meninggal karena penghianatan sahabat dan tunangannya, ia berpindah jiwa kedalam tubuh Anita Lewis.
Diberikan kesempatan hidup kedua ditubuh orang lain, ia memulai pembalasan dendam dan merebut kembali identitas dirinya yang telah direbut oleh mereka.
Pernikahan dadakan dengan Dion Leach sang CEO gila yang terkena racun aneh, menjadikannya batu loncatan demi bertahan hidup, keduanya sama-sama saling memanfaatkan dan menguntungkan.

Mau tau kelanjutan dan keseruan ceritanya?
Silahkan mampir guys....
Happy reading, semoga cukup menghibur...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratu Darah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

Bab 28 Pencurinya Ya Aku Sendiri

“Kalau begitu, pergilah dan rampok saja!” suara berat Pak Drake Leach menggema di ruangan. Wajahnya mengeras, keriputnya menegang karena emosi yang tak terbendung. “Kita bisa urus konsekuensinya nanti… asal Dion selamat!”

Brak! Tongkat kayu di tangannya menghantam lantai, membuat Anita dan Jaccob sama-sama terkejut. Tak ada yang lebih penting bagi pria tua itu selain nyawa cucunya.

Jaccob menelan ludah, mencoba berpikir cepat. “Saat ini, hanya ada satu dosis tersisa di dunia. Itu ada di F City… milik Yates Group,” katanya berat.

Raut wajah Pak Drake makin muram. Dendam lama antara keluarga Leach dan Yates sudah menjadi rahasia umum. Mereka tak pernah akur, bahkan lebih tepatnya saling ingin menyingkirkan.

Namun tanpa ragu, Pak Drake mengangkat dagunya. “Kalau begitu, panggil mereka,” ujarnya tegas. “Selama mereka mau memberi obat itu, aku akan bayar berapa pun. Bahkan kalau harus menyerahkan seluruh kekayaan keluarga Leach, aku tak peduli!”

Suasana mendadak hening. Hanya terdengar tik-tok jam di dinding dan napas Dion yang berat di ranjang.

Jaccob menghela napas pendek. “Baik. Tapi kita harus cepat. Obat itu hanya efektif kalau disuntikkan dalam tiga puluh menit. Lewat dari itu, semuanya percuma.”

Ia mengeluarkan ponsel dari saku jasnya. Klik! Layarnya menyala, jari-jarinya bergerak cepat mencari kontak yang ia butuhkan.

Anita memperhatikan dengan alis berkerut. “Jaccob, obat yang kamu maksud… itu Lidoderm 7, kan?” tanyanya tiba-tiba.

Jaccob menoleh cepat, kaget. “Dari mana kau tahu nama itu?”

Anita menautkan jemarinya santai. “Karena aku sudah memintanya. Hendra Yates yang akan mengirimnya ke sini sekarang.”

Beep… beep… panggilan di ponsel Jaccob tak diangkat. Lalu sambungan mati otomatis.

Ia memelototi Anita, bibirnya terangkat sinis. “Kau pikir aku akan percaya? Ketua Yates Group saja tak menjawab panggilanku, dan kau hanya seorang wanita dengan reputasi seburuk itu mau mengaku kalau Hendra Yates, si buaya F City, akan repot-repot mengirimmu obat langka?”

Nada suaranya menurun jadi tawa mengejek. “Jangan bercanda, Anita. Hendra itu bajingan yang lebih bejat darimu. Dia bahkan tak peduli apakah Dion hidup atau mati. Mustahil dia memberimu sesuatu yang berharga!”

Pak Drake menatap Anita dengan mata yang goyah antara ragu dan harapan. “Anita… apa benar Hendra Yates akan mengirim obat itu?”

Hendra Yates, si pewaris flamboyan keluarga Yates, nama itu memang terkenal. Dandy nomor satu F City, sama terkenalnya dengan Dion Leach yang kejam tapi jenius.

Anita mengangguk tenang. “Dia akan tiba di sini dalam lima menit.”

Jaccob mendengus, “Ha! Lima menit? Kau sedang bermimpi. Sebaiknya kau tidur saja, biar mimpi indahmu tak terganggu.”

Anita tak menanggapinya. Ia hanya duduk di tepi ranjang, matanya tertuju pada Dion yang masih terbaring lemah.

Wajahnya lembut tapi penuh tekad. Ia tahu Jaccob takkan percaya, tapi dalam hati ia yakin Hendra akan menepati janjinya.

Sementara itu, Jaccob tak berhenti mencoba. Klik! Klik! Klik! Ia terus menekan nomor kontak di ponselnya, hingga akhirnya panggilan tersambung.

“Pak Yates!” katanya cepat. “Ini Jaccob Harding. Kami… kami butuh obat khusus Anda, sekarang juga! Dion sekarat, ini darurat!”

Dari seberang, suara berat seorang pria terdengar. “Jaccob?” nada itu terdengar sinis. “Kau meneleponku lagi hanya untuk obat itu?”

Jaccob tersenyum kaku. “Iya, Tuan Yates. Tolong, ini masalah hidup dan mati.”

Pak Drake yang tak sabar langsung menyambar telepon dari tangan Jaccob.

“Yates,” suaranya gemetar tapi tegas, “asal kau mau memberiku obat itu, aku akan lakukan apa pun yang kau minta.”

Beberapa detik keheningan. Lalu terdengar tawa rendah di seberang sambungan. “Ahahaha, apa pun?”

“Ya,” jawab Pak Drake tanpa ragu sedikit pun.

“Tiga kali bersujud padaku dan serahkan seratus juta dolar. Maka obat itu akan kukirim.”

Jaccob menatap kakeknya, tercengang. Tapi Pak Drake sama sekali tak gentar.

“Baik,” katanya datar. “Asal cucuku selamat.”

Suaranya mantap. Ia tak peduli harga diri, kehormatan, atau kekayaan. Hanya Dion yang penting.

Hening sejenak. Lalu terdengar desahan berat di ujung sana. “Hmph… baiklah. Aku akan kirim seseorang membawa obatnya sekarang.”

Pak Drake menghela napas panjang. “Syukurlah…”

Namun belum sempat mereka bersorak lega, Trrtt! telepon itu kembali berdering. Nomor yang sama muncul di layar. Pak Drake mengangkatnya cepat.

“Halo, Yates? Apa......”

Sebuah kalimat berat memotongnya dari seberang.

“Pak Drake,” suara itu datar namun mengandung tekanan dingin, “obat khusus itu… sudah dicuri.”

Brak!

Ponsel nyaris terlepas dari tangan Pak Drake. Jaccob dan Anita membeku. Udara di ruangan itu seketika menegang, seolah seluruh dunia berhenti berputar.

Suara dari telepon itu masih bergema di kepala Pak Drake Leach, tapi setelah kata “dicuri” terdengar, dunia seakan berhenti berdetak. Suara di seberang sana lenyap, berganti dengan dengungan kosong di telinganya.

Ia menatap Jaccob dengan wajah kusut dan bingung. “Apakah masih ada cara lain?” suaranya parau, hampir seperti bisikan orang yang kehilangan harapan.

Jaccob menggeleng pelan, wajahnya tegang. “Tidak ada, Kakek. Dion hanya bisa bertahan kalau tubuhnya sendiri melawannya.”

Nada suaranya berat, penuh keputusasaan. Ia tahu, penyakit Dion datang terlalu cepat dan memburuk bahkan lebih cepat lagi.

Pak Drake memejamkan mata sejenak, lalu memandang Anita. “Anita, apakah kau yakin… Hendra akan mengirimkan obat itu?”

Nada suaranya mengandung sisa-sisa harapan terakhir.

Anita baru akan mengangguk ketika Jaccob menyahut dengan tawa sumbang.

“Obatnya sudah dicuri, Kakek! Siapa yang mau mengirim apa pun padanya?” ujarnya sinis sambil melipat tangan. “Hendra Yates mungkin malah sibuk mengejar pencurinya sekarang!”

Anita hanya diam. Tak perlu berdebat dengan mulut sarkastik seperti Jaccob.

“Percuma, Kakek,” lanjut Jaccob, “Anita cuma dekatin Hendra buat kepentingannya sendiri. Kalau bukan karena Hendra gak suka nyakitin wanita, dia pasti udah ngebuang perempuan ini ke luar jendela.”

Pak Drake menarik napas panjang. “Sudahlah, Jaccob. Percayakan padanya sekali ini saja. Kalau gagal, baru kita cari cara lain.”

“Huh!” Jaccob mendengus. “Percaya padanya? Kalau Anita bisa dipercaya, babi pun bisa manjat pohon!”

Anita memutar bola matanya, malas menanggapi. “Kalau nanti Hendra datang,” katanya datar tapi tajam, “kau sendiri yang harus manjat pohon, Jaccob.”

Jaccob menyeringai sombong. “Baik! Kalau Hendra benar-benar datang, aku bukan cuma manjat pohon tapi aku juga bakal menggonggong dua kali!”

Tok! Tok! Tok!

Suara langkah tergesa datang dari bawah, disusul teriakan panik.

“Tuan Leach! Tuan Hendra Yates sudah tiba!” seru Philip, pengawal rumah itu.

Pak Drake, Jaccob, dan Anita sama-sama terpaku.

Bruk! Brak! Brak!

Suara sepatu berlari menaiki tangga bergema keras. Dalam hitungan detik, sosok pria tinggi dengan wajah tampan dan rambut acak-acakan sudah menerobos masuk ke kamar.

“Hendra…” gumam Anita pelan.

Hendra Yates nyaris jatuh berlutut di depan Anita, napasnya memburu. “Hah...hah... Kedokteran... dalam waktu kurang dari dua puluh menit…” katanya terengah-engah, sembari menyerahkan tabung obat kecil yang dijaga ketat di tangannya.

Keringat menetes dari dahinya, tiktik!, membasahi lantai marmer.

Anita langsung menyambar tabung itu tanpa banyak bicara. Klik!

Ia membuka kotak medis milik Jaccob, mengambil jarum suntik sekali pakai, lalu menyiapkan dosisnya dengan gerakan cepat dan presisi.

Jaccob masih melongo menatap pemandangan di depannya. “Gila,” gumamnya pelan. “Anak gila itu beneran datang…”

Saat Anita bersiap menyuntik Dion yang masih tak sadarkan diri, Jaccob maju dengan cepat. “Hei! Apa yang kau mau lakukan?! Kau mau......”

Belum sempat ia selesai, swish! sesuatu melayang ke arahnya. Refleks, Jaccob menangkap benda itu.

Matanya membesar. Lidoderm 7 , obat yang selama ini ia cari!

“Ini…” katanya kaget. “Kau..... kau benar-benar punya ini?”

Hendra melirik sekilas sambil menyandarkan tubuhnya di dinding, masih terengah. “Apa?” katanya santai.

Jaccob menatapnya tidak percaya. “Sejak kapan kau begitu dekat dengan Anita? Kau benar-benar bawain obat ini untuknya?”

Hendra mendecak kesal. “Aku datang untuk bantu Dion, bukan buat urus gosipmu.” Ia mengibaskan tangan. “Dan kalau aku kasih obat itu ke Anita, ya karena aku mau. Bukan urusanmu.”

Jaccob tercekat, wajahnya kaku. Rasanya seperti baru ditampar tanpa alasan. “Tapi bukannya obat itu dicuri dari rumahmu?” tanyanya, bingung.

Hendra tersenyum lebar, matanya berkilat nakal. “Ya, memang dicuri.”

Ia menegakkan tubuhnya, mengangkat dagu sedikit. “Dan pencurinya… ya aku sendiri.”

Hening sejenak.

Jaccob melongo. “Kau… mencuri obat dari rumahmu sendiri?”

Hendra mengangkat bahu santai. “Lebih cepat begitu daripada berdebat sama ayahku.”

Sementara mereka masih ribut, Pak Drake menahan napas di sisi ranjang. Matanya tak lepas dari Anita, yang kini dengan tenang menyuntikkan cairan bening itu ke lengan Dion.

Tsss! Suara jarum menembus kulit.

Darah Dion mengalir pelan, lalu wajahnya sedikit mengendur, napasnya mulai stabil.

“Sudah,” Anita menarik jarum dengan hati-hati.

Pak Drake menatap penuh cemas. “Anita… apakah dia… akan baik-baik saja?” suaranya nyaris bergetar.

Anita menutup wadah jarum suntik itu dan menjawab lembut, “Kita lihat setengah jam lagi, Kakek. Kalau kadar darahnya stabil, artinya Dion aman untuk sementara.”

Pak Drake mengangguk pelan, akhirnya bisa menarik napas lega. “Syukurlah…” gumamnya.

Anita berdiri, menuangkan segelas air dan menyerahkannya pada Hendra. “Minum. Kau kelelahan.”

Hendra tersenyum, menerima gelas itu dengan tangan bergetar. “Huft… perjalanan gila, tahu nggak? Aku hampir nabrak dua mobil cuma buat sampai tepat waktu.”

Anita hanya menatapnya dengan pandangan lembut namun tegas. “Yang penting kau selamat.”

Jaccob berdiri di pojok, masih menatap mereka berdua dengan wajah campur aduk antara kagum, malu, dan dongkol.

Setengah jam berlalu dengan hening tegang. Tik-tok… tik-tok…

Pak Drake akhirnya memberi isyarat pada Jaccob. “Ambil alatnya. Cek kadar darah Dion sekarang.”

Jaccob melangkah pelan, memasang alat uji. Bip!

Angka di layar mulai bergerak naik, lalu berhenti di satu titik stabil.

Pak Drake menatap tak percaya. “Apakah benar-benar terkendali?”

Anita menatap hasilnya, lalu menatap Dion yang kini tidur dengan napas lebih teratur. “Ya,” katanya pelan, senyum tipis muncul di wajahnya. “Untuk malam ini… Dion akan baik-baik saja.”

Huft… Pak Drake menunduk lega.

Sementara di luar, suara hujan mulai turun perlahan, drup… drup… drup…, seolah ikut merayakan kedatangan harapan baru itu.

 

Bersambung.....

1
Maycosta
Tetap sehat dan semangat sukses selalu ya
Noona Manis Manja: Terimakasih kk 😍
Salam sukses untukmu juga 🤗
total 1 replies
Binay Aja
tetap semangat nulisnya 💚
Noona Manis Manja: Terimakasih kk , tetap semangat juga untukmu ... salam kenal juga 🙏🏻
total 1 replies
Binay Aja
Hai, kak. Salam kenal cerita nya seru. jika berkenan singgah ke rumah ku yuk, Sentuhan Takdir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!