NovelToon NovelToon
Untuk Nadira Yang Tersisa

Untuk Nadira Yang Tersisa

Status: sedang berlangsung
Genre:Hamil di luar nikah / Obsesi / Keluarga / Persahabatan
Popularitas:455
Nilai: 5
Nama Author: Kim Varesta

Sejak kecil, hidup Nadira tak pernah benar-benar aman. Jaka—mantan yang terlalu obsesif—menjadi bayangan gelap pertama yang menjeratnya. Keenan datang sesudahnya, lembut dan perhatian, tapi jauh di dalam hati Nadira tahu: perhatian tidak selalu cukup untuk menyembuhkan luka.

Lalu hadir Nalen. Seseorang yang membuat Nadira untuk pertama kalinya merasa dicintai tanpa syarat. Namun ketika ia mulai percaya bahwa hidupnya bisa berubah… justru pada malam hujan itu, dunia Nadira hancur di tangan orang yang seharusnya melindunginya.

Erwin. Sepupunya sendiri.
Pria yang memaksanya, merobek pakaiannya, membungkam teriakannya, menggagahi tubuh yang bahkan belum mengerti bagaimana cara melawan. Malam itu mencuri segalanya—harga diri, keamanan, suara, dan masa depan Nadira.

Tak ada pelukan yang cukup kuat untuk menghapus ingatan itu. Tidak Jaka, tidak Keenan… bahkan tidak Nalen yang datang paling akhir, saat semuanya sudah terlambat.

Yang tersisa hanyalah Nadira—dengan tubuh memar, jiwa koyak, dan hidup yang terus memaksanya berdiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim Varesta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kepulangan Orangtua

🦋

Dua minggu terasa seperti dua hari saja.

Waktu bersama Ayah dan Ibu adalah waktu yang selalu berjalan lebih cepat, seolah ada tangan tak terlihat yang sengaja memutarnya supaya momen bahagia tidak pernah bertahan lama.

Pagi itu, rumah terasa berbeda. Sejuk, tapi menyakitkan. Hangat, tapi sekaligus meremas dada. Fayzel, Fahira, dan Diana bersiap di ruang tamu. Tas-tas sudah tertata. Mobil sudah dinyalakan oleh om Rigel yang menunggu di luar.

Nadira berdiri di ambang pintu, menggenggam ujung bajunya. Matanya memerah, tapi ia menahan agar airnya tidak jatuh duluan.

"Ayah… serius harus hari ini?" suaranya pelan, nyaris tenggelam oleh bunyi mesin mobil di luar.

Fayzel menoleh, lalu tersenyum tipis. Senyum yang sama senyum yang selalu berusaha terlihat kuat padahal lelah.

"Kalau bisa, Ayah juga mau lebih lama di sini, Dira."

Fahira ikut mendekat, menatap wajah Nadira lama. "Kamu kelihatan kurusan lagi," gumamnya lirih, seolah bicara pada dirinya sendiri.

Fayzel menghampiri dan mengelus kepalanya. "Dira… Ayah sama Ibu balik dulu ke kota J****, ya. Kamu hati-hati di sini."

Nadira hanya mengangguk. Ketika akhirnya ia memeluk ayahnya, Nadira merasakan debar yang berbeda antara campuran takut, rindu, dan keputusasaan yang tidak mau menghilang.

"Ibu, Ayah… hati-hati di jalan ya," ucap Nadira sambil menarik napas panjang, berusaha terdengar tegar.

Fahira memeluk putrinya kuat-kuat. "Iya, nak… kamu juga harus jaga diri baik-baik. Jangan terlalu banyak dipikirin, ya."

Nadira ingin bertanya: kalau aku nggak mikirin, siapa yang mikirin aku?

Tapi ia menelannya bulat-bulat.

Diana yang berdiri di samping malah menangis keras.

"Nenek… aku nggak mau pulang! Aku mau sama bibik Nadira!"

Nadira berjongkok, memeluk Diana erat seolah ingin memasukkan gadis kecil itu ke dalam dadanya. "Diana anak manis… nanti kita ketemu lagi. Kamu boleh video call sama bibik kapan aja."

"Tapi aku masih kangen bibik…" Isaknya pecah.

"Aku juga kangen," jawab Nadira lembut, suaranya bergetar. "Tapi kamu harus ikut nenek dan kakek ya… nanti kita main lagi waktu liburan."

"Bibik janji?" Diana menatapnya dengan mata sembab.

"Janji," Nadira mengangkat kelingkingnya. "Janji paling serius."

Diana akhirnya dipeluk oleh Fahira, masih terisak-isak.

Pintu mobil ditutup pelan, dan saat mobil mulai bergerak mundur, Nadira berdiri tegak di depan rumah sambil melambaikan tangan… sampai mobil itu menghilang di tikungan.

Ia masih berdiri bahkan setelah suara mesin menghilang. Seolah berharap mobil itu berbalik lagi.

Begitu mobil benar-benar pergi… senyuman Nadira pun ikut pergi. Yang tersisa hanyalah angin kering dan suara sepi.

***

Hari-hari berikutnya kembali menjadi rutinitas lama yang penuh kekosongan. Tanpa canda Diana, tanpa tawa Ibu, tanpa suara Ayah di pagi hari.

"Nadira, ambilin piring!"

"Nadira, kamu denger nggak sih?"

"Nadira, dari tadi bengong aja!"

Suara-suara itu datang silih berganti. Bukan memanggil tapi lebih mirip memerintah.

Nadira berjalan seperti bayangan dirinya sendiri yang tanpa senyum, tanpa ekspresi, tanpa energi. Seolah dua minggu bersama orangtuanya adalah oasis yang kini lenyap, meninggalkan gurun panas yang membuat napasnya sesak.

Sampai akhirnya… julukan itu muncul.

"Eh… gadis bisu dateng…" Bude Riana menyeringai begitu melihat Nadira lewat.

Seseorang di dapur terkikik kecil.

Nadira hanya berhenti sebentar. Tidak menatap, tidak memprotes. Hanya diam.

"Liat tuh! Jalan aja gak punya sopan santun kayak anak kecil. Bisu beneran ya kamu, Nadira?" Suara Riana menggema di ruang tengah.

Nadira mengeraskan hatinya. Ia menarik napas, menutup kuping dalam batinnya, dan berjalan ke dapur tanpa menoleh.

"Woi! Kamu budeg apa pura-pura gak denger!?" Riana mendengus kesal.

"Kok anak sekarang kayak tembok, ya," sambungnya sinis.

Nadira tetap diam. Ia menaruh gelas ke meja tanpa suara. Gerakannya lembut tapi dingin. Diamnya begitu menyakitkan karena itu satu-satunya senjata yang masih ia punya.

Kakek Wiratama, yang sedang menonton TV, ikut menatap Nadira. Sama seperti Riana, tatapannya bukanlah tatapan keluarga. Tapi lebih mirip pandangan seorang hakim pada tersangka.

"Dengar itu, Nadira," kata kakek. "Kamu tuh harus nurut sama bude. Jangan songong."

Nadira berhenti. Perlahan ia berbalik.

Matanya kosong, tapi sorotnya tajam.

"Kalau Dira diem… bukan berarti Dira salah." Suara Nadira tenang, dingin, tapi sangat jelas.

"Dira cuma gak mau ribut."

Riana tertawa mengejek. "Gak mau ribut atau takut? Dasar anak pembangkang."

"Pembangkang dari mana?"

Riana melipat tangan di dada. "Bude cuma ngingetin. Kamunya aja yang sensitif."

Nadira mengepalkan tangan, tapi ia tetap berdiri tegak. Tidak lagi menangis. Tidak lagi goyah.

Hatinya yang dulu rapuh… kini mulai terbentuk menjadi dinding es.

Namun suatu hari, batas itu tetap sempat jebol juga.

Ketika Riana mulai menyeret nama Fahira ke dalam makiannya, Nadira tak bisa lagi diam.

"Anak itu persis ibunya! Sok tahu, sok benar, sok suci. Ibunya aja dulu..."

"Cukup." Kata itu keluar dari mulut Nadira tanpa ia sadari.

Riana terdiam sesaat, tidak menyangka Nadira berani memotong ucapannya. "Apa kamu bilang?"

"Bude mau hina saya, silakan." Nadira menatap langsung ke mata Riana, tak gentar. "Tapi jangan pernah hina Ibu saya."

"Dasar kurang ajar!" Riana maju selangkah.

"Dira cuma membela Ibu." Nadira menegakkan bahunya. "Kalau itu salah… Dira terima."

Kakek Wiratama muncul dari balik pintu kamar dengan alis terangkat.

"Ada apa ini ribut-ribut?"

"Tanyakan cucu kamu ini!" bentak Riana cepat. "Kurang ajar banget sama yang lebih tua!"

Nadira menatap kakeknya. "Aku cuma nggak mau Ibu dihina."

Kakek mendengus. "Kamu itu kalau dinasehati bukannya denger malah melawan. Makanya kamu jarang disayang sama orang."

Ucapan itu menusuk.

Tajam.

Dingin.

Tanpa ampun.

Nadira hampir kehilangan kendali sesaat. Dadanya naik turun, napasnya berat. Tapi ia menguatkan dirinya.

Dalam hati ia berkata:

Biarkan mereka. Biar mereka bicara. Biar mereka hina. Aku tidak mau hancur lagi.

Ia kembali ke kamarnya. Menutup pintu pelan. Dan untuk kesekian kalinya… Nadira tidak menangis.

Hatinya sakit memang iya. Tapi ia tetap duduk tegak, menatap dinding kosong sambil berkata dalam hati:

"Aku nggak boleh runtuh lagi… Dira harus kuat."

Hari itu, sesuatu berubah dalam diri Nadira.

Bukan luka baru. Bukan hancur lagi. Tapi… garis batas. Garis tipis antara sakit dan kebal. Antara terluka dan mati rasa.

Ia tidak lagi memohon dipahami. Tidak lagi meminta disayangi. Tidak lagi mengejar validasi yang tidak pernah diberikan.

Nadira belajar sesuatu yang pahit namun penting:

Kadang, keluarga bukan tempat paling aman. Kadang, seseorang cuma bisa menyelamatkan dirinya sendiri.

Dan mulai hari itu, Nadira memilih jalan yang lebih sepi, jalan yang dingin, tanpa banyak bicara.

Julukan gadis bisu tidak menyakitinya lagi. Karena pada akhirnya…

Diam adalah tameng terkuat Nadira. Dan ketegaran adalah balasan paling menyakitkan bagi mereka yang ingin membuatnya jatuh.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!