“Ayo menikah! Setelah satu tahun mari kita berpisah!” —Arcelio Alexander.
“Oke kalau itu yang Bapak mau. Tapi setelah menikah saya tidak mau tidur satu ranjang dengan Bapak!” — Keyla Putri.
Keyla Putri terpaksa menerima perjodohan dan menikah dengan gurunya sendiri demi menyelamatkan perusahaan ayahnya yang terancam bangkrut.
Bagaimana kehidupan rumah tangga Keyla dan Lio setelah mereka menikah? Mengingat Lio adalah guru paling dingin dan menyebalkan di matanya.
Akankah tumbuh benih-benih cinta di antara keduanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 28
"Bapak pasti bercanda, kan?" Kevin memastikan jika yang ia dengar dari gurunya itu hanyalah omong kosong belaka.
"Telinga kamu masih normal? Tidak dengar apa yang baru saja saya katakan?" Lio balik bertanya, jengah melihat Kevin yang terus memaksa Keyla.
Kevin masih tidak mau melepaskan tangan Keyla. Sampai kapanpun, dia tidak akan mempercayai ucapan Lio yang hanya mengada-ngada.
"Pasti Keyla yang nyuruh pak Lio berpura-pura jadi calon suaminya. Mana mungkin guru killer seperti dia mau nikah sama anak SMA," gumam Kevin dalam hati sembari terus memperhatikan Lio dan Keyla bergantian.
Lio terlihat sangat marah. Entah mengapa melihat kedekatan Keyla dan Kevin membuatnya begitu kesal.
Lio semakin mengeratkan cengkraman tangannya di pergelangan tangan Kevin hingga membuat remaja itu meringis kesakitan.
Ayolah, tidak mungkin 'kan Lio sedang cemburu?
Lio berusaha menepis perasaan kesal yang sejak tadi hadir di dalam hatinya.
"Telinga kamu masih normal? Apa perlu saya ulangi ucapan saya barusan?" ucap Lio lagi.
Kevin tersenyum mengejek ke arah Lio. "Kalau mengkhayal jangan tinggi-tinggi deh, Pak. Nanti kalau jatuh sakit loh," sindir Kevin. Padahal ia sendiri sudah di tolak mentah-mentah oleh Keyla.
Jika memang benar kenyataan yang Kevin dengar, dia tidak akan pernah terima cinta pertamanya menikah dengan pria lain selain dirinya.
Apalagi Lio adalah gurunya sendiri sekaligus sepupunya. Benar-benar tidak terbayangkan oleh Kevin sama sekali.
"Bilang apa kamu barusan, hah?!" seru Lio tak terima.
"Maksud saya, mana mungkin Keyla calon istri Bapak. Dia selama ini nggak pernah kencan atau pacaran sama siapapun. Bisa-bisanya Bapak ngaku-ngaku," lanjut Kevin dengan raut wajah kesal saat melihat tangan Keyla di genggam oleh Lio.
Bahkan, Keyla hanya diam saja dan tidak menolak Lio. Berbeda saat Keyla sedang bersamanya dan memberikannya kalung berlian.
Jangankan menerimanya dan mengatakan kalung itu bagus, Keyla malah langsung mengembalikannya padanya.
Hati Kevin benar-benar hancur.
Lio tersenyum kecut lalu mendorong pundak Kevin agar remaja itu menjauh dari Keyla. "Dasar bocah! Nggak usah ikut campur urusan saya. Sekarang, lebih baik kamu kembali ke kelas atau..." Lio merogoh ponselnya dan menunjukkannya pada Kevin.
Dimana terlihat di layar tersebut nama tag seseorang yang Kevin kenal, Tristan—ayahnya.
"Sial!" umpat Kevin.
"Masih nggak mau pergi juga?" ulang Lio dengan nada sedikit tinggi.
"Iya, Pak, iya. Saya pergi sekarang!" Kevin mendengus dan terpaksa pergi dari sana sebelum ancaman Lio jadi kenyataan. Bisa-bisa uang jatah bulanannya berkurang jika ayahnya sampai tahu.
Ancaman yang Lio katakan tidak pernah main-main. Sama seperti beberapa waktu lalu saat Lio memergoki Kevin sedang membolos. Malam harinya, Tristan memarahi Kevin habis-habisan.
"Tunggu!" teriak Lio.
Langkah kaki Kevin terhenti. Ia kemudian berbalik, menatap Lio dan Keyla bergantian. "Ada apalagi?"
"Bersihkan semua toilet yang ada di sekolah ini termasuk toilet guru!" titah Lio yang sontak membuat Kevin membulatkan kedua matanya.
"What? Kamu serius Kak? Toiletnya nggak cuma satu dan kamu malah—"
"Sekarang, Kevin Alexander!" teriak Lio menunjuk ke arah toilet.
Kevin mengepalkan kedua tangannya kuat. Lagi-lagi, kakak sepupunya itu selalu berhasil membuatnya mati kutu.
"Awas saja kamu, Kak. Aku janji, akan merebut Keyla darimu nanti," lirihnya sembari melangkah pergi meninggalkan mereka berdua.
Setelah Kevin pergi, Keyla mencoba melepaskan genggaman tangan Lio. Keyla merasa risih. Ia juga khawatir jika tiba-tiba ada yang melihat mereka.
"Lepaskan, Pak!" Keyla hendak menggigit tangan Lio. Namun, nyalinya menciut saat Lio menyeringai ke arahnya.
Bukan Lio namanya jika akan membiarkan Keyla lepas begitu saja dengan mudah. Lio menyeret Keyla, membawa gadis itu ke ruangannya.
"Mau Bapak apa, sih. Saya sudah bilang 'kan, jangan sok kenal kalau kita sedang di sekolah. Tapi kenapa Bapak malah mengatakan pada Kevin—" lagi, bibir Keyla dibungkam oleh Lio sebelum ia sempat melanjutkan kata-katanya.
Dan kali ini tidak hanya sebuah ciuman singkat, melainkan luma tan kasar. Lio seakan sedang meluapkan emosinya lewat ciuman itu.
Keyla bahkan bisa merasakan hembusan nafas Lio yang tak beraturan, menerpa wajahnya.
"Dasar guru killer mesum! Bisa-bisanya dia mencuri ciumanku lagi!" umpatnya, menangis dalam hati.
So—sor terus Lio🤣