Alesha rela mengorbankan impian dan kebahagiannya demi rumah tangga yang ia perjuangkan sepenuh hati dan menerima hinaan dan cacian oleh keluarga suaminya.
Namun semua pengorbanannya berakhir sia-sia ketika ia mengetahui suaminya berselingkuh dan mengaku belum menikah.
Memilih pergi adalah langkah paling menyakitkan yang pernah ia ambil. Tetapi tanpa disadari, keputusan itu justru membawanya pada kehidupan baru yang lebih baik.
Alesha mulai bangkit. Ia ingin membuktikan bahwa keputusannya meninggalkan masa lalu adalah pilihan yang tepat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sahabat kecil
Tok! Tok!
Suara ketukan di pintu membuat Alesha mengernyit.
Siapa yang datang malam-malam begini? batinnya heran.
Tok! Tok!
Ketukan itu kembali terdengar.
Alesha melangkah perlahan ke arah jendela. Ia ingin mengintip siapa yang datang.
Hari sudah larut. Ia tak berani membuka pintu sebelum tahu siapa yang datang.
Dengan hati-hati, Alesha menyingkap tirai jendela sedikit.
Mata Alesha langsung terbelalak.
"Tuan Leon," lirihnya pelan.
Pandangannya masih terpaku pada pria yang berdiri di depan kontrakannya.
"Mau ngapain dia kemari malam-malam begini?" gumamnya bingung.
"Alesha, buka pintunya. Saya tahu kamu sedang mengintip saya."
Alesha langsung menjauh dari jendela.
Dadanya mendadak terasa sesak.
Bagaimana pria itu bisa tahu dirinya sedang mengintip?
"Alesha."
Suara Leon kembali terdengar dari luar.
Krek.
Pintu terbuka perlahan.
Leon berdiri di sana dengan setelan kemeja hitam. Lengan kemejanya tergulung hingga siku, membuat penampilannya terlihat lebih santai dari biasanya.
Tatapan pria itu langsung jatuh pada Alesha.
"Tuan Leon," sapa Alesha dengan senyum kikuk.
Leon tidak langsung menjawab.
Sorot matanya tertuju pada wanita yang berdiri di hadapannya.
Gadis kecil yang bertahun-tahun memenuhi pencariannya.
Gadis yang tak pernah benar-benar hilang dari ingatannya.
Kini berdiri hanya beberapa langkah darinya.
Untuk beberapa detik, Leon kehilangan kata-kata.
"Tuan, ada apa? Ada pekerjaan mendesak?" tanya Alesha pelan.
Leon menggeleng tipis.
"Alesha..."
"Iya, Tuan?"
Leon kembali terdiam, membuat Alesha semakin bingung dengan sikap bosnya.
"Tuan?" panggil Alesha pelan.
Leon menarik napas dalam sebelum akhirnya bersuara.
Selama bertahun-tahun ia mencari gadis itu.
Mencari tanpa pernah tahu apakah pencariannya akan berakhir atau tidak.
Namun sekarang...
Gadis yang selama ini ia cari berdiri tepat di depannya.
Hanya beberapa langkah darinya.
"Apa saya mengganggu waktu istirahatmu?" tanya Leon akhirnya.
Alesha menggeleng cepat.
"Tidak, Tuan."
Leon mengangguk pelan.
Tak ada lagi yang bersuara.
Alesha mulai merasa canggung.
Biasanya Leon selalu berbicara tegas dan langsung pada inti persoalan.
Namun malam ini pria itu terlihat berbeda.
Seolah ada kalimat yang berkali-kali ingin ia ucapkan, tetapi selalu tertahan.
"Tuan Leon sebenarnya ingin mengatakan apa?" tanya Alesha hati-hati.
Leon menatap wajah gadis itu cukup lama.
Sorot matanya membuat Alesha semakin salah tingkah.
"Alesha."
"Iya, Tuan?"
"Apa kamu memiliki sahabat kecil?"
Alesha mengerutkan kening.
"Sahabat kecil?" ulangnya pelan.
Leon mengangguk tipis.
"Iya."
Alesha terdiam sejenak. Dahinya berkerut saat mencoba mengingat masa kecilnya.
Sementara itu, Leon terus memperhatikannya.
Tatapan pria itu tidak pernah lepas dari wajah Alesha.
Ada begitu banyak hal yang ingin ia sampaikan malam itu.
Ia ingin memeluk gadis itu erat-erat.
Ia ingin meminta maaf karena tidak menepati janjinya bertahun-tahun lalu.
Ia ingin menjelaskan semuanya.
Namun, Leon menahannya.
Ia tidak ingin bertindak gegabah sebelum Alesha mengingatnya.
Alesha kembali menatap Leon, lalu menggeleng pelan.
"Tidak, Tuan. Saya rasa saya nggak pernah punya sahabat kecil," ucapnya jujur.
Sorot mata Leon sedikit meredup.
"Coba kamu ingat lagi, Alesha," ujarnya pelan. "Ingat baik-baik."
Alesha menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Ia benar-benar bingung dengan sikap atasannya malam ini.
Biasanya Leon selalu dingin dan bicara seperlunya.
Namun sekarang, pria itu justru datang ke rumahnya hanya untuk menanyakan masa kecilnya.
"Saya lupa, Tuan. Saya nggak terlalu mengingat masa kecil saya," jawab Alesha pelan.
Leon mengembuskan napas berat.
Tatapan Leon perlahan meredup.
Baru saja ia hendak mengatakan sesuatu lagi, sebuah suara tiba-tiba memanggil Alesha.
"Alesha."
Alesha dan Leon langsung menoleh ke arah sumber suara.
Di sana berdiri seorang wanita paruh baya yang baru saja keluar dari kontrakannya.
"Ibu Kasih," ucap Alesha.
Kasih mendekatinya dengan raut wajah datar.
"Ngapain kamu bawa pria malam-malam begini? Apa kamu lupa dengan peraturan kontrakan saya?" ucapnya.
Alesha langsung menggeleng cepat.
"Bukan begitu, Bu Kasih. Tuan Leon hanya datang sebentar."
Wanita itu mengamati Leon dari ujung kepala sampai kaki.
"Sebentar atau tidak, tetap saja ini sudah malam."
Alesha langsung salah tingkah.
"Maaf, Bu."
Leon yang sejak tadi diam akhirnya membuka suara.
"Saya hanya menghampiri Alesha."
Kasih menatap Leon beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk pelan.
"Tuan, kalau ingin berkunjung, datanglah sebelum jam sembilan malam. Karena saya memiliki aturan di kontrakan saya, jadi mohon pengertiannya," jelas Kasih dengan tegas namun tetap sopan.
Leon tidak langsung menjawab.
Sementara itu, Alesha yang berdiri di samping hanya bisa menundukkan kepala.
"Tuan, kalau ada yang ingin Tuan katakan, besok saja di kantor. Bukan saya bermaksud mengusir, saya hanya nggak ingin tetangga kontrakan saya salah paham," ucap Alesha dengan nada memohon.
Ia benar-benar tidak ingin menimbulkan masalah.
Selama ini ia hanya ingin hidup tenang dan menjauhi segala keributan.
Leon menatap Alesha.
Raut wajah wanita itu terlihat begitu memohon.
Leon bisa melihat kegelisahan di wajah Alesha.
Melihat itu, Leon akhirnya mengangguk pelan.
"Baiklah. Aku pulang."
Setelah mengatakan itu, Leon berpamitan.
Langkahnya perlahan menjauh dari kontrakan tersebut.
Alesha akhirnya bisa mengembuskan napas lega.
Lalu ia menatap Kasih.
"Bu, saya mohon maaf."
Kasih menatap Alesha dengan wajah serius.
"Kali ini saya maafkan kamu. Lain kali jangan bawa pria sembarangan ke kontrakan saya, Alesha. Kamu tahu sendiri, semua penghuni di sini wanita."
Alesha langsung mengangguk cepat.
"Iya, Bu. Saya minta maaf."
Kasih menghela napas pelan, lalu berbalik dan kembali menuju kontrakannya.
Setelah Kasih pergi, Alesha masuk ke dalam kontrakan.
"Sahabat kecil?"
Alesha mengulang pertanyaan itu pelan setelah menutup pintu kontrakannya.
Ia berjalan menuju sofa kecil di ruang tengah, lalu menjatuhkan tubuhnya ke sana.
"Maksud Tuan Leon apa, ya?"
Semakin diingat, sikap Leon malam ini terasa makin membingungkan.
Datang larut malam.
Lalu tiba-tiba bertanya soal sahabat kecil.
Alesha mengacak rambutnya frustrasi.
"Aneh."
Ia mencoba mengingat kembali masa kecilnya.
Namun seperti biasa.
Semuanya terasa kabur.
Ia hanya mengingat beberapa potongan kecil yang bahkan tidak utuh.
"Lebih baik aku tidur saja. Semakin dipikirkan, malah bikin pusing," gumam Alesha pelan.
——
"Leon... Lea... Mommy dan Daddy pulang... yuhuyyy, kalian di mana?"
Lea yang sedang makan malam langsung menoleh.
Wajahnya seketika berbinar saat melihat kedua orang tuanya baru saja pulang dari liburan.
"Mommy! Daddy!"
Lea segera beranjak dari kursinya lalu berlari menghampiri mereka.
Laras merentangkan kedua tangannya.
Tanpa ragu, Lea langsung memeluk sang ibu erat-erat.
"Mommy, Lea rindu tahu," rengeknya manja.
Laras terkekeh pelan.
"Kamu ini. Mommy cuma satu minggu di Berlin."
Lea melonggarkan pelukannya. Bibirnya langsung cemberut.
"Satu minggu serasa satu tahun tahu."
Lucas, sang daddy, hanya terkekeh melihat tingkah putrinya.
"Kamu cuma rindu sama Mommy?"
Lea langsung menoleh, lalu berpindah memeluk sang ayah.
"Tentu saja aku rindu sama Daddy. Apalagi rindu transferan Daddy."
Laras langsung tertawa keras.
Putrinya ini memang terlalu jujur.
Lucas berdecak pelan.
"Kamu persis seperti Mommy-mu. Cuma rindu uang Daddy."
Lea melonggarkan pelukannya lalu tercengir tanpa merasa bersalah sedikit pun.
"Aku kan anak Mommy, jadi wajar dong."
Lucas hanya bisa menggeleng pasrah.
Lea lalu menatap kedua orang tuanya secara bergantian dengan sorot mata penuh selidik.
"Kalian nggak akan kasih aku adik, kan?"
Lucas mengangkat bahunya santai.
"Lihat saja nanti."
Mata Lea langsung melebar.
"Tidak! Lea nggak ingin punya adik!"
Lucas tertawa keras melihat kepanikan putrinya.
Sejak dulu Lea memang selalu menolak memiliki adik dengan alasan cukup dirinya dan Leon saja yang menerima warisan kedua orang tua mereka.
Laras pun ikut terkekeh.
"Oh ya, anak Mommy yang dingin itu mana?" tanya Laras sambil menoleh ke sekeliling mansion.
"Kak Leon sedang ada misi, Mom," jawab Lea.
"Misi?"
Laras dan Lucas langsung saling pandang.
"Misi apa yang kakakmu jalankan?" tanya Lucas penasaran.
"Misi mengejar cinta, Dad," jawab Lea sambil tercengir lebar.
Laras spontan menutup mulutnya.
Laras langsung menarik tangan Lea lalu mengajaknya duduk di sofa.
"Sepertinya ada kabar yang Mommy dan Daddy lewatkan."
Lea tertawa kecil.
Laras menatap putrinya dengan penuh rasa ingin tahu.
"Info apa yang Mommy lewatkan?"
"Mommy masih ingat sahabat kecil Kak Leon yang dia cari selama bertahun-tahun?" tanya Lea.
Laras mengangguk pelan.
"Iya, tentu saja. Kakakmu sampai sekarang masih terus mencarinya."
"Nah, itu dia, Mom. Kakak sudah bertemu dengannya."
"Apa?! Kamu serius?"
Lea mengangguk cepat.
Lea pun mulai bercerita dari awal.
Mulai dari kedatangan Alesha ke perusahaan, bagaimana Leon mulai curiga, sampai akhirnya tanda lahir di pundak Alesha memastikan bahwa wanita itu memang gadis kecil yang selama ini dicari Leon.
Sementara itu, Lucas juga ikut menyimak dengan serius.
"Jadi gitu ceritanya, Mom," ucap Lea setelah panjang lebar menjelaskan semuanya.
Lucas dan Laras saling pandang.
Beberapa detik kemudian, keduanya mengangguk pelan.
Senyum penuh arti perlahan muncul di wajah keduanya.
Lea yang melihat reaksi kedua orang tuanya langsung mengerutkan kening.
Perasaannya tiba-tiba tidak enak.
Tatapannya berpindah dari Lucas ke Laras secara bergantian.
"Apa yang kalian rencanakan?" tanya Lea curiga.
ayoookkkk semangat
semangat
💪💪💪💪💪
😤😤😤😤😤😤😤😤😤kuweseeellleee rekkk...
yg Suai siapa tapi yg dituntut nafkahi siapa. kan gendeng yaaa.. ga DA kewajibannya mantu atau istri menafkahi keluarga nya apa lagi menafkahi kluarga suami.😄😄😄
ibu ini lupa minum obat inii pastii makanya rada kumat 🤭
mending sekalian beneran kerja jadi babu luar negri makan gratis tinggal gratis digaji besar. sama aja kan kayak kau tinggal dirumah kluarga suami mu, macam babu. bedanya babu luar negri digaji🤣🤣🤣🤣
lahhh ini sudah lah dihina dijelekkan dibabuin ga dihargai, dinafkahi ala kadarnya saja. boro boro mau beli berlian segunung🤣🤣🤣🤣
lanjut lahhhhhh
Thor kira kira kalau buat cerita, LG anteng2 baca sudah dibuat darah tinggi thorrrrrrr teganya dikau pada daku. 🤣🤣🤣🤣
coba Thor masukin aku kedalam novel mau aku geprek itu mertua dan ipar laknatnyaaa... sudah ga dinafkahi kok masih mau aja punya suami modelan gitu....
astaghfirullah
astaghfirullah
astaghfirullah
sabarrrr sabarrr... orang sabar rejekinya lebaaarrrrrrrrrrrr😁