Aldo pulang merantau dari kota karena mendengar kabar bahwa sebentar lagi Airin akan segera menikah, Kakak kesayangannya itu akan menikah sehingga dia harus segera pulang.
tanpa dia tahu bahwa sesuatu telah terjadi dan Aldo sama sekali tidak mendengar kabar tentang hal itu, bahkan hal yang begitu buruk akan segera menghampiri dia karena kedatangan dia ke desa ini hanya akan mengungkap apa yang telah terjadi kepada Airin yang telah lama menghilang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novita jungkook, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11. Pak RT melihat
Pak RT duduk di depan rumah sambil menarik nafas panjang karena beban pikiran Dia terlihat begitu penuh sekali, bu RT juga tidak tahu kenapa suaminya sedang banyak pikiran seperti itu sehingga terlihat cuek dan ketika di ajak ngobrol pun dia tidak pernah nyambung walau hanya sedikit saja sejak tadi saat mereka duduk.
Entah karena masalah pekerjaan atau karena urusan lain tapi yang jelas bu RT juga tidak berani untuk bertanya secara langsung tentang pikiran itu, kadang dia merasa bahwa tidak perlu tahu semua urusan dari suaminya ini sehingga lebih baik untuk tetap diam dan melindungi saat dia membutuhkan sesuatu yang lebih serius.
Angin malam berulang kali menerpa tubuh mereka berdua ketika sedang duduk di teras rumah, daun-daun kering serta sampah yang lain ikut berterbangan ke sana kemari sehingga bila mereka tidak menutup mata maka debu itu bisa saja masuk, namun Pak RT seolah sama sekali tidak tertarik untuk masuk ke dalam rumah.
Dia masih tetap ingin merasakan hembusan angin yang terasa begitu mencekam di tubuh manusia, bu RT sendiri sebenarnya sudah merinding karena dia ingat bahwa kebun sawit yang tidak jauh dari rumah mereka itu ada sosok gentayangan di sana, karena teringat akan hal itu membuat dia jadi merinding dan tidak bisa berpikir dengan jernih.
"Aku tidak tau kalau masalah setan gentayangan di pohon sawit itu semakin rumit saja." Pak RT membuka suara.
"Aduh kamu malam-malam begini malah ngomongin masalah setan." bu RT tampak tidak tenang dan dia segera menjauh.
"Lah kan kamu dari tadi sibuk bertanya Aku sedang memikirkan apa." Pak RT menoleh kepada sang istri.
"Ya Aku pikir kamu itu sedang memikirkan Airin yang hilang atau masalah lain, ini malah ngomongin masalah setan di pohon sawit." keluh bu RT.
"Justru karena aku sedang memikirkan masalah air yang sehingga aku jadi ingat tentang hantu di pohon sawit itu." jelas Pak RT dengan nada yang begitu lirih.
"Ha? kamu curiga kalau yang di pohon sawit itu adalah arwah Airin!" bu RT terbelalak karena tidak percaya.
"Ya kan bisa jadi memang begitu karena baru beberapa terakhir ini arwah gentayangan itu muncul." Pak RT berpikir dengan sangat logis saja tentang arwah yang gentayangan tersebut.
Bu RT menarik nafas panjang Karena dia juga mulai kepikiran bahwa kemungkinan besar yang gentayangan di pohon sawit itu adalah arwah Airin, tapi mau langsung percaya sepenuhnya masih ada juga keraguan di dalam hati ini karena dia takut bila nanti malah salah jalan dan hanya akan menimbulkan fitnah semata.
"Kamu jangan sampai ngomong dengan orang lain dulu loh, Pak." ujar bu RT memberikan peringatan kepada sang suami.
"Iya, aku juga tahu kalau harus menutup mulut terlebih dahulu dan jangan bicara sembarangan." angguk Pak RT.
"Kasihan Hartini nanti kalau sampai mendengar hal itu karena kita juga masih belum tahu secara pasti Airin ini mati atau tidak." ucap bu RT kembali
"Aldo sudah datang ke desa ini dan mungkin saja dia akan mengusut tentang kematian Airin, kalau aku sepenuhnya percaya bahwa Airin ini sudah meninggal dunia." Pak RT berkata dengan sangat yakin.
"Eh bapak ingat tidak tentang kejadian yang di zaman dulu tentang kematian Maharani?" bu RT teringat dengan sang anak kecil yang dulu mati karena diperkosa.
"Oh anaknya mbak Laras itu dulu kan ya, Aku tidak tahu pasti juga kan itu hanya cerita dari para orang tua." Pak RT berkata pelan.
"Loh itu cuma cerita dari orang tua tapi kan memang benar terjadi, makan mbak Laras aja sampai kebingungan karena Maharani hilang selama setahun." bu RT berkata dengan serius.
Pak RT terdiam karena kasus itu dulu sangat menggemparkan sekali bagi seluruh warga desa, bukan hanya di desa Maharani itu sendiri tapi desa ini pun ikut mendengarkan bagaimana kejadian yang menimpa Maharani tersebut, tidak ada yang mampu untuk bertahan setelah mendengar cerita kelam dari Maharani itu.
"Jadi Kamu berpikir bahwa bisa saja Airin ini mengalami nasib yang sama seperti Maharani?" bu RT bertanya kepada sang suami.
"Kan bisa saja begitu karena kita juga tidak tahu secara pasti." Pak RT berkata dengan wajah serius.
Bu RT yang mendengar hal itu tentu saja dia jadi terdiam dan tidak tahu mau menjawab apa lagi, sebab mungkin saja benar bahwa air yang telah mengalami nasib tragis dan para warga masih belum berhasil menemukan jasad dia sampai saat ini, tapi Pak RT justru berharap ketika nanti Aldo sudah pulang itu maka dia bisa mencari keberadaan Airin sampai ketemu.
"Bapak tahu tidak kalau calon suami Airin itu kan agak tidak beres ya." bu RT berkata dengan suara kecil.
"Fitra kan sudah sejak dulu dia sering mengkonsumsi barang haram seperti itu, tapi Airin yang masih tetap cinta dan bahkan sampai rela memberikan uang juga." jawab Pak RT.
"Ya, kadang aku bergosip dengan para warga sini kalau Airin itu adalah gadis bodoh yang mau membiayai pria mokondo seperti Fitra." bu RT berkata dengan emosi menggebu.
Duk.
"Eh siapa yang melempar batu!" bu RT kaget karena ada batu kecil yang mengenai kaki dia.
Pak RT segera berdiri untuk melihat siapa yang sudah usil melempar kaki sang istri dengan batu kecil itu, meski tidak seberapa sakit namun tetap saja itu terlihat tidak sopan karena mereka adalah orang tua, bukan karena mereka adalah RT sehingga harus dihormati tapi karena mereka adalah orang tua yang sedang mengobrol satu sama lain.
Kadang anak kecil memang ada yang usil ketika melihat orang sedang santai seperti mereka berdua ini, namun ketika Pak RT mencari dengan seksama dia sama sekali tidak menemukan ada orang di sekitar depan rumah ini, tentu pak RT agak bingung dengan hal itu.
"Tidak ada orang kok yang lewat di depan rumah kita." Pak RT terus berjalan sampai di pinggiran jalan besar.
"Lalu siapa yang melempar batu barusan? kan tidak mungkin kalau batu terbang sendiri ya." bu RT juga bingung dengan hal itu.
Wuuuussh.
Wuuusssh.
"Ya allah!" ekor mata Pak RT menatap pohon sawit yang tidak jauh dari rumah dan dia segera menunduk.
Bahkan tanpa pikir panjang dia segera berlari masuk ke dalam rumah dan mengajak sang istri juga, bu RT masih kebingungan karena tadi suami Dia terlihat begitu berani, ketika sudah di pinggir jalan malah langsung pergi begitu saja mengajak masuk ke dalam rumah.
Selamat siang besti, jangan lupa like dan komentar kalian semua ya.