NovelToon NovelToon
Siksa Kontrak Sang CEO: Air Mata Di Atas Ranjang Madu

Siksa Kontrak Sang CEO: Air Mata Di Atas Ranjang Madu

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Selingkuh / Konflik etika
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: EsKobok

Asha mengira pernikahan kontrak dengan Arlan, sang Titan industri, adalah jalan keluar dari kemiskinan. Namun, ia salah. Di balik kemewahan Kota Neovault, Asha hanyalah "piala" yang dipamerkan di antara deretan wanita simpanan Arlan. Puncaknya, Arlan membiarkan Asha disiksa oleh selingkuhannya sendiri demi menutupi skandal bisnis. Saat tubuhnya hancur dan janinnya terancam, Asha menyadari bahwa ia tidak sedang menikah, melainkan sedang dikuliti hidup-hidup oleh pria yang ia cintai. Ketika cinta berubah menjadi dendam yang dingin, apakah air mata cukup untuk membayar pengkhianatan yang berdarah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penutup yang Sunyi

​Hujan mulai turun membasahi kaca jendela mobil mewah yang membawa V meninggalkan pusat kota Neovault. Di belakangnya, kerlip lampu Menara Neovault tampak seperti mercusuar yang baru saja berganti nahkoda. Bau parfum kayu cendana di dalam kabin mobil masih terasa pekat, kontras dengan udara luar yang mulai mendingin dan membawa aroma tanah basah.

​Asha menyandarkan kepalanya pada jok kulit yang empuk, matanya menatap kosong ke arah butiran air yang berkejaran di kaca. Di dalam tasnya, dokumen pengakuan Arlan terasa seperti beban logam yang sangat berat meski hanya berupa lembaran kertas. Ia tidak merasakan luapan kegembiraan yang ia bayangkan selama berbulan-bulan di tempat persembunyiannya yang kumuh.

​"Beritanya sudah menyebar ke seluruh penjuru negeri, V. Arlan dan Elena sedang dikawal menuju markas kepolisian pusat," ujar sang nelayan tua dari balik kemudi.

​"Apakah mereka melakukan perlawanan saat petugas datang ke ruang rapat tadi?" tanya Asha dengan nada suara yang datar dan tanpa emosi.

​Nelayan itu melirik melalui spion tengah, melihat wajah V yang tampak sangat pucat dalam balutan cahaya lampu jalanan. "Arlan pingsan saat borgol menyentuh pergelangan tangannya. Elena terus berteriak tentang pengacaranya, tapi tidak ada satu pun firma hukum yang mau mengangkat teleponnya sekarang."

​Asha hanya mengangguk pelan, jemarinya bergerak tanpa sadar menyentuh bekas luka bakar di bahunya yang tersembunyi di balik jas hitamnya. Rasa sakit fisik itu sudah lama hilang, namun ingatan tentang panasnya api dan dinginnya air sungai masih terasa begitu nyata. Ia merasa seolah-olah sebagian dari dirinya masih tertinggal di dasar sungai Rust, terperangkap dalam lumpur dan kegelapan.

​"Kau sudah melakukannya, Nak. Kau sudah mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi milikmu dan menghancurkan monster itu," tambah nelayan itu dengan lembut.

​"Aku mengambil kembali perusahaan ini, Paman. Tapi aku tidak yakin bisa mengambil kembali siapa aku yang dulu sebelum malam itu terjadi," sahut Asha lirih.

​Mobil terus melaju menembus kegelapan, melewati pinggiran kota yang mulai dipenuhi oleh pemukiman kumuh distrik Rust. Bau limbah kimia yang sempat menjadi berita utama kini terasa lebih tajam karena terbawa oleh air hujan yang meluap ke jalanan. Asha membuka sedikit kaca jendela, membiarkan udara dingin yang menusuk kulit menerpa wajahnya yang sudah direkonstruksi.

​"Kita akan langsung menuju pelabuhan atau kau ingin berhenti di gudang penyimpanan data dulu?" tanya sang nelayan memastikan rute mereka.

​"Bawa aku ke tepi sungai, di titik koordinat yang aku kirimkan ke Arlan beberapa hari yang lalu," perintah Asha dengan tatapan yang tetap lurus ke depan.

​Nelayan tua itu sempat ragu sejenak, namun ia memutar kemudi menuju jalan setapak yang tidak rata di pinggiran sungai Rust. Bunyi ban yang menggilas kerikil dan genangan air menciptakan irama yang mencekam di tengah kesunyian malam. Cahaya lampu mobil menembus kabut tipis yang menyelimuti area yang menjadi saksi bisu pengkhianatan Arlan.

​"Tunggu di sini, Paman. Aku hanya butuh waktu sebentar untuk memastikan semuanya benar-benar sudah berakhir di sini," ujar Asha saat mobil berhenti.

​Ia keluar dari mobil tanpa menggunakan payung, membiarkan tetesan hujan membasahi jas mahalnya dan mengacaukan tatanan rambutnya yang sempurna. Ia melangkah menuju tepi dermaga yang sudah rapuh, tempat di mana Arlan mendorongnya ke arah kematian tanpa ragu sedikit pun. Suara aliran sungai yang menderu di bawah sana terdengar seperti bisikan ribuan jiwa yang menuntut keadilan.

​"Kau lihat ini, Arlan? Aku masih berdiri di sini, sementara kau sedang merangkak di lantai penjara yang kotor," bisik Asha ke arah kegelapan air.

​Asha mengeluarkan dokumen pengakuan Arlan dari tasnya, menatap tanda tangan emas yang kini tampak begitu hina di matanya. Ia merogoh saku jasnya, mengambil pemantik perak yang tadi ia gunakan untuk mengintimidasi Arlan di ruang rapat. Dengan gerakan yang stabil, ia menyalakan api dan membakar sudut kertas yang berisi dosa-dosa pria itu.

​"Api ini tidak akan menghapus apa yang sudah kau lakukan, tapi ini akan mengakhiri keterikatanku padamu," gumam Asha sambil menatap kertas yang terbakar.

​Ia membiarkan api melahap dokumen itu hingga mendekati ujung jemarinya, lalu melepaskannya ke arah sungai yang gelap. Abu dari pengakuan itu tertiup angin dan tenggelam ke dalam arus, menyatu dengan limbah dan kenangan buruk yang selama ini ia bawa. Asha berdiri mematung, merasakan air hujan yang mengalir di wajahnya terasa seperti air mata yang tidak bisa lagi ia keluarkan.

​"Apakah kau sudah merasa lebih tenang sekarang, V?" suara nelayan tua itu terdengar dari belakang, ia membawa sebuah payung besar.

​Asha tidak menoleh, ia terus menatap permukaan air yang bergejolak seolah sedang mencari bayangan dirinya yang lama di sana. "Tenang adalah kata yang asing bagiku, Paman. Aku merasa kosong, seperti ruangan luas yang baru saja dikosongkan dari perabotannya."

​"Itu karena kau sudah menyelesaikan misi hidupmu. Sekarang kau harus mencari alasan baru untuk tetap bernapas di kota ini," sahut nelayan itu bijak.

​"Aku punya Neovault sekarang. Aku punya kekuasaan untuk memastikan tidak ada lagi orang seperti Arlan yang meracuni sungai ini," kata Asha dengan nada yang lebih kuat.

​Asha berbalik, menatap nelayan tua yang telah menyelamatkan nyawanya dan membantunya bertransformasi menjadi sosok predator yang mematikan. Ia menyadari bahwa meski ia telah kehilangan cintanya dan wajah aslinya, ia telah mendapatkan kembali kedaulatan atas hidupnya sendiri. Keadilan telah ditegakkan, meski dengan cara yang paling gelap dan berliku.

​"Ayo pergi, Paman. Besok adalah hari pertama aku akan duduk di kursi pimpinan bukan sebagai V, tapi sebagai pemilik sah yang baru," ajak Asha.

​Mereka kembali ke dalam mobil, meninggalkan tepi sungai yang kelam itu untuk terakhir kalinya dalam hidup Asha. Di dalam perjalanan kembali ke pusat kota, Asha melihat ponselnya yang terus bergetar karena pesan dari para direktur yang kini berlutut memohon ampun. Ia mematikan perangkat itu, tidak ingin ada gangguan apa pun di malam kemenangannya yang sunyi.

​"Paman, apakah menurutmu orang-orang di distrik Rust akan memaafkan Neovault setelah apa yang aku lakukan pada Arlan?" tanya Asha tiba-tiba.

​"Mereka tidak butuh kata maaf, V. Mereka butuh air yang bersih dan pekerjaan yang layak. Jika kau bisa memberikan itu, mereka akan memujamu," jawab nelayan itu.

​Asha tersenyum kecil, kali ini sebuah senyum yang memiliki sedikit binar kehidupan di dalamnya meski masih tampak sangat dingin. Ia merencanakan proyek rehabilitasi sungai Rust sebagai agenda utamanya setelah menduduki jabatan tertinggi di perusahaan. Ia ingin mengubah tempat pembuangan dosa Arlan menjadi simbol pemulihan bagi seluruh warga Neovault Metropolis.

​"Kita akan membangun kembali kota ini dari sisa-sisa kehancuran yang Arlan tinggalkan. Tidak ada lagi rahasia, tidak ada lagi limbah yang disembunyikan," janji Asha.

​Mobil memasuki lobi apartemen mewahnya yang baru di pusat kota, tempat yang jauh dari aroma karat dan kemiskinan distrik Rust. Asha melangkah keluar dengan kepala tegak, disambut oleh para pelayan yang kini melayaninya dengan ketakutan sekaligus hormat yang mendalam. Ia berjalan menuju balkon luas yang menghadap langsung ke arah Menara Neovault yang menjulang tinggi.

​"Selamat malam, Neovault. Sang predator sudah kembali ke sarangnya, dan kali ini, aku tidak akan pernah melepaskan kendalinya," batin Asha.

​Ia melepaskan jas hitamnya, membiarkannya terjatuh ke lantai marmer tanpa peduli pada harganya yang selangit. Di bawah cahaya lampu kota, bekas luka di bahunya tampak berkilat, sebuah tanda pangkat dari perang batin yang baru saja ia menangkan. Asha menarik napas panjang, menghirup udara malam yang kini terasa sedikit lebih segar bagi paru-parunya.

​"Arlan, nikmatilah sisa hidupmu di balik jeruji besi. Aku akan memastikan setiap detik yang kau lalui dipenuhi dengan penyesalan yang tak berujung," bisik Asha pelan.

​Di kejauhan, sirine mobil polisi terdengar melintas, membawa narapidana baru menuju masa depan yang kelam di penjara pusat. Asha menutup pintu balkonnya, mengunci rapat-rapat masa lalunya di luar sana bersama kegelapan malam yang perlahan memudar. Fajar akan segera tiba, membawa era baru bagi Neovault di bawah kepemimpinan sang bayangan yang telah bangkit dari kematian.

​"Semuanya sudah selesai. Benar-benar sudah selesai," gumamnya saat ia memadamkan lampu ruangan satu per satu.

​Keheningan kembali merajai apartemen tersebut, namun kali ini bukan keheningan yang mencekam, melainkan keheningan yang penuh dengan otoritas. Asha membaringkan tubuhnya di tempat tidur yang luas, menutup matanya dengan perasaan bahwa keadilan telah menemukan jalannya sendiri. Di luar sana, sungai Rust terus mengalir, membawa pergi abu dari pengakuan Arlan menuju laut lepas yang tak bertepi.

​"Besok, aku akan menjadi penguasa yang belum pernah mereka lihat sebelumnya," itu adalah pikiran terakhirnya sebelum ia jatuh terlelap.

​Tamat sudah penderitaan Asha, dan dimulailah kekuasaan V yang akan mengubah sejarah Neovault Metropolis selamanya. Tidak ada lagi tangisan di pinggiran sungai, yang ada hanyalah langkah kaki yang mantap menuju masa depan yang ia bangun dengan tangannya sendiri. Dendam telah terbayar lunas, dan sang predator kini telah menemukan kedamaiannya di tengah-tengah kekuasaan yang ia rebut kembali.

1
Himna Mohamad
lanjut thoor
EsKobok: siap kaaa
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
EsKobok: siaaappp kakk 💪💪
total 1 replies
𝐀⃝🥀Weny
ingatlah Arlan, bahwa karma itu ada😁
𝐀⃝🥀Weny: nek kurma enak thor.. lha nek karma🤣🤣
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!