Tara dan Devan sudah menikah selama tiga tahun. Hanya Tara yang jatuh cinta di sini. Selama tiga tahun, Tara berusaha membuat Devan jatuh cinta. Apakah Tara berhasil saat ia tahu persis pernikahannya dengan Devan berbeda dengan pernikahan normal lainnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yesstory, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
“Aku nggak pesen sop buah.” Tara berkata saat melihat plastik bening yang dipegang Devan.
Devan tersenyum dan mengangkat plastik itu. “Aku tadi lewat sana. Jadi sekalian aja aku beliin buat kamu. Kamu suka banget sama sop buah ini. Nih.”
Tara menerima bungkusan plastik yang berisi dua bungkus sop buah. “Tunggu bentar. Aku pindahin ke mangkok dulu.”
Devan mengangguk. Sembari menunggu Tara menyiapkannya, ia duduk santai di kursi teras. Tara kembali membawa dua mangkok sop buah dan meletakkannya di atas meja.
“Hal sekecil ini aja kamu bohong, Dev.” Tara berkata di sela-sela menikmati sop buah yang aduhai segarnya di cuaca yang sedang panas-panasnya ini.
“Bohong apa?”
“Kamu sengaja beli ini. Bukan karena kamu lewat jalan sana. Arah sekolah kamu sama tukang sop buah ini beda. Kamu jelas sengaja datang ke sana. Jadi bukan kebetulan.”
Devan tersenyum kikuk. “Ya masa aku datang ke sini nggak bawa apa-apa.”
“Aku minta kamu ke sini karena ada hal penting yang harus kita omongin.”
“Ngomong apa?”
“Kamu harus ikut aku ketemu pengacara.”
“Untuk apa?”
“Ya bahas perceraian kita lah. Kita harus sepakat. Seiya sekata agar semua dimudahkan di pengadilan nanti.”
Devan menyendok buah melon dari mangkoknya dan memindahkannya ke mangkok Tara. Tara melihat itu.
“Aku tahu kamu suka buah melon. Nih aku kasih punyaku,” ujar Devan kembali menyuap sop buahnya.
Tara menghela napas pelan. “Kapan kamu ada waktu?”
“Aku nggak ada waktu. Bahkan kalau bisa aku akan menyibukkan diri supaya nggak bisa nemuin pengacaramu.”
Tara meletakkan sendoknya kasar sampai mangkoknya berdenting. “Jangan buat semuanya sulit, Dev!”
Devan mengedikkan bahunya acuh.
“Oke. Kalau kamu nggak mau. Kamu tahu apa yang bisa kulakukan.”
Devan menatap Tara lekat juga dingin. “Kamu mau bongkar rahasiaku? Silakan, Tara! Lakukan apa yang kamu mau. Kalau emang dengan begitu kamu bisa memaafkan aku, maka katakan sama semua orang tentang kelainanku! Aku nggak peduli kalau semuanya membenciku! Termasuk orang tuaku sekalipun!”
“Kamu selalu mengancamku tentang itu. Aku capek! Aku bosan dengar semua kalimat ancaman itu! Kalau dengan begitu kamu puas, maka lakukan! Bongkar semuanya!”
Ucapan Devan datar. Tapi Tara tahu bahwa Devan tengah menahan dirinya. Devan tak ingin berpisah darinya. Devan mengulur waktu dan memanfaatkannya untuk kembali mendekatinya.
“Baiklah. Kalau itu maumu, kamu akan lihat sejauh apa yang bisa kulakukan agar kita cepat berpisah.”
***
“Udah dong Mas lihatin fotonya. Mending samperin aja deh daripada cuma bengong lihat foto.”
David menoleh, melihat Vano yang duduk di depan meja kerjanya dengan ekspresi bosan.
“Ikut campur banget sih lo.”
“Ya lagian udah tua juga masih kasmaran mulu. Udah sono samperin ke rumahnya. Atau kalau enggak, pura-pura lewat dah. Siapa tahu dia lagi di luar rumah. Gue tunggu nih bengkel.”
David menatap kembali fotonya bersama Tara yang setia berada di atas meja kerjanya. Foto kenangan masa lalu saat ia dan Tara berpacaran sewaktu SMA.
“Nggak percaya sama gue nih?” Vano menunjuk dirinya sendiri.
“Bukan masalah itu. Kalau Tara lihat gue lewat sana, gue harus pakai alasan apa?”
“Ya elah. Gitu aja bingung. Bilang aja habis antar motor atau mobil pelanggan. Lo kan punya bengkel. Gampang alasan mah.”
David berpikir sesaat. Ia sangat merindukan Tara. Namun, ia sudah diwanti-wanti oleh Haris untuk tak menemui Tara sebelum Tara resmi bercerai dari Devan.
“Oke. Gue pergi. Lo jaga bengkel. Ingat, apapun yang menyangkut bengkel, lo harus hubungin gue dulu. Awas aja lo kalau ngasih gratisan biaya buat cewek-cewek cantik yang datang ke sini.” David berdiri, mengambil kunci motornya.
Vano berdiri tegak. “Siap, Pak Bos. Tak kan kulanggar apa yang telah anda ucapkan!”
David menggeleng pelan dan keluar dari kantornya. Ia mengemudikan motornya menuju arah rumah Tara.
Sesampainya di depan gang, David melajukan motornya perlahan. Ia memakai helm full face agar wajahnya tak kelihatan jika nanti harus berpapasan dengan Tara.
Semakin mendekati rumah, David merasa jantungnya berdetak kencang. Ia berharap bisa melihat Tara. Dan motor David terus melaju pelan hingga ia tiba tepat di depan rumah Tara.
David menoleh pelan. Seketika matanya yang tertutup helm full face terbelalak. Tara ada di sana. Duduk di kursi teras. Tapi tidak sendiri.
Tara duduk bersama Devan. Makan bersama sembari mengobrol. David terus melajukan motornya semakin pelan dan berhenti beberapa meter dari rumah Tara.
Matanya bergetar pelan. Bibirnya terkatup rapat. Ia memang ingin melihat Tara. Tapi tidak dengan pria lain. Tidak dengan suami Tara yang akan menjadi mantan. Tidak dengan pemandangan yang membuatnya iri.
Pria itu yang masih menjadi suami Tara duduk bersamanya. Menikmati makanan bersama. Hal yang tidak bisa ia lakukan bersama Tara. Jangankan untuk duduk bersama. Untuk bertemu saja, David dilarang keras oleh Haris dan juga Tara sendiri.
Pikiran liar mulai merasuki otaknya.
‘Bagaimana jika mereka tidak jadi bercerai?’
‘Bagaimana jika Tara kembali luluh pada pesona Devan?’
‘Bagaimana dengan dia yang menunggu Tara selama ini?’
David menggeleng. Ia sudah menanti lama. Ia menunggu. Ia ingin kepastian. Kepastian bahwa usahanya tidak sia-sia untuk mengembalikan Tara ke dalam hidupnya.
Maka, malam harinya, David tak bisa menahan diri untuk tidak menelepon Tara. Tara yang baru saja masuk ke dalam kamar, mengambil ponsel. Dahinya mengernyit melihat siapa yang meneleponnya.
“Halo.”
Hening.
Tara menyapa lagi. “Halo. David?”
David yang tengah duduk di meja makan rumahnya menarik napas pelan. “Hai, Tara. Apa kabar?”
“Baik. Kenapa nelpon? Kalau Abang tahu dia bisa marah.”
David terkekeh. “Kenapa jadi kayak anak SMA yang lagi backstreet ya? Takut ketahuan kalau diam-diam pacaran.”
Tara melirik pintu kamarnya dan duduk di atas ranjang. “Katakan, ada apa nelpon? Kan bisa chattingan aja.”
“Aku lagi di rumahku. Calon rumah kita. Tepatnya di meja makan dimana kita mesra-mesraan waktu itu.” David berkata pelan sembari mengusap kursi yang diduduki Tara waktu itu.
“Dulu kamu duduk di sini. Di sebelahku. Menerima ciumanku dan mengulang apa yang pernah kita lakukan waktu SMA. Dan sekarang aku merindukannya.”
Tara menahan napas sesaat. Ia tahu persis apa yang dilakukan David saat ini. David pasti mengenang kenangan manis mereka sebelum ia kembali ke rumah Devan pasca kecelakaan.
“Tapi tadi siang, aku melihatmu duduk berdua sama pria lain. Aku iri. Aku pingin aku yang ada di sana. Bukan Devan.”
Tara terbelalak. “Kamu datang ke rumah, Vid?”
“Nggak. Aku cuma lewat. Tapi sakitnya kerasa sampai sekarang. Aku nguatin diri dengan datang ke rumah kita, mengingat semuanya sebelum kamu pulang.”
Tara menghela napas. “Berhenti bilang itu rumah kita. Itu rumah kamu, Vid. Aku cuma numpang sebentar.”
David menggeleng walau Tara tak melihatnya. “Rumah itu buat kamu. Aku beli rumah itu untuk masa depan kita. Jauh sebelum aku tahu kamu udah nikah, aku udah mempersiapkan rumah itu, Tara. Secinta itu aku sama kamu. Segagal itu aku untuk melupakanmu.”
Tara mendesah pelan. “Jangan berbohong hanya demi dapat perhatianku, Vid. Berapa perempuan yang udah kamu ajak ke sana? Berapa kali kamu membuat kenangan di rumah itu selain sama aku? Kamu pikir aku percaya sama kamu tentang rumah itu yang kamu bilang persiapin buat aku?”
“Terserah kalau kamu nggak percaya. Tapi, yang aku ingat cuma kamu. Ciuman kita di meja makan ini dan—“
“Stop, David! Apa yang mau kamu omongin? Nggak mungkin kamu nelepon aku cuma mau bahas itu, ‘kan?” Tara memotong cepat sebelum ia menginginkan hal yang akan diucapkan David.
“Apa kamu mau rujuk dengannya, Tara?”
“Rujuk? Aku sama dia belum pisah secara sah. Kami baru pisah rumah. Apanya yang rujuk?”
“Aku lihat kalian. Aku takut kalau kamu berubah pikiran. Aku takut kamu nggak jadi pisah darinya. Maafin aku, Tara. Tapi perpisahanmu adalah hal yang sangat aku tunggu. Maaf kalau ini membuat kamu sedih. Tapi, aku udah kembali berharap sama kamu dan aku takut kamu memutus harapanku itu.”
Tara menatap pintu kamarnya yang tertutup. Dengan helaan napas pelan, ia berkata, “Kalaupun aku bercerai, bukan berarti aku mau kembali sama kamu, David.”
Bersambung …