NovelToon NovelToon
Aku Kembali Bukan Untuk Mencintaimu Tapi Menghancurkanmu

Aku Kembali Bukan Untuk Mencintaimu Tapi Menghancurkanmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / Mengubah Takdir
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ilza_

Dulu, Alena percaya bahwa cinta bisa mengalahkan segalanya—bahkan kesombongan seorang pria yang dingin dan tak tersentuh seperti Arkan. Ia menyerahkan hati, harga diri, bahkan masa depannya demi pernikahan yang ternyata hanya dianggap sebagai kesalahan oleh suaminya sendiri.
Di hari ia kehilangan segalanya, Alena tidak hanya diusir dari rumah—ia juga dikhianati, dipermalukan, dan ditinggalkan dalam kehancuran yang nyaris merenggut nyawanya.
Namun, takdir belum selesai menulis kisahnya.
Lima tahun kemudian, Alena kembali.
Bukan sebagai wanita lemah yang dulu diremehkan, melainkan sebagai sosok baru—misterius, elegan, dan berkuasa. Di balik senyumnya yang tenang, tersimpan rencana yang telah ia bangun dengan sabar: menghancurkan satu per satu kehidupan
orang-orang yang pernah menjatuhkannya… termasuk Arkan.
Ketika Arkan kembali bertemu dengan wanita yang dulu ia buang, ada sesuatu yang berubah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27 — DAFTAR NAMA YANG MEMBUNUH SEMUA ORANG

Langkah kaki itu semakin dekat.

Cepat.

Teratur.

Bukan orang biasa.

Lorong bawah tanah terasa makin sempit.

Udara lembap bercampur debu memenuhi paru-paruku.

Dan untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai—

aku benar-benar merasa kami bisa mati malam ini.

Leon berdiri paling depan.

Pistol di tangannya terangkat.

Tatapannya tajam ke lorong gelap di ujung sana.

“Berapa orang?” tanyaku pelan.

“Lebih dari lima.”

Jawabnya cepat.

Sial.

Arkan langsung membantu ayahnya berdiri.

Pria tua itu terlihat lemah.

Tapi matanya masih tajam.

Masih hidup.

“Kita harus keluar lewat jalur lain.”

Katanya cepat.

“Ada jalan lain?” tanya Arkan.

Pria itu mengangguk.

“Tapi mereka mungkin sudah menutupnya.”

Suara langkah makin dekat.

Lalu—

suara seseorang terdengar.

“Serahkan daftar itu.”

Dadaku langsung menegang.

Suara pria.

Berat.

Tenang.

Dan anehnya…

terlalu familiar.

Aku menyipitkan mata.

Berusaha mengingat.

Sementara Leon langsung membalas dingin—

“Masuk sedikit lagi dan aku tembak.”

Terdengar tawa kecil dari ujung lorong.

“Kalian benar-benar mirip orang tua kalian.”

Jantungku langsung berdetak aneh.

Orang itu mengenal ayah kami.

Arkan berdiri perlahan.

Tatapannya gelap.

“Keluar.”

Sunyi beberapa detik.

Lalu—

seseorang muncul dari bayangan.

Pria tinggi.

Jas hitam.

Wajah tenang.

Usia sekitar lima puluhan.

Dan saat aku melihat wajahnya jelas—

darahku langsung terasa dingin.

Karena aku mengenalnya.

“Direktur Mahesa…”

Bisikku pelan.

Pria itu tersenyum kecil.

“Sudah lama tidak bertemu, Alena.”

Sial.

Dia salah satu orang paling berpengaruh di Arkavera.

Orang yang selama ini terlihat bersih.

Netral.

Tenang.

Ternyata…

monster juga bisa memakai wajah paling rapi.

“Kamu bagian dari The Circle.”

Suara Arkan penuh kebencian.

Mahesa tertawa kecil.

“Bagian?”

Dia melangkah pelan mendekat.

“Anak muda…”

Tatapannya berubah dingin.

“…aku salah satu yang membangunnya.”

Sunyi.

Aku mengepalkan tangan kuat.

Jadi selama ini—

orang itu selalu ada dekat kami.

Mengawasi.

Menunggu.

“Ayahmu terlalu bodoh dulu.”

Mahesa menatap ayah Arkan.

“Dia seharusnya diam.”

Pria tua itu tertawa kecil.

Lemah.

“Dan membiarkan kalian terus mengendalikan semuanya?”

Tatapan Mahesa langsung mengeras.

“Kami menciptakan keseimbangan.”

Aku langsung muak mendengarnya.

“Keseimbangan?”

Aku melangkah maju.

“Kalian membunuh orang.”

Mahesa menatapku tenang.

“Karena dunia tidak bergerak dengan tangan bersih.”

Aku hampir muntah mendengar logikanya.

Orang-orang seperti ini selalu sama.

Selalu merasa dirinya penyelamat padahal tangannya penuh darah.

“Mana daftarnya?”

Suasana langsung menegang lagi.

Ayah Arkan tersenyum kecil.

“Kalau aku kasih…”

Tatapannya lurus ke Mahesa.

“…kau akan membiarkan anak-anak ini hidup?”

Mahesa diam sebentar.

Lalu—

tertawa.

“Tidak.”

Jawaban jujur.

Dan justru itu yang membuat suasana makin dingin.

Leon langsung mengangkat pistol lebih tinggi.

“Kita keluar paksa.”

“Tidak akan semudah itu.”

Beberapa bayangan mulai muncul di belakang Mahesa.

Orang-orang bersenjata.

Sial.

Kami kalah jumlah.

Aku menoleh cepat ke sekitar lorong.

Mencari jalan.

Apa pun.

Dan di situlah aku melihat—

pintu besi kecil setengah terbuka di sisi kiri.

“Ada jalan.”

Bisikku pelan ke Arkan.

Dia langsung melirik.

Mengerti.

“Kita pecah.”

“Apa?”

Ibunya langsung menoleh.

“Kalau kita semua bareng, kita habis.”

Tatapan Arkan cepat.

Terukur.

“Ayah ikut Leon.”

“Kamu?”

tanyaku cepat.

Tatapannya langsung ke mataku.

“Aku tahan mereka.”

Dadaku langsung terasa panas.

“Gila.”

Dia tersenyum tipis.

“Kamu baru sadar?”

Mahesa mulai berjalan maju lagi.

“Waktu kalian habis.”

Suara klik senjata langsung terdengar.

Dan di detik berikutnya—

DUAK!

Tembakan pecah.

Semua langsung bergerak kacau.

Leon membalas tembakan.

Aku menarik ibunya Arkan menunduk.

Arkan menyerang salah satu pria yang maju paling depan.

Brutal.

Cepat.

Tanpa ragu.

Aku bahkan hampir tidak mengenalinya.

Pria yang selama ini berdiri di sampingku…

ternyata memang lahir di dunia gelap seperti ini.

“ALENA!”

teriaknya.

Aku langsung sadar.

“KE JALAN ITU!”

Aku menarik ayah Arkan bersama ibunya menuju pintu kecil tadi.

Leon mundur sambil terus menembak.

Lorong dipenuhi suara tembakan.

Debu berjatuhan.

Teriakan.

Dan saat aku menoleh—

aku melihat Mahesa.

Tatapannya lurus ke arahku.

Dan dia tersenyum.

Senyum yang membuat darahku dingin.

“Anak ayahmu memang keras kepala.”

Aku langsung membenci pria itu seketika.

“Kau yang bunuh ayahku?”

teriakku.

Mahesa tidak langsung menjawab.

Tapi diamnya…

sudah cukup.

Amarah langsung membakar dadaku.

Aku hampir maju kalau Arkan tidak menarikku.

“JANGAN!”

“LEPAS!”

“Dia memang mau kamu emosional!”

Mahesa tertawa kecil melihat kami.

“Bagus.”

Tatapannya ke Arkan sekarang.

“Kamu lebih pintar dari ayahmu.”

Arkan langsung mengangkat pistol ke arahnya.

“Kalau begitu coba tes.”

DUAK!

Mahesa menghindar cepat.

Anak buahnya kembali menyerang.

“KITA PERGI SEKARANG!” teriak Leon.

Kami masuk ke lorong kecil itu.

Pintu besi langsung ditutup.

Suara benturan terdengar keras dari belakang.

Mereka mengejar.

Lorong baru ini lebih sempit.

Gelap total.

Kami hanya mengandalkan senter kecil.

Napas semua orang berat.

“Kita ke mana?” tanyaku cepat.

“Ada ruang penyimpanan di depan.”

Jawab ayah Arkan.

“Daftarnya ada di sana.”

Jantungku langsung berdetak lebih keras.

Akhirnya.

Semua kekacauan ini…

semua kematian…

karena daftar itu.

Kami terus berlari.

Dan tiba-tiba—

Arkan memegang lenganku.

“Apa?”

Tatapannya langsung ke mataku.

Serius.

“Kalau nanti keadaan memburuk…”

Aku langsung menggeleng.

“Jangan mulai ngomong kayak orang mau mati.”

“Aku serius.”

“Dan aku tidak peduli.”

Sunyi sepersekian detik.

Lalu—

untuk pertama kalinya setelah pertengkaran besar kami—

dia menggenggam tanganku lebih erat.

“Aku tidak bisa kehilangan kamu.”

Dadaku langsung terasa kacau lagi.

Sial.

Kenapa dia harus bicara seperti itu di saat seperti ini?

Aku menatapnya beberapa detik.

Dan mungkin karena kami terlalu dekat dengan kematian…

aku akhirnya jujur.

“Aku juga benci kalau harus kehilangan kamu.”

Tatapan Arkan langsung berubah.

Lebih lembut.

Lebih dalam.

Tapi sebelum siapa pun sempat bicara lagi—

ayahnya tiba-tiba berhenti berjalan.

“Astaga…”

Kami langsung menoleh.

Dan tubuhku langsung membeku.

Karena di depan kami—

ruang penyimpanan itu…

sudah terbuka.

Dan seseorang sudah berdiri di dalam sana.

Membawa sebuah map hitam di tangannya.

Mahesa tersenyum kecil.

“Sayang sekali.”

Tatapannya tajam ke arah kami.

“Kalian terlambat.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!