Seorang gadis terbangun di tengah rimbunnya hutan benua Vlagria tanpa ingatan bagaimana ia bisa sampai disana. Ini adalah dunia Celestia Online, sebuah MMORPG megah yang menjanjikan petualangan tanpa batas. Namun, bagi Alice, petualangan itu berubah menjadi teka-teki mematikan. Bisakah Alice pulang ke dunia nyata?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alicea0v, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ARC 1-Demi Dia Yang Ia Cintai
Di jalan setapak menuju Desa Tura, tempat Dewi Alice berada. Sebuah kereta kuda melaju membelah angin. Di dalamnya, seorang pria bangsawan duduk bersandar. Duke Franscov. Matanya menatap kosong ke luar jendela, menyaksikan deretan pepohonan yang bergoyang. Di balik tatapannya, ingatan masa lalu mendadak muncul, membawa kesadaran sang Duke kembali ke masa belasan tahun silam.
~Flashback~
Empat belas tahun yang lalu...
Matahari bersinar saat Duke Franscov bergegas mengunjungi salah satu desa di bawah wilayah kekuasaannya. Saat itu, Franscov adalah sosok pria yang dikenal taat, penuh pengabdian, dan dicintai rakyat.
"Tuan Duke!! Syukurlah anda datang hari ini.. Kami sudah menunggu anda!" seru kepala Desa Gusto bahagia.
Franscov melangkah turun dari kereta kuda megah, menyunggingkan senyum hangat.
"Ah.. Selamat siang pak kepala Desa, tentu saja aku datang! Kepentingan warga adalah prioritas utamaku." ucap pria itu sembari memandangi hamparan desa dengan bangga.
"Terima kasih.. kami bersyukur anda mau membantu kami mengelola tanah ini, Tuan Duke Franscov." Kepala desa itu membungkuk hormat.
Sang Duke langsung melangkah menuju area pertanian. Di bawah terik matahari, ia turun tangan membantu penduduk mengatur pengairan sawah, mengurus hewan ternak, bahkan memastikan jalur perdagangan dari desa menuju kota tetap aman dari ancaman.
Itulah dirinya yang dulu... Franscov brenfold.
Hari-hari Franscov dihabiskan demi senyuman orang lain. Ia mematuhi setiap dogma katedral, membangun berbagai fasilitas umum, memberi makan anak-anak yatim, bahkan tak jarang merogoh kantong pribadinya sendiri untuk melunasi sebagian pajak penduduk yang kesulitan.
Semua pengorbanan itu ia lakukan karena satu keyakinan sederhana, bahwa setiap kebaikan pasti akan dibalas oleh sesuatu yang jauh lebih baik lagi.
Beberapa tahun pun berlalu, membawa kebahagiaan baru dalam hidup Sang Duke. Franscov akhirnya menikah dengan seorang wanita bernama Eveline. Karena sebagian besar waktunya dihabiskan untuk urusan katedral dan masyarakat, takdir mempertemukan mereka.
Eveline bukan seorang biarawati. Dia hanyalah wanita penyalin kitab suci di perpustakaan agung katedral. Namun, di mata Franscov, dia adalah gadis lembut, cerdas, dan memiliki keberanian untuk mempertanyakan hal-hal yang bahkan takut dipikirkan oleh orang lain.
Franscov mencintainya bukan karena kecantikannya. Tapi karena saat dia bersama Eveline... Ia merasa menjadi manusia biasa, bukan seorang Duke.
Pernikahan mereka dikaruniai dua malaikat kecil, Elise dan Chloe. Elise tumbuh menjadi anak cerdas berambut kuning seperti ibunya, sementara Chloe adalah bayi satu tahun berhelai hijau yang sangat periang. Pada periode ini, Franscov merasakan puncak kebahagiaan sejati dalam hidupnya.
Ia mencintai rakyat, keluarga, dan wilayahnya, lebih dari ia mencintai dirinya sendiri.
Namun, semua kebahagiaan itu ternyata hanya sementara.
Tahun 1202 kalender Dewa Athos.
Hari itu dimulai dengan kesibukan pagi Franscov. Ia tengah bersiap berangkat menuju Dernomeda. Sebuah desa di pinggiran ibu kota yang mendadak dilanda wabah penyakit aneh dan mengerikan. Para pendeta katedral menyebutnya sebagai 'kutukan dewa'.
Namun, ketegangan menyelimuti kamar sang Duke. Di sudut ruangan, Eveline duduk di depan meja rias, jemarinya bergerak tenang menata riasan.
"Sayang, bisa tolong ambilkan ikat rambutku?" ucap wanita itu lembut.
Franscov menoleh, dahinya sedikit berkerut.
"Kau mau kemana sayang? Kenapa kau berdandan seperti itu hari ini? Kota sedang tidak aman." ucap pria itu heran melihat Eveline.
"Oh... aku di panggil oleh uskup agung ke katedral. Aku tidak akan ke desa itu kok!" sahut wanita itu santai sembari terus menyisir rambutnya yang indah.
"Baiklah, jangan mendekati Desa Dernomeda di distrik utara! Apa kau mengerti?" Franscov melangkah menuju lemari di dekat tempat tidur, mengambil ikat rambut milik Eveline, lalu menyerahkannya ke tangan istrinya.
"Iya-iya... Kau ini perhatian sekali." goda Eveline. Matanya menatap sang Duke nakal dan manja saat menerima ikat rambut itu.
Franscov hanya bisa memejamkan mata dan mendengus geli.
"Huft... Aku seperti ini karena aku menyayangimu."
Eveline bangkit dari kursinya, melangkah pelan mendekati Franscov. Ia mengalungkan kedua lengannya di leher pria itu, menariknya ke dalam dekapan hangat sembari tersenyum manis.
"Kau benar-benar pria yang protektif ya..??" bisiknya sembari menatap mata sang Duke. "Tapi aku tidak membencinya." istri Franscov itu mempererat pelukannya.
Sang suami terpaku sejenak menatap wajah istrinya, sebelum akhirnya membalas pelukan.
"Kau ini... benar-benar tidak berubah." Franscov mendekap Eveline erat.
Jarak di antara mereka terkikis perlahan. Wajah mereka semakin dekat, dan Eveline mulai memejamkan kedua matanya perlahan.
"Eveline..."
Tuk... Tuk... Tuk...
Suara ketukan ritmis mendadak terdengar dari arah pintu kamar, seketika memecah keasikan mereka. Franscov dan Eveline tersentak kecil, lalu saling tersenyum penuh arti.
Kemudian Franscov memutar wajahnya ke arah pintu.
"Ya?" sahut sang Duke sambil melepaskan pelukan Eveline dengan lembut. wanita itu pun menoleh ke arah pintu.
"Tuan Duke, kereta sudah siap menuju Desa Dernomeda." suara Leon terdengar dari seberang.
"Aku akan tiba di halaman 10 menit lagi!" Balas Franscov tegas.
"Baik tuan!" Tap...tap...tap... Langkah sepatu Leon perlahan menjauh dari area kamar mereka.
Franscov kembali menatap Eveline, rasa penasaran yang sempat tertunda kembali mengusik benaknya.
"Sayang, aku akan segera pergi. Kalau aku boleh tahu, kenapa uskup memanggilmu ke katedral agung?" tanya lelaki itu bingung.
Eveline menatapnya sembari melepaskan pelukan perlahan-lahan.
"Beliau meminta tolong, agar aku bisa menerjemahkan manuskrip kuno yang ada di perpustakaan. Kau tidak perlu khawatir." Wanita itu berbalik memunggungi Franscov, kembali sibuk dengan perlengkapannya.
Franscov tersenyum tipis, memandangi istrinya dari belakang.
"Hmmm... Jangan pulang terlalu larut. Jika kau mau, Leon bisa jadi pengawal pribadimu." tawarnya sembari sibuk merapikan dasi di leher.
Eveline berbalik menatap Franscov, ia tersenyum simpul. Lalu mendekat, dengan telaten jemarinya membenarkan posisi dasi di leher sang suami agar tampak sempurna.
"Sudahlah.. kau terlalu berlebihan.. pergi sana! Rakyat menunggumu." ucapnya dengan nada geli.
Sang Duke hanya menatap wajah istrinya tenang.
Setelah memastikan dasi dan kerah baju Franscov rapi, Eveline tetap berdiri disana bersiap melepas kepergian suaminya.
Franscov pun berbalik, melangkah menuju pintu kamar.
"Baiklah, aku pergi dulu, jaga dirimu baik-baik." pria itu mendorong pintu kamar pelan.
Krieek!!
Namun, gerakannya terhenti seketika. Seorang gadis kecil berusia tujuh tahun, berambut pirang dan mengenakan gaun biru cantik, sudah berdiri tegak di depan pintu kamar dengan wajah cemberut yang menggemaskan.
"Ayah mau kerja lagi?" tanya Elise berharap sang ayah punya waktu untuk bermain bersamanya.
Melihat ekspresi itu, hati Franscov meleleh. Ia berlutut menyamakan tinggi mereka.
"Wah anak ayah... maaf ya nak... ayah ada kerjaan. Nanti pas pulang, ayah belikan boneka ya?" ucap Franscov lembut mencoba menghibur gadis itu.
"Boneka kucing? Atau dedek bayi cantik?" tanya Elise seketika penuh harap.
"Nanti ayah belikan semuanya.. ibu hari ini juga pergi ke katedral. Karena itu, Jadilah anak baik dan jaga adikmu di rumah ya!" Suara lembut Eveline menyela dari arah belakang, membuat Franscov sempat menoleh pada istrinya, sebelum kembali tersenyum pada Elise.
"Nah ibu juga akan ke gereja hari ini. Jadilah anak yang baik bersama ketua pelayan Luis, mengerti?" pria itu kembali fokus pada Elise, melempar senyuman.
Seketika, gadis kecil itu mengangguk penuh semangat.
"Baik!! Tuan Duke terhormat! Aku akan jadi anak baik dan suapin chloe makan hari ini!" Elise menarik tubuhnya tegap, memberi hormat kesatria yang malah terlihat lucu.
Franscov segera mengangkat dan menggendongnya tinggi-tinggi.
"Itu baru anak ayah! Ahaha.." tawanya pecah saat menatap wajah mungil putrinya.
"Ahahaha..." Elise dan Eveline pun tertawa bersama.
Franscov menurunkan Elise ke lantai, ia berpamitan, mendaratkan kecupan di kening Elise dan Eveline bergantian, sebelum akhirnya melangkah keluar, menuju desa terkutuk.
Hari itu, Franscov habiskan untuk melaksanakan perintah katedral. Ia mengisolasi warga yang terkena wabah dan juga mereka yang dicurigai akan tertular. Para pasien dipindahkan ke dalam sebuah bangunan khusus dan dijaga ketat, mereka hanya berharap pada obat dari pihak gereja.
Malam pun tiba. Franscov berhasil pulang lebih awal. Kini, ia duduk di ruang makan megah bersama Elise dan beberapa pelayan kepercayaannya. Di kamar atas, putri kedua sang Duke 'Chloe', sudah terlelap.
"Ayah... Ibu mana? Kenapa belum pulang?" tanya Elise sembari mendudukkan boneka baru pemberian ayahnya di atas meja.
"Ibu sedang bekerja nak, ayah sudah perintahkan paman Leon untuk menjemputnya." ucap Franscov, dengan senyum terpaksa.
"Nanti, aku mau tunjukkan dedek imut ini pada ibu!" Elise mencubit pipi boneka kesayangannya itu.
"Ahaha ya, ibu pasti senang." balas Franscov berusaha tetap tenang.
Trak!!
Pintu ruang makan terbuka...
Eveline melangkah masuk, langkahnya begitu pelan, nyaris terseret, diiringi oleh Leon yang berjalan tegap di belakangnya.
Franscov refleks berdiri dengan wajah ceria.
"Sayang... Kenapa lama se-ka-li..?" seketika pria itu terpaku melihat ekspresi wajah Eveline yang tidak seperti biasanya. Ia terlihat terguncang oleh sesuatu.
Eveline yang tadinya menunduk, perlahan mengangkat wajah, menatap sang suami.
Hening...
Beberapa saat kemudian, wanita itu membuka suara, bibirnya sedikit bergetar.
"Sa-sayang.. Aku pulang!" ucap wanita itu dengan senyum yang dipaksakan.
Leon berjalan mendekat ke arah Franscov, ia membungkuk memberi hormat.
"Saya sudah menjemput nyonya Eveline Tuan Duke!"
Sang Duke menatap mereka bergantian dengan perasaan cemas.
"Kerja bagus, Leon." ucapnya pelan, lalu kembali melempar tatapan pada istrinya."Sayang, ada apa? Kau kelihatan begitu pucat."
Eveline tersentak kecil mendengar pertanyaan itu, namun dengan cepat ia menguasai diri, mencoba terlihat tenang.
"Aku.. Aku tidak apa-apa sayang. Kau sudah makan?"
"Ya, aku sudah makan, apa ada masalah?" tanya Franscov pelan, mencoba mendesak istrinya.
"Tidak.. tidak ada apa-apa, kalau begitu... Aku akan memberi makan chloe dulu ya.." Eveline kembali tersenyum.
"Ibu lihat!!! Dedek bayinya lucu!" Elise turun dari bangkunya, langsung berlari menghampiri wanita itu.
"Wah.. Iya.. Lucu sekali.. Elise sudah makan?" tanya Eveline lembut.
"Sudah!! Ayo ibu! Dedek bayinya punya banyak baju!! Sini, Elise tunjukkan!" Elise menarik jemari ibunya penuh antusias.
"Baik.. Ayo kita ke kamar!" seru Eveline, lalu melangkah pergi mengabaikan Franscov yang terpaku menatap punggungnya.
Tap. Tap. Tap.
Gema langkah kaki mereka perlahan memudar, hilang di balik koridor megah lantai dua kediaman Franscov.
Begitu suasana kembali sunyi, sang Duke langsung membalikkan badan menghadap Leon yang masih berada di dekatnya.
"Leon, apa yang terjadi pada Eveline?" ucapnya tegas.
Leon menegapkan posisi.
"Maaf tuan, saya tidak mengetahui apapun."
Franscov terdiam sejenak. Mencoba memproses semua kemungkinan buruk yang terjadi pada istri tercintanya.
"Hmmm, Leon! Mulai besok awasi istriku. Jaga kemanapun ia pergi." perintah Franscov mantap.
"Siap!!"
Malam berlalu begitu cepat, menyisakan rasa cemas dan gelisah di hati Franscov. Ia tidak menyadari satu hal saat itu. Bahwa semua tidak akan pernah kembali seperti semula.
Hari demi hari berganti. Eveline menjadi lebih sering mengunjungi katedral agung, dan setiap kali kembali ke rumah, wajahnya selalu dihiasi oleh ekspresi aneh mengerikan, meski di tutup oleh senyum palsu.
Keesokan harinya, Franscov sudah tidak bisa bertahan lagi, akhirnya, ia mendesak sang istri, memaksanya memberi kepastian atas perubahan sikap selama tiga hari terakhir.
Namun, Eveline hanya menatap Franscov dengan mata yang dipenuhi ketakutan, sebelum membisikkan sesuatu.
"Jika mereka tahu aku memberi tahumu, kita semua akan mati."
Kata-kata itu menghantui Franscov. Tanpa mengerti apa makna dibaliknya. Untuk pertama kali dalam hidupnya, ia mulai merasa ketakutan, sering terbangun di tengah malam sambil menangis. Meski Leon sudah ia perintahkan menyelidiki insiden ini, pihak gereja selalu menutupinya dengan rapat.
Sampai pada suatu malam di minggu berikutnya...
Di dalam ruang tamu kediaman Duke yang megah, Franscov duduk di kursinya. Jemari pria itu saling bertautan, menyalurkan kecemasan sembari menunggu kepulangan istri tercintanya, Eveline. Di dekatnya, sang putri kecil, Elise, menatap ayahnya dengan tatapan polos dan khawatir.
Brak!!.
Pintu ganda ruangan itu mendadak terbuka.
"Tuan Duke... hah.. hah..." Leon sang kesatria, berlari masuk menuju meja. Napasnya terputus-putus. Wajah di balik pelindung kepalanya tampak pucat.
Franscov langsung tersentak berdiri. Matanya melebar, menatap Leon dengan guratan kecemasan yang tak lagi bisa disembunyikan.
"Ada apa Leon?" Franscov melempar pandangan ke arah pintu di belakang Leon. Mencari-cari siluet Eveline yang tak kunjung kelihatan.
"Nyonya.... nyonya Eveline berada di ruang isolasi tuan!! Bersama dengan penduduk Dernomeda yang terjangkit!" ucap pria berzirah itu, nadanya bergetar takut.
"APAA?!!" mendadak suara Franscov meninggi, tak percaya dengan situasi itu. "APA YANG TERJADI?! BAGAIMANA MUNGKIN ISTRIKU ADA DISANA?" bentaknya pada sang kesatria.
"Saya tidak tahu, Tuan Duke.... tapi, tempat itu dijaga ketat oleh kesatria suci gereja!! Tidak ada yang bisa masuk!" Leon semakin panik. Keringat dingin mengucur di pelipisnya.
Tanpa membuang waktu semenit pun, Franscov langsung menyambar jaket tebalnya.
"Ayah? Ayah mau kemana? Apa ibu baik-baik saja?" tanya Elise, wajah imutnya kini diliputi ketakutan.
"Ayah akan menjemput ibu. Jadilah anak yang baik ya?" sahut Franscov. Nada suaranya melunak sesaat, mencoba menenangkan sang putri."LUIS!!"
Seketika itu juga, sang kepala pelayan pribadi kediaman menghampiri dan membungkuk hormat dengan gerakan sempurna.
"Ya tuan Duke?"
"Jaga Elise selagi aku pergi.. jangan biarkan siapapun masuk ke kediaman ini, mengerti?" Duke Franscov menatap pelayannya dengan sepasang mata menyala, memancarkan sisa-sisa amarah.
"Ba-baik tuan!" Luis sang pelayan membungkuk lebih dalam lagi.
Franscov segera membalikkan tubuh, melangkah ke arah pintu.
"Leon, bawa pasukan! Kita keluarkan Eveline dari sana sekarang!" perintahnya tegas, aura kepemimpinan muncul seketika.
"Siap!!"
Mereka bergegas keluar dari kediaman megah itu. Dua puluh prajurit berbaju zirah lengkap segera bergerak di bawah komando Leon, memacu langkah menuju tempat karantina. Tempat di mana wanita yang paling dicintai Franscov entah mengapa bisa terkurung di sana. Padahal, pagi ini, wanita itu hanya berpamitan untuk berangkat ke katedral.
Perjalanan menuju Desa Dernomeda memakan waktu sepuluh menit. Di dalam kereta yang berguncang, pikiran Franscov mendadak kacau. Benaknya dipenuhi oleh imajinasi-imajinasi mengerikan tentang apa yang sedang menimpa istri kesayangannya.
Tak...
Kereta kuda terhenti paksa, ban kayunya berdecit keras. Tubuh Franscov terhuyung ke depan, sebelum akhirnya ia dengan cepat memulihkan keseimbangan.
"Tuan duke...!!!" teriak Leon dari arah depan kereta.
Franscov secara refleks langsung keluar dari pintu kendaraan tersebut.
"Ada a... pa.."
Kata-kata Franscov terputus. Matanya terbelalak lebar, pemandangan mengerikan terhampar di depan mata.
Ratusan warga desa berkumpul mengitari sebuah rumah karantina. Tempat di mana orang-orang terjangkit wabah beserta istri tercintanya.
Di sekeliling pagar rumah tersebut, para kesatria gereja berdiri membentengi area. Mereka menjadi barikade hidup, memisahkan rakyat jelata dan seorang uskup yang berdiri tegak penuh keagungan di podium utama.
Di barisan depan para tirani itu, tiga sosok Kesatria Suci tampak memimpin dengan aura berbeda daripada prajurit biasa.
Salah satunya adalah seorang gadis belia berambut kuning. Usianya sekitar 12 tahun, sebuah rapier tergantung di pinggangnya. Gadis itu menatap kerumunan manusia di depan dengan wajah bingung.
Di samping gadis itu, berdiri seorang lelaki bertubuh raksasa dan kekar. Ia berkacak pinggang, dadanya membusung tegap.
Sementara di sisi lainnya, seorang pria berkacamata dengan tubuh kurus berdiri memegang tongkat sihir. Pupilnya di balik lensa itu, menatap kerumunan warga dengan pandangan dingin dan penuh penghinaan, seolah ia sedang melihat sekumpulan sampah yang harus segera dibuang.
"Apa-apaan ini?" ucap Franscov setengah berbisik, ia mendekati Leon beberapa langkah di depan.
Pertanyaan itu terputus seketika, saat suara parau mengalun tenang dan penuh tekanan mulai menggema dari podium. Itu adalah suara sang Uskup Agung.
"Rakyat Eltra Celestia yang tercinta! Hari ini... adalah hari penebusan dosa bagi kita semua!" Uskup itu merentangkan kedua tangannya lebar-lebar di atas podium.
Rakyat menatapnya dengan tatapan kosong dan bingung. Di saat yang sama, para Kesatria Suci di garis depan semakin memperkokoh posisi mereka, memperketat keamanan bangunan tersebut.
Uskup itu kembali melanjutkan khotbahnya.
"Lihatlah... mereka yang berada di dalam sana, telah terjangkit wabah mengerikan, ini adalah bukti nyata dari hukuman Dewa Athos! Hasil dari dosa yang telah kalian perbuat selama ini." ucap sang pendeta tenang seraya mengarahkan telapak tangan ke rumah karantina.
Franscov spontan melirik tajam ke arah bangunan itu. Ia memicingkan mata, menyisir setiap sudut jendela dan celah dinding, mencoba mencari siluet Eveline. Namun, ia tidak menemukan tanda-tanda keberadaannya.
Sang pendeta kembali menggaungkan suara, meracuni udara malam.
"Oleh karena itu... malam ini... biarlah api yang menyucikan mereka. Mari kita bakar tempat terkutuk ini demi menghentikan kemarahan Dewa Athos."
Franscov terpaku di tempat. Ia meresapi setiap kata yang keluar dari mulut pria tua itu. Pupil matanya melebar. Selama ini, sang Duke adalah bangsawan yang taat dan tidak pernah sekali pun membantah titah gereja.
Tapi tidak untuk malam ini.
"Hentikan semua ini!" suara Franscov tiba-tiba meninggi, tanpa bisa di kendalikan lagi. Memaksa ratusan mata berbalik dan mengunci pandangan pada dirinya beserta pasukannya.
Pendeta tua di atas podium menatap sang Duke sejenak. Lalu ia bertanya, nadanya teramat santun.
"Duke Franscov? Apa maksudmu?"
Tubuh Franscov seketika terasa mendidih mendengar pertanyaan yang begitu memuakkan di telinganya. pria itu menatap lurus, mengunci mata sang Uskup dengan tatapan membunuh.
"Lepaskan istriku! Aku dengar dia ada di dalam sana!" ucap Franscov tegas.
Pendeta itu tak bergeming. Perlahan, ia berjalan ke tepi podium dan berhenti, menatap Franscov dari ketinggian.
"Franscov, kau adalah orang yang taat. Wanita itu bukanlah istrimu lagi. Kardinal tertinggi Lusputh telah menetapkan, bahwa seluruh orang yang ada di bangunan ini.... adalah orang-orang sesat yang sudah terkena kutukan Dewa. " ucap pria tua itu menunjuk rumah karantina di belakangnya.
Franscov terdiam beberapa detik, 'kutukan?' Pernyataan macam apa itu? Itu sudah lebih dari cukup baginya untuk menghentikan semua hal tidak masuk akal ini.
"LEOOOON!!!" teriak Franscov seketika.
Leon tidak menjawab, ia langsung bergerak sigap.
"Pasukan, selamatkan nyonya Eveline!!" teriak sang kapten, Leon berlari memimpin di depan, membelah kerumunan warga.
Dua puluh prajurit elit milik Duke bergerak serentak, mencoba merengsek masuk mendekati rumah karantina dengan gerakan terstruktur.
Warga desa seketika membubarkan diri. Ketakutan akan pecahnya bentrokan berdarah membuat mereka berlarian menyebar ke segala arah bagaikan koloni semut.
"Aaaaa... ayo pergi dari sini.."
"Minggir. Aah... Awas!!!"
"Lari ke distrik timur!"
Jerit histeris warga menggema, sementara Leon dan pasukannya terus berusaha maju menuju bangunan karantina. Di depan mereka, pagar bangunan itu kini telah dilapisi oleh pagar hidup berupa barisan Kesatria Gereja.
"Hentikan mereka!" suara uskup terdengar nyaring, memotong hiruk-pikuk warga.
Seketika itu juga, para pasukan suci gereja mulai bergerak maju, menyerbu ke arah pasukan Franscov yang dipimpin oleh kapten Leon.
Hampir seluruh kesatria gereja bergerak bersamaan.
Kecuali tiga pemimpin mereka yang berdiri paling depan tadi, Mereka diam, memandangi gelombang pasukan Duke seolah sedang menonton pertunjukan teater.
"Aaaaaa.... " teriakan perang dari kedua kubu mengudara, mengikis jarak di antara mereka, menunggu hitungan detik sebelum kedua kekuatan itu saling berbenturan.
Pasukan Franscov membentuk formasi rapat. Mereka berlari dalam satu ritme, mengangkat tameng besar di depan dada hingga membentuk dinding baja berjalan, sementara ujung-ujung tombak runcing dijulurkan lurus ke depan melalui celah perisai.
"DEMI TUAN DUKE!!!" teriak salah seorang prajurit di lini depan, menyulut semangat rekan-rekan di sampingnya.
Tap.. Tap.. Tap..
Beberapa pasukan gereja yang maju terlalu cepat sama sekali tidak siap menghadapi formasi dinding perisai tersebut.
Jleb!!!
Tubuh mereka langsung tertusuk oleh barisan tombak prajurit Duke yang kokoh, lalu terdorong ke belakang.
"Aaaaaah....!!!!" jerit para kesatria gereja saat tubuh mereka terhempas mundur.
Sebaliknya, pasukan Franscov justru menggaungkan teriakan penuh semangat.
"WOOOOOOH!!!" Mereka terus melangkah maju, menembus lini pertahanan musuh dengan tombak yang terus menjulur ke depan.
Brak!!! Barisan terdepan Kesatria Suci jatuh bergelimpangan di atas tanah, tergeletak lemas tak berdaya tanpa sempat memberikan perlawanan. Formasi rapat prajurit Franscov terbukti solid, tameng yang dikatup rapat di depan dada sembari merunduk membuat mereka kebal dari serangan balasan.
Satu per satu kesatria suci di hadapan mereka tumbang ke tanah.
"Menyebaaaaar!!! Serang dari sisi kiri dan kanan!!" perintah salah seorang perwira kesatria gereja.
Seketika itu juga, sisa prajurit gereja menyebar ke dua arah, bersiap untuk menyergap sisi sayap formasi rapat pasukan Franscov.
Beberapa prajurit Duke menyadari ancaman pengepungan, mereka segera memisahkan diri dari formasi utama, melompat keluar untuk menahan laju serangan musuh dari arah sayap kanan dan kiri.
Syaaat...!!!
"Aaaaak...!!!" prajurit Duke yang baru saja melompat keluar ke sayap kanan, langsung jatuh terjerembab ke tanah. Sebuah anak panah dari barisan belakang gereja telah menembus dadanya.
"AAAAKKK!!!" teriakan serupa terdengar dari prajurit Duke di sisi sayap satunya, mengalami hal serupa.
Kehilangan beberapa pilar pertahanan membuat formasi rapat itu perlahan goyah. Lima orang pasukan gereja dari masing-masing sisi langsung maju, mengayunkan senjata mereka ke area sayap yang terbuka.
Trang... Tang... Tang...!!
"Ugh... bertahaaaaan!!! Jangan menyerah!!" salah satu prajurit lini belakang Franscov maju ke depan, mengisi celah kosong di bagian sayap kanan. Dengan cekatan, ia mengangkat tameng baja miliknya, menangkis sabetan pedang beruntun dari kesatria gereja.
Trang!!!
Lalu pria itu melakukan serangan balik cepat.
Swaash!!! Ia berhasil menumbangkan beberapa pasukan katedral di depannya. Namun, musuh terlalu banyak, sebuah sabetan pedang dari arah buta langsung merobek zirah dan menyayat punggung serta bahu prajurit tersebut.
"Aaaaakk..." pria itu mengerang kesakitan.
Sebelum ia sempat memulihkan posisi, sabetan pedang dari kesatria gereja berikutnya langsung menghantam telak, menumbangkan pria itu seketika.
Pasukan Franscov mulai kalah jumlah.
Leon tidak tinggal diam. Ia menerjang maju ke arah pasukan suci di sisi kanan dengan gerakan lincah, seolah zirah besi di tubuhnya tidak memberikan beban sama sekali.
"Hiaah!!! Menyingkir kalian!!" teriak Leon sembari mengayunkan tameng, mementalkan serangan beberapa kesatria di dekatnya.
[High skill: saber sword!]
Pendaran cahaya kuning menyilaukan mendadak menyelimuti bilah pedang milik Leon. Partikel sihir itu berputar, meningkatkan ketajaman logam tersebut melampaui batas normal hingga sinarnya memantul pada zirah-zirah besi kesatria di sekelilingnya.
Leon mengayunkan pedang dalam satu gerakan diagonal, menebas dua kesatria gereja dari sudut kiri bawah menuju kanan atas. Kedua musuh itu secara refleks mengangkat perisai mereka untuk bertahan.
Sraaang!!!
Namun, di hadapan pedang yang diselimuti sihir, perisai besi milik kesatria gereja itu terbelah dua bagai kertas. Detik berikutnya, darah segar menyembur deras ke udara, Leher dan perut mereka telah robek.
"Aah.. Aaah.. AAAAHHH!!!" teriak para kesatria itu histeris, jemari mereka bergetar mencoba menahan aliran darah dari leher dan perut.
Bruk.. Mereka jatuh ke tanah.
"Duke!!! Lewat sini!!!" teriak Leon. Sang kapten terus mengayunkan pedangnya, menangkis setiap serangan dari depan sembari membuka celah lebar di sisi kanan formasi pasukan Duke.
"Hah..." Franscov berlari kencang. Tangannya bergerak cepat menarik pedang dari sarung di pinggang, lalu bergerak masuk mengekor di belakang Leon yang terus menebas jalur menembus kepungan musuh.
Di tengah kekacauan itu, keduanya memperlihatkan gerakan kombinasi mustahil, sebuah sinkronisasi sempurna seolah-olah mereka telah melatih koreografi ini selama belasan tahun.
Leon menangkis serangan musuh sembari membiarkan Franscov berlindung di balik bayangannya. Detik berikutnya, sang Duke melesat keluar dari perlindungan Leon, menebas musuh yang baru saja kehilangan keseimbangan akibat tangkisan.
Leon menangkis-Franscov berlindung-lalu menebas musuh-kesatria lain menyerang-Leon kembali menangkis-Franscov menyabet lawan. Jalur berdarah tercipta di bawah kaki mereka.
Namun, pemandangan berbeda terjadi di sisi kiri. Tanpa sokongan kekuatan besar, prajurit Duke di sayap kiri mulai tumbang satu per satu setelah dikepung habis-habisan dari arah depan dan samping.
"Aaaah.. Hiduplah, DUKE FRANSCOOOV!!" raungan parau keluar dari mulut seorang prajurit di sayap kiri. Dengan sisa tenaga yang ada, ia mengayunkan senjata, menyerang kesatria gereja di dekatnya secara membabi buta, sebelum sebuah bilah pedang berkecepatan tinggi menyayat leher prajurit itu.
Sraaak!!
"Aaaahh... maaf... tuan..." ucap pria itu lirih, menatap langit malam untuk terakhir kalinya. Darah hangat merembes di leher, seiring lemasnya tubuh sang prajurit.
Ia jatuh ke tanah.
Di sisi lain medan laga, Leon akhirnya berhasil membukakan jalan bersama sang Duke. Sang Kapten menunjukkan kelas sebagai petarung yang ditempa sejak usia dini untuk menghadapi skenario terburuk seperti ini.
Kini, Leon berhadapan dengan empat orang pasukan gereja terakhir di sisi kanan, mereka memblokade jalan menuju pagar rumah karantina.
Seorang kesatria suci mencoba menusuk bahu kiri Leon, disusul tebasan dari kesatria lain menuju pinggang kanannya.
Leon melompat mundur satu langkah, gerakannya sangat lincah. Sudut mata pria itu memperhitungkan jarak dengan presisi, membiarkan kedua tebasan pedang lawan melesat di udara dan gagal mencapai target.
Fwaaap!!!
Memanfaatkan celah pasca-serangan musuh, Leon langsung menerjang maju ke depan. Pedangnya yang masih memancarkan pendaran cahaya mengayun dalam tiga tebasan bersih dan mematikan, tepat di tengah dada lawan.
Swash... Swash... Swash...
"AAAAAKK...!!!"
Zirah baja para kesatria suci itu terpotong-potong menjadi beberapa bagian bersama dengan penggunanya, sebelum akhirnya runtuh ke tanah menjadi tumpukan daging dan besi.
Melihat jalur telah terbuka, Franscov langsung melesat melewati Leon dari sisi kanan. Di belakang mereka, sisa-sisa pasukan, formasi rapat milik Duke masih bertaruh nyawa menahan laju sisa Kesatria Gereja. Sang Duke memfokuskan seluruh energi pada kakinya, mencoba mencapai tepian pagar rumah karantina yang tinggal beberapa langkah lagi.
"Terima kasih Leon," bisik Franscov dalam hati, ia berlari meninggalkan sang kapten, sementara Leon kini berbalik untuk menahan gelombang musuh yang mencoba mengejar dari belakang.
Pagar besi kediaman itu sudah terpampang jelas di depan mata Franscov. Jaraknya hanya tinggal beberapa meter lagi.
Bumm...!!!
Sebuah hantaman berkekuatan masif tiba-tiba menghantam tanah tepat di depan jalur sang Duke, menciptakan gelombang kejut yang melempar debu dan kerikil ke udara. Tanah tempat ia berpijak bergetar hebat.
Dengan refleks bertarung, Franscov menghentikan larinya dan melompat mundur beberapa langkah demi memulihkan keseimbangan. Suara hantaman barusan benar-benar terasa menggetarkan bumi.
SSSssshhh....
Saat debu mulai menipis, sesosok tubuh berdiri tegak di hadapan sang Duke. Salah satu dari tiga Kesatria Suci yang sedari tadi hanya diam menonton, entah sejak kapan pria itu sudah berpindah tempat dan memblokade jalan.
"Tidak ada yang boleh lewat, dari sini." ucap pria bertubuh raksasa dan kekar itu di hadapan Franscov. Ia merentangkan tangan lalu membunyikan buku-buku jarinya, menghasilkan suara kretak yang mengerikan.
Tak lama kemudian, sosok gadis bertubuh mungil, membawa rapier, ikut berjalan mendekat dengan langkah santai.
"Gilbert, apa aku boleh melawannya untuk latihanku?" tanya gadis itu.
"Belum saatnya, Guinevere... Kau siksa saja para produk gagal di bawah tanah." ucap Gilbert, seringai kejam mengembang di wajahnya saat matanya menatap Franscov, tangannya melakukan gerakan pemanasan ringan.
Gadis mungil bernama Guinevere itu hanya terdiam, wajah datarnya terlihat sedikit kebingungan.
"Bukannya tuan Lusputh bilang aku harus dilatih segera?" tanya Guinevere lagi, wajahnya teramat polos seolah menanyakan urusan harian.
"Latihan bagimu ada di bawah tanah, bukan disini!! Dengarkan saja perintahku gadis baru!!!" Bentak Gilbert kasar, membuat Guinevere terdiam seketika.
Gadis itu akhirnya mundur beberapa langkah, menjaga jarak yang cukup aman sembari mengawasi apa yang akan terjadi di antara Franscov dan Gilbert.
"Ironis sekali, pria taat seperti anda harus membangkang pada gereja ini..... hanya demi menyelamatkan seorang wanita." potong suara dingin dari sisi lain. Pria bertubuh kurus pemegang tongkat sihir mendekat. Ia membenarkan posisi kacamatanya menggunakan jari telunjuk, menatap sang Duke dengan pandangan jijik.
Kini, Franscov terkepung. Di hadapannya berdiri Gilbert, sang monster otot.
Franscov merendahkan tubuhnya, menarik napas dalam-dalam sembari menyiapkan kuda-kuda bertarung terbaik yang ia miliki. Tidak ada sedikit pun rasa takut di hatinya terhadap pria itu.
Franscov jauh lebih takut, jika wanita yang berada di dalam bangunan di belakang sana harus meregang nyawa jika ia gagal melangkah maju malam ini.
“Lumayan...”
Tiga tebasan. Gerakan bersih. Presisi bagus.
Tapi alisnya malah berkerut. “Kurang brutal.”
Ia menunjuk bagian Leon memotong para kesatria suci itu. “Harusnya masih ada suara tulang retak ... atau minimal satu lawan dilempar menembus pagar.”
Garrick menghela napas panjang seperti benar-benar kecewa. “Kalau next chapter masih sopan begini … biar aku sendiri yang ngajarin Leon cara bertarung.”
Senyum tipis muncul di wajahnya, yang justru terlihat lebih berbahaya.
“Habis itu baru kita lihat… siapa yang masih berani maju.”
—Garrick, si pengguna HammerHOOD (Hydraulic Overdrive Obliteration Device)
cape😅