NovelToon NovelToon
My Little Wife

My Little Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikahmuda
Popularitas:14.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Ziva terpaksa menggantikan posisi kakaknya, Kirana, di pelaminan setelah sebuah kecelakaan tragis merenggut nyawa sang kakak. Ia harus menikah dengan Baskara, pria yang dianggapnya sebagai penyebab kematian Kirana.
Tanpa cinta dan penuh benci, Ziva mengajukan syarat kejam: pernikahan ini hanya formalitas, tanpa sentuhan, dan harus berakhir dalam satu tahun. Di balik senyum palsu di depan tamu undangan, Ziva bersumpah akan membuat hidup "sang pembunuh" itu seperti neraka. Namun, sanggupkah ia menjaga dinding kebenciannya saat takdir terus mengikat mereka dalam duka yang sama?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27

Hari Minggu di asrama polisi biasanya terasa lebih santai, namun bagi para perwira yang sedang piket, tugas negara tidak mengenal hari libur. Ziva, yang pagi ini tampil segar dengan kulot putih dan atasan blouse rajut berwarna soft lilac, melangkah beriringan dengan Nisa menyusuri selasar lobi Mapolres.

Nisa, yang usia kehamilannya mulai memasuki minggu-minggu awal, tampak sangat bersemangat. Ia terus bercerita tentang betapa protektifnya Arga sejak tahu ada janin di rahimnya. Namun, di tengah obrolan, mata Nisa berkilat jenaka saat mereka duduk di kursi tunggu lobi yang cukup ramai dengan pengunjung dan anggota yang berlalu-lalang.

"Ziv, bosen deh nungguin mereka apel selesai. Main Truth or Dare yuk? Yang kalah atau yang nggak mau jawab harus lakuin tantangan," ajak Nisa sambil menaikkan alisnya.

Ziva terkekeh, ia tidak curiga sama sekali. "Boleh, siapa takut? Ayo, Kak."

Setelah beberapa putaran pertanyaan ringan tentang hobi dan makanan favorit, giliran Ziva yang kalah dalam permainan suit jari.

"Oke, Ziva... Truth or Dare?" tanya Nisa dengan senyum misterius.

Ziva berpikir sejenak. Jika ia memilih truth, Nisa pasti akan menanyakan hal-hal sensitif soal hubungannya dengan Baskara di kamar utama. Ia tidak siap untuk itu. "Gue pilih Dare! Tantangan aja, biar seru."

Nisa langsung bertepuk tangan pelan. Ia mencondongkan tubuhnya ke arah Ziva, membisikkan tantangan yang membuat jantung Ziva hampir melompat keluar.

"Oke, kalau gitu... nanti pas Mas Baskara datang dan berdiri di depan kita, kamu harus liatin mata dia terus-menerus selama 20 detik tanpa putus. Dan syarat utamanya, kamu harus sambil senyum manis banget. Nggak boleh nunduk, nggak boleh noleh!"

Mata Ziva membelalak. Wajahnya seketika berubah warna menjadi senada dengan baju lilac-nya. "Eh, Kak! Jangan gitu dong! Nanti aku malu. Yang lain kek! Kak Nisa, ganti dong tantangannya! Itu mah bukan tantangan, itu mah bikin aku pengen menghilang dari bumi!"

"Nggak bisa! Kamu tadi udah pilih dare dengan gagah berani," goda Nisa sambil tertawa renyah. "Lagian, masa sama suami sendiri malu sih? Kan kalian udah satu kamar."

"Tapi ini di lobi, Kak! Banyak orang! Nanti dikira aku kesurupan liatin dia kayak gitu," protes Ziva lagi, namun Nisa hanya menggelengkan kepala tanda tidak ada negosiasi.

Tiba-tiba, suara derap langkah sepatu pantofel yang tegas terdengar dari arah tangga utama. Baskara muncul bersama Arga. Keduanya masih mengenakan seragam dinas lengkap. Baskara tampak sangat berwibawa, tangan kirinya memegang topi pet, sementara tangan kanannya sedang membetulkan letak jam tangan hitamnya.

"Nah, itu dia orangnya. Siap-siap ya, Ziva. Aku hitung dalam hati," bisik Nisa penuh semangat.

Baskara melihat Ziva dan langsung berjalan menghampiri dengan langkah lebar. Wajah kaku sang perwira mendadak melunak saat melihat istrinya sudah menunggunya. "Sudah lama nunggu? Maaf, tadi ada pengarahan sebentar dari Kapolres."

Baskara berdiri tepat di depan Ziva, jarak mereka hanya sekitar satu meter. Ziva menarik napas dalam, ia melirik Nisa yang sedang memberikan kode "Mulai!" lewat kedipan mata.

Ziva pun mendongak. Ia mulai menatap mata hitam pekat milik Baskara. Dan sesuai instruksi, ia menarik sudut bibirnya hingga membentuk senyum paling manis yang ia miliki.

Satu detik... dua detik...

Baskara yang awalnya hendak menanyakan apakah Ziva sudah lapar, mendadak terdiam. Ia menatap balik istrinya dengan kening berkerut bingung. "Ziva? Ada apa? Ada sesuatu di wajahku?"

Ziva tidak menjawab. Ia terus mempertahankan senyumnya, matanya terkunci pada manik mata Baskara yang tampak berkilat heran.

Lima detik... sepuluh detik...

Suasana di lobi seolah membeku bagi mereka berdua. Baskara mulai merasa salah tingkah—sebuah kejadian langka bagi seorang Inspektur polisi yang biasanya menginterogasi tersangka tanpa berkedip. Ia berdehem pelan, telinganya mulai berubah menjadi merah padam.

"Ziva... kamu nggak apa-apa kan? Kamu sakit? Atau... ada yang salah sama seragamku?" tanya Baskara lagi, suaranya sedikit gemetar karena gugup ditatap begitu dalam oleh wanita yang ia cintai.

Ziva masih diam, senyumnya justru semakin lebar saat melihat ekspresi "robot" Baskara mulai runtuh. Ia merasa lucu melihat suaminya yang sangar itu mendadak jadi kikuk hanya karena tatapan mata.

Lima belas detik... delapan belas detik...

Arga dan Nisa yang memperhatikan dari samping hanya bisa menahan tawa. Nisa menutup mulutnya dengan tangan, sementara Arga berdehem keras untuk mengalihkan perhatian anggota lain yang mulai melirik ke arah adegan drama romantis di tengah lobi itu.

Dua puluh detik!

Ziva langsung memutuskan kontak mata dan menunduk dalam, menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan karena rasa malu yang akhirnya meledak. "Aduuuh, Kak Nisa! Udah ya! Selesai!" seru Ziva dengan suara terendam.

Baskara masih mematung di tempatnya. Jantungnya berdegup sangat kencang, seolah baru saja selesai lari maraton sepuluh kilometer. Ia menoleh ke arah Arga dengan pandangan meminta penjelasan.

"Istri lo lagi kasih 'vitamin mata' tuh, Bas. Biar lo semangat piketnya," goda Arga sambil menepuk bahu sahabatnya.

Baskara kembali menatap Ziva yang masih malu-malu. Ia melangkah satu senti lebih dekat, lalu berbisik rendah yang hanya bisa didengar oleh Ziva. "Lain kali kalau mau tantrum romantis jangan di lobi, Ziva. Aku bisa lupa kalau aku lagi pakai seragam ini."

Ziva mendongak sedikit, mencibir pelan meski pipinya masih merah. "Dih, siapa juga yang romantis! Itu tadi tantangan dari Kak Nisa!"

"Oh, jadi cuma tantangan? Bukan karena kangen?" tanya Baskara dengan nada menggoda yang tidak biasa.

"Kak Baskara!" Ziva memukul pelan lengan Baskara, membuat pria itu akhirnya tertawa lepas.

Nisa menghampiri mereka sambil merangkul lengan Arga. "Lucu banget sih kalian. Mas Baskara tadi mukanya kayak lagi diinterogasi sama intel, padahal cuma dipandang istri sendiri."

"Ziva memang punya cara sendiri buat bikin saya nggak berkutik, Nis," sahut Baskara jujur. Ia lalu mengambil tangan Ziva dan menggenggamnya erat, tidak peduli lagi dengan lirikan anggota lain di lobi. "Ayo makan siang. Aku nggak mau istriku pingsan karena kebanyakan senyum tanpa asupan nasi."

Ziva mengikuti langkah Baskara keluar lobi dengan hati yang berbunga-bunga. Tantangan dare dari Nisa tadi memang memalukan, tapi melihat sisi "kikuk" Baskara adalah hadiah yang jauh lebih berharga. Di bawah sinar matahari Minggu yang cerah, Ziva menyadari bahwa ia semakin menikmati setiap detik berada di samping suaminya—baik saat sedang serius, maupun saat sedang dikerjai oleh tantangan konyol.

***

Siang itu, sebuah restoran keluarga bernuansa kayu yang sejuk menjadi saksi pertemuan dua pasang suami istri yang tengah berbahagia. Aroma gurih soto betawi dan wangi sambal terasi memenuhi meja yang terletak di sudut ruangan, jauh dari keramaian pengunjung lain. Baskara dan Arga duduk berdampingan, keduanya tampak jauh lebih rileks meski seragam cokelat mereka masih memancarkan aura wibawa. Di hadapan mereka, Ziva dan Nisa sibuk menata alat makan.

Ziva, yang masih merasakan sisa-sisa panas di pipinya akibat tantangan dare di lobi tadi, mencoba mengalihkan fokusnya pada makanan. Namun, melihat cara Arga yang sangat sigap mengambilkan tisu, menuangkan air putih, hingga memastikan kursi Nisa sudah cukup nyaman, membuat rasa penasaran Ziva terusik.

Ziva meletakkan sendoknya sejenak, ia menopang dagu dengan tangan kirinya dan menatap Nisa yang sedang mengelus perutnya yang masih rata dengan gerakan bawah sadar.

"Kak Nisa," panggil Ziva pelan.

"Iya, Ziv?" Nisa mendongak, matanya berbinar sehat.

"Rasanya... rasanya hamil itu gimana sih, Kak? Maksud gue, perasaan di dalamnya gitu. Aneh nggak sih ada sesuatu yang tumbuh di situ?" tanya Ziva dengan nada polos namun penuh rasa ingin tahu yang mendalam.

Baskara yang sedang menyesap es jeruknya mendadak tersedak sedikit. Ia melirik Ziva dari balik gelasnya, telinganya langsung menajam mendengar pertanyaan istrinya. Arga pun ikut terdiam, memberikan ruang bagi Nisa untuk menjawab pertanyaan "ajaib" dari adik tingkat mereka itu.

Nisa tertawa kecil, ia meletakkan garpunya dan tersenyum sangat tulus. "Rasanya? Ajaib, Ziv. Awalnya mungkin kamu bakal ngerasa mual, pusing, atau gampang capek. Tapi di balik semua rasa nggak enak itu, ada perasaan kalau kamu nggak pernah sendirian lagi. Ada detak jantung lain yang bergantung sama kamu. Rasanya... kayak punya tujuan hidup baru yang jauh lebih besar dari dirimu sendiri."

Ziva manggut-manggut, ia tampak sangat serius menyerap penjelasan Nisa. "Terus, Kak Nisa nggak takut kalau badannya jadi berubah? Atau nanti pas lahiran?"

"Kenapa? Kamu pengen ya?" ledek Nisa sambil mengedipkan sebelah mata ke arah Baskara yang pura-pura sibuk memotong daging empalnya.

Wajah Ziva seketika "meledak" kembali menjadi merah padam. Ia segera menggelengkan kepalanya dengan kuat sampai beberapa helai rambutnya berantakan.

"Eh, nggak lah! Jangan ngaco deh, Kak! Aku kan masih terlalu kecil, hehe," seru Ziva sambil mencoba tertawa untuk menutupi rasa canggungnya. "Maksud aku, aku kan baru mulai kerja, Kak. Masih pengen jalan-jalan, masih pengen dapet bonus tahunan dulu. Masa langsung punya buntut."

Arga terkekeh pelan melihat reaksi defensif Ziva. "Semua ada waktunya, Ziva. Dulu Nisa juga bilangnya begitu pas awal-awal kita menikah. Katanya mau fokus S2 dulu, eh ternyata rezekinya datang lebih cepat."

Baskara akhirnya meletakkan gelasnya. Ia menatap Ziva dengan tatapan yang sulit diartikan—ada secercah harapan namun juga rasa hormat yang besar terhadap keputusan istrinya. "Ziva benar. Dia masih punya banyak mimpi di kantornya. Aku tidak akan memaksanya melakukan sesuatu sebelum dia benar-benar siap secara mental dan fisik."

Ziva menoleh ke arah Baskara, ia terkejut dengan pembelaan pria itu. Ia pikir Baskara akan ikut menggoda atau justru setuju dengan Nisa karena Baskara berasal dari keluarga yang cukup tradisional. Namun, Baskara justru berdiri di pihaknya, memberikan ruang bagi kebebasan Ziva.

"Duh, denger tuh, Mas Arga! Mas Baskara pengertian banget sama istrinya," goda Nisa lagi, membuat suasana meja makan semakin cair. "Tapi beneran, Ziv. Menjadi ibu itu bukan soal usia, tapi soal hati. Kalau hati kamu sudah merasa 'penuh' dan kamu merasa sudah menemukan orang yang tepat buat jadi partner membesarkan anak, rasa takut itu bakal ilang sendiri."

Ziva terdiam, ia menatap nasi di piringnya. Kalimat Nisa tentang "menemukan orang yang tepat" bergema di telinganya. Ia melirik Baskara yang kini sedang tenang menyantap makanannya. Pria yang dulu ia benci setengah mati, pria yang ia tuduh merenggut kebahagiaannya, kini justru menjadi orang yang paling melindunginya, mendukung kariernya, bahkan menyiapkan teh hangat saat ia stres.

"Iya sih, Kak. Mungkin nanti... entah kapan," gumam Ziva sangat pelan, namun Baskara sempat mendengarnya.

Makan siang itu berlanjut dengan obrolan yang lebih ringan. Mereka bercerita tentang hobi, tentang rencana liburan singkat saat cuti bersama nanti, dan tentu saja tentang tingkah laku Rio di kantor polisi yang selalu menjadi bahan tertawaan.

Sepanjang sisa makan siang, Ziva merasa sebuah beban tak kasat mata terangkat dari pundaknya. Ia tidak lagi merasa tertekan oleh ekspektasi orang lain soal momongan. Ia menyadari bahwa pernikahannya dengan Baskara, meski dimulai dengan cara yang tragis, kini sedang mekar dengan caranya sendiri yang unik.

Baskara yang menyadari Ziva sedikit banyak melamun, diam-diam meraih tangan Ziva di bawah meja. Ia menggenggam jemari kecil istrinya itu dengan hangat, memberikan kekuatan tanpa perlu berkata-kata. Ziva tersenyum kecil, ia membalas genggaman itu.

Bagi Ziva, mungkin ia memang masih merasa "kecil" untuk menjadi seorang ibu. Tapi di samping Baskara, ia merasa cukup besar untuk mulai mencintai dan dicintai dengan cara yang paling dewasa yang ia bisa.

1
Mey Latika
kok gantung
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!