Dilarang memplagiat karya!
"Dia memilih kakakku..." --Hawa--
"Dan aku memilihmu. Bukan karena tidak ada pilihan lain, Hawa. Tapi karena memang hanya kamu yang aku mau." --Ramadan--
Hawa terpaksa menelan kenyataan pahit saat Damar--sahabat sekaligus laki-laki yang dicintainya, justru melamar Hanum--kakak kandungnya.
Di tengah luka yang menganga, hadir Ramadan sebagai penyejuk jiwa. Tak sekadar menawarkan cinta, Ramadan juga menjadi kompas yang menuntun Hawa keluar dari gelapnya kecewa menuju cahaya ketulusan yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayuwidia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 30 Sebaik-baiknya Takdir
Happy reading
Mentari pagi menyentuhkan hangat kasihnya, menemani dua insan yang kini duduk lesehan sambil menikmati soto dan teh nasgitel di bawah naungan pohon beringin Alun-Alun Selatan.
Rama sengaja mengajak Hawa mampir sarapan sebelum menuju rumah joglo--hunian keluarganya sejak kembali dari Jakarta.
Selama empat tahun, Rama menetap di New York bersama orang tuanya. Dan di tahun kelima, ia memilih tinggal bersama pamannya di Jakarta.
Di kota metropolitan itu, Rama terseret arus pergaulan. Tanpa pengawasan paman yang sibuk sebagai manajer, ia yang dulu patuh bermetamorfosis menjadi remaja bedugalan. Akrab dengan tawuran, balapan liar, gemar merokok, hingga pernah mencicipi minuman terlarang. Sampai akhirnya, kecelakaan hebat membuatnya terbaring tak berdaya, bahkan mengalami koma cukup lama--sebuah titik balik di mana hidayah menyadarkannya untuk kembali ke jalan Ilahi.
Selepas SMA, Rama pulang ke Jogja bersama orang tua dan kakak perempuannya yang baru lulus dari pesantren.
Niatnya untuk hijrah semakin kuat saat ia bertemu kembali dengan Hawa di Universitas Lentera Bangsa, tepatnya ketika menjalani masa OSPEK.
"Kenapa kamu nggak mengaku dari dulu, Ram?" tanya Hawa di sela-sela obrolan yang mengalir ringan.
"Karena aku ingin membenahi diri dulu," jawab Rama jujur, menyertainya dengan seulas senyum khas. "Selain ingin menepati janji lama, aku juga ingin menjadi lelaki yang pantas berada di sisimu, Hawa."
Hati Hawa menghangat ketika mendengar pengakuan Rama. Ia merasakan ketulusan dari ucapan dan binar yang terpancar dari sepasang mata teduh sahabat masa kecilnya, sekaligus lelaki yang telah berhasil menjerat hatinya itu.
"Damar pasti sangat senang kalau tahu kamu adalah 'sang jenderal' yang lama ia tunggu."
Rama menghela napas panjang, menatap Hawa sekilas. "Aku harus berterima kasih padanya karena dia sudah menepati janji, menjaga dan melindungimu sampai aku kembali."
"Iya, kamu memang harus berterima kasih pada kakak iparku." Hawa tertawa kecil, lalu melempar pandang ke arah pohon beringin yang berdiri kokoh di hadapan mereka.
"Satu minggu setelah kamu berangkat ke luar negeri, Damar mengalami musibah kecelakaan. Dia tertabrak motor. Begitu Damar sembuh, ayah dan bundanya memutuskan untuk pindah ke Kalimantan. Sebelum berangkat, ibunda Damar sempat menyebutku pembawa sial. Beliau juga bilang, Damar akan selalu celaka jika dekat denganku," Hawa menjeda sesaat. Ia tersenyum getir mengenang kata-kata sarkas yang dilontarkan oleh Maharani. "Tapi, Allah berkehendak lain. Usaha yang digeluti oleh ayah Damar bangkrut hingga akhirnya mereka terpaksa pulang ke Jawa. Kami pun dipertemukan lagi saat SMA, dan persahabatan itu tumbuh kembali."
Hening merayap turun. Membiarkan sang bayu membelai lembut wajah Hawa yang kini terbingkai sendu, sementara jemarinya memainkan ujung pasmina yang membalut rikma.
"Perasaan cinta di antara kami datang tanpa diminta, namun harus luruh oleh ketetapan-Nya," Hawa memecah sunyi yang sempat menaungi. "Lelaki yang aku cinta menentukan jalannya sendiri; dia memilih Kak Hanum. Dan sosok yang selama ini aku pinta dalam sujud, kini hadir menggantikan takhta Damar di hatiku. Ia membuatku mengerti bahwa ketetapan-Nya adalah sebaik-baiknya takdir."
Rama terdiam sesaat. Ia menahan sesak sekaligus rasa hangat yang tiba-tiba menjalar, menyentuh relung hatinya saat mendengar setiap kata yang mengalir lembut--namun penuh luapan emosi--dari bibir Hawa.
"Apa kamu yakin untuk melangkah bersamaku, Hawa?" tanyanya dengan suara sedikit parau. Ada segumpal harapan yang ia titipkan dalam kalimat itu dan tatapan yang terkunci pada pahatan indah di hadapannya, menunggu kepastian dari gadis yang menjadi tambatan hati.
Hawa mengembangkan senyum, lalu mengangguk pelan. "Ya, aku yakin. Bahkan sangat yakin, Rama."
Rama segera mengalihkan pandangannya, menjaga batas suci yang masih ia junjung tinggi sebelum ikatan halal mempersatukan mereka. Ia tak ingin tatapannya melampaui rasa kagum yang seharusnya dijaga.
"Alhamdulillah. Terima kasih, Hawa," ucapnya lirih, diiringi rekahan senyum dan rentetan syukur yang berulang kali ia lafazkan dalam benak.
Bagi Rama, hadiah terindah yang ia terima setelah berhasil merangkak keluar dari masa silam yang kelam adalah dua hal: hidayah dan Hawa.
Setelah menandaskan teh nasgitel, Rama dan Hawa beranjak dari posisi duduk. Mereka berjalan beriringan menjemput motor masing-masing, sebelum membelah kepadatan kota menuju rumah joglo.
Seperti biasa, Rama membiarkan Hawa memimpin di depan. Ia mengiringi dari belakang, memastikan gadis itu mendapatkan rasa aman yang nyata di sepanjang jalan.
Setengah jam berlalu, roda sepeda motor mereka mulai menggilas jalanan desa yang menyuguhkan pemandangan asri. Sesekali Rama menunduk hormat dan tersenyum ramah--membalas sapaan para warga yang berpapasan dengannya dan juga Hawa.
"Mas Rama!" seru segerombol bocah laki-laki yang sedang mandi di sungai saat Rama dan Hawa melintas.
Rama membalas dengan lambaian tangan dan tawa kecil. "Jangan lama-lama berendam, nanti kulitnya bisa putih!" sahutnya melempar candaan.
Tawa renyah bocah-bocah itu pecah, mengiringi laju sepeda motor yang kian menjauh.
"Nah, sebentar lagi sampai, Wa. Cuma sepuluh meter dari sini," ujarnya sembari menyejajarkan Vespa yang dikendarainya dengan Scoopy yang ditunggangi Hawa.
"Alhamdulillah," Hawa menimpali sambil mengulas senyum.
Begitu tiba di joglo--kediaman Bagaskara, mereka disambut senyuman hangat Almira, ibunda Rama.
"Assalamu'alaikum, Tante," sapa Hawa lembut. Ia menjabat dan mencium punggung tangan wanita paruh baya itu dengan takzim.
"Wa'alaikumsalam, Sayang. Selamat datang di gubuk kami," balas Almira ramah sembari memberi pelukan erat. Binar matanya menyiratkan rasa cinta yang tulus.
Ucapan dan sikap yang ditunjukkan oleh Almira sangat kontras jika dibanding dengan perlakuan Maharani, ibunda Damar.
Dari hal kecil itu, Hawa kian mengerti bahwa Allah menguji bukan untuk mematahkan hati dan keyakinan hamba-Nya. Dia justru ingin menunjukkan kasih-Nya yang teramat besar dengan memberikan anugerah yang lebih indah: insan yang mencintai dan menerima tanpa syarat.
Hawa teringat firman-Nya dalam surah Al-Baqarah: "Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu."
Luka yang dihujamkan oleh Maharani dan kerabat sang bunda rupanya menjadi jalan yang menuntunnya bertemu kembali dengan Almira--sosok calon ibu mertua yang mencintai dan menerimanya tanpa syarat.
🍁🍁🍁
Bersambung
Taqabbalallahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum.
Selamat Idulfitri 2026 untuk para pembaca setia kisah Ramadan's Promise. Maaf atas segala khilaf, baik di dunia nyata maupun lewat rangkaian kata di dunia halu. Happy Eid Mubarak, semoga di hari yang suci ini kita kembali fitrah dan segala harapan diijabah. Aamiin. 🌙✨
Sayang selalu,
Ayuwidia
aku vote deh..