Seorang pemuda dengan kutukan api di dalam tubuhnya, membuat dirinya dibenci oleh seluruh warga desa.
Padahal di dalam hatinya, Subosito tak ingin melukai siapa pun dengan apinya.
Banyak pendekar yang mengincar kekuatan itu, untuk kepentingan pribadi mereka
Subosito mencoba untuk mengarungi dunia pendekar yang tidak mudah.
Bagaimana kisah perjuangan pemuda api itu dengan kutukan yang dimilikinya?
Ikuti keseruan kisahnya dalam 'Subosito'.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eko yepe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sungai Bawah Tanah
Gemuruh air yang menghantam bebatuan tajam terdengar seperti rintihan raksasa yang terluka di tengah kesunyian Hutan Larangan.
Subosito, yang raga dan jiwanya kini ditekan hingga batas terendah dalam penyamarannya sebagai Sura, berhasil menemukan celah di balik dinding tebing berlumut.
Di sana, sesuai instruksi Larasati, terdapat pintu masuk menuju sungai bawah tanah yang gelap dan lembab.
Tanpa ragu, Subosito terjun ke dalam aliran air yang suhunya nyaris membekukan tulang. Air ini bukan air biasa; air ini mengalir dari jantung pegunungan kuno yang mengandung mineral penawar racun, sekaligus mampu meredam pancaran energi kinetik maupun termal.
Di dalam air yang pekat itu, Subosito membiarkan tubuhnya terseret arus masuk lebih dalam ke perut bumi.
Di permukaan, hutan itu telah menjadi neraka, suara jeritan kesatria yang tewas dicabik binatang sihir atau dikhianati oleh rekan sendiri bergema hingga ke dalam gua. Namun, di dalam sungai bawah tanah ini, hanya ada keheningan yang menyesakkan.
Setelah beberapa saat terseret, Subosito berhasil memanjat sebuah tepian batu di dalam sebuah gua yang dipenuhi oleh stalaktit yang meneteskan air seperti air mata.
Di sudut gua tersebut, matanya yang tajam dalam kegelapan menangkap sesuatu yang asing: sebuah tempat persemayaman kecil yang tersembunyi. Di sana terdapat sisa-sisa perapian tua dan sebuah gulungan kulit kayu yang telah mengeras.
Subosito mendekati gulungan itu. Tangannya yang gemetar karena kedinginan membuka lembaran kulit kayu tersebut. Di dalamnya, terukir aksara rahasia yang hanya diajarkan di perguruan Resi Bhaskara—aksara Sandisastra.
Jantung Subosito berdegup kencang saat dirinya membaca baris demi baris catatan itu.
"Muridku yang agung, Sang Naga dari Barat. Zirah perakmu adalah mahakarya tertinggiku, lebih kuat dari sayap emas yang sedang aku persiapkan di Lawu. Jika saatnya tiba, biarlah api dan perak berbenturan, agar aku bisa memanen kekuatan dari kehancuran mereka berdua."
Rahasia itu terkuak seperti luka yang disiram cuka. Kesatria Naga Sisik Perak bukanlah sekadar peserta yang kuat; dia adalah "Kakak Seperguruan" rahasia Subosito.
Selama bebetapa bulan Resi Bhaskara melatih Subosito di lereng Lawu, sang guru ternyata juga membidani lahirnya monster perak di wilayah Barat. Bhaskara tidak pernah menginginkan seorang pahlawan; dia sedang menciptakan sepasang senjata yang akan di adu demi kepuasan ambisinya sendiri.
"Jadi..., kita berdua hanyalah bidak catur di tangannya," bisik Subosito dalam batin. Kebenciannya pada Mangkubumi kini bercabang pada rasa dikhianati yang lebih dalam oleh sosok guru yang dia anggap ayah.
Tiba-tiba, getaran hebat mengguncang langit-langit gua. Subosito tahu, sang Naga sedang mengamuk di permukaan, menghancurkan apa pun demi mencari jejak "Matahari" yang sebelumnya sempat tercium.
Subosito segera menyimpan gulungan itu di balik bajunya. Dia harus segera keluar, dia tidak boleh terjebak di sini saat babak penyisihan berakhir.
***
Sementara itu, di jantung Hutan Larangan, pemandangan menyerupai ladang pembantaian. Lencana-lencana emas yang disebarkan seolah menjadi kutukan. Dari ratusan peserta yang masuk dengan penuh ambisi, sebagian besar kini telah menjadi mayat yang mendingin di balik kabut ungu.
Ada yang tewas karena racun, ada yang dikunyah oleh harimau bertanduk sihir, namun mayoritas gugur karena belati yang ditancapkan oleh kawan sendiri dari belakang demi mencuri lencana.
Larasati berdiri tenang di bawah pohon beringin besar yang akar-akarnya menjuntai seperti tirai kematian. Gadis buta itu tidak membawa senjata, namun entah bagaimana, tak ada satu pun makhluk kuno atau peserta beringas yang berani mendekatinya. Aura ketenangan yang dia pancarkan seolah menciptakan dinding tak kasat mata.
Hawa dingin yang menusuk mendadak menyapu dedaunan. Sesosok bayangan perak mendarat dengan dentuman keras di depan Larasati.
Ksatria Naga Sisik Perak berdiri di sana, zirahnya berlumuran darah segar dari peserta lain yang baru saja dia bantai.
Sang Naga menatap Larasati, mata peraknya yang tanpa pupil itu seolah mencoba menembus kabut putih yang menutupi mata sang gadis. Dia mengendus udara, mencari jejak panas emas yang hilang ditelan bumi.
"Di mana dia, Gadis Buta?" suara sang Naga terdengar seperti logam yang dikikir.
Larasati tersenyum tipis, kepalanya miring dengan lembut. "Apa yang kau cari, wahai Naga yang tersesat? Di hutan ini hanya ada bau kematian dan ketakutan. Tak ada cahaya yang kau cari di sini!"
Kesatria Naga melangkah maju, ujung pedang peraknya menggores akar beringin hingga mengeluarkan percikan api. Namun, dia berhenti tepat dua langkah di depan Larasati.
Di merasakan sesuatu yang aneh—sebuah kekosongan yang sangat dalam pada gadis ini. Bagi sang Naga, menyerang Larasati sama saja dengan menyerang udara; tak ada niat, tak ada warna jiwa yang bisa dia jadikan pegangan untuk menyerang.
"Kau beruntung, makhluk tak berguna," desis sang Naga. "Aku tidak akan membuang tenaga untuk membunuh orang cacat yang tak punya ambisi!"
Dengan satu lompatan raksasa, Kesatria Naga melesat pergi menuju arah lain, meninggalkan debu yang beterbangan. Larasati menghela napas panjang, tangannya yang memegang tongkat cendana sedikit bergetar. Dia tahu, sang Naga hanya selangkah lagi untuk menuju kegilaan murni.
Waktu terus berlalu, fajar mulai menyingsing di ufuk timur, membiaskan cahaya jingga yang perlahan mengusir kabut beracun Hutan Larangan.
Di sebuah punggung bukit yang landai, yang menjadi garis finish dari babak penyisihan ini, sekelompok kecil peserta telah berkumpul.
Mereka adalah para penyintas, hanya tiga puluh orang yang berdiri di sana dengan tubuh penuh luka dan pakaian compang-camping.
Di tangan mereka, minimal lima lencana emas tergenggam erat. Di barisan paling depan, tentu saja, adalah Kesatria Naga Sisik Perak yang tampak tak tergores sedikit pun, diikuti oleh beberapa pendekar tangguh dari berbagai daerah yang berhasil bertahan hidup melalui kelicikan atau kekuatan murni.
Panglima Majapahit berdiri di atas bukit, memegang jam pasir yang butiran terakhirnya baru saja jatuh.
"Waktu habis!" seru sang Panglima. "Tutup gerbang penghalang! Hanya tiga puluh kesatria ini yang akan melaju ke babak berikutnya di Istana Trowulan!"
"Tunggu!" sebuah suara parau terdengar dari balik semak-semak di lereng bukit.
Dua sosok muncul dengan kondisi yang mengenaskan. Sura, dengan pakaian goni yang basah kuyup dan kulit yang pucat karena kedinginan, berjalan tertatih-tatih sambil memapah Larasati.
Di tangan kiri Sura, dia menggenggam sepuluh lencana emas—lima untuknya, dan lima untuk Larasati.
Seluruh peserta menoleh dengan tatapan tidak percaya. Bagaimana mungkin seorang kuli bisu dan seorang gadis buta bisa bertahan hidup di neraka itu, apalagi membawa lencana yang cukup untuk berdua?
Kesatria Naga Sisik Perak menyipitkan matanya. Dia merasakan hawa dingin yang luar biasa dari tubuh Sura, sebuah hawa yang sengaja diciptakan untuk menutupi sesuatu yang sangat panas di dalamnya.
Dia teringat pada gulungan rahasia gurunya; mungkinkah ini adalah "adik seperguruan" yang dimaksud?
"Sura nomor 45 dan Larasati nomor 88," gumam petugas pendaftaran sambil memeriksa lencana mereka. "Kalian adalah peserta terakhir yang lolos. Total tiga puluh dua peserta akan melaju ke babak 32 besar!"
Subosito tidak bicara, dia hanya menatap tajam ke arah sang Naga, sebuah tatapan yang kini mengandung lapisan rahasia baru tentang hubungan gelap mereka dengan Resi Bhaskara.
Dia telah berhasil melewati hutan maut ini tanpa melepaskan satu pun percikan api, namun dirinya tahu, babak berikutnya akan memaksanya untuk berdiri di atas panggung di mana tak ada tempat untuk bersembunyi.
Rombongan peserta kemudian digiring keluar dari hutan menuju kompleks istana yang lebih megah. Di sana, sebuah danau buatan yang luas telah disiapkan untuk ujian berikutnya.
Subosito melirik ke arah Larasati. "Terima kasih," bisiknya sangat pelan, nyaris tak terdengar oleh siapa pun kecuali gadis itu.
Larasati hanya mengangguk. "Perjuanganmu baru dimulai, Sura. Musuhmu kini tahu kau ada, meski dia belum yakin siapa kau sebenarnya. Di atas air nanti, kebenaran akan sulit disembunyikan!"
Subosito menatap ke depan, ke arah menara istana yang menjulang. Dia bukan lagi sekadar pelarian; dia adalah kontestan yang kini memegang rahasia yang bisa menghancurkan reputasi gurunya sendiri.
Babak penyisihan telah memakan korban yang tak terhitung jumlahnya, menyisakan tiga puluh dua kesatria terbaik dari seantero jagat. Namun, kemenangan Subosito terasa hambar dengan terungkapnya hubungan Kesatria Naga dengan Resi Bhaskara.
Apakah Subosito mampu menghadapi kakak seperguruannya yang telah dirasuki kegelapan tanpa membongkar penyamarannya? Dan rintangan apa yang akan menanti di tengah danau istana?
Jangan lewatkan babak yang lebih sengit, hanya di Subosito.