Olivia Nugraha, gadis 18 tahun yang baru lulus SMA, terpaksa menggantikan kakaknya, Olin, untuk menikah dengan Juna demi menjaga nama besar keluarga mereka. Ia mencoba melawan, namun Oma selalu selangkah lebih maju. Pernikahan tetap terjadi.
Sementara itu, keberadaan Olin masih menjadi tanda tanya. Benarkah ia kabur? Atau ada alasan lain di balik menghilangnya? Dan mengapa namanya kembali disebut saat ia resmi menjadi bagian dari dinasti?
Karena mungkin… Olivia tidak pernah benar-benar dipilih untuk menggantikan Olin, tapi ia dipilih karena seseorang sudah mengincarnya sejak awal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayyun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Pagi itu terasa… sunyi dan tenang. Tidak ada teriakan, tidak ada paksaan. Semuanya berjalan sangat mulus. Olivia sudah siap sejak subuh. Wajahnya tampak biasa—tenang, bahkan sedikit bosan—persis seperti yang diharapkan semua orang. Di dalam hatinya? Kacau. Namun rencana sudah disusun, dan kali ini… ia tidak boleh gagal.
Mobil yang membawa mereka melaju menuju bandara. Di dalam, Juna duduk di sampingnya. Seperti biasa—tenang, fokus dan sulit ditebak.
“Masih ngambek?” tanyanya ringan.
Olivia mendengus kecil. “Nggak.”
Juna melirik sekilas. Tidak percaya, jelas. Namun ia tidak memaksa. Sementara itu, ponsel kecil di dalam tas Olivia bergetar pelan. Satu pesan masuk.
Sampai bandara, langsung ke rest room lantai 2
Olivia menelan ludah, waktunya. Bandara ramai. Semua berjalan sesuai rencana. Check in, pengamanan, jalur khusus, keluarga besar dan orang-orang Oma.
Semuanya sibuk dengan urusan masing-masing. Di tengah semua itu—Olivia berdiri.
“Gue ke toilet bentar,” katanya santai.
Juna mengangguk. “Cepat.”
Olivia berjalan menjauh. Langkahnya stabil, tidak terburu-buru namun begitu masuk ke dalam rest room—ia langsung bergerak cepat.
Pintu salah satu bilik terbuka. Seorang petugas kebersihan berdiri di sana. Namun saat wajah mereka bertemu—Olivia tahu. Ini bukan petugas biasa. Wanita itu menyerahkan sebuah jaket dan topi.
“Cepat.”
Olivia tidak banyak tanya. Ia mengganti penampilannya secepat mungkin. Beberapa detik kemudian—ia keluar dari pintu belakang yang bahkan tidak pernah ia tahu ada. Lorong sempit, jalur staf, pintu darurat dan di luar—mobil sudah menunggu.
Sementara itu… di ruang tunggu keberangkatan—
“Olivia mana?”
Pertanyaan itu akhirnya muncul. Juna mengangkat wajah.
“Belum balik dari toilet?”
Ratna mulai gelisah. Beberapa orang suruhan Oma langsung bergerak. Masuk ke rest room, memeriksa satu per satu. Namun yang mereka temukan hanya—petugas kebersihan.
“Tidak ada, Bu.”
Hening. Satu detik. Dua detik. Lalu—
“Cari!” perintah Oma Dewi, suaranya tajam.
Bandara yang tadinya biasa saja… berubah tegang, namun Olivia sudah jauh. Mobil yang membawanya melaju cepat keluar dari area bandara.
Dan pria itu… sudah ada di sana. Duduk santai di kursi depan. Seolah semua ini… hanyalah rutinitas.
“Kita ke mana?” tanya Olivia, napasnya masih belum stabil.
“Keluar dari jangkauan mereka dulu,” jawab pria itu singkat.
Mobil melaju, berpindah kendaraan, berpindah jalur. Sampai akhirnya—mereka tiba di sebuah pelabuhan, bukan pelabuhan utama. Lebih sepi, tersembunyi.
Angin laut terasa kencang.
“Cepat,” kata pria itu.
Sebuah boat kecil sudah menunggu. Mesinnya menyala pelan, Olivia sempat ragu, namun suara kendaraan di kejauhan membuatnya sadar. Mereka sudah dekat, orang-orang Oma dan—Juna.
“Naik!” perintah pria itu.
Olivia langsung bergerak. Boat mulai melaju menjauh dari daratan, tapi teriakan terdengar dari belakang.
“Berhenti!”
Olivia menoleh. Mobil-mobil hitam berhenti di pinggir pelabuhan. Beberapa orang turun dan di antara mereka—Juna.
Tatapan mereka sempat bertemu, jarak jauh. Namun cukup menunjukkan ada sesuatu di mata Juna—bukan marah, bukan dingin tapi… sesuatu yang Olivia tidak mengerti.
Boat semakin menjauh, dan dari belakang boat lain menyusul. Lebih besar dan cepat.
“Kejar!” teriak seseorang.
Angin semakin kencang, air mulai bergelombang. Olivia berpegangan erat.
“Ini gila…” bisiknya.
Pria itu tetap fokus. Dan—
DOR!
Suara tembakan membuat Olivia tersentak.
“What the?!”
“Cuma peringatan!” teriak pria itu.
Tembakan berikutnya lebih dekat. Air di samping boat memercik tinggi. Mereka tidak main-main.
“Turun!” pria itu menarik Olivia.
Tiba-tiba gelombang besar datang dan boat oleng membuat keseimbangan hilang. Olivia berteriak dan dengan cepat mencoba berpegangan—namun terlambat.
BRAK!
Boat terbalik. Air dingin langsung menelan mereka. Gelap, dingin dan sunyi. Olivia berusaha berenang tapi tubuhnya terasa berat.
Tidak ada pelampung. Tidak ada arah. Ia mencoba membuka mata—tapi hanya air. Air di mana-mana. Samar-samar—ia melihat bayangan.
Seseorang… menariknya? Atau… hanya ilusi? Napasnya habis, tubuhnya melemah, dan sebelum kesadarannya hilang—ia melihat sesuatu. Siluet. Sosok… yang terasa familiar di atas permukaan—orang-orang berhenti.
Boat mengitari lokasi, tapi tidak ada siapa-siapa. Hanya air dan ombak.
“Tidak ada…” ujar salah satu orang.
Juna berdiri diam, matanya menatap laut, kosong. Rahangnya mengeras.
“Cari lagi.”
Sementara itu—di bawah permukaan laut tangan Olivia ditarik, dan kali ini bukan bayangan. Seseorang benar-benar memegangnya kuat. Menariknya ke arah yang tidak seharusnya ada.
Lebih dalam, lebih gelap dan tepat sebelum semuanya benar-benar hilang—suara samar terdengar di telinganya. Pelan, dekat dan mustahil.
“Liv...”
...***...
Pencarian berlangsung hingga malam benar-benar turun. Lampu sorot dari kapal-kapal kecil menyapu permukaan laut yang gelap, membelah ombak yang semakin liar. Suara mesin perahu bersahutan, namun tetap saja—tidak ada hasil.
Tidak ada Olivia, tidak ada pria itu. Seolah keduanya… ditelan laut. Untuk sementara, Olivia dinyatakan hilang.
Di tepi pelabuhan, suasana mencekam. Oma Dewi berdiri dengan wajah dingin, namun jelas menahan amarah yang hampir meledak. Tatapannya tajam ke arah Juna.
“Ini semua karena kamu.”
Suaranya rendah, tapi cukup untuk membuat semua orang diam. Juna tidak menjawab.
“Dari awal kamu tahu dia tidak setuju dengan pernikahan ini,” lanjut Oma. “Kamu tahu dia keras kepala. Tapi kamu tetap percaya begitu saja?”
Hening.
“Di mana tanggung jawabmu sebagai suami?”
Pertanyaan itu menggantung, namun Juna tetap berdiri tegak. Rahangnya mengeras, tapi ekspresinya tetap terkendali. Di sisi lain, Ratna justru menangis dalam pelukan suaminya.
“Anak kita…” suaranya bergetar. “Olive… dia selamat kan…”
Tidak ada yang bisa menjawab dan justru itu yang paling menakutkan.
Keesokan paginya, pencarian dilanjutkan.
Tim tambahan diturunkan. Area diperluas, tapi hasilnya… masih sama. Kosong.
Sementara itu, di kampus—Suasana kelas berjalan seperti biasa. Hingga tiba-tiba, pintu terbuka. Beberapa pria berpakaian formal berdiri di sana. Tatapan mereka langsung mengarah ke satu orang. Jesica.
“Silakan ikut kami.”
Jesica tersentak. Jantungnya langsung berdegup kencang. Beberapa mahasiswa mulai berbisik, suasana mendadak tegang. Namun Jesica tidak punya pilihan, ia berdiri dan mengikuti mereka keluar.
Langkahnya terasa berat saat memasuki ruang rektor tapi yang ia lihat di dalam bukan hanya rektor. Oma Dewi sudah duduk di sana dengan beberapa pengawalnya. Dan seorang wanita asing yang duduk di samping, dengan tatapan tajam dan penuh analisa. Jesica menelan ludah. Permainan dimulai.
“Duduk,” kata Oma singkat.
Jesica menurut. Tangannya dingin, tapi wajahnya berusaha tetap tenang. Wanita di samping Oma mulai berbicara.
“Kamu terakhir bersama Olivia kemarin?”
Jesica mengangguk pelan. “Iya.”
“Di mana dia sekarang?”
Jesica menunduk, pura-pura bingung. “Saya… nggak tahu, Bu.”
Tatapan Oma langsung berubah tajam. “Jangan bohong.”
Jesica mengangkat wajah, matanya mulai berkaca-kaca.
“Aku beneran nggak tau Oma…”
Nada suaranya gemetar. Bukan sepenuhnya akting—karena sebagian dari itu memang nyata. Ia memang tidak tahu… apakah Olivia selamat atau tidak. Wanita itu memperhatikan setiap gerak-geriknya.
“Dia kabur. Kamu pasti tau sesuatu.”
Jesica menggeleng cepat. “Aku nggak berani, Oma…” suaranya melemah. “Dulu aja aku bantu dia… aku hampir kena masalah besar…”
Ia menarik napas, seolah trauma itu kembali. “Aku nggak mau ngulang lagi…”
Hening. Oma masih menatapnya tajam, belum percaya.
“Periksa.”
Hanya satu kata, dan dua orang langsung maju. Jesica menegang, tasnya diambil dan dibuka. Satu per satu isinya diperiksa. Buku, dompet, kosmetik. Tidak ada yang mencurigakan.
“Ponsel.”
Jesica menyerahkan ponselnya, tangannya dingin, namun ia tetap berusaha terlihat wajar.
“Password.”
Ia menyebutkannya. Ponsel dibuka, isi chat diperiksa, foto-foto dilihat, semua… normal. Percakapan terakhir dengan Olivia hanya berisi keluhan. Tentang Swiss, tentang kesal, tidak ada rencana, tidak ada rahasia, tidak ada pria misterius.
Ponsel kedua? Aman. Jauh dari jangkauan.
Sesuai instruksi.
Beberapa menit berlalu. Akhirnya, wanita itu menoleh pada Oma dan menggeleng kecil. Bersih. Oma menghela napas pelan. Tatapannya masih tajam, tapi kini sedikit melunak. Jesica menunduk menahan napas menunggu, sampai akhirnya—
“Sudah,” kata Oma.
Orang-orang itu mundur. Jesica hampir saja terkulai lemas, tapi ia tetap bertahan. Ia mengangkat wajah, kini benar-benar cemas.
“Oma…” suaranya pelan. “Jadi Olivia… gimana?”
Hening. Semua mata tertuju pada Oma. Beberapa detik berlalu dan untuk pertama kalinya—ekspresi Oma tidak sepenuhnya terkendali.
“…Belum ditemukan.”
Jawaban itu seperti menghantam Jesica, jantungnya terasa jatuh.
“Belum…?” ulangnya lirih.
Tidak ada tambahan penjelasan dan tidak ada kepastian. Hanya satu hal—Olivia masih hilang. Jesica keluar dari ruangan itu dengan langkah lemah.
Dunia terasa sunyi, namun di dalam pikirannya—
kacau. Ia tau rencananya sampai laut, ia tau Olivia kabur. Tapi setelah itu… Tidak ada kabar.l, tidak ada tanda dan tidak ada apa-apa.
Apakah Olivia selamat? Atau… Benar-benar hilang? Jesica menggenggam tasnya erat, ia benar-benar merasa takut kehilangan sahabatnya.
Di waktu yang sama, jauh dari kota… di suatu tempat yang tidak dikenal—mata Olivia perlahan terbuka. Namun yang ia lihat bukan langit ataupun laut. Melainkan langit-langit asing, dan suara seseorang di dekatnya berkata pelan—
“Jangan gerak dulu… kalau nggak mau mati beneran.”