Butuh waktu mengenal dan butuh perjuangan untuk mempertahankan sebuah perasaan . Jika sudah ada kesepakatan maka ikatan akan membuat sebuah hubungan menjadi sakral .
"Cintaku bukan cinta sesaat dan bukan sekedar kata kiasan ," bisik hati yang memendam perasaan .
Apakah cinta itu akan berlanjut atau hanya sementara waktu ?
ikuti kisahnya hanya di sini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anyue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 27. BCS
Prasasti melihat papanya merasa bersalah, ia menentang larangan papanya ikut lomba selancar. Baginya selancar bukan hanya sekedar perlombaan tapi hobi, ia sering memenangkan lomba selancar bahkan sampai ke luar negeri.
Fabio melihat Prasasti merasa sangat sedih, ia teringat waktu Prasasti tenggelam dan pingsan sampai berminggu-minggu yang membuat istrinya terkejut sampai terkena serangan jantung mendadak dan akhirnya meninggal. Fabio tidak mau kejadian menimpa Prasasti kedua kalinya dan takut jika Prasasti meninggal.
“Pa, aku tidak apa-apa, lihat aku baik-baik saja kan," Prasasti memperlihatkan dirinya dalam keadaan baik tanpa cidera sama sekali.
"Bukan berarti kamu seenak hati ikut ajang selancar lagi, Papa tidak akan pernah mengijinkanmu selamanya," tegas Fabio menangkup wajah Prasasti.
"Aku bukan anak kecil yang selalu diawasi dua puluh empat jam, aku sudah besar dan sudah punya suami sekarang, Papa tidak berhak mengatur aku lagi dengan kehendak Papa," Prasasti mencoba memberi pengertian kepada Fabio papanya.
"Iya, Papa tahu itu. Tapi kamu masih dalam pantauan Papa, bagaimanapun juga kamu anak Papa, sampai kapanpun tetap anak Papa," sahut Fabio merasa takut kehilangan.
Albi, Abdi dan Khasanah mendengar anak dan bapak merasa terharu. Seorang Fabio bisa luluh karena kerasnya Prasasti. Tidak ada orang tua yang mau kehilangan seorang anak karena, anak adalah pelita hati yang harus dilindungi dan dikasihi juga di sayang.
"Iya, Pa. Aku tahu Papa sayang sekali sama aku. Maaf aku selalu membangkang," ucap Prasasti mengusap airmata yang keluar.
"Kamu juga bagian dari hidupku, dan kita akan selalu bersama, ingat itu. Kamu juga tanggung jawabku,“ ucap Albi menyela pembicaraan mereka.
Fabio dan Prasasti menatap Albi lalu tersenyum, Albi merasa diledek mereka berdua menahan rasa malu mengalihkan pandanganya. Khasanah dan Abdi suaminya geleng-geleng kepala melihat sikap Albi yang begitu cemburu.
"Apa kamu sadar kalau kamu cemburu terhadap ayah kepada anaknya?" tanya Abdi berbisik ditelinga Albi.
Albi berdecak sambil mengumpat kesal. Rasanya ingin bersembunyi biar tidak ada yang tahu wajahnya karena ditertawakan oleh kedua orang tuanya.
"Kalau begitu, Papa pulang dulu. Nanti kalau tidak sibuk Papa luangkan waktu menjengukmu," Fabio berpamitan kepada anaknya dan menantu juga besan Abdi dan Khasanah.
Albi duduk disamping istrinya yang terbaring lemah." Maafkan aku, sudah membuatmu khawatir,"
"Jangan menyalahkan dirimu sendiri, yang penting kamu selamat. Harusnya aku yang meminta maaf, karena tidak menjagamu," ucap Albi sambil mencium tangan Prasasti.
"Aku lelah dan mengantuk, bolehkah aku tidur?" pinta Prasasti tidak lama kemudian memejamkan mata.
Albi semakin merasa bersalah melihat Prasasti tidur dalam kondisi sakit. Ingin rasanya menggantikan rasa sakit istrinya namun, bukan kehendaknya melakukannya. Albi ikut memejamkan mata disamping istrinya.
__________
Disebuah club tiga orang sedang menikmati pesta perayaan atas jatuhnya sepasang suami istri siapa lagi kalau bukan Albi dan Prasasti. Mereka bertiga tertawa senang karena rencananya berhasil.
"Aku yakin mereka berdua sekarang tidak bisa berbuat macam-macam sama kita," kata Gael sambil meneguk minuman beralkohol.
"Benar juga, karena secara fisik tubuh mereka sudah tidak sempurna," sahut Dorman membenarkan perkataan Gael.
"Tapi aku ragu, dengan istrinya. Kondisi fisiknya sangat kuat, mungkin saat ini lemah tapi suatu saat nanti pasti ada dendam diantara mereka. Kita harus waspada," ucap Rosmaya dengan wajah serius.
Gael dan Dorman saling menatap kemudian menegak minuman bersama. "Sudah bukan waktunya membicarakan mereka, sekarang nikmati keberhasilan kita, karena sudah membuat mereka berdua mengalami kecelakaan,"
Rosmaya mengangguk mengambil minuman digelas dan meneguknya sampai habis. Senyum smirk diwajahnya menyiratkan dendam membara.
"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Gael melihat Rosmaya.
"Membunuh istrinya dan mengambil harta Albi," jawab Rosmaya dengan yakin.
"Apa kamu sudah memikirkan dampaknya?" tanya Dorman meragukan kemampuan Rosmaya.
Rosmaya melempar benda didekatnya ke arah Dorman. Dorman menangkap dengan cepat lalu meletakkan benda tersebut di atas meja.
Dorman mengambil sebuah kertas yang sudah ditanda tangani oleh seseorang memberikan kepada Rosmaya. "Kamu baca dulu itu,“
Rosmaya mengambil kertas dan membacanya dengan serius sampai berulang kali. Lalu menatap Dorman sinis. "Kamu pikir aku mudah dibohongi dengan hal semacam ini, kuno sekali pemikiranmu,"
"Kamu terlalu memandang orang lain rendah, sesekali kamu butuh wejangan agar otak dan hati sinkron," kata Dorman.
Seorang perempuan datang menghampiri mereka bertiga dengan elegan dan bergabung duduk disamping Dorman dengan santai sambil minum yang ia bawa lalu meletakkan diatas meja.
“Apa ada yang bisa aku bantu?“ tanya perempuan cantik dengan pakaian serba hitam membuatnya terlihat seksi dan menawan.
"Boleh, kalau tidak keberatan," jawab Gael menatap dengan penuh nafsu melihat perempuan cantik didepannya.
“Apa?“ tanya perempuan tersebut menatap satu per satu orang di tempat tersebut.
"Membunuh pria ini atau mengusir dari negara, kalau perlu lempar ke laut sekalian, biar tidak ada yang mengetahui keberadaannya,“ kata Rosmaya dengan wajah sengit lalu meneguk minumannya.
Perempuan itu menatap Rosmaya dengan santai. "Bukankah dia pengusaha kaya raya yang baru saja mengalami kecelakaan beberapa waktu lalu,"
"Iya, memangnya kenapa? Apa kamu tidak punya nyali membunuhnya?" Rosmaya menatap perempuan tidak suka karena melawannya.
"Kamu meragukanku, atau kamu sendiri yang tidak bisa membunuhnya, kamu lihat sendiri dia selamat dari maut," kata perempuan itu bersedekap dada menatap Rosmaya.
"Aku tidak suka sama orang yang banyak bicara, lebih baik kamu kerjakan atau kamu sendiri yang akan menggantikannya," ancam Rosmaya.
Perempuan itu tertawa kecil mendengar perkataan Rosmaya. "Kamu tidak mengenalku hanya bisa cerewet tanpa menunjukkan keahlianmu. Pengecut beraninya dibelakang layar,"
Rosmaya merasa tersindir beranjak meninggalkan mereka. Gael dan Dorman mengikutinya sambil melirik perempuan tersebut dengan senyum mengejek.
Perempuan itu mengumpat kesal melihat ketiga orang itu meninggalkannya. "Dasar tidak tahu sopan santun. Kalian pikir aku akan melakukannya, tentu saja tidak. Kita tunggu saja nanti hasilnya. Kamu akan terkejut,"
Perempuan itu menghubungi seseorang. "Persiapkan dirimu mulai sekarang. Berhati-hati saat keluar rumah, lihat situasi dan jangan lengah sedikitpun, pergerakan mereka sangat pintar,"
“Baiklah, aku akan memberitahu yang lain untuk berjaga," sambung seseorang diseberang kemudian mereka memutuskan panggilan.
___________
Beberapa jam kemudian di rumah sakit, Prasasti terbangun merasa tenggorokannya kering. Ia mengambil minum di atas meja tangannya menyentuh sedikit. b
Baru berhasil meraih justru terjatuh membuat Albi terbangun melihat istrinya terbangun ditengah malam. “Kamu mau kemana?"
"Aku haus,"jawabnya dengan suara khas bangun tidur.
Albi mengambil gelas yang berisi air mineral memberikan kepada Prasasti. Lalu diteguknya oleh Prasasti sampai habis.
“Aku merasa ada yang sengaja membuatku celaka," kata Prasasti dengan cemas.