Di dunia yang dikendalikan elite global, Rafael Alkava tumbuh sebagai anak buangan yang seharusnya tidak pernah hidup. Tanpa mengetahui asal-usulnya, ia bangkit dari kemiskinan, menaklukkan dunia trading, dan berangkat ke Amerika demi mencari kebenaran tentang dirinya.
Namun langkahnya justru menyeret Rafael ke dalam konflik mafia internasional, konspirasi negara, dan organisasi bayangan yang menguasai dunia dari kegelapan. Perlahan, ia menyadari bahwa hidupnya adalah bagian dari perang lama yang belum pernah berakhir.
Ketika semua rahasia terbuka, satu pertarungan mematikan mengubah segalanya.
Rafael Alkava dinyatakan mati.
Tapi di balik kematian itu, sesuatu justru mulai terbangun—
dan dunia akan segera tahu bahwa kesalahan terbesar mereka adalah membiarkannya hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Chitholl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lelah yang Tak Seharusnya
Taman Pemakaman Umum – Sore Hari.
Rafael menyetir dengan autopilot, pikirannya terlalu penuh untuk fokus pada jalan. Tapi muscle memory mengambil alih, membawanya ke destination berikutnya.
TPU—Taman Pemakaman Umum di pinggiran kota. Tempat yang tenang, dengan deretan nisan berbaris rapi, pohon-pohon tua memberikan shade, dan atmosfir yang nyaman.
Rafael parkir McLaren di area parkir yang hampir kosong. Dia keluar, berjalan menuju kantor kecil di entrance pemakaman.
Seorang pria tua duduk di kursi, petugas yang menjaga makam. Berusia sekitar enam puluhan, memakai seragam hijau, wajah yang lapuk tapi terlihat baik.
"Permisi," kata Rafael.
Petugas menoleh, mata melebar sedikit saat melihat McLaren yang parkir di luar, lalu melihat Rafael yang jelas bukan visitor biasa.
"Ada yang bisa saya bantu, Nak?"
Rafael menarik napas. "Saya mencari... makam saya sendiri."
Petugas freeze. "Maaf, gimana?"
"Iya, saya kesini mencari makan saya sendiri," Rafael memperjelas.
"Atas nama Rafael Alkava."
Petugas menatap Rafael seperti melihat hantu, yang secara teknis, dia memang melihat orang yang seharusnya sudah mati.
"Nak," kata petugas dengan hati-hati,
"ini bukan lelucon yang lucu."
Rafael mengeluarkan ID card-nya, menunjukkan bukti.
"Saya serius pak. Enam bulan lalu saya dinyatakan meninggal. Tapi saya masih hidup. Saya perlu melihat nisan saya."
Petugas mengambil ID, memeriksa dengan teliti. Foto di ID match dengan wajah di depannya. Nama match dengan yang Rafael sebutkan.
"Astaga," bisik petugas.
"Kasus medis yang di TV itu? Orang yang hidup lagi setelah dinyatakan mati?"
Rafael mengangguk.
Petugas menggelengkan kepala dengan penuh keheranan.
"Sekarang dunia memang sudah terlihat aneh. Baiklah, Nak. Mari ikut saya."
Mereka berjalan bersama, melewati deretan nisan, menginjak rumput yang hijau dan terawat dengan baik. Sunset mulai turun, memancarkan cahaya oranye di seluruh pemakaman.
Setelah berjalan beberapa menit, petugas berhenti.
"kita sudah sampai," katanya sambil menunjuk.
Rafael menatap nisan di depannya.
Nisan marmer putih yang simple. Di atasnya terukir:
RAFAEL ALKAVA
2025 - 2042
REST IN PEACE
Rafael merasakan sesuatu yang sangat sulit dijelaskan. Melihat nama sendiri di nisan.
Melihat tanggal lahir dan tanggal "meninggal". Melihat epitaph yang ditulis oleh orang lain.
Ada perasaan yang aneh. Seperti melihat realitas alternatif dimana dia benar-benar mati.
"Nak," petugas bicara dengan hati-hati,
"apa yang mau Anda lakukan?"
Rafael menoleh. Dia mengeluarkan dompet—menarik uang tunai. Ribuan dollar dalam dompet.
"Saya mau nisan ini dicabut," katanya sambil menyerahkan uang ke petugas.
Petugas menatap cash dengan mata yang melebar. "Nak, ini terlalu banyak—"
"Ambil saja," potong Rafael.
"Dan tolong cabut nisan ini secepat mungkin."
Petugas ragu. "Saya perlu lihat dokumen. Identitas dan surat izin dari pihak pemakaman."
Rafael mengeluarkan ID-nya lagi, plus beberapa dokumen yang Daniel sediakan—medical records yang menyatakan dia hidup, death certificate yang di-void.
Petugas memeriksa semua dokumen dengan teliti. Lalu mengangguk.
"Baik," katanya sambil tersenyum—smile yang genuine.
"Saya akan urus ini besok pagi. Nisan akan dicabut dan area ini akan dikembalikan ke kondisi normal."
"Terima kasih," kata Rafael.
Dia menatap nisan-nya untuk terakhir kali. Lalu berbalik dan berjalan pergi.
***
Riverdale Modern Estate – Malam Hari
Rafael tidak langsung pergi ke AGE seperti rencana awal. Hari ini sudah terlalu berat. Terlalu banyak pengungkapan. Terlalu banyak emotions.
Dia butuh waktu untuk memproses semuanya.
Jadi dia pergi ke Riverdale, mansion baru yang Seraph pilihkan untuknya.
Sesampainya di sana, sudah sore menjelang malam. Langit berubah dari orange menjadi purple, lalu slowly ke dark blue.
Mansion berdiri megah, modern architecture dengan banyak dinding kaca, minimalist design yang elegant, landscape yang terawat sempurna.
Di dalam mobil, Rafael menemukan kunci rumah, gantungan kunci eletronik atau key fob digital yang Seraph tinggalkan. Dia keluar dari McLaren, berjalan ke pintu depan, scan key fob.
Pintu terbuka dengan bunyi beep yang soft.
Interior mansion exactly seperti yang Seraph deskripsikan. Modern minimalist dengan accent kayu. Smart home system yang kontrolnya ada di tablet yang dipasang di dinding. Furniture yang dengan hati-hati dipilih sesuai dengan selera Rafael yang Seraph entah bagaimana tahu.
Ruang tamu konsep terbuka dengan langit-langit tinggi, chandelier modern yang elegant, sofa sectional yang huge dan comfortable, TV 85 inch tertempel sempurna di dinding.
Rafael melepas kemejanya, melemparkan ke sofa dengan gerakan yang ceroboh. Dia hanya pakai kaos dalam sekarang, jeans, bertelanjang kaki.
Dia duduk di sofa dengan gerakan kasar, membiarkan dirinya runtuh. Menatap ke langit-langit dengan pandangan yang blank.
Walaupun rumah barunya terasa nyaman dan jauh lebih bagus dari apartemen lama, Rafael merasa hambar dengan semua ini.
Pikirannya masih tertuju kepada orang tuanya. Kepada Samuel dan Raisha. Kepada pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab.
*Kenapa mereka membuangku?*
*Dimana mereka sekarang?*
*Apa yang sebenarnya terjadi?*
Rafael merebahkan diri di sofa, berbaring datar, satu tangan di atas mata, menghalangi cahaya dari lampu gantung.
Lalu memory muncul. Memory dari beberapa bulan lalu, sebelum tragedy yang membuat dia "mati".
***
Flashback – Apartement – Beberapa Bulan Lalu.
Rafael dan Ryzen bertengkar, perdebatan sengit yang terdengar di seluruh ruangan.
"GUE NGGAK AKAN BIARKAN ALVIN MENGHADAPI MAFIA SENDIRIAN!" teriak Rafael.
"DAN GUE NGGAK AKAN BIARKAN LO BUNUH DIRI HANYA KARENA LO MAU MAIN HERO!" Ryzen teriak balik.
"INI BUKAN TENTANG MAIN HERO!" Rafael frustrasi.
"INI TENTANG MELAKUKAN HAL YANG BENAR!"
"HAL BENAR HUH?!" Ryzen tertawa—tawa yang sarkas, yang bitter.
"LO MAU TAU APA YANG BENAR? TETAPLAH HIDUP! ITU YANG BENAR!"
Rafael mencengkeram kerah baju Ryzen.
"Kalau lo nggak mau bantu, fine. Gue akan lakuin sendiri."
Ryzen menepis tangan Rafael dengan rough.
"Lo pikir gue akan biarkan lo pergi sendirian?"
Dia menarik napas, mencoba untuk menenangkan diri.
"Fine," kata Ryzen dengan suara yang lebih controlled sekarang.
"Kalau lo keras kepala mau tetap lakukan ini, gue akan panggil mereka."
"Mereka?"
"Lo akan tahu setelah mereka datang," Ryzen menjawab.
"The profesional tim."
Rafael sudah bisa menebak ini. Ryzen pernah mention, ada network global. Tapi dia belum pernah mendengar semuanya.
Dia menatap Rafael.
"Gue akan panggil mereka semua untuk datang ke Amerika. Karena musuh yang akan kita hadapi adalah musuh yang sangat kuat. Mereka bertiga bukan orang sembarangan, mereka bukan orang yang bisa diremehkan. Mereka punya resource, manpower, dan backing dari elite global."
Rafael menatap Ryzen. " Apa maksud lo Elite global?"
Ryzen mengangguk, dan untuk pertama kalinya, dia mengungkapkan truth.
"Gue adalah bagian dari organisasi Valhalla," katanya.
"Organisasi yang melawan elite dunia dengan dosa."
***
Bersambung...
cerita tak monoton seperti novel bertemakan mafia atau CEO sama Y/N gituhhhh 😜, dan terima kasih buat Mimin yg bikin novel ini, guehh suka nya kebangetan Ama ni novel ,Semangat terus bang.