NovelToon NovelToon
PELAKOR UNTUK MADU-KU

PELAKOR UNTUK MADU-KU

Status: tamat
Genre:Selingkuh / Penyesalan Suami / Menyembunyikan Identitas / Tamat
Popularitas:364.3k
Nilai: 5
Nama Author: Mama Mia

Almira Abimanyu, di hari ia mengetahui kehamilannya, wanita itu berniat memberi kejutan untuk Gilang, suaminya.

Namun, Gilang justru pulang membawa kejutan yang menghancurkan segalanya. Seorang wanita bernama Lila diperkenalkan sebagai istri keduanya. Dan lebih menyakitkan, Lila juga tengah mengandung.

Saat itu Almira sadar, pernikahannya selama ini hanyalah sandiwara.

Dengan air mata yang diseka dan senyum yang terbit perlahan, Almira mulai menyusun langkah. Bukan untuk meratap, melainkan untuk membalas.

Karena ketika seorang wanita berhenti menangis, sesungguhnya ia sedang bersiap melakukan sesuatu yang tak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

27

.

Ketika hari telah sore, Gilang pulang dengan langkah lesu. Ia keluar dari mobilnya sambil mengangkat sebuah kardus besar yang berisi buku-buku dan peralatannya selama bekerja di perusahaan. Semua itu tak lagi berguna di jabatannya yang baru yang hanya sebagai staf biasa. Wajah pria itu terlihat pucat dan matanya sayu.

Lila yang mendengar kedatangan mobil Gilang segera berjalan cepat untuk menyambut kedatangan sang suami di depan pintu. Wanita itu mengerutkan keningnya melihat kardus besar yang dibawa Gilang.

"Apa itu, Mas Gilang?" tanya Lila penasaran.

Gilang melangkah masuk sambil tersenyum getir, meletakkan kardus itu di atas lantai ruang tamu, selalu menghempaskan tubuhnya di salah satu sofa. "Jabatan aku diturunkan, Lila," ucap Gilang dengan suara lirih. "Aku tidak lagi menjabat sebagai manajer. Jadi buku-buku ini tak lagi berguna di perusahaan."

Lila terkejut mendengar ucapan Gilang. Matanya langsung memicing, tampak khawatir. "Apa Mas? Diturunkan jabatan?" tanya Lila tidak percaya. "Kok bisa?"

Sebelum Gilang menjawab, Bu Rosidah dan Riana yang baru saja muncul dari kamar mereka, ikut bertanya tak percaya.

"Apa?! Diturunkan jabatan?" teriak Bu Rosidah dengan nada histeris. "Kenapa bisa begitu, Gilang? Bagaimana nasib kita sekarang?!" Matanya membulat sempurna, dengan tubuh yang bergetar hebat akibat rasa tak rela.

Riana tak kalah paniknya. "Iya, Mas Gilang! Kalau kamu jabatan turun, berarti gaji bulanan juga pasti turun dong! Kita tidak bisa lagi belanja dan jalan-jalan seperti dulu!"

“Iya Mas," sahut Lila. “Aku nggak mau ya jatah bulanan ku turun. Aku butuh perawatan ke salon, dan juga periksa dokter kandungan."

Mendengar ucapan istri, ibu, dan adiknya, Gilang merasa semakin frustrasi. Ia sendiri sedang stress, tapi mereka bertiga tidak memikirkan kondisinya.

"Kalian ini kenapa sih?" sentak Gilang kesal. "Aku ini sedang susah, tahu?! Kenapa kalian malah memikirkan belanja dan salon?"

"Ya, iya dong," balas Bu Rosidah membela diri. "Hidup ini butuh gaya, untuk gaya butuh biaya. "

Dalam situasi tegang itu, tiba-tiba Mbak Rini muncul dengan nampa berisi gelas jus jeruk. “Silakan diminum dulu jusnya, Pak.” Rini mengulurkan gelas itu pada Gilang. "Semoga ini bisa sedikit mendinginkan kepala Bapak."

Pria itu segera menerima gelas tersebut. Jus jeruk dengan bongkahan es batu di dalam gelas kristal, benar-benar terlihat menggiurkan. Bagaikan musafir yang melihat oase di padang pasir. Segera meneguk isinya hingga tertinggal separuh.

"Terima kasih, Rini,” ucap Gilang sambil tersenyum ke arah gadis itu.

Rini mengangguk lalu menatap ke arah ketiga wanita yang duduk berseberangan dengan Gilang. "Maaf, Bu, Mbak, Pak Gilang itu sedang dalam posisi kesusahan, seharusnya kalian memberi dukungan, bukan malah memikirkan diri kalian sendiri!"

Ucapan Mbak Rini itu membuat Gilang merasa ada seseorang yang benar-benar memahaminya. Gilang merasa Mbak Rini lebih mengerti dirinya daripada ibu, istri dan adiknya.

"Heh, pembantu! Apa urusanmu ikut campur?!” Lila membentak Rini karena merasa kesal dengan gadis itu yang tiba-tiba muncul di tengah percakapan mereka. “Kamu memang sengaja mencari perhatian Gilang, kan?!" tuduh Lila dengan mata melotot merah.

Rini bergerak mundur lalu berdiri di samping sofa yang diduduki oleh Gilang dengan kepala tertunduk. Kedua tangannya saling meremas di depan tubuh. "Saya tidak bermaksud seperti itu, Mbak," ucap Rini lirih, suaranya bergetar seolah menahan rasa takut. “Maaf, Pak. Saya hanya… Saya tidak tega melihat Bapak sudah kelelahan lalu di pojokkan,” tambahnya.

“Kamu benar-benar mau cari masalah denganku ya?!” Lila merangsek maju untuk menyerang Rini.

"Ampun, Mbak.” Rini bergerak mundur sambil melindungi wajahnya dengan dua tangan. Tubuhnya terlihat semakin bergetar ketakutan.

Melihat sikap Lila yang seperti itu, Gilang yang semula duduk bersandar segera berdiri untuk melindungi Rini. Raut wajah pria itu terlihat semakin kesal. "Sudah cukup, Lila!" bentak Gilang. Suaranya bergema di seluruh ruangan.

"Kamu melindungi dia, Mas?” Lila melotot tidak percaya.

"Aku tidak membela," teriak Gilang. “Tapi kenyataannya, apa yang diucapkan Rini benar! Seharusnya kamu sebagai istriku, bisa mengerti diriku! Memahami apa yang aku rasakan, memberikan dukungan. Bukan malah marah-marah tidak jelas. Tapi nyatanya apa? Malah Rini yang hanya seorang pembantu bisa mengerti diriku. Kamu benar-benar membuat aku kecewa!”

Bu Rosidah dan Riana saling pandang. Apa yang baru saja diucapkan oleh Gilang memang benar. Lila sama sekali tidak mengerti kondisi putranya.

Di belakang Gilang, Rini menangis terisak dengan wajah tertunduk. Tetapi tak ada yang tahu, bahwa di sudut bibirnya tersungging senyum licik.

“Bagus,” gumam Rini dalam hati. “Terus saja berselisih paham. Dengan begitu rencana bu Mira akan semakin cepat berjalan.”

“Rini, kamu kembali ke belakang saja, ya," ucap Gilang halus. "Aku minta maaf atas nama istriku,” lanjutnya.

"Saya nggak apa-apa kok, Pak,” ucap Rini sambil mengangguk. "Mungkin itu bawaan hormon ibu hamil.”

Gilang tersenyum dan mengucapkan terima kasih atas jus yang diberikan oleh Rini.

Lila membelalakkan matanya. Kepada Rini, Gilang bisa dengan begitu halus, sementara tadi pria itu membentaknya tanpa ragu. Kebencian Lila terhadap Rini semakin besar.

Gilang pergi ke kamarnya setelah Rini kembali ke belakang. Pria itu memilih membersihkan badannya daripada menanggapi Lila.

Beberapa menit kemudian pria itu telah kembali ke ruang tengah dengan kondisi lebih segar.

“Maaf Pak," ucap Rini yang kembali menghampiri. "Makanan sudah siap jika Bapak ingin bersantap sekarang," lanjutnya.

Gilang pun mengangguk kemudian mengikuti langkah Rini ke meja makan diikuti oleh yang lain. Saat mereka sudah duduk di ruang makan, Gilang baru menyadari ketidakhadiran Almira.

"Almira mana?" tanya Gilang dengan nada penasaran. "Kenapa dari tadi aku tidak melihatnya?"

Lila yang sudah siap memasukkan makanan ke dalam mulutnya, menoleh. Wanita itu menjawab dengan nada ketus, "Almira belum pulang."

"Belum pulang?" tanya Gilang dengan nada heran sambil menarik kursi dan duduk. "Sejak kapan dia pergi?"

Bu Rosidah yang sudah mulai menyendok nasi, menjawab tanpa menatap Gilang, "Sejak pagi," jawab Bu Rosidah singkat.

Gilang semakin mengerutkan keningnya. "Ke mana dia pergi dari pagi sampai sekarang?" tanya Gilang penasaran.

Bu Rosidah mencibir, menatap Gilang dengan tatapan merendahkan. "Seperti itulah istri tuamu itu," ucap Bu Rosidah dengan nada sinis. "Seenaknya sendiri. Dan semakin susah diatur."

"Ibu!" tegur Gilang kesal. Seharusnya ibunya tidak berbicara seperti itu jika ada Rini.

"Karena memang begitu kenyataannya, Gilang!" balas Bu Rosidah dengan nada tinggi.

Gilang menatap ke arah Rini. "Rini, Apa ibu bilang pergi kemana?"

“Tidak, Pak,” jawab Rini. “Tapi nggak papa kok kalau Bapak makan sekarang. Lagi pula Bapak kan baru pulang kerja, pasti lelah dan lapar. Harusnya Bu Almira maklum."

Gilang tersenyum mendengar jawaban itu. "Rini benar-benar mengerti aku,” gumamnya dalam hati.

Rini berpamitan ke belakang, setelah mengambilkan makanan untuk Gilang. Gilang menatap kepergian Rini dengan tatapan penuh arti. Pinggul gadis itu yang naik turun ketika berjalan membuatnya menelan ludah.

Mata Lila menyipit, tangannya terkepal. "Awas kamu Rini!” batinnya.

1
v_cupid
suka banget endingnya
v_cupid
❤️👍
v_cupid
❤️
v_cupid
keren
v_cupid
😂 bisa bisanya
v_cupid
bagus
Cinta Rodriques
gilang dipecat g punya pekerjaan,tp kn masih punya 🍆 biar istri2x ksh mkn terong aja
Cinta Rodriques
Rini melakukan itu untuk balas dendam rasa sakit hatix Almira....
Ninik Srikatmini
hmmmm orang jahat akan hancur..
Ninik Srikatmini
waaah arka bnr2 deh... kecil2 cabe rawit😃
Ninik Srikatmini
🥰🥰
Ninik Srikatmini
gilang ga' pny malu..
Ninik Srikatmini
hmmmmm karma dtng berturut turut..
Ninik Srikatmini
ayo menagis berjama'ah dgn kel mu lang.. nyesel kan
Ninik Srikatmini
😋😋😋
Ninik Srikatmini
gilang gilang ra duwe isin blas..
Ninik Srikatmini
kapoooook
Ninik Srikatmini
😅😅😅
Ninik Srikatmini
nenek itu ibunya gilang ya
Ninik Srikatmini
lengkap sdh deritamu lang... kmbalilah ke asalmu wkwkwk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!