Ranaya Aurora harus rela mengakhiri hubungan asmaranya dengan sang kekasih karena perselingkuhan. akibat dari itu, Naya tidak lagi percaya cinta dan pria sehingga memutuskan untuk tidak akan pernah menikah.
akan tetapi, tuntutan keluarga membuatnya harus menikah. Aero Mahendra menjadi pilihan Naya, lelaki asing dengan usia empat tahun di bawahnya. Walaupun pernikahan itu di tentang keluarga hanya karena perbedaan status sosial, Naya kekeh memilih Mahen atau tidak menikah sama sekali.
Bagaimana Naya menjalani pernikahan dan hidup bersama Mahen?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon intan_fa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tuntutan Keluarga
Andro heran melihat tingkah Tuannya itu panik tidak bisa seperti biasanya.
"A–ada masalah apa, Tuan?" Andro memberanikan diri bertanya.
"Naya, Ndro ... Naya ...."
"Ada apa dengan Nona Naya? Dia marah, kah?"
"Gak marah!"
"Lalu apa? Apa jangan-jangan Nona Naya tahu identitas Tuan?"
"Bukan begitu, tapi Naya mengajakku menikah!" ungkap Mahen.
"Wiihhh Tuan ada yang ngajak nikah. Selamat ... Selamat ..." ujar Andro bertepuk tangan .
Mahen kesal dan menjitak kepala Andro. "Kau ini malah bercanda."
"Saya tidak bercanda Tuan. Saya hanya mengucapkan selamat saja."
"Konteksnya buka seperti itu!"
"Maaf ... Maaf ... Silakan Tuan jelaskan sejelas-jelasnya agar saya paham," ujar Andro.
Mahen menceritakan semua yang terjadi itu pada Andro dan meminta saran baiknya harus seperti apa.
"Ya, setuju saja menurut saya. Kan pura-pura doang, kenapa harus bingung?"
"Kau ini! Pernikahan bukan permainan. Nikahnya beneran, hanya saja kita menjalaninya pura-pura. Ngerti gak sih?" jelas Mahen.
Andro hanya menggelengkan kepalanya seraya tersenyum.
"Kau tidak berguna sekali. Aku meminta saran bagus padamu, malah kayak gini! Sekarang gimana?"
"Hmmm ... Menurut saya setuju saja dan untuk masalah orangtua, cari saja orangtua palsu. Bayar orang gitu," saran Andro.
"Jadi menurutmu aku tidak perlu buka identitasku dan tetap jalani sebagai orang biasa?" tanya Mahen.
"Betul. Tapi ada baiknya ngaku sih dan menikah dengan identitas sungguhan," saran Andro lainnya.
"Kau ini membingungkan sekali!" ketus Mahen. Kemudian ia berpikir jalan apa yang harus di ambil. "Sepertinya lebih baik aku jujur saja sih, dengan begitu orangtua Naya akan menerimaku dengan mudah."
"Kalau gitu udah gak bisa pura-pura lagi dong? Karena dua keluarga cukup berpengaruh tidak mungkin nikah bohongan terus tiba-tiba nanti cerai," ujar Andro.
"Bener juga sih, tapi itu lebih bagus. Lagi pula Naya cantik, baik, menarik, akan sangat beruntung bisa memilikinya ..." tutur Mahen seraya senyum-senyum.
"Cieee ... Sudah jatuh cinta beneran nih ..." goda Andro.
"Emang iya?"
"Iyalah ... Kelihatan sekali itu ..." tegas Andro.
Tidak dapat di pungkiri memang Naya semenarik itu dan dirinya tidak keberatan saat Naya meminta bantuan apapun bahkan merasa senang bisa selalu dekat dengannya.
"Oke ... Besok aku akan jujur dan setelah itu langsung melamar Naya!"
"Apa perlu saya siapkan sekarang?"
"Eh jangan dulu persiapkan apa-apa dan ingat jangan katakan apapun dulu pada mamaku. Awas saja kau!" ancam Mahen.
"Siap Tuan ...."
Sementara itu di sisi lain, Ilham sedang menyidang Naya di ruang tamu. Terasa begitu menegangkan karena Ilham sangat marah tahu Naya masih berhubungan dengan Mahen.
"Naya ... Kenapa masih berani bertemu dengannya? Papa sudah katakan untuk tidak berhubungan dengan Mahen lagi!" sentak Ilham menggebu.
"Lalu kenapa kamu menolak pria pilihan papa?" sambungnya.
"Papa ... Mana mungkin aku menikah dengan pria seperti itu? Apalagi dia mau aku berhenti kerja dan harus lahirkan banyak anak. Ya aku gak mau lah ... Mana kepalanya botak! Iiihhh ..." jawab Naya.
"Dia itu sudah pilihan yang terbaik, Naya. Masalah anak memang semestinya begitu, rumah tangga tanpa anak hambar!" jelas Ilham.
"Aku gak mau menikah pa! Gak mau ...."
"Terus ngapain berhubungan dengan Mahen yang gak jelas itu? Cuman mau main-main doang? Apa kata keluarga besar kita nanti Naya?" cerca Ilham.
"Papa hanya peduli keluarga besar keluarga besar keluarga besar, tapi sama anak sendiri sama sekali gak peduli. Perasaanku, kebahagiaanku, sama sekali gak peduli ..." rintih Naya.
"Papa ... Sudah dong, jangan marahi Naya terus!" Suci menenangkan Ilham.
"Papa hanya peduli pada warisan kakek saja! Tidak peduli dengan perasaan anak sendiri ..." lirih Naya.
"Naya ... Ini semua diluar soal warisan. Papa tidak peduli itu lagi, tapi kamu sudah dewasa, bukan lagi waktunya main-main dengan pria seperti itu! Papa hanya mau yang terbaik untukmu."
"Aku gak main-main sama Mahen, Pa! Ka–kami serius, kami akan menikah ..." ucap Naya lantang. Ia asal mengatakan hal itu tanpa tahu Mahen setuju untuk menikah pura-pura atau tidak.
"Ckkk ... Apa yang kamu bisa andalkan dari dia? Sadar Naya, pria seperti Mahen hanya mau mengincar hartamu saja!"
"Papa sudah ..." cegah Suci.
"Mahen gak gitu Pa. Dia pekerja keras dan sama sekali gak mengincar uangku," tutur Naya.
"Papa tanya sama kamu, tadi kalian makan di restoran mewah itu siapa yang bayar?" tanya Ilham menatap tajam pada Naya.
Naya ingat kalau dirinya yang akan membayar semua makanan itu, tapi belum sempat ia bayar keburu di bawa pergi oleh papanya.
"Ya Tuhan, aku lupa belum membayar makanan itu. Bagaimana dengan Mahen?" batin Naya.
"Kenapa diam? Tidak bisa menjawabnya karena memang kamu yang bayar, kan?" cerca Ilham.
"Tidak ... Aku tidak membayar makan malam tadi, Mahen yang bayar ..." cetus Naya sembari kepikiran pada Mahen.
"Papa tidak mau berdebat lagi denganmu, pokoknya papa tidak setuju kamu berhubungan dengan Mahen apalagi sampai menikah!" tegas Ilham. Kemudian melengos pergi meninggalkan Naya bersama Suci.
"Naya ... Papamu sangat keras kepala, mungkin ini tidak akan mudah ..." ucap Suci.
"Tapi mama mendukung semua keputusanku, kan?" tanya Naya menatap Suci penuh harap.
Suci mengangguk dengan tersenyum. "Tentu saja. Kamu jangan khawatir soal papa, biar nanti mama yang bicara. Kalau memang kamu bahagia bersama Mahen, mau gimana lagi? Tunjukkan saja keseriusan Mahen," ucapnya.
"Makasih, Ma ..." Naya memeluk ibunya dengan erat.
Masalah itu menjadi cukup rumit. Yang tadinya hanya sekedar pura-pura pacaran untuk satu malam, malah berlanjut untuk pura-pura menikah.
Naya khawatir dengan Mahen kemudian mengiriminya beberapa pesan.
Naya menjatuhkan dirinya di tempat tidur, berbaring menatap langit-langit kamar. Jika boleh memilih, ia tidak akan menikah seumur hidupnya. Hidup sendiri akan lebih menyenangkan apalagi segalanya ia miliki.
Akan tetapi, setiap orangtua punya harapan lain. Apalagi dengan basic keluarga besar yang segala hal harus terlibat.
Rasa lelahnya membuat ia tertidur lebih cepat. Malam berganti pagi dan Naya masih terlelap di kasur empuknya sampai ketukan pintu membangunkan tidurnya itu.
"Ya Tuhan ... masih pagi. Ada kabar apa lagi ini ..." beranjak dari tempat tidur dan membuka pintu.
"Apa mama ...."
"Kamu lihat grup keluarga tidak?" tanya Suci.
"Aku gak pernah lihat grup keluarga. Malas sekali gak penting!" sahut Naya.
"Eh itu, Yuna bikin masalah lagi. Dia mengirim foto di grup keluarga, kamu lagi mabuk di club. Terus ada foto kamu rangkul-rangkulan sama Mahen!" ungkap Suci.
"Hmmm mama sendiri udah tau, kan, ceritanya itu gimana. Yaudah sih jangan di gubris hal kayak gitu," ujar Naya.
"Tapi papamu yang stres ... Dari tadi dia cemberut dan mau bicara sama kamu. Papa udah nunggu di meja makan, cepat sana mandi dan segeralah turun," titah Suci.
Naya menghela nafasnya berat. "Astaga ... Si Yuna bener-bener. Kenapa gak nikmatin hidup aja gituh, sama calon suami yang katanya paling kaya itu. Kenapa malah selalu ngurusin hidupku sih? Ah elah ..." gerutu Naya kesal.