Takamiya Nia, wanita berusia 42 tahun yang bekerja di Perusahaan Fasde tiba-tiba meninggal dalam kondisi tidur di apartemennya tanpa diketahui oleh siapapun.
Begitu Nia terbangun, ia mendapati dirinya menjadi bayi sepasang kekasih di keluarga kerajaan sebagai pewaris tahta kerajaan berikutnya, Kerajaan Thijam.
Dengan pengetahuan ala otaku di masa lalunya dan beberapa pengalaman yang ia miliki bersama kedua orangtuanya, Nia memutuskan untuk memperoleh kesempatan kedua untuk menjalani hidup sesuai dengan keinginannya tanpa ada paksaan maupun umpatan yang memenuhi hati dan pikirannya.
(Peringatan: Karya ini mengandung Dark Shoujo jadi siapkan mental kalian, oke?)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kanken, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 24: Rapat Tertutup
Didalam ruangan pertemuan, terlihat beberapa orang penting yang hadir yang duduk di meja panjang melingkar berbentuk "U" dengan kursi panjang khusus satu orang yang berbeda dari isi didalam ruangan ini sebelumnya.
Dimana sebelumnya ruangan ini terdapat meja persegi panjang yang dibentuk menjadi persegi di bagian tengah berubah menjadi meja panjang berbentuk seperti "U" yang mengitari ruangan, dengan kursi sebelumnya adalah sofa panjang berubah menjadi kursi untuk masing-masing individu dengan bantalan dan sandaran kursi berwarna biru gelap, dengan coklat dasar di bagian kayunya yang panjang dan terdapat pegangan kedua tangan di kedua sisinya.
Didepan mereka, terlihat salah satu meja khusus panjang berwarna coklat gelap, dengan kursi untuk seseorang yang memiliki bantalan di dudukan dan sandaran berwarna merah, disertai dengan hiasan keemasan di sisinya sebagai ganti warna coklat, terlihat Arga disana duduk dengan Gerald yang berdiri di sisinya sebagai penasihatnya.
Sementara itu, di sisi ruangan tetap ada meja panjang yang sebelumnya ada ditengah dan keempat sofa. Mereka tidak digunakan karena mereka tidak dibutuhkan untuk situasi mendesak saat ini.
"Sebelum kita mulai, saya akan menjelaskan semuanya secara jelas," tegas Gerald berinisiatif menjelaskan pada mereka apa yang perlu mereka ketahui.
Dijelaskan secara menyeluruh oleh Gerald pada orang-orang yang hadir dalam rapat tertutup yang diadakan dadakan berdasarkan perintah dari Arga.
Dua fraksi lain yang tidak lain adalah Christina dan Yamada, keduanya tersentak kaget lalu diam sejenak mencoba untuk memahami apa dikatakan oleh Gerald tadi.
"Apakah itu benar, Luna?" Tanya Lisa, ada keraguan di wajahnya selagi ia menatap sahabatnya, Luna yang ditemani oleh Ren, suaminya, dan Annastasia untuk menguatkan bukti bahwa mereka sebagai pendengar bisa menjadi saksi tanpa dilebih-lebihkan.
"Ya, itu benar."
"Sulit untuk dipercaya," sela salah satu bawahan dari fraksi Yamada, ia adalah pria kurus berwajah cekung yang menyeramkan bernama Louis, berpikir dalam sejenak.
Ngomong-ngomong, Louis merupakan salah satu dari bawahan Edi, pemimpin dari fraksi tersebut, sedangkan dua lain diantaranya adalah Steven, pria gemuk dengan tinggi sekitar 150 cm yang jauh lebih pendek dari Louis setinggi 180 cm, dan Albert, pria kekar yang gagah dengan otot-otot tangan dan kaki tidak terlihat bila menggunakan setelan jas hitam dan kemeja putih, tapi untuk bagian otot dada terlihat bidang yang terbentuk sangat sempurna.
"Bagaimana bisa ada salah satu ras vampir setelah sekian lama mati?" Lanjut Louis, kata-katanya dipenuhi ketidakpercayaan atas apa yang didengar melalui penjelasan dari Gerald sekaligus perkataan meyakinkan dari Luna.
"Ya, awalnya aku tidak percaya. Tapi, bisa saja mereka terlahir dari suatu hal yang tidak kita ketahui atau terbuka segel yang dilepas oleh orang asing," jawab Ren, meskipun nadanya acuh tapi apa yang dikatakan olehnya masuk akal.
Bila vampir telah sepenuhnya lenyap, ada kemungkinan antek-antek bawahannya berusaha untuk tetap bersembunyi dibalik kegelapan tanpa ketahuan oleh siapapun, tetap mewaspadai sekitar selagi mencoba untuk mencari cara untuk melahirkan kandidat baru.
Atau bisa saja mereka diam-diam mengamati sekitar, mengikuti para pahlawan dan mengintai pergerakan mereka hingga mereka lanjut usia. Disaat itulah, mereka gunakan kesempatan untuk mengancam pahlawan untuk bisa membuka segel ratu mereka.
"Maaf jikalau aku menyela, Ren. Tapi, seingat-ku tidak ada vampir yang bisa memanipulasi darah untuk dijadikan kemampuannya. Kalaupun ada, itu tidak mungkin nyata karena semuanya hanya menggunakan sihir."
Tidak bisa membantah perkataan Lisa, Ren hanya terdiam memikirkan hal tersebut.
Memang benar, apa yang dikatakan oleh Lisa ada benarnya. Baik vampir biasa hingga kalangan kerajaan, kebanyakan dari mereka tidak memiliki kemampuan untuk memanipulasi darah untuk dijadikan sebagai senjata mereka. Sebaliknya, banyak dari mereka hanya menggunakan sihir dan fisik, tanpa mengandalkan darah untuk digunakan sebagai senjata maupun perisai.
"Mungkinkah jenis vampir baru?"
"Ada kemungkinan begitu."
Kedua bawahan Edi lainnya, Steven dan Albert bergumam seolah-olah ada kemungkinan itu adalah variasi baru dari ras vampir.
"Yang Mulia, apakah ada tanda-tanda ditemukan darah dan mayat?" Tanya Edi, yang dipenuhi oleh rasa penasaran menanyakan pada Arga.
Andaikan mayat ditemukan dengan bercak darah maka itu bisa dijadikan bukti kuat kalau Blood Queen ada, itulah yang dipikirkan oleh Edi. Tapi, sayangnya hal tersebut tidak sesuai dengan pikirannya.
Arga yang menggelengkan kepalanya mendesah pelan dengan wajah mengeluh saat menjawab pertanyaan Edi.
"Sayangnya tidak ada, hanya ada bercak darah bertuliskan "pembunuh", "Blood Queen", "aku akan memburu kalian", "darah keluarga kerajaan sangat lezat" yang ditemui oleh para ksatria di kedalaman hutan."
Dirasa ada yang aneh, menurut Edi, itu sangat mustahil jikalau ras vampir tidak meninggalkan jejak mayat dan genangan darah.
"Apakah ia hati-hati untuk tidak terdeteksi? Ataukah...."
Seketika pikiran Edi terhenti, ia tidak ingin memikirkan kemungkinan lain selain kemungkinan pertama. Kalaupun ia memikirkan kemungkinan kedua, ia tidak tahu alasan gadis kecil itu melakukannya.
Setahu Edi, melukai diri sendiri merupakan tindakan nekat dan ceroboh jadi mana mungkin untuk gadis kecil seperti Alice memiliki keberanian untuk melukai dirinya sendiri. Jika Alice memang melakukannya, untuk tujuan apa?
Semakin dipikirkan oleh Edi, ia semakin bingung karena itu hanya akan mengarah ke cabang pertanyaan lain tanpa bisa menjawabnya di benaknya.
"Dia pura-pura tidak tahu atau dia memang merencanakan ini?" Pikir Lisa, mewaspadai gerak-gerik Edi dalam pandangan sekilas sebelum Edi melihat ke sekeliling dengan natural.
"Jika Tuan Edi bukan pelakunya, itu artinya memang ada pihak lain. Tapi, siapa?"
Gerald yang memiliki keraguan, awalnya berpikir kalau ini adalah ulah dari Edi yang menyuruh bawahannya untuk menyingkirkan Alice dengan tipu muslihat dengan membuat orang lain percaya kalau itu ulah pihak ketiga, Blood Queen.
Tapi, dari reaksi Edi terlibat jelas kalau ia bukanlah pelakunya menandakan bahwa pihak ketiga ada merupakan kenyataan yang tak terbantahkan.
"Yang Mulia, maafkan saya jikalau saya lancang," mendengar kata-kata dari Lisa, Arga yang menatapnya dengan wajah bingung kembali ke sikap tenang, mengangguk untuk mempersilahkan Lisa mengatakannya.
"Jikalau apa yang dikatakan oleh putri dari Luna, Alice-sama adalah kenyataan maka kenapa mana didalam tubuh Alice terkuras hingga dalam kondisi kritis?"
Pertanyaan tersebut membuat semua orang terdiam dalam ketegangan. Semua orang berpikir dengan pemikiran mereka masing-masing, seperti "bagaimana bisa mana di tubuh gadis tersebut berkurang drastis?" "Apakah ia melakukan perlawanan?" Dan "mungkinkah ia kabur sebelum diburu?" Sesuatu seperti itu terdengar dari bawahan Edi yang berbisik satu sama lain dengan pelan.
Meskipun pelan, suara mereka samar-samar terdengar oleh Arga, Lisa dan Layla, Luna dan Ren yang terdapat Annastasia berdiri ditengah-tengah mereka.
"Mungkinkah ia bisa menyerap mana seperti succubus dan incubus?"
"Jika memang benar, kenapa efeknya tidak terlihat jelas secara langsung melalui putriku saat bertemu dengannya?"
Pertanyaan dari Ren membuat Arga terdiam, memikirkan tentang apa yang dikatakan oleh menantunya ada benarnya.
Kalaupun vampir bernama Blood Queen menyerap mana seperti succubus dan incubus, efek yang terjadi langsung dirasakan oleh korban. Tapi, Alice tidak merasakannya secara langsung melainkan belakangan membuat Arga bertanya-tanya.
"Pokoknya kita tidak tahu apakah Blood Queen itu merupakan bahaya tingkat tinggi atau tidak, kita harus siaga," tegas Arga, menyimpulkan kalau sosok Blood Queen masih samar-samar untuk saat ini.
"Itu artinya kita harus menambahkan perlindungan pada Alice-sama kan, Yang Mulia?"
"Ya," angguk Arga yang setuju pada pendapat Gerald.
Sekilas, ekspresi Edi dan ketiga bawahannya kaget mengetahui kalau Alice akan dilindungi dan dijaga oleh orang-orang disekitarnya membuatnya sulit untuk menyewa seseorang untuk melenyapkannya. Tapi, beberapa detik kemudian, ekspresi kaget tersebut kembali tenang, sikapnya terlihat alami tanpa Arga ketahui apa yang dipikirkan oleh fraksi Yamada.
"Mereka pasti kewalahan sekarang," hati Lisa menari-nari bahagia melihat ekspresi frustasi sekilas dari Edi, bingung harus melakukan apa untuk mencari cara lain untuk menyakiti dan melukai Alice demi mencapai ambisinya.
"Ah, benar."
Semua orang tiba-tiba terkejut melihat Lisa teringat sesuatu selagi mengangkat tangannya dengan santai menandakan bahwa ia sengaja menarik perhatian Arga, Gerald, Edi dan ketiga bawahannya yaitu Louis, Steven, dan Albert, Lisa yang duduk dengan Layla berdiri di sisinya, Luna dan Ren yang duduk dengan ditengah mereka terdapat Annastasia.
"Mumpung semua orang ada disini, saya mengusulkan untuk meminta izin langsung pada Yang Mulia sekaligus sahabat dekatku."
"Tentang apa, Lisa?"
Senyum kecil terlihat dibibir Lisa saat menatapnya dalam kebingungan yang menatap mata Lisa, Luna.
"Tentang izin untuk memberikan hak padaku untuk mengajarkan putrimu bidang medis."
"Bidang medis?!"
Ada keterkejutan di ekspresi Luna dan Ren, mereka berdua tidak memahami kenapa Lisa ingin mengajarkan putri mereka tentang bidang medis yang seharusnya tidak dipelajari oleh gadis seusianya.
"Jangan khawatir, aku hanya ingin membantu putri kalian jikalau ia dalam bahaya, setidaknya ia bisa memiliki pengetahuan tentang tanaman herbal."
Rasa lega terlihat di ekspresi kedua orang tua Alice. Mereka pikir Lisa akan mengajarkan putri mereka sesuatu selain dari meracik ramuan, seperti; mempelajari organ vital dan penyakit, mempelajari alat bedah dan operasi, sesuatu yang tidak seharusnya dipelajari oleh gadis kecil seusianya.
Arga yang sedari tadi diam, mengangguk dan tersenyum pada perkataan Lisa.
"Ya, kurasa itu bagus. Andaikan seseorang berniat untuk melakukan hal buruk seperti yang terjadi pada cucu perempuanku selain dari Blood Queen, ia bisa menggunakan pengetahuan obat-obatan untuk menyembuhkan lukanya."
Dari kata-kata Arga, ekspresi tegang terlihat sekilas di wajah Edi dan ketiga pengikutnya yang kemudian kembali ke ekspresi tenang.
"Mereka mudah dibaca," meskipun yang lain tidak memperhatikan raut wajah Edi dan ketiga bawahannya seperti; Louis, Steven, dan Albert, Gerald dapat menyadarinya meskipun matanya sipit yang tahu kalau ada kegelisahan di hati mereka.
"Anna, aku perintahkan mu untuk melindungi Alice, cucu perempuanku! Jikalau ada yang berbuat jahat dan buruk padanya, laporkan padaku. Jikalau kau pergi saat sedang sibuk, titipkan Alice pada ksatria elite."
"Baik," angguk Anna, ia membungkuk sesaat dengan ekspresi serius dibalik wajah tanpa emosinya. "Saya akan pastikan menjalankan tugas anda dengan baik."
Arga yang mendengar Anna mendedikasikan diri untuk menjaga dan melindungi Alice, ia menatap ke sekitar untuk memberitahu pada mereka.
"Jikalau siapapun berniat untuk menyakiti maupun membunuh cucu kesayanganku...."
Ekspresinya yang awalnya serius berubah menjadi kelam, ada sorot mata tajam memperlihatkan ancaman tersebut bukanlah ancaman belaka melainkan hukuman bagi siapapun yang akan melanggarnya.
"Aku akan pastikan untuk membuat orang tersebut menderita melebihi kematian."
Ekspresi Edi dan bawahannya menegang sekali lagi dalam keterkejutan mereka, sedangkan Gerald dan Lisa saling bertukar senyum kecil tahu kalau itu cukup untuk membuat musuh yang berusaha untuk menyingkirkan Alice lenyap.
•••••
Di lobby, kedua anak berusia 6 tahun sedang duduk di sofa selagi merenung dalam diam atas apa yang mereka dengar dari penjelasan teman mereka, gadis kecil seusia mereka berambut butterfly haircut berwarna pirang yang menceritakan bahwa ia habis mengalami kejadian buruk, tanpa tahu apa yang terjadi padanya.
"Apakah kita tidak bisa membantu Alice?"
Salah seorang anak lelaki berambut bald fade berwarna abu-abu, sepasang mata berwarna amber menatap ke gadis seusianya yang duduk disebelahnya dengan jarak sedikit jauh, ada rasa penasaran dibalik wajahnya saat melihat mata emerald-nya.
"Entahlah, kita saja tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Alice," kata gadis kecil berambut classic bob berwarna putih, sepasang mata berwarna emerald tertutup selagi ia mengangkat pundaknya, tidak tahu-menahu apa yang terjadi pada teman mereka.
"Apa maksudmu?" Anak lelaki itu jengkel tidak suka atas perkataan gadis kecil di sebelahnya yang mengatakannya dengan nada acuh seolah-olah tidak peduli pada teman mereka.
"Kenapa kamu malah marah, Ken? Dengarkan aku, ini mungkin terdengar aneh. Tapi, Alice mungkin saja tidak menceritakan pada kita agar kita tidak bermimpi buruk."
Anak lelaki bernama Ken yang mendengar perkataan dari gadis kecil yang tetap duduk dengan kepala dingin, Eri, ia kembali tenang lalu duduk daripada berdiri sebelumnya dalam kemarahannya.
Apa yang dikatakan oleh Eri ada benarnya, Ken tidak membantahnya sama sekali. Kalaupun teman mereka bercerita apa yang terjadi padanya, ada kemungkinan ia dan Eri akan sulit untuk tidur karena membayangkan apa yang terjadi pada teman mereka saat itu hingga berakhir dalam kondisi menyedihkan dalam kondisi pingsan, dengan luka goresan mirip seperti cakar di bahu kanan dan paha kiri.
Itu sebabnya Alice tidak bercerita pada mereka, mungkin saja karena mereka takut bermimpi tentang apa yang dilalui oleh Alice supaya mereka bisa tidur tenang, tanpa bermimpi buruk tentang hal tersebut maupun tidak bisa tidur nanti.
"Lalu, apa yang seharusnya kita lakukan?"
Ada rasa frustasi dari kata-kata Ken, ia mengepalkan tangannya dengan kuat tidak tahu apa yang harus ia lakukan disaat temannya menyembunyikan sesuatu dari mereka, mengurung diri di kamar tanpa keluar.
"Bukankah sudah jelas?" Eri yang berdiri menaikan volume suaranya, ada rasa bangga saat ia berkacak pinggang dengan wajah percaya diri. "Kita akan tetap bermain dengan Alice untuk menghiburnya supaya ia melupakan kesedihan dan ketakutannya. Itulah gunanya teman, bukan?"
Mendengar perkataan Eri, senyum kecil terlihat dibibir Ken.
Apa yang dikatakan oleh Eri ada benarnya, membuat Ken hampir lupa kalau mereka adalah teman. Memang, ada sedikit kekecewaan dan kejengkelan karena Ken tidak tahu apa yang dilalui oleh Alice, tapi setidaknya hal tersebut sirna dari perasaannya begitu mengetahui kalau mereka adalah teman, tugas mereka adalah menghibur teman mereka dari rasa takut, sedih, dan khawatir.