NovelToon NovelToon
Menikah Dengan Dosen Dingin

Menikah Dengan Dosen Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Nikahmuda / CEO / Nikah Kontrak / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:733
Nilai: 5
Nama Author: Hanela cantik

Alya, mahasiswi tingkat akhir yang cerdas dan mandiri, tengah berjuang menyelesaikan skripsinya di tengah tekanan keluarga yang ingin ia segera menikah. Tak disangka, dosen pembimbingnya yang terkenal dingin dan perfeksionis, Dr. Reihan Alfarezi, menawarkan solusi yang mengejutkan: sebuah pernikahan kontrak demi menolong satu sama lain.

Reihan butuh istri untuk menyelamatkan reputasinya dari ancaman perjodohan keluarga, sedangkan Alya butuh waktu agar bisa lulus tanpa terus diburu untuk menikah. Keduanya sepakat menjalani pernikahan semu dengan aturan ketat. Tapi apa jadinya ketika batas-batas profesional mulai terkikis oleh perasaan yang tak terduga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

21

Setelah dari kafe tadi Alya, Nia dan juga lala pergi ke butik untuk membeli baju untuk hari wisuda mereka nanti.

Setelah membeli baju yang dia inginkan Alya langsung pulang kerumahnya karena sudah sore, untuk mengambil barang-barangnya.

Setelah berganti pakaian Alya turun kebawah menemui mamanya.

" Papa sama Devan belum pulang mah"

" Mungkin bentar lagi, tapi kalo Devan dia bilang akan pulang malam"

Alya mengangguk "ohh"

" Sini duduk, mama mau bicara sama kamu" ucap Bu dewi sambil menepuk sofa di sampingnya.

" Mama mau bicara apa"

" “Ly…” suara Bu Dewi terdengar pelan, “Mama mau minta maaf sama kamu.”

Alya menoleh, sedikit heran. “Minta maaf? Kenapa, Mah?”

Bu Dewi menghela napas panjang, lalu menatap putrinya penuh kasih. “Mama sadar… keputusan mama waktu itu terlalu terburu-buru. Menyuruh kamu untuk segera menikah. Mama cuma takut ngga bisa lihat kamu menikah.

" Mama ngomong apa sih"

Alya terdiam. Ada rasa hangat menyelusup di dadanya, bercampur dengan rasa haru. “Mah… aku nggak pernah menyalahkan mama. Aku ngerti kenapa mama ngelakuin itu. Aku tahu mama cuma pengen yang terbaik buat aku.”

Bu Dewi tersenyum tipis, lalu menggenggam tangan Alya erat. “Iya, tapi tetap saja… pernikahan itu bukan hal kecil, Nak. Itu bukan sekadar status atau kewajiban. Itu perjalanan panjang yang penuh suka dan duka. Harus dijalani dengan hati, bukan paksaan.”

“Pernikahan itu, Ly,” lanjut Bu Dewi lembut, “bukan cuma tentang dua orang yang tinggal serumah. Tapi tentang saling memahami, saling menerima kekurangan, saling menjaga hati. Mama sama Papa… sudah ngalamin jatuh bangun. Kadang beda pendapat, kadang ada masalah, tapi kami berusaha saling mengingatkan, saling menahan ego.”

“Mama cuma mau kamu bahagia, Ly,” bisik Bu Dewi. “Kalau suatu saat kamu merasa nggak sanggup, jangan dipendam sendiri. Bicara sama mama. Jangan merasa sendirian. Dan kalau Reihan memang ditakdirkan jadi pasanganmu, mama yakin… kamu akan menemukan jalannya. Tapi kalau tidak… percayalah, Tuhan pasti punya rencana lain.”

Air mata Alya mulai menggenang. Ia meraih tangan mamanya dan memeluknya erat. “Makasih, Mah. Aku… aku akan coba belajar"

Alya baru saja selesai mengusap sisa air mata di pipinya ketika suara mobil berhenti di depan rumah. Ia menoleh ke arah jendela, melihat mobil hitam yang sudah tak asing lagi.

“Kayaknya  Reihan sudah datang,” ucap Bu Dewi sambil menepuk pelan tangan Alya.

Alya mengangguk pelan. Ia berdiri, merapikan bajunya lalu menenteng tas kecil yang sudah dipersiapkannya. Setelah berpamitan dengan mamanya, Alya keluar rumah.

Di depan pagar, Reihan sudah berdiri menunggu dengan wajah serius. “Sudah siap?” tanyanya singkat.

“Sudah,” jawab Alya.

Perjalanan menuju rumah mereka berjalan cukup hening. Alya sesekali melirik ke arah Reihan, tapi pria itu hanya fokus ke jalan,

Baru tadi pagi Reihan bersikap sedikit ramah padanya sekarang sudah kembali ke setelan awalnya.

Sesampainya di rumah Reihan langsung menuju kamarnya tanpa mengatakan sepatah kata pun. Melihat itu Alya sedikit bingung melihat perubahan sikap suaminya itu.

Di sisi lain Reihan langsung melepas jasnya melemparkannya ke sembarang arah. Dia mengguyur tubuhnya dengan air.Reihan berdiri di bawah pancuran dengan mata terpejam. Air dingin mengguyur kepalanya, tapi ia tetap menggosok kulit tangannya dengan sabun berkali-kali, seakan ingin menghapus jejak sesuatu yang menempel.

“Renata… kenapa dia harus muncul lagi. Kenapa harus mengusik hidupku yang sudah mulai tenang…” batinnya bergemuruh. Bayangan Renata bersama seorang pria di kamar hotel terlintas dipikirannya. Tangannya menggosok lengan, leher, bahkan sampai memebuat kuloatnya sedikit memerah.

Ia merasa kotor, jijik, seakan disentuh masa lalu yang seharusnya sudah terkubur.

.

.

.

Alya merebahkan diri di ranjangnya, menatap langit-langit kamarnya. Hari ini dia cukup lelah. Tak lama, ponselnya bergetar. Alya meraihnya pelan. Nama yang muncul di layar membuat hatinya sedikit bergetar—Farel. Alya mengangkat alisnya sebelah, setelah kejadian di cafe beberapa waktu lalu farel tidak pernah menghubunginya lagi.

Farel

Hai

Gimana kabarnya

To farel

Alhamdulillah baik kamu gimana kabarnya.

Farel

Syukurlah kalo gitu, aku juga baik.

Alya tak membalasnya lagi, dia meletakkan ponselnya di atas nakas. Dan turun ke dapur untuk masak.

Selesai memasak Alya menata meja makan. Alya sedikit bingung dari tadi Reihan belum turun juga.

Dengan sedikit ragu, Alya mengetuk pintu kamar Reihan.

“Ada apa?” tanyanya singkat.

Alya menelan ludah, lalu mengangkat nampan. “Aku mau manggil mas buat makan malam”

Reihan menatapnya beberapa detik, lalu mengangguk kecil. “Baiklah.”

Mereka makan berhadapan hanya ada deting suara sendok saja. Sesekali Alya melihat ke arah reihan tapi ada sesuatu yang mengganjal pengelihatannya.

“Mas…” panggil Alya dengan suara pelan

Reihan mengangkat alisnya. “Hm?”

Alya memberanikan diri menunjuk lengannya. “Itu… kenapa ada memar? Apa kamu habis—” ia terhenti, takut kalau pertanyaannya menyinggung sang empu.

Reihan menunduk sejenak, lalu menutup lengan bajunya cepat. “Nggak ada apa-apa. Hanya… sedikit masalah tadi.” Suaranya datar, jelas-jelas sedang menyembunyikan sesuatu.

“Tapi mas…” Alya bersikeras,

Reihan terdiam cukup lama, tatapannya kosong. Lalu ia menarik napas panjang, berusaha menahan emosi yang tampak hendak pecah. “Sudahlah, Alya. Kamu nggak usah terlalu khawatir. Aku bisa urus diriku sendiri.”

“Tapi aku istrimu…” suara Alya merendah, ada nada getir yang keluar tanpa ia sadari. “Wajar kan kalau aku khawatir.”

Ucapan itu membuat Reihan menoleh cepat. Lelaki itu tak menjawab, hanya melanjutkan makannya dengan diam, seolah tak ingin membahas lebih jauh.

.

.

.

Malam harinya Alya sudah mau tidur. Tapi suara pintu kamarnya mengalihkan pandangannya.

"Mas?” tanyanya agak kaget. “ mas mau ngapain"

Reihan tidak langsung menjawab. Ia melangkah masuk, menutup pintu perlahan.

“Alya…” suaranya pelan, nyaris seperti bisikan, “boleh malam ini aku tidur di sini? Hanya malam ini saja, aku butuh kamu.”

" Ehh b-boleh mas"

Alya belum bisa berpikir jernih, dia pikir Reihan akan tidur di sofa tapi dugaannya salah, Reihan sudah duluan naik ke atas ranjangnya dan tidur di sebelahnya.

Buru-buru Alya menggeser tubuhnya ke sisi lain ranjang dan membelakangi Reihan.

Sebuah tangan kekar melingkar di perutnya. Dia bisa merasakan hembusan nafas Reihan saking dekatnya.

Dengan susah payah Alya menormalakan detak jantungnya.

" Maaf" ucap Reihan pelan.

" Maaf, maaf tadi aku bersikap kasar"

Alya hanya mengangguk saja lidahnya terasa keluar, dia sudah panas dingin sekarang badan nya juga kaku.

" Rilex Alya".

Reihan benar-benar merasa nyaman sekarang, dia menghirup aroma rambut Alya yang membuatnya merasa lebih baik. Tadi dia sudah mencoba untuk tidur tapi tetap saja hatinya terasa risau. Dia seolah trauma jika melihat mantan kekasihnya itu.

1
Nurhikma Arzam
semangat thor next nya. 😁
Nurhikma Arzam
saran aja ini, please thor aku agak bingung povnya yg awalnya sudut pandang orang ketiga jadi sudut pandang orang pertama. kalau bisa kasih peringatan untuk peralihan pov ha
Erwinda: ihh makasih banget kak sarannya 🥰
total 1 replies
Nurhikma Arzam
awas jatuh cinta Al
Nurhikma Arzam
bagus semangat thor semoga kamu bisa menyelesaikan tulisan ini dan jadi penulis yang keren kelak. jangan menyerah
Nurhikma Arzam
Farel calon calon sad boy haha
Nurhikma Arzam
roman-romannya Reihan ini naksir duluan keknya sama Alya hmm
Nurhikma Arzam
semangat, saran aja ya kak ujung percakapannya jangan lupa pakai tanda titik biar lebih enak di baca☺
Nurhikma Arzam
Halo thor semangat upnya ya. jangan lupa mampir di cerita aku juga 😁
Pandaherooes
Ceritanya seru banget, semangat terus thor!
Gấu bông
Gila seru abis!
Arisu75
Alur ceritanya keren banget!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!