NovelToon NovelToon
DUNIA GILA,AKU IKUTAN GILA

DUNIA GILA,AKU IKUTAN GILA

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Komedi
Popularitas:548
Nilai: 5
Nama Author: WA_19019

Dunia ini gila? Mungkin benar. Tapi kalau sudah begini, aku mending ikutan gila saja daripada pusing sendiri. Ikuti kisah konyol Bima dan kawan-kawan yang hidupnya selalu diisi kejadian tak terduga dan kelakuan yang bikin ketawa terus!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WA_19019, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BONGKAR GUDANG, MALAH NEMU "HARTA KARUN" LUCU

Setelah kejadian cari kunci yang nyasar di sela rak kemarin, Bang Rian malah makin santai saja. Katanya, selama ada yang ketawa dan nggak ada yang rusak parah, berarti masih aman. Padahal kami yang datang mau bantu, malah bikin keributan kecil terus.

Sekarang sudah hari ke-29 puasa. Besok malam takbiran, lusa lebaran. Semua orang sudah sibuk beres-beres habis-habisan, termasuk Bang Rian. Dia mau bersihkan gudang kecil di belakang bengkel supaya nanti bisa dikunci rapi dan ditinggal pulang ke kampung halaman.

Pagi itu, pas kami lagi duduk santai di kantor, Ojak langsung melambaikan tangan semangat.

“Hari ini kita bantu Bang Rian beresin gudang belakang yuk! Pasti banyak barang lama yang sudah lupa keberadaannya. Siapa tahu ketemu barang yang masih bisa dipakai, sayang kalau dibiarkan menumpuk saja!”

Tanpa banyak tanya lagi, kami langsung jalan berombongan. Kali ini Bima cuma bisa pasrah, karena sudah tahu pasti bakal ada saja kejadian aneh yang menunggu.

Sesampainya di bengkel, Bang Rian sudah berdiri di depan pintu gudang sambil menggaruk kepala. Pintu kayunya sudah agak reyot, debunya tebal sampai kalau disentuh langsung menempel di tangan.

“Wah, kalian datang lagi. Pas banget, saya tadi bingung sendiri mau mulai dari mana. Di dalam ini isinya sudah menumpuk sejak tiga tahun lalu, belum pernah dibongkar total,” kata Bang Rian sambil menarik pintunya pelan-pelan.

Begitu pintu terbuka, langsung keluar hawa pengap dan bau debu yang bikin kami semua bersin-bersin berturut-turut.

“Hatcimmm! Waduh, isinya kayak gudang peninggalan zaman dulu nih,” kata Kak Dedi sambil menutup hidung pakai ujung baju.

Di dalamnya terlihat tumpukan barang yang nggak beraturan: ada ban bekas, kotak-kotak kayu, karung berisi apa saja yang nggak kelihatan, potongan besi, sampai ada sepeda tua yang kerangkanya sudah berkarat parah.

“Kerjanya santai aja,yang masih bisa dipakai kita pindahkan ke depan, yang sudah rusak nggak terpakai lagi kita kumpulkan buat dibuang atau dijual ke tukang loak,” jelas Bang Rian singkat.

“Siap! Kali ini kami janji nggak bikin rusuh besar,” jawab Ojak semangat, padahal matanya sudah berbinar-binar penasaran.

Kami mulai masuk satu per satu, sambil menutup hidung dan mulut pakai kain lap bekas. Awalnya berjalan lancar-lancar saja. Ban bekas dipindahkan ke sudut, kotak-kotak ringan diangkat keluar, debu disapu pelan-pelan.

Tapi ketenangan itu cuma bertahan lima menit saja.

Saat Ojak sedang menarik satu karung goni besar yang tergeletak di pojok paling gelap, dia merasakan isinya berat tapi terasa empuk-empuk.

“Ini isinya apa ya? Berat tapi nggak keras kayak besi,” gumamnya sambil menariknya keluar dengan susah payah sampai keringat menetes.

Begitu mulut karung terbuka sedikit, tumpukan debu halus langsung beterbangan ke mana-mana. Ojak sampai terbatuk-batuk hebat, matanya jadi perih dan merah karena kemasukan debu.

“Waduh, debunya kayak asap mesiu!” serunya sambil menyeka mata dengan punggung tangan.

Sari dan Rara yang melihat dari jauh langsung mundur selangkah. “Hati-hati dong! Nanti kita semua jadi kayak orang yang kayak habis nolongin kebakaran lho,pada cemong muka kita!”

Setelah debunya bersih, Ojak mengintip ke dalam karung itu. Matanya langsung melotot lebar, mulutnya terbuka takjub.

“Wah! Ini bukan barang biasa nih! Bentuknya bulat-bulat, kering, keras… warnanya agak kecokelatan mengkilap… jangan-jangan ini emas batangan yang disembunyikan orang dulu?” teriaknya setengah berbisik, suaranya sampai bergetar karena terkejut.

Mendengar kata “emas”, semua orang langsung berhenti bekerja dan mendekat berkerumun. Bahkan Bang Rian sendiri ikut jongkok mengintip dengan wajah penasaran.

“Mana? Tunjukkan! Masa ada emas di gudang saya sendiri yang nggak saya tahu?” tanya Bang Rian sambil mengucek matanya supaya lebih jelas melihat.

Ojak langsung mengambil satu benda bulat itu, lalu mengelap debunya pakai ujung baju. Semakin bersih, semakin terlihat bentuknya: bulat pipih, permukaannya agak kasar, warnanya cokelat tua mengkilap.

“Lihat kan? Beratnya pas, bentuknya rapi… ini pasti emas lama yang lupa ditinggalkan orang!” kata Ojak dengan nada percaya diri setinggi langit.

Semua orang ikut mengamati, ada yang mendekatkan hidung, ada yang mengetuk-ngetuknya pelan ke telinga. Sari malah memegangnya dengan hati-hati sambil berkata, “Kalau benar emas, nanti kita bisa beli kue lebaran yang banyak!”

Bang Rian hanya diam sambil menahan senyum, lalu mengambil benda itu dari tangan Ojak. Dia memutarnya sebentar, menggosoknya ke telapak tangan, lalu tiba-tiba ketawa terbahak-bahak sampai perutnya terasa sakit.

“Wkwkwkwk! Emas katamu? Coba cium baunya sebentar, baru tahu apa ini emas atau bukan!”

Ojak langsung mendekatkan hidungnya, dan detik berikutnya wajahnya berubah drastis dari senang jadi malu setengah mati.

“Lho… ini baunya kayak… rempah? Atau bukan?” gumamnya ragu.

“Ini bukan emas, tapi buah kemiri kering! Dulu saya beli banyak buat bumbu masakan, tapi lupa simpan di mana, eh ternyata masuk ke dalam karung ini dan tertimbun bertahun-tahun!” jelas Bang Rian sambil masih tertawa terbahak-bahak.

Mendengar penjelasan itu, suasana langsung berubah jadi riuh tawa. Ojak sampai memukul pelan dahinya sendiri sambil meringis.

“Ya ampun! Saya kira dapat harta karun, ternyata cuma bumbu dapur yang sudah lupa keberadaannya!”

“Wkwkwk! Sudah dapat ‘emas kemiri’ juga, lumayan buat bikin sambal nanti lebaran!” tambah Bima sambil tertawa.

Belum selesai ketawanya, kejadian lucu lain menyusul. Saat Kak Dedi mengangkat satu kotak kayu yang agak berat, tiba-tiba dasar kotaknya copot dan isinya tumpah ke lantai.

Bukan barang berbahaya, tapi keluar banyak sekali topi bekas, kacamata hitam, dan sepatu yang sudah usang. Ada juga satu payung tua yang sudah rusak tulangnya.

“Wah, gudang ini ternyata gudang pakaian bekas juga ya?” kata Rara sambil memungut satu topi yang bentuknya aneh, lalu memakainya di kepala. Jadinya dia terlihat lucu sekali, bikin semua orang makin ketawa.

Ojak yang masih malu karena salah kira tadi, langsung ikut bermain. Dia mengambil kacamata hitam yang lensanya sudah retak, lalu memakainya sambil berjalan gaya-gaya kayak orang kaya.

“Lihat saya! Orang yang baru dapat harta karun, walaupun cuma kemiri!” katanya sambil melangkah dengan gaya berlebihan, bikin tawa makin keras.

Sampai siang menjelang, gudang itu akhirnya bersih juga. Barang yang masih bisa dipakai dipisahkan, yang sudah rusak dikumpulkan, dan si “emas kemiri” itu dibawa pulang Bang Rian buat dimanfaatkan.

Saat kami berjalan pulang ke kantor, Ojak masih saja jadi bahan ledekan.

“Besok kalau cari emas lagi, pastikan baunya dulu ya! Jangan sampai kemiri dikira logam mulia lagi,” kata Pak Harun sambil tersenyum.

Ojak hanya bisa menggaruk kepalanya sambil ketawa malu. “Siap! Lain kali saya cium dulu, baru saya bilang harta atau bukan. Lumayan juga sih, walaupun bukan emas, tapi kemiri tetap bisa bikin masakan jadi enak kan?”

Begitulah hari itu berakhir. Tidak ada harta karun yang berharga mahal, tapi dapat banyak tawa dan cerita lucu yang bisa dikenang sampai lebaran nanti.

1
Ananda Anggit
bagus ceritanya 👍
Wulandari Ayuningtyas: makasih😁
total 1 replies
tazayaa
semangat kakk💪💪
Wulandari Ayuningtyas: kakak juga semangat y
total 1 replies
tazayaa
bima udah pesimis aja ni doanya ga dikabulkan🤣🤣
Wulandari Ayuningtyas: wkwk karna pasti ada aja kejadian konyol kak🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!