NovelToon NovelToon
MATA TAKDIR

MATA TAKDIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Kultivasi Modern / Komedi
Popularitas:678
Nilai: 5
Nama Author: samsu234

Gagal naik ke Alam Dewa karena masih terikat karma fana, jiwa sang Kultivator Tertinggi terpaksa kembali ke tubuh aslinya di dunia modern sebagai Dika.

Berbekal Mata Takdir untuk membereskan hutang budi dan dendam masa lalu, Dika berniat menyelesaikan misinya dengan cepat dan diam-diam.

Namun, sebuah kesalahan takdir membuat isi hati dan keluh kesah batinnya bisa didengar jelas oleh wanita-wanita di sekitarnya!

Sanggupkah Dika menjaga wibawanya sebagai calon dewa, saat semua strategi dan gengsinya bocor lewat suara hati sendiri?

#UrbanFantasy #RomanceKomedi #KultivasiModern

#IsiHatiTerdengar #PuraPuraLemah #MantanDewa

#ZeroToHero #BenciJadiCinta

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samsu234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Audit Forensik Jiwa yang Terbelah

Lina masih bersimpuh di lantai semen basemen tiga yang dinginnya minta ampun. Di tangan kanannya, dia menggenggam erat patahan pulpen butut dua ribu rupiah yang baru saja menjadi saksi bisu meleburnya seorang Dika menjadi abu kharisma. Di depannya, seonggok abu putih halus masih menggunung kecil, mirip sisa bakaran kertas sembahyang.

Tapi di depan pintu lift yang terbuka lebar, ada Dika lain yang berdiri dengan tampang super polos, tangan kirinya menenteng plastik kresek hitam isi mi instan cup rasa soto ayam dan kopi sasetan.

"Lin? Lu beneran gapapa? Kok ngeliatin gue kayak habis liat kuntilanak dapet bonus akhir tahun sih?" Dika melangkah maju, sandal jepit swalayan warna hijaunya berbunyi plethak-plethok beradu dengan lantai semen.

Lina buru-buru berdiri, kakinya sempat kesemutan sampai dia hampir limbung kalau tidak berpegangan pada kap mobil peraknya. Matanya bolak-balik menatap tumpukan abu di bawah dan wajah Dika di depannya. Gila. Benar-benar gila. Mukanya sama, rambut acak-acakan bekas bantalnya sama, bahkan tahi lalat kecil di bawah telinga kirinya juga sama persis.

Tapi ada satu hal yang bikin darah Lina mendadak berdesir dingin. Tali ID card yang melingkar di leher Dika.

Warnanya biru tua pekat, dengan logo embos perak berbentuk angka tujuh yang saling mengunci membentuk lingkaran. Itu bukan ID card Wijaya Corporindo yang talinya warna merah menyala. Itu adalah logo milik The Seven Actuaries—firma hukum dan akuntansi gaib yang beberapa menit lalu hampir saja mengubah mereka berdua menjadi komponen biaya penyusutan.

"Dik..." Suara Lina serak, tangannya diam-diam meraba saku blazernya, mencari sisa serpihan lilin hitam yang mungkin masih punya sisa energi buat proteksi diri. "Lu... lu habis dari mana tadi?"

"Kan tadi gue udah bilang, dari minimarket depan, Lin," Dika mengangkat plastik kreseknya, menggoyang-goyangkannya sampai bunyi sasetan kopi di dalam berisik. "Tadi pas di lantai atas, pas lu lagi ribet nyari berkas panti asuhan di ruang arsip, kepala gue mendadak pusing banget. Rasanya kayak habis dihantam semen tiga roda. Pas gue melek, tahu-tahu gue udah duduk di bangku taman lobi bawah, megang dompet. Ya udah, karena ngantuk, gue sekalian aja nyeberang beli kopi. Ini gue balik lewat lift barang karena lift utama lagi mati total katanya."

Lina menelan ludah. "Lu... lu nggak ngerasa ada yang aneh di lantai atas? Nggak ada ledakan? Nggak ada asap kelabu monyet?"

Dika mengernyitkan dahi, menatap Lina dengan pandangan prihatin yang amat sangat. "Ledakan apaan sih, Lin? Lu kebanyakan begadang nonton film konspirasi ya? Lantai atas tadi emang rada sepi sih pas gue turun, tapi ya biasa aja. Emang kenapa?"

Lina bungkam. Otaknya yang sudah biasa dipakai menghitung neraca keuangan korporasi besar mendadak mengalami system crash.

Jika Dika yang ini baru saja kembali dari minimarket dengan memori yang super lempeng, lalu siapa Dika yang tadi menghancurkan Formasi Penyelaras Jiwa milik Wijaya? Siapa Dika yang matanya bersinar emas, membebaskan jiwa-jiwa pekerja yang lembur pesugihan, dan dengan jantannya menyatakan bangkrut sukarela sampai badannya meledak jadi abu di depan matanya sendiri?

Lina melihat ke bawah, ke arah tumpukan abu putih.

Wusss.

Sebuah embusan angin basemen yang mendadak kencang menyapu sisa-sisa abu tersebut. Anehnya, abu itu tidak berantakan ke mana-mana, melainkan tersedot masuk ke dalam celah-celah ubin lantai semen, lenyap tanpa bekas dalam hitungan detik. Yang tersisa hanyalah bayangan samar di lantai yang membentuk pola melingkar, mirip logo daur ulang tapi dengan getaran energi yang bikin bulu kuduk berdiri.

"Eh, kok abunya ilang? Bersih amat ditiup angin," celetuk Dika, masih dengan nada santai tanpa dosa. Dia berjalan mendekati mobil Lina. "Yuk lah naik mobil, kita balik ke kantor cabang. Gue belum input data jurnal penyesuaian buat klien besok pagi nih. Bisa diamuk bos kita kalau telat."

Lina melangkah mundur satu tapak, matanya tertuju pada ID card di leher Dika. "Dik, lu sadar nggak lu pakai ID card apaan?"

Dika menunduk, melihat benda persegi panjang yang menggantung di dadanya. Dia memegangnya, lalu membolak-baliknya dengan tampang bingung. "Lho? Kok ID card gue ganti warna? Bukannya tadi pagi warna merah ya? Perasaan tadi pas di minimarket kasirnya ngeliatin gue aneh banget, apa karena ini ya? Wah, jangan-jangan si Beni orang HRD salah ngasih tali pas gue perpanjang kontrak magang minggu lalu nih."

"Itu bukan punya Wijaya Corporindo, Dika," bisik Lina, suaranya bergetar tipis. "Itu logo The Seven Actuaries."

Mendengar nama itu disebut, gerakan tangan Dika yang sedang memegang ID card mendadak berhenti. Tepat pada detik itu, seluruh lampu neon di basemen tiga kembali berkedip satu kali. Bzzzzt.

Wajah Dika yang semula ekspresif dan penuh kebingungan khas anak magang, mendadak mendatar selama satu fraksi detik. Matanya yang jernih berubah menjadi kosong, memantulkan cahaya neon yang dingin, sebelum akhirnya kembali normal seperti semula dalam sekejap mata. Perubahan yang begitu cepat sampai-sampai Lina mengira dia cuma salah lihat akibat stres tingkat tinggi.

"The Seven... apa, Lin? Nama band indie baru?" Dika terkekeh, memasukkan ID card itu ke dalam saku kemejanya. "Udah ah, buruan buka pintu mobilnya. Ini mi instan gue selak mengembang airnya, kagak enak lagi ntar."

Lina menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang mirip suara mesin jahit rusak. Dia tahu, ada yang salah dengan realitas saat ini. Likuidasi total yang dilakukan oleh "Dika yang satu lagi" ternyata tidak benar-benar menghapus eksistensinya dari dunia. Sistem tidak menghapus Dika, sistem melakukan rollback—mengembalikan data ke titik cadangan terakhir, tapi dengan modifikasi yang mengerikan.

Dika yang ada di depannya saat ini adalah Dika yang sudah bersih dari memori spiritualnya, namun secara administratif... dia sudah terdaftar sebagai aset hidup milik The Seven Actuaries. Jiwanya telah terbelah. Bagian yang idealis dan penuh kekuatan purba telah hancur menjadi abu, sementara bagian manusia yang lemah dan butuh duit buat bayar kosan didegradasi menjadi budak sistem yang baru.

Lina membuka kunci mobilnya dengan remot. Pip-pip.

Dika langsung membuka pintu penumpang depan dan masuk dengan ceria, langsung sibuk membuka bungkus mi instannya di dalam mobil yang baunya langsung memenuhi kabin. Lina menyusul masuk ke kursi pengemudi, tangannya memegang setir yang mendadak terasa sangat dingin.

Saat Lina menghidupkan mesin mobil, radio tape mobilnya yang biasanya disetel di frekuensi radio anak muda Jakarta mendadak mengeluarkan suara kresek-kresek yang nyaring.

Krrrrk... krrrkkk...

Lina mencoba memutar tombol volume untuk mematikannya, tapi tombol itu macet. Suara kresek-kresek itu perlahan berubah menjadi sebuah siaran berita keuangan dengan vokal pembawa berita yang terdengar terlalu datar, mirip suara robot AI tapi dengan intonasi yang sangat menekan.

"Berita terkini dari lantai bursa. Perusahaan raksasa Wijaya Corporindo secara resmi dinyatakan pailit oleh Pengadilan Niaga Jakarta Pusat pada pukul empat sore ini akibat temuan defisit neraca gaib struktural yang tidak bisa dimitigasi. Seluruh aset fisik dan non-fisik perusahaan, termasuk sengketa tanah di wilayah Jakarta Barat, secara resmi diambil alih oleh konsorsium global The Seven Actuaries sebagai bagian dari penyelesaian utang kompensasi kausalitas..."

Lina melirik Dika lewat spion tengah. Dika sedang asyik menyeruput kuah mi instannya sampai bunyi sruuup yang keras, sama sekali tidak terganggu dengan isi siaran radio yang menyebut nama panti asuhan tempat dia dibesarkan.

"Dik, lu denger radio tadi?" tanya Lina sambil perlahan menjalankan mobilnya keluar dari basemen tiga, menanjak menuju permukaan dunia luar.

"Denger. Sadis ya, perusahaan segede gitu bisa bangkrut dalam hitungan jam," sahut Dika sambil mengunyah kerupuk yang dia beli terpisah. "Tapi ya bagus sih, denger-denger bosnya emang brengsek. Makanya Lin, jadi orang tuh jangan maruk-maruk amat sama duit. Kalau neracanya nggak seimbang sama amal, ya siap-siap aja di-audit sama Tuhan."

Lina tersenyum kecut, fokus menatap jalanan tanjakan yang mulai memperlihatkan cahaya matahari sore kota Jakarta yang temaram. Lu nggak tahu aja, Dik, kalau yang nge-audit bos brengsek itu adalah lu sendiri beberapa menit lalu, batin Lina perih.

Begitu mobil mereka keluar dari gerbang parkir gedung Wijaya Corporindo, suasana jalanan di luar tampak biasa saja. Macetnya Jakarta, asap knalpot metro mini, dan klakson kendaraan yang saling bersahutan menyambut mereka. Dunia manusia biasa tetap berjalan seolah tidak terjadi pertempuran mistis yang hampir meruntuhkan tatanan ekonomi gaib di lantai atas gedung pencakar langit tadi.

Namun, saat Lina menghentikan mobilnya di lampu merah perempatan jalan utama, dia melihat ke arah kaca spion samping kiri.

Di trotoar jalan, berdiri sesosok wanita dengan setelan kerja yang sangat elegan berwarna hitam legam. Wanita itu memegang sebuah payung hitam meskipun cuaca sore itu sedang tidak hujan. Di bawah naungan payung tersebut, wajah sang wanita tampak sangat pucat, dengan bibir yang dipulas lipstik warna merah darah yang kontras.

Wanita itu tidak melihat ke arah jalanan. Matanya yang tajam dan sedingin es lurus menatap ke arah kaca spion mobil Lina—tepat ke arah mata Lina yang sedang memperhatikannya.

Di tangan kirinya, wanita itu memegang sebuah papan jalan (clipboard) digital yang layarnya menyala biru terang. Di atas layar tersebut, ada grafik pergerakan jiwa yang terus berfluktuasi, dan di bagian paling atas, ada foto profil Dika dengan status tulisan berkedip warna merah: "AUDIT INTERNAL: RE-ALOKASI DEPARTEMEN."

Wanita itu tersenyum tipis ke arah Lina, lalu mengangkat tangan kanannya, melakukan gerakan gestur mengetuk jam tangannya sendiri—sebuah isyarat universal bahwa waktu mereka sudah tidak banyak lagi.

Lampu lalu lintas berubah menjadi hijau. Kendaraan di belakang mobil Lina langsung membunyikan klakson bertubi-tubi, memecah fokus Lina. Lina terpaksa menginjak gas, melajukan mobilnya membelah kemacetan. Saat dia kembali melirik ke kaca spion samping, wanita berpayung hitam itu sudah lenyap dari trotoar, menyisakan kerumunan orang kantoran yang sedang mengantre busway dengan wajah lelah.

Lina meremas setir mobilnya lebih erat. Dia tahu, pertempuran melawan Wijaya kemarin hanyalah babak pemanasan yang sepele. Musuh yang sebenarnya—sistem yang menopang seluruh kapitalisme mistis di kota ini—baru saja mendaftarkan nama Dika ke dalam buku besar mereka. Dan kali ini, Lina tidak akan membiarkan rekan kerjanya yang bodoh itu menjadi tumbal sendirian.!

1
SANG
Semangat ya thor💪👍
SANG
Sembilan belas bunga untukmu thor/Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/
SANG
Mantap, mantap banget💪👍
SANG
Cerita baru semangat baru ya dek💪👍
SANG
Ceritanya seru banget💪👍
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Remontada
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!