Danu merasa hidupnya benar-benar di kutuk oleh Lila gadis kecil yang dulu dia rawat, empat kali sudah dia gagal memiliki pasangan hidup hingga dia di juluki Perjaka Tua di kampus di mana dia mengajar.
"Siang Pak Dosen" Suara itu benar-benar Danu hafal, siapa lagi kalau bukan Lila si Pengutuk kecil.
"Ada apa?"
"Pak saya ada masalah, mohon bantuan"
"Bantuan apa? apa ada materi yang sulit di fahami?" Danu mencoba bersikap professional.
"Ada pak"
"Materi apa?"
"Materi tentang bagaimana cara menjadi istri Pak Danu Pramana"
'Uhuk uhuk'
Danu sampai tersedak mendengar Lila kembali berulah.
"Lila ....."
Lila langsung berlari keluar setelah menaruh buku tugasnya di meja kerja Danu.
Akankah Lila berhasil mendapatkan cinta sang Dosen? yuk kepoin cerita serunya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ibah Ibah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25
Melihat lelaki muda tampan di depan rumah putrinya, Angga langsung turun duluan.
"Siapa kamu?" Tanya Angga, meski dia sudah ingat dengan lelaki itu, Angga berlagak bodoh saja dan pura-pura tidak kenal.
"Saya Ryan om, temennya Lila"
"Mau apa ke sini? Bawa-bawa bunga segala"
'Tentu saja mau nembak Lila, Ryan ingin Lila jadi pacarnya'
"Kenapa diam?"
"Saya mau ajak Lila makan di luar om, mau ngajak dia jalan-jalan"
"Dia tidak bisa, kamu pulang saja"
"Tapi om ,saya mau ketemu Lila sebentar saja"
"Baiklah"
Angga mendekat ke mobil, meminta Lila turun menghampiri Ryan.
"Lila..."
"Ian, maafin aku. Mulai hari ini jangan deketin aku lagi ya? Aku sudah menikah. Kamu cari aja wanita lain, ok?"
bukannya percaya Ryan justru tertawa, bagaimana bisa Lila menggunakan alasan tidak masuk akal itu agar dirinya menjauh.
"Menikah? Jangan bercanda Lila"
"Aku tidak bercanda, Lihatlah"
Lila menunjukkan vidio akad nikahnya di KUA. Dia sengaja meminta vidio itu dari orang-orang yang menyaksikan pernikahan mereka tadi.
"Vidio itu pasti rekayasa, mana mungkin kamu nikah dengan pak Danu, tanpa baju pengantin? tanpa mahar?"
Lila memijat pangkal hidung nya, bagaimana cara menjelaskan semua ini pada Ryan.
"Kalau kamu tidak percaya, tunggu sampai surat nikah kamu keluar. Tapi sebenarnya aku beri tahu kamu Ian, kamu itu lelaki baik, tampan dan kaya. Jangan sia-siakan semua itu hanya untuk mengejar wanita seperti ku, aku adalah wanita yang sudah memiliki seseorang di hatiku, jadi move on Ian, masih banyak wanita lain di luar sana"
"Cinta tidak bisa memilih di mana dia mau bersandar Lila, aku akan tetap ngejar kamu sampai kamu bilang Iya"
Ryan memberikan bunga itu ke Lila, dia segera pergi dari sana dengan perasaan kecewa. Namun dia tidak akan menyerah.
"Duh lihat Dan, banyak yang suka sama mantu Ibu, kamu harus jagain dia, jangan sampai dia pergi dari kamu, nanti nyesel"
Ucap Bu Marni yang melihat adegan penolakan itu dari dalam mobil. Meski tidak mendengar apa yang mereka katakan, namun Bu Marni tahu lelaki muda tadi ingin menembak Lila.
"Bu Danu tidak pantas jadi suami Lila, sebentar lagi kami juga pasti pisah"
"Husss jangan bilang begitu, Kalian sudah menikah, itu artinya kalian jodoh"
"Terserah ibu saja"
Begitu sampai di rumah, kedua keluarga itu kembali bergabung membicarakan tentang hubungan Danu dan Lila.
"Meski kalian sudah menikah, kalian tidak bisa hidup bersama sebelum Lila Lulus"
"Pa kenapa bahas itu lagi? bukankah Lila bilang Lila tidak setuju?"
"Papa sudah memutuskan jadi kalian tetap tinggal di rumah masing-masing"
Lila tidak memberontak, toh dia nanti bisa sesuka hati ke rumah Mas Danu, dia bahkan bisa menyelinap ke kamar mas Danu.
"Oke"
Lila menyetujui permintaan itu, dia kira itu hanyalah aturan yang bisa dia langgar kapan saja. Namun beberapa saat kemudian, ada empat orang yang masuk ke rumah Lila.
"Masuklah" Teriak Angga. Lila menatap orang-orang itu, mereka membuka tas besar yang berisi banyak alat.
"Papa mau ngapain?"
"Papa hanya sedang membuat sebuah aturan"
Lila syok saat mendekati orang-orang itu, mereka ternyata jasa pemasangan Cctv.
OMG! Kenapa harus ada cctv?
"Papa mau pasang ini di rumah Lila?"
"Bukan hanya di sini, tapi di rumah Danu juga, ya kan Dan?"
"Iya mas Angga"
Kepala Lila rasanya berputar-putar tujuh keliling. Papanya benar-benar menyebalkan.
Sore ini Lila pulang dari kampus dengan keadaan kesal, di kampus mas Danu menjauhinya, dia bersembunyi entah di mana saat dia datang membawakan makanan.
Di rumah dia tidak bisa melakukan hal apapun, papanya memasang cctv di hampir seluruh ruangan rumahnya juga milik Mas Danu. Saat dia mencoba mendekati Danu, Lila langsung di telfon oleh papanya Angga. Benar-benar situasi yang menyebalkan. Papa nya hanya menyisakan ruang kamar dan kamar mandi saja. Selain ruangan itu, semua sudah di pasang cctv. Hanya di kampus dia bisa leluasa mendekati Danu, namun di kampus mereka juga tidak bisa bertemu.
"Harusnya sebagai pengantin baru, kamu berduaan, mesra-mesra an. Tapi ini mereka justru LDR tidak jelas" Keluh Lila.
Dia sedang mencari cara bagaimana dia bisa mengelabui papanya. Bagaimana dia bisa mendekati suaminya tanpa di awasi cctv.
Lila baru saja turun dari sepeda motornya, bersamaan dengan itu, Mobil Danu juga baru saja nampak datang. Lila tersenyum, Akhirnya dia bisa bertemu Mas Danu. Lila langsung berjalan ke gerbang rumah Danu.
"Wah istri muda kamu sudah menunggu, pasti ngajak ke hotel" Kekeh Yuda.
"Jaga bicara kamu! jangan sampai ada orang yang tahu hubungan kami"
"Iya iya, lagian di mobil ini tidak ada orang lain kan?"
Danu berhenti tepat di depan gerbang,dia turun menghampiri Lila yang menghadangnya untuk masuk ke halaman rumah.
"Lila minggir!" Teriak Danu yang hanya membuka kaca mobilnya. Dia tidak mau turun, bisa-bisa dia di culik lagi seperti kemarin.
"Nggak mau!"
Lyla makin merentangkan kedua tangannya dan tak mau pergi dari sana Danu kesal Dia terpaksa turun untuk meminta Lila segera beranjak dari sana. Lila menggeleng cepat, dia ingin mengajak Danu keluar agar mereka bisa berduaan.
"Mau kamu apa Lila?"
"Lila mau Diner sama mas Danu"
"Mas sudah makan di jalan, mas kenyang"
"Kalau begitu Lila nggak mau pergi dari sini"
"Ya sudah di sana saja terus sampai pagi"
Danu tidak akan memberi kesempatan Lila untuk mendekatinya lagi, dia tidak ingin melanggar aturan Angga. Dia juga ingin Lila tumbuh jadi wanita yang sukses. Jadi dia memilih menghindari Lila.
Danu memarkir mobilnya di luar gerbang, dia masuk rumah lewat depan rumah Lila, dia melompati pagar agar bisa masuk ke rumahnya.
Yuda pun melakukan hal yang sama.
"Nasib-nasib, punya rumah sendiri sudah seperti maling, mau masuk saja harus panjat pagar, untuk pagarnya tidak tinggi" Gerutu Yuda.
"Ini rumah gue!"
"Iya iya, kan gue cuma mewakili elu"
Lila menghentakkan kakinya kesal melihat Danu yang masuk saja ke dalam rumah, dia bahkan mengabaikan dirinya yang masih berdiri di depan pintu gerbang rumahnya.
"Mas Danu...! Lila nggak akan pergi dari sini, sebelum mas Danu ajak Lila keluar!" Teriak Lila. Danu tak menggubris, toh nanti kalau lelah dia akan pergi sendiri.
Malam pun tiba, Danu mengintip ke luar jendela. Ternyata Lila benar-benar keras kepala, dia benar-benar tidak beranjak dari tempat itu.
"Sudah kasihan dia, ajak keluar sebentar, beres kan?"
"Tidak akan, dia bisa menggunakan kelemahan ku untuk melaksanakan hal yang sama lagi besok"
"Sudah empat jam Dan, kamu nggak kasihan? Cantik-cantik gitu di sia-siakan, kalau aku sih sudah tak culik ke hotel dari tadi"
Danu langsung memukul kepala Yuda dengan bolpoin yang dia pegang.
"Elo nggak tahu seberapa sayangnya gue sama dia, dia itu sudah seperti adek gue sendiri, mana mungkin gue merusak dia"
'Nggak mau merusak, tapi di cipok tiap hari'
Lirih Yuda yang masih bisa di dengar Danu.
Danu ingin melempar Yuda dengan buku yang dia bawa, namun Yuda langsung berlari menghindar.