Di bawah kilau kemewahan, Sherina Mutiara tetap berpijak sederhana, mengubur rasa cinta pada Darren Mahendra yang kandas oleh perbedaan. Ia lalu meniti jalan hidupnya sendiri di Mutiara Group, tempat ia bertemu Arsya Abrisam—pemuda jenius yang melepas jas dokter akibat luka masa lalu, dingin dan tertutup. Di antara tantangan kerja dan konflik perbedaan pendapat, benih rasa tumbuh di antara mereka, menyembuhkan luka dan mengajarkan arti bangkit. Namun, takdir membawa Darren Mahendra kembali dengan penyesalan, sementara Arsya diuji oleh pilihan tentang menegakkan keadilan atau tetap di tempat. Di persimpangan jalan, Sherina juga harus memilih: kembali pada mimpi lama, atau melangkah maju bersama sosok yang mengajarkannya bahwa cinta sejati adalah tentang tumbuh, bersinar, dan berani menjadi diri sendiri. Sebuah kisah tentang hati yang belajar memilih, dan jiwa yang menemukan cahayanya di balik luka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 14
Suasana di Divisi Riset dan Pengembangan Produk masih terasa berat dan dingin pasca perdebatan panas yang terjadi beberapa hari lalu. Hubungan antara Sherina Mutiara dan Arsya Abrisam kini tegang bagai tali yang ditarik hingga batas putus.
Arsya bersikap semakin keras, semakin kritis, dan seolah bertekad mencari celah kesalahan sekecil apa pun dari setiap hasil kerja Sherina, sepenuhnya yakin bahwa gadis itu yang bertanggung jawab atas kekacauan data dalam laporan proyek Timur Nusantara.
Sementara itu, Sherina menelan rasa pahit dan ketidakadilan itu dalam-dalam. Ia diam, bukan karena mengaku salah, melainkan karena ia sadar bahwa kata-kata saja tidak akan mampu mengubah pandangan yang sudah tertanam kuat. Ia percaya, kebenaran pasti akan terungkap pada waktunya, dan saat itu tiba, ia akan berdiri tegap dan berkata "Sudah kubilang, aku tidak bersalah."
Dan saat itu pun akhirnya tiba, datang tanpa diduga, membawa cahaya terang yang meluruhkan segala tuduhan yang menimpanya.
Pagi itu, tim administrasi pusat mengirimkan pesan penting ke seluruh divisi mengenai adanya gangguan sistem dan kesalahan teknis pada perangkat lunak pengolah data yang digunakan perusahaan selama sepekan terakhir.
Berdasarkan penelusuran tim teknis, diketahui bahwa ada kesalahan pembaruan sistem yang menyebabkan perubahan otomatis pada angka-angka dan data angka yang tersimpan dalam dokumen yang sedang dalam proses pengerjaan, tanpa meninggalkan jejak perubahan yang terlihat jelas.
Berkas laporan proyek Timur Nusantara yang menjadi sumber pertengkaran itu ternyata masuk ke dalam daftar dokumen yang terkena dampak kesalahan sistem tersebut. Angka-angka yang berubah, yang dianggap Arsya sebagai ketidaktelitian Sherina, ternyata murni akibat kerusakan sistem komputer, sama sekali bukan kesalahan manusia, apalagi kelalaian gadis itu.
Berita itu menyebar cepat ke seluruh ruangan. Para staf saling pandang, mengingat kembali pertengkaran hebat beberapa hari lalu, dan perlahan pandangan mereka beralih ke arah Sherina. Kini, semua orang tahu bahwa Sherina tidak bersalah. Tuduhan yang dilontarkan kepadanya, segala cacian dan hinaan bahwa ia ceroboh dan tidak bertanggung jawab, semuanya tidak berdasar dan keliru besar.
Di ruangan pribadinya, Arsya Abrisam membaca laporan itu dengan wajah pucat pasi. Tangannya yang biasa mengepal erat kini terkulai lemah di sisi tubuh. Rasa kaget, rasa malu, dan rasa bersalah yang besar menyerangnya sekaligus.
Ia teringat kembali kata-kata Sherina saat itu, penjelasan gadis itu yang tegas namun ia tolak mentah-mentah, serta air mata yang hampir jatuh di sudut mata itu karena rasa tidak adil. Ia teringat bagaimana ia menuduhnya berdasarkan prasangka semata, bagaimana ia menghakiminya hanya karena identitasnya sebagai anak orang kaya, dan bagaimana ia melampiaskan kemarahan yang sebenarnya ditujukan pada dunia, kepada gadis muda yang tidak melakukan kesalahan apa pun.
Namun, harga dirinya yang setinggi langit membuatnya tidak kunjung melangkah keluar dari ruangan itu untuk meminta maaf. Ia terdiam di balik pintu tertutup, tenggelam dalam kekacauan perasaannya sendiri, sementara Sherina di luar sana menerima pandangan-pandangan penuh simpati dan pengakuan diam-diam dari rekan-rekan kerjanya.
Sherina sendiri hanya tersenyum tipis, hatinya lega namun terasa getir. Kebenaran telah terbukti, namun ia tahu, meminta Arsya mengakuinya secara terang-terangan adalah hal yang sama sulitnya dengan memindahkan gunung. Arsya terlalu keras kepala, dan luka di hatinya terlalu dalam untuk ia akui kesalahannya di depan orang banyak.
Hari-hari berikutnya berlalu dengan suasana yang sedikit berubah namun masih menyisakan ketegangan. Arsya bersikap lebih diam, lebih tertutup dari biasanya, dan jarang keluar dari ruang kerjanya. Ia tidak lagi melontarkan komentar pedas, tidak lagi mencari kesalahan, namun ia juga tidak berbicara sepatah kata pun kepada Sherina.
Sikap diamnya ini justru terasa lebih berat dan penuh teka-teki bagi Sherina. Ada sesuatu yang berubah pada diri pemuda itu, sesuatu yang samar namun terasa jelas, seolah di balik kebisuan itu tersimpan pergolakan batin yang dahsyat.
Hingga tibalah suatu malam, di mana kantor sudah sepi dan sunyi senyap. Hanya tersisa sedikit orang yang masih menyelesaikan pekerjaan, dan satu per satu pulang meninggalkan gedung tinggi itu. Sherina pun masih bertahan di mejanya, menyelesaikan catatan-catatan akhir untuk proyek baru yang dipercayakan kepadanya.
Jam di dinding menunjukkan pukul sepuluh malam lebih sedikit. Keheningan menyelimuti ruangan, hanya terdengar suara kipas angin dan ketikan keyboard yang sesekali terdengar samar.
Saat Sherina beranjak pergi ke ruang fotokopi di ujung lorong untuk mengambil dokumen, ia melewati pintu ruangan pribadi Arsya yang sedikit terbuka. Cahaya lampu masih menyala di dalam sana, menandakan pemiliknya belum pulang.
Niatnya untuk berjalan lewat begitu saja terhenti saat pandangannya menangkap pemandangan di dalam ruangan itu, pemandangan yang belum pernah dilihat oleh siapa pun di kantor ini.
Di dekat jendela besar yang memandang ke arah kerlap-kerlip lampu kota yang jauh, duduk Arsya Abrisam sendirian di kursi kerjanya yang besar dan berputar. Tubuhnya menghadap ke arah pintu, dengan sedikit membungkuk ke depan. Namun, yang membuat langkah Sherina terpaku dan napasnya tertahan bukanlah posisi duduknya, melainkan apa yang sedang dilakukannya saat itu.
Untuk pertama kalinya sejak Sherina mengenal pemuda itu, ia melihat tangan kanan Arsya terlihat jelas, tidak lagi tersembunyi di balik saku celana, di balik pakaian, atau di balik meja.
Tangan itu tergeletak di atas permukaan meja yang luas, diterangi cahaya lampu kuning hangat. Sherina menatapnya lekat-lekat, dan hatinya seakan teriris melihat kenyataan pahit itu.
Tangan kanan Arsya tidak utuh. Di sana, tempat seharusnya ada jari manis yang lengkap, kini hanya tersisa ruang kosong yang halus, bekas luka lama yang sudah kering namun terlihat jelas batasnya. Tangan itu tampak lemah, berbeda dengan tangan kirinya yang kuat dan kokoh.
Namun, yang lebih menyayat hati daripada pandangan fisik itu adalah ekspresi wajah Arsya saat itu. Pemuda itu menundukkan kepalanya rendah, menatap tangan kanannya yang cacat itu dengan pandangan yang begitu sedih, begitu hancur, dan begitu penuh kepedihan yang mendalam. Tidak ada lagi raut wajah dingin, tidak ada lagi tatapan tajam atau sarkasme yang meremehkan.
Di sana, di balik kaca jendela yang dingin itu, terlihat sosok seorang manusia yang terluka, yang sedang meratapi nasibnya, yang sedang mengenang kehilangan terbesarnya.
Sherina melihat dengan jelas bagaimana jari-jari tangan kiri Arsya menyentuh pelan bekas luka di tangan kanannya itu, gerakan yang penuh rasa sakit dan penyesalan. Ia mendengar helaan napas panjang yang berat keluar dari mulut pemuda itu, helaan napas yang seolah membawa beban seluruh dunia yang dipikulnya sendirian.
Di wajah itu, tergambar kesedihan yang begitu dalam, kesedihan yang tersimpan bertahun-tahun lamanya, kesedihan yang tidak pernah ia perlihatkan kepada siapa pun, yang ia tutupi rapat-rapat di balik sikap angkuh dan kerasnya.
Di detik itulah, di balik celah pintu yang terbuka itu, sepotong teka-teki besar perlahan menemukan jawabannya. Di benak Sherina, segala perilaku aneh Arsya, kebenciannya pada kemudahan, pandangannya yang selalu buruk padanya, sikapnya yang tertutup dan kritis, serta kebiasaan menyembunyikan tangan kanannya, semuanya tersambung menjadi satu kisah yang utuh dan menyedihkan.
Sherina perlahan mengerti. Arsya bukanlah orang yang lahir dengan hati dingin. Ia bukanlah pemimpin yang kejam karena ia suka berbuat jahat.
Di balik segala ketajaman dan kekerasan kata-katanya, tersembunyi luka yang sangat besar, luka yang merenggut segalanya darinya di masa lalu. Kehilangan itu, rasa sakit itu, dan rasa gagal itu-lah yang membentengi hatinya setebal baja.
Ia membenci kemewahan dan orang-orang yang hidup mudah karena ia merasa takdirnya sendiri begitu sulit dan pahit. Ia memandang rendah orang yang dianggapnya tidak berjuang karena ia sendiri telah berjuang mati-matian namun tetap kehilangan segalanya. Dan ia menyembunyikan tangannya bukan sekedar karena cacat fisik, melainkan karena bagi Arsya, tangan itu adalah pengingat abadi akan mimpi yang hancur, akan identitas yang hilang, dan akan kebahagiaan yang direnggut paksa oleh takdir.
Perlahan, rasa marah dan kesal yang selama ini dipendam Sherina terhadap Arsya perlahan menguap, berganti dengan rasa iba yang mendalam dan pemahaman yang baru. Ia sadar sekarang bahwa sikap Arsya kepadanya selama ini bukan semata-mata karena ia buruk. Sebagian besar adalah karena rasa sakit hati yang mendalam itu, karena ia melihat pada diri Sherina segala hal yang tidak ia miliki lagi, segala hal yang telah hilang darinya.
Arsya Abrisam hanyalah manusia yang sedang terluka parah, yang memilih untuk menyakiti orang lain lebih dulu agar dirinya tidak tersakiti kembali. Ia membangun tembok tinggi di sekelilingnya agar tidak ada yang bisa masuk dan melihat betapa rapuhnya dirinya yang sebenarnya.
Sherina mundur perlahan dengan langkah pelan agar tidak terdengar, menjauh dari pintu ruangan itu dengan hati yang berdebar kencang namun penuh perasaan yang campur aduk. Ia tidak menyangka akan menemukan sisi lain dari pemuda itu malam ini. Ia tidak menyangka bahwa di balik sosok jenius yang ditakuti itu, tersimpan kisah pilu yang begitu besar.
Malam itu, Sherina pulang membawa pengetahuan baru yang mengubah pandangannya selamanya. Ia tahu kebenaran telah terungkap, ia tahu dirinya bersalah atas tuduhan yang keliru, namun ia juga tahu satu hal lain yang jauh lebih penting, bahwa Arsya Abrisam memiliki luka besar yang belum sembuh, dan mungkin... sikap dingin dan kerasnya itu hanyalah cara ia menangis dalam keheningan, tanpa suara dan tanpa belas kasihan.
Dan di sanalah, benih-benih keinginan untuk tidak hanya membuktikan diri, tetapi juga untuk memahami dan perlahan menyentuh hati yang beku itu, mulai tumbuh di dalam diri Sherina.