NovelToon NovelToon
Si Cantik Milik Ketos Sadis

Si Cantik Milik Ketos Sadis

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Ketos / Diam-Diam Cinta
Popularitas:7.1k
Nilai: 5
Nama Author: Filanina

Yasmin adalah definisi dari kepolosan yang berbahaya. Kecantikannya yang luar biasa justru menjadi magnet bagi perundungan di sekolah. Dia tidak butuh pahlawan berkuda putih; dia hanya butuh cara untuk bertahan hidup.

​Lalu hadirlah Vyan. Ketua OSIS sempurna dengan senyum ramah yang mematikan.

​Bagi Vyan, membalas dendam tidak perlu menggunakan otot. Dia tidak memukul, dia tidak berteriak. Dia hanya berbisik, menyusun skenario, dan menghancurkan reputasi musuhnya hingga mereka memohon ampun di bawah kakinya. Dia genius, dia bermuka dua, dan dia... sadis.

​Vyan telah memagari Yasmin dengan otoritasnya. Siapa pun yang berani menyentuh Yasmin, harus siap menghadapi "pelajaran" dari sang Ketua OSIS yang tidak mengenal kata maaf.

​Namun, di tengah perlindungan gelap itu, muncul Ray—sang atlet populer yang menawarkan kehangatan tulus, dan Dean—masa lalu yang kembali dengan sejuta rahasia.

​Apakah Vyan benar-benar mencintainya, atau Yasmin hanyalah pion dalam skenarionya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Filanina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26 Keributan di Belakang Pertunjukan

​'Vyan, lo... apa sudah gila?' Agil mematung, map di tangannya nyaris terlepas. Ia mengenal Vyan sebagai sosok yang penuh perhitungan. Namun aksi barusan benar-benar di luar nalar.

​Tak jauh dari sana, Sandra yang kebetulan sedang berada di sekitar barisan belakang bersama Mia dan Resi, ikut membeku. Nafasnya tertahan. 'Gila! Vyan mencium Yasmin? Di aula? Di depan banyak orang?' batin Sandra tak percaya. Kejutan ini bahkan lebih besar daripada rasa malu yang ia tanggung di arena permainan tempo hari.

​Di sisi lain, Zia berdiri dengan tatapan kosong. Hatinya terasa aneh—sepi dan hampa, seolah semua rasa di dalam dirinya menguap seketika. Sesaat, ia merasa sedang bermimpi atau jiwanya sedang terlempar keluar dari tubuhnya sendiri, menyaksikan cuplikan adegan aneh yang membuat jantungnya terasa berhenti berdetak. Ada keinginan besar dalam dirinya untuk berbalik, berlari, dan menghilang dari tempat itu sekarang juga.

​Namun, ledakan emosi yang sebenarnya datang dari Ray.

​Dengan raungan kemarahan, Ray melayangkan tinjuannya. Vyan yang sudah menduga reaksi itu dengan sigap menghindar. Ia menangkap pergelangan tangan Ray yang melintas di depan wajahnya dengan gerakan santai, hampir meremehkan.

​"Jangan bodoh...!" ucap Vyan sambil menyunggingkan senyum mengejek, lalu mendorong tangan Ray menjauh.

​Yasmin, yang seolah baru saja tersadar dari kebekuan akibat tindakan Vyan yang tiba-tiba, tersentak hebat. "Ray!" teriaknya panik.

​Belum sempat Ray membalas dorongan itu, sebuah pukulan kedua melesat lebih cepat. Kali ini telak mengenai perut Vyan. Vyan terhuyung mundur, tubuhnya membungkuk menahan rasa sakit yang luar biasa. Ia tidak menduga Ray benar-benar kalap hingga tenaganya berlipat ganda. Keributan itu pun mulai mengundang perhatian siswa dan guru di sekitar mereka.

​"Kak Vyan...!" Yasmin segera mendekati Vyan dengan wajah cemas.

​Agil buru-buru menghampiri Ray, mencoba memegang bahu Ray yang tampak dikuasai amarah. "Hentikan, Ray!"

​Ray menoleh perlahan ke arah Agil. "Cepat minggir," ucapnya. Suara Ray tidak keras, tapi nada dingin dan matanya yang merah, menunjukkan kemarahan yang sudah di puncak. Agil tergidik, ia belum pernah melihat sisi Ray yang seperti ini.

​"Kak Vyan tidak apa-apa?" Yasmin memegang lengan Vyan yang masih memegangi perutnya.

​"Nggak apa-apa," desis Vyan. Ia melihat Agil berusaha menghalangi Ray. Namun, dengan satu dorongan kasar, Ray membuat Agil terhuyung.

​"Ada apa ini?" suara berat Pak Yanto memecah keributan.

​Vyan segera mengatur napas, mencoba berdiri tegak meski perutnya masih berdenyut nyeri. "Maaf Pak. Ada kesalahpahaman!" ucap Vyan, kembali ke topeng ketenangannya.

​"Lo brengsek, Vyan!" teriak Ray, tidak peduli lagi ada guru di depannya.

​"Ray...!" Pak Yanto kaget mendengar umpatan itu keluar dari mulut siswa.

​Vyan menarik napas dalam, wajahnya tampak tulus dan terluka secara bersamaan. "Ray, gue nggak bikin salah apa-apa. Yasmin pacar gue. Justru lo yang dari kemarin nyoba-nyoba deketin Yasmin tanpa izin."

​"Lu bohong!"

​"Gue nggak asal ngomong. Mereka saksinya," ucap Vyan sambil menoleh ke arah Sandra dkk yang masih berkerumun.

​Sandra tersentak saat menjadi pusat perhatian. Namun, Mia yang berada di sampingnya justru menjawab dengan cepat, "Benar... minggu kemarin mereka kencan ke Mall."

​Ray menoleh ke arah Yasmin, matanya memancarkan luka yang dalam. "Yasmin! Kenapa diam saja? Bilang yang sebenarnya!"

​Yasmin terpaku. Kepalanya berputar hebat. Ia teringat bisikan Vyan tepat sebelum bibir pria itu menyentuhnya: 'Cantik, kita pacaran.'

​Air mata Yasmin mulai mengalir, membasahi pipinya yang baru saja dirias cantik oleh Bu Desi. "Ray, jangan pukul Kak Vyan lagi. Aku..."

​Ray seolah terhantam palu godam mendengar pembelaan Yasmin untuk Vyan. Namun, sebelum Yasmin menyelesaikan kalimatnya, Vyan segera memotong dengan nada protektif yang dramatis.

​"Tidak apa-apa, Yasmin. Kamu tidak perlu mengkhawatirkan aku. Malah menurutku, keterusterangan kita di sini memang nggak baik buat kamu. Tapi, aku berjanji akan menjagamu. Aku pastikan tidak akan ada seorang pun yang akan menyakitimu lagi."

​Ray tertawa—sebuah tawa aneh yang terdengar pedih. "Maaf Yasmin. Aku hanya mewakili ayahmu..." ucap Ray getir. Ia berbalik dan berjalan cepat meninggalkan aula, melewati Zia yang masih mematung seperti patung lilin.

​"Ray..." panggil Yasmin lirih, namun punggung Ray sudah menghilang di balik pintu.

​Pak Yanto menghela napas panjang melihat kekacauan ini. Vyan segera menoleh pada guru itu. "Sekali lagi maaf, Pak. Masalah ini tolong jangan diperpanjang. Ray hanya sedang emosi."

​"Kamu benar-benar tidak apa-apa?" tanya Pak Yanto memastikan.

​"Tidak kok, Pak."

​"Oke. Oh ya, di sini ada Zia. Kamu sudah tahu?" Pak Yanto menoleh ke arah Zia yang tadi hendak menyelinap pergi.

​Terpaksa, Zia berhenti dan berbalik dengan senyum yang dipaksakan. Ia menatap Vyan, mencoba mencari sisa-sisa kenangan di mata pria itu, namun yang ia lihat hanyalah Vyan yang baru saja mengklaim gadis lain.

​"Apa kabar, Vyan?" tanya Zia pelan.

​"Kejutan yang aneh. Kamu kembali buat seterusnya?" tanya Vyan, nada bicaranya kembali normal seolah ciuman tadi tidak pernah terjadi.

​"Mungkin. Aku gak mungkin pindah-pindah terus."

​"Kalau sudah tidak ada apa-apa, Bapak tinggalkan kalian dulu. Vyan, obati perutmu," ucap Pak Yanto sebelum berlalu.

Suasana di bagian belakang aula itu mendadak menjadi sangat sunyi, sebuah kontras yang tajam dengan hingar-bingar musik daerah yang membahana di atas panggung.

​"O ya, Cantik. Ini sahabatku, Zia. Dulu Zia pernah sekolah di sini."

​Suara Vyan terdengar begitu luwes, tapi bagi Zia, kata itu terdengar seperti ledakan di telinganya. Selama mereka bersama dulu, Vyan tidak pernah memanggilnya dengan sebutan itu. Vyan selalu memanggil namanya dengan nada yang serius atau penuh hormat.

Mendengar Vyan memanggil gadis lain dengan sebutan 'Cantik'—sebutan yang tadinya mungkin terdengar seperti cara memanjakan seorang adik, namun kini bermutasi menjadi panggilan sayang yang sangat intim—membuat Zia merasa seperti orang asing yang benar-benar terbuang.

​Yasmin yang sejak tadi melamun dengan wajah pucat, tampak tersentak. Ia menatap Vyan sejenak sebelum beralih ke Zia. Dengan ragu, Yasmin mengulurkan tangannya.

​"Aku tidak menyangka, tidak bertemu selama delapan bulan, ternyata Vyan sudah punya pacar secantik kamu," ucap Zia. Ia menyambut tangan Yasmin dengan cepat, berusaha menutupi tangannya yang dingin dan gemetar.

​"Kak Zia juga... sangat cantik," puji Yasmin tulus. Di mata Yasmin, Zia adalah definisi keanggunan yang tidak mungkin bisa ia tandingi.

​"Bagaimana kalau kita duduk?" usul Agil, memecah kecanggungan yang nyaris membekukan udara di antara mereka.

​Mereka pun duduk bersisian. Di panggung, penari daerah masih meliuk dengan lincah, namun di kursi itu, empat manusia terjebak dalam perang batin yang sunyi. Zia di samping Yasmin, menciptakan pemandangan dua sisi kecantikan yang berbeda: satu kecantikan kota yang matang, dan satu lagi kecantikan air telaga yang murni. Di samping Yasmin duduk Vyan dan di samping Vyan ada Agil. Mereka berempat menatap panggung yang mulai menampilkan Drama Srikandi, pertunjukan dari eskul teater.

Bagi sebagian banyak penonton, drama Srikandi mungkin memukau tapi bagi sebagian siswa di sekitar mereka menganggap, drama ketos mereka jauh lebih menarik. Walau dengan hati-hati, sebagian dari mereka mencuri pandang ke arah para tokoh utama itu. Berharap terjadi drama susulan lainnya.

Zia meremas pelan tas kecil di pangkuannya, jemarinya yang lentik sedikit gemetar saat ia berusaha memperbaiki posisi baju kurung merah mudanya yang terasa mendadak salah tempat. Dia sangat ingin menoleh ke arah Vyan tapi berusaha diam hingga lehernya terlihat kaku.

Matanya yang kering, berkedip beberapa kali. Dia bersyukur pikirannya mengambil alih hingga dia mampu menahan air mata. Padahal hatinya kacau dan menjerit sedih.

'Vyan pasti sangat mencintai Yasmin. Dia bahkan berani mempertaruhkan harga dirinya dengan berkelahi di depan umum demi Yasmin. Lalu buat apa aku kembali? Aku tidak bisa lagi memperbaiki apa-apa. Aku tidak mau ada di sini. Aku tidak mau melihat semuanya. Tuhan tolong aku, aku ingin pergi.'

Di sampingnya Yasmin duduk dengan tubuh kaku, seolah-olah kursi yang ia tempati mendadak berubah menjadi es. Tangannya mengepal erat di atas kain batiknya yang halus, mencoba meredam gemetar yang tak kunjung hilang. Matanya yang jernih kini tampak berkaca-kaca, menatap lurus ke depan tanpa benar-benar melihat pertunjukan tari di panggung. Napasnya terasa berat dan pendek.

​'Apa yang Kak Vyan lakukan? Apa selama ini, kebersamaan kami artinya pacaran buat Kak Vyan? Apa orang pacaran memang seperti itu?' Yasmin memejamkan mata sejenak, merasa dunianya baru saja jungkir balik dalam hitungan detik.

​Namun, yang paling menghimpit dadanya bukanlah tindakan Vyan, melainkan bayangan punggung Ray yang menjauh. 'Dan Ray... kenapa dia harus marah sampai seperti itu? Kenapa sekalipun dia yang mukul Kak Vyan, tapi sepertinya Ray yang jauh lebih kesakitan? Wajahnya tadi... kenapa dia menatapku seolah-olah aku baru saja melakukan kesalahan besar padanya? Apa aku menyakitinya?'

Vyan tetap duduk tegak dengan wibawa yang dipaksakan. Meski satu tangannya diam-diam masih menekan perut yang berdenyut nyeri akibat pukulan Ray, wajahnya tetap menunjukkan senyum tipis yang dingin. Ia sesekali membetulkan posisi duduknya, bersikap seolah ia melakukan hal yang paling benar.

'Apa aku sudah gila? Aku tidak bisa berpikir panjang ketika melihat wajahnya. Hanya ini yang bisa kulakukan. Zia, kamu tidak akan bisa kembali semudah itu. Kamu harus tahu. Kamu harus merasakan kepahitan yang kualami.'

Terakhir, di ujung barisan, Agil tampak gelisah. Ia sesekali melirik Vyan lalu beralih ke Zia dengan dahi yang berkerut dalam. Ia menghela napas panjang, lalu menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, tampak sangat lelah dengan drama yang baru saja meledak di depan matanya.

Dia tahu Vyan masih sakit hati sama Zia. Namun, langkah yang dilakukannya, terlalu berbahaya baginya, dan bahkan bagi mereka. Agil tidak tahu apa yang akan terjadi ke depannya.

1
Cimol krispy
kamu mah selalu nggak tau Yas 🤭
Cimol krispy
Kesannya kayak Yasmin lagi ngejek. padahal dia beneran ngira mereka sakit🤣🤣🤣
Cimol krispy
dan kalian baru sadar dia sepolos itu
Cimol krispy
para bibir biru ikan lohan🤣
Cimol krispy
ya kalo lomba pakaian daerah mah nggak usah di sebutin lagi Reka. kan memang wajib dan diadakan penilaian langsung
Cimol krispy
mereka nggak tau aja ada satu mata Dajjal yang lagi ngawasin para penguasa kelas itu🤭
Xlyzy
naik itu kuping ray karna di puji yasmin🤣
Xlyzy
si ray yang tadi nya cemberut langsung berubah
Aquarius97 🕊️
astaga vyan... lu juga benar2 dah ahh😆
Aquarius97 🕊️
hahahahaha ngakak banget ray... pas sebut setan vyan 🤣🤣🤣
Miu.Nuha
semua pada baik ke yasmin takut dimarahi pak ketos lagi 😅😅😅
Miu.Nuha
masih heran kenapa vyan yg harus bertindak... sungguh ironis ya sampe guru gk ad yg peduli...
Three Flowers
Dhini dan Tegar habis di'cuci' sama Ketos sadis🤣
-Thiea-
ya dia lah yang ngejebak kalian. siapa lagi yang punya akses lengkap di sekolah kalian..😅
-Thiea-
pak yoga sepertinya tahu banyak tentang keluarga Vyan.
-Thiea-
kerjaan si vyan ini pasti. 😆😆
ᰔᩚ⊹܀⃟ᴸ⃞ᵒᵛᵉˡʸ𝐂𝐡𝐞𝐨𝐧𝐦𝐚❦ೄྀ❧
kok bisa nyangkut😭😭😭
Filan: nyangkutlah. Pas masuk ga pegang apa-apa, pas keluarin pegang tupai
total 1 replies
PrettyDuck
terbukti ya kalo cowok gak peduli cewek bego atau enggak, yang penting cakep 🙃
Filan: bagaimana pun juga dari mata turun ke hati.
tapi Vyan itu cuma jadiin Yasmin pion sih, lalu lucu-lucuan aja kayak ke adik, lalu ga suka dg adanya pembullyan jadi belain, lalu jadiin alat lagi... lama-lama tahu sifatnya baru suka.
total 1 replies
ᰔᩚ⊹܀⃟ᴸ⃞ᵒᵛᵉˡʸ𝐂𝐡𝐞𝐨𝐧𝐦𝐚❦ೄྀ❧
hewan tuh pasti🤣
PrettyDuck
serem juga vyan ini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!