NovelToon NovelToon
Dari Perjodohan Yang Salah, Lahir Cinta Yang Benar

Dari Perjodohan Yang Salah, Lahir Cinta Yang Benar

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Perjodohan
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Uzumaki Amako

Sejak ibu kandungku meninggal, aku hidup sebagai orang asing di rumahku sendiri. Saat perjodohan datang, harapanku hancur ketika kakak tiriku merebut segalanya dan aku dipaksa menikah dengan pria lumpuh yang tak kukenal. Namun, dari perjodohan yang tidak adil itu, aku justru menemukan ketulusan dan cinta yang selama ini tak pernah kudapatkan. Ketika kebenaran terungkap dan masa laluku ingin mengklaimku kembali, aku harus memilih—kembali pada yang seharusnya, atau bertahan pada cinta yang telah menjadi rumahku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uzumaki Amako, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 15

Kami tidak langsung pulang setelah keluar dari rumah sakit.

Begitu sampai di parkiran, aku membantu Adrian masuk kembali ke dalam mobil seperti tadi. Gerakannya tetap tenang, terlatih, seolah semua itu sudah menjadi bagian dari rutinitas yang tidak perlu dipikirkan lagi.

Namun kali ini, ada sesuatu yang berbeda.

Ia tidak langsung memberi perintah pada sopir.

Mobil tetap diam.

Aku duduk di sampingnya, sedikit bingung.

“Kita langsung pulang?” tanyaku hati-hati.

Adrian tidak langsung menjawab.

Ia menatap ke luar jendela, matanya fokus pada sesuatu yang tidak bisa kulihat.

Beberapa detik berlalu.

Lalu ia berkata pelan—

“Belok ke arah taman kota.”

Aku sedikit terkejut.

Taman?

Sopir langsung mengangguk. “Baik, Tuan.”

Mobil pun mulai berjalan.

Perjalanan kali ini terasa lebih singkat.

Beberapa menit kemudian, mobil berhenti di depan sebuah taman kota yang cukup luas. Banyak pohon, jalan setapak, dan beberapa orang yang berjalan santai menikmati siang.

Tempat itu… hidup.

Sangat berbeda dengan rumah besar yang sunyi itu.

Aku menoleh ke Adrian.

Ia masih melihat ke depan.

“Kamu mau… turun?” tanyaku pelan.

Ia mengangguk sedikit.

Seperti sebelumnya, aku membantu menyiapkan kursi rodanya. Kali ini gerakanku lebih percaya diri—tidak sekaku tadi pagi.

Begitu ia duduk dengan stabil, aku berdiri di belakangnya.

Tanpa banyak bicara, aku mulai mendorongnya masuk ke dalam taman.

Udara di sana terasa segar.

Angin pelan berhembus, membawa aroma daun dan tanah. Suara anak-anak bermain terdengar dari kejauhan, diselingi tawa ringan.

Aku memperlambat langkah.

“Di sini enak,” kataku pelan.

Adrian tidak langsung menjawab.

Namun aku melihat bahunya sedikit lebih rileks.

Kami menyusuri jalan setapak yang cukup lebar. Beberapa orang melirik sekilas, tapi tidak terlalu memperhatikan.

Dan untuk pertama kalinya…

Kami terlihat seperti pasangan biasa.

Bukan pernikahan yang dipaksakan.

Bukan dua orang asing.

Hanya… dua orang yang berjalan bersama.

“Aku jarang ke tempat seperti ini.”

Suara Adrian tiba-tiba terdengar.

Aku sedikit terkejut.

“Kenapa?” tanyaku.

“Tidak ada alasan untuk datang.”

Jawabannya sederhana.

Tapi entah kenapa terasa… sepi.

Aku berpikir sejenak.

Lalu berkata pelan,

“Sekarang ada.”

Ia sedikit menoleh.

“Karena kamu?”

Aku menggeleng kecil.

“Karena kamu sendiri.”

Sunyi.

Namun kali ini, sunyi yang berbeda.

Ia tidak membalas.

Tapi juga tidak menyangkal.

Kami berhenti di dekat sebuah bangku taman.

Aku memutar kursi rodanya perlahan agar menghadap ke arah pepohonan.

“Di sini saja?” tanyaku.

“Iya.”

Aku duduk di bangku di sampingnya.

Beberapa saat kami hanya diam.

Menikmati suasana.

“Apa kamu menyesal?”

Pertanyaan itu tiba-tiba keluar dari mulut Adrian.

Aku menoleh.

“Menyesal?”

“Menikah denganku.”

Langsung.

Tanpa ragu.

Aku terdiam beberapa detik.

Pertanyaan itu… berat.

Namun anehnya, jawabannya tidak.

Aku menggeleng pelan.

“Tidak.”

Ia menatapku.

Seolah menunggu penjelasan.

“Aku tidak punya banyak pilihan,” lanjutku jujur. “Tapi… ini bukan hal terburuk yang pernah terjadi padaku.”

Ia sedikit mengernyit.

“…Serius?”

Aku tersenyum kecil.

“Setidaknya di sini… tidak ada yang menyuruhku. Tidak ada yang merendahkanku.”

Aku menatap ke depan.

“Dan… ada seseorang yang bilang aku tidak perlu terbiasa sendirian.”

Sunyi.

Aku bisa merasakan tatapan Adrian padaku.

Namun aku tidak menoleh.

Beberapa detik berlalu.

Lalu ia berkata pelan,

“Aku tidak mengatakan itu untuk membuatmu merasa lebih baik.”

“Aku tahu.”

“Lalu kenapa kamu mengingatnya?”

Aku tersenyum tipis.

“Karena tidak ada yang pernah bilang itu sebelumnya.”

Kali ini…

Ia benar-benar diam.

Angin kembali berhembus pelan.

Daun-daun bergoyang ringan.

Suasana terasa tenang.

“Aku tidak baik dalam hal seperti ini.”

Aku menoleh.

Adrian masih melihat ke depan.

“Hubungan. Perasaan. Atau apapun itu,” lanjutnya.

Nada suaranya tetap datar.

Tapi ada sesuatu di dalamnya.

Sesuatu yang… jujur.

“Aku juga tidak,” jawabku pelan.

Ia sedikit menoleh.

Untuk pertama kalinya—

Tatapan kami bertemu tanpa rasa canggung.

Tanpa tekanan.

Hanya… saling memahami.

Beberapa saat kemudian, aku berdiri.

“Kita jalan lagi?” tanyaku.

Ia mengangguk kecil.

Aku kembali ke belakangnya dan mulai mendorong kursi rodanya.

Kali ini langkahku lebih ringan.

Kami melewati jalan kecil yang dipenuhi bunga di sisi kanan kiri.

Warna-warni bunga itu terlihat indah di bawah cahaya matahari.

Aku sedikit tersenyum.

“Cantik ya,” gumamku.

Adrian tidak menjawab.

Namun aku melihat matanya sekilas memperhatikan.

Saat kami hampir keluar dari taman, seorang anak kecil berlari melewati kami sambil tertawa.

Tanpa sengaja, ia hampir menabrak kursi roda Adrian.

Aku refleks menghentikan langkah.

Namun Adrian lebih cepat.

Tangannya bergerak sedikit, menghindar dengan tenang.

Anak itu berhenti.

“Maaf, Om!” katanya polos.

Adrian menatapnya beberapa detik.

Lalu berkata singkat,

“Hati-hati.”

Anak itu tersenyum lebar, lalu berlari lagi.

Aku memperhatikan Adrian.

“Aku kira kamu akan marah,” kataku.

Ia menggeleng kecil.

“Untuk apa?”

Aku tersenyum.

“Tidak tahu. Kamu terlihat seperti orang yang mudah marah.”

Ia menoleh.

“Begitu?”

“Iya.”

Ia diam sejenak.

Lalu berkata pelan—

“Mungkin aku hanya tidak punya alasan untuk tidak marah.”

Aku terdiam.

Kalimat itu… dalam.

Dan sedikit menyakitkan.

Kami sampai kembali di mobil.

Seperti sebelumnya, aku membantu sebisaku.

Namun kali ini, semuanya terasa lebih… natural.

Tidak canggung.

Tidak dipikirkan berlebihan.

Saat mobil mulai berjalan kembali ke rumah, aku menoleh ke luar jendela.

Tapi kali ini…

Perasaanku berbeda.

Tidak seberat sebelumnya.

Tidak sesepi sebelumnya.

“Aku tidak membenci hari ini.”

Suara Adrian terdengar pelan di sampingku.

Aku menoleh.

“…Bagus,” jawabku.

Ia menatap ke depan.

Lalu berkata—

“Kita bisa ke sini lagi.”

Aku tersenyum kecil.

“Iya.”

Dan untuk pertama kalinya,

hari itu tidak terasa seperti kewajiban.

Tidak terasa seperti beban.

Tapi seperti…

sebuah langkah kecil menuju sesuatu yang belum jelas.

Namun tidak lagi menakutkan.

Karena kali ini—

Aku tidak berjalan sendirian.

Mobil berhenti perlahan di depan mansion.

Aku turun lebih dulu, lalu membantu Adrian seperti biasa. Gerakan kami terasa semakin terbiasa—tanpa canggung, tanpa banyak kata.

Begitu ia sudah duduk di kursi rodanya, aku langsung berdiri di belakangnya dan mulai mendorongnya masuk ke dalam rumah.

Pintu besar terbuka.

Suasana yang sama menyambut kami—

Tenang. Sunyi. Rapi.

Namun entah kenapa… tidak lagi terasa asing seperti pertama kali aku datang.

Setelah masuk, Adrian langsung menuju ruang kerjanya.

Aku mengikuti di belakang, tapi berhenti di ambang pintu saat ia masuk.

“Ada yang perlu aku bantu?” tanyaku pelan.

Ia berhenti sejenak, lalu menoleh sedikit.

“Tidak. Kamu istirahat saja.”

Aku mengangguk kecil. “Oke.”

Ia masuk ke dalam, dan pintu tertutup pelan.

Aku berdiri beberapa detik di luar.

Lalu berbalik dan berjalan menuju kamar.

Namun langkahku melambat di tengah jalan.

Pikiranku… tidak tenang.

Entah kenapa, bayangan saat di rumah sakit tadi terus terlintas di kepalaku.

Kata dokter.

“Kondisinya stabil… tapi belum ada perubahan signifikan.”

Belum ada perubahan.

Aku berhenti berjalan.

Menatap lantai.

Tanganku perlahan mengepal.

“…Kalau dicoba lagi?”

Bisikku pelan.

Tiba-tiba, ingatanku kembali ke masa lalu.

Saat ibu masih ada.

Saat malam-malam di rumah kecil kami terasa hangat.

Aku sering duduk di sampingnya, memijat kakinya setelah ia lelah seharian bekerja.

“Ibu capek?” tanyaku waktu itu.

Ibu hanya tersenyum lembut.

“Sedikit… tapi kalau kamu pijat, jadi enak.”

Aku masih ingat jelas suara itu.

Hangat.

Lembut.

Nyata.

“Kamu punya tangan yang hangat, Alina,” katanya waktu itu. “Pijatanmu… bikin ibu nyaman.”

Aku tersenyum kecil tanpa sadar.

Dada terasa sedikit sesak… tapi juga hangat.

Kalau dulu aku bisa membuat ibu merasa lebih baik…

Apa mungkin…

Aku juga bisa membantu Adrian?

Tanpa sadar, kakiku sudah berbalik arah.

Menuju ruang kerja Adrian.

Langkahku pelan.

Sedikit ragu.

Namun kali ini… aku tidak berhenti.

Aku mengetuk pintu.

Tok. Tok.

“Masuk.”

Aku membuka pintu perlahan.

Adrian masih di tempatnya, duduk di balik meja kerja. Laptopnya terbuka, tapi sepertinya ia tidak benar-benar fokus.

Ia menatapku.

“Ada apa?”

Aku menutup pintu pelan di belakangku.

Lalu berdiri beberapa langkah darinya.

“Aku… mau tanya sesuatu.”

Ia mengangkat alis sedikit.

“Apa?”

Aku menggenggam ujung bajuku pelan.

“Boleh… aku coba pijat kaki kamu?”

Sunyi.

Ruangan itu langsung terasa lebih hening dari sebelumnya.

Tatapan Adrian berubah.

Bukan marah.

Bukan juga terkejut sepenuhnya.

Lebih seperti… tidak mengerti.

“…Apa?” ulangnya pelan.

Aku menelan ludah.

“Aku tahu… mungkin tidak akan langsung ada perubahan,” kataku hati-hati. “Tapi… aku pernah belajar sedikit dari ibuku. Aku sering memijat kakinya dulu.”

Aku menunduk sedikit.

“Dia bilang… pijatanku enak.”

Aku tidak berani menatapnya.

Beberapa detik berlalu.

Tidak ada jawaban.

Aku mulai merasa gugup.

“Kalau kamu tidak mau juga tidak apa—”

“Kenapa?”

Kalimat itu memotong ucapanku.

Aku mengangkat wajahku.

Adrian menatapku.

Tatapannya… dalam.

“Kenapa kamu mau melakukan itu?”

Pertanyaannya sederhana.

Tapi jawabannya… tidak.

Aku berpikir sejenak.

Lalu menjawab jujur.

“…Karena aku ingin mencoba.”

Ia masih menatapku.

“Bukan karena kasihan?”

Aku langsung menggeleng.

“Bukan.”

“Bukan karena kewajiban?”

“Bukan.”

“Lalu?”

Aku menarik napas pelan.

“…Karena kamu suamiku.”

Sunyi.

Kalimat itu menggantung di udara.

Aku sendiri sedikit terkejut karena mengatakannya.

Namun itu jujur.

Tidak dibuat-buat.

Tidak dipaksakan.

Adrian tidak langsung menjawab.

Tatapannya tidak berpindah dariku.

Seolah mencoba memastikan…

Apakah aku serius.

Atau hanya… mengatakan apa yang seharusnya dikatakan.

Beberapa detik berlalu.

Lalu ia berkata pelan—

“…Ini tidak akan mengubah apa-apa.”

Aku mengangguk kecil.

“Aku tahu.”

Sunyi lagi.

Dan akhirnya—

Ia menghela napas pelan.

“…Terserah kamu.”

Jawaban itu singkat.

Namun cukup.

Aku tersenyum kecil.

“Iya.”

Beberapa menit kemudian, aku sudah berada di dekatnya.

Aku berlutut pelan di samping kursi rodanya.

Tanganku sedikit gemetar.

Bukan karena takut.

Tapi karena… ini pertama kalinya aku melakukan hal ini untuknya.

Aku menatap kakinya.

Lalu perlahan menyentuhnya.

Dingin.

Lebih dingin dari yang kubayangkan.

Tanganku berhenti sebentar.

Lalu aku mulai memijat pelan.

Gerakan sederhana.

Seperti dulu.

Tidak terburu-buru.

Tidak terlalu kuat.

Hanya… perlahan.

Ruangan itu kembali sunyi.

Tidak ada suara selain napas kami.

Adrian tidak bergerak.

Tidak juga berkata apa-apa.

Aku fokus pada tanganku.

Mengikuti ingatan lama.

Tekanan pelan.

Gerakan melingkar.

Perlahan naik.

Beberapa menit berlalu.

Aku tidak tahu apakah ini membantu atau tidak.

Namun aku tetap melakukannya.

Dengan sabar.

Dengan tenang.

Dan entah kenapa…

Aku merasa…

Untuk pertama kalinya,

Aku tidak hanya berada di rumah ini.

Aku… mulai menjadi bagian darinya.

1
Siti Jubaedah
trima kasih karyanya semoga lebih semangat membacanya...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!